Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 TUDUHAN FITNAH
SELAMAT MEMBACA !!!
"Lho, Nak Zafran, Nak Tasya, Nak Elena, Nak Fira. Kalian ke sini lagi kan baru dua hari yang lalu pada ke sini?" tanya Ibu pengasuh Panti, Mereka berempat berdiri dan mencium tangan Ibu panti.
"Ya, Bu...Alhamdulilah kami ada sedikit jajanan buat adik-adik, Bu," jawab Zafran mewakili ketiga sahabatnya.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Hari terus berjalan tanpa terasa liburan semester tiga telah tiba. Zhafira mulai pekerjaan sampingannya di restoran milik keluarganya Zafran.
"Selamat siang, silahkan masuk!" sapanya ramah sambil sedikit menundukkan kepala.
Tanpa disadari oleh Fira, sudah ada empat pasang mata yang sejak tadi menatapnya dengan pandangan sinis dan tak bersahabat. Di antaranya ada yang menyunggingkan senyum penuh arti, seolah sedang menyimpan rencana buruk untuknya.
"Kalian bertiga tau kan apa yang harus kalian lakukan?" tanya sambil menatap ketiga temannya.
Mereka bertiga balik menatap orang itu dengan tersenyum misterius.
Mereka pun mulai memesan minuman, namun secara sengaja meminta agar Zhafira yang mengantar pesanan itu.
Rekan kerja Zhafira yang kebetulan mendengarnya langsung mengernyitkan dahi penuh kebingungan, dalam hatinya bertanya-tanya, "Aneh sekali, kenapa harus Zhafira yang disuruh? Padahal kan bisa minta ke pelayan lain saja." Ia pun merasa ada yang tak beres dari tatapan dan nada bicara mereka.
Ia pun langsung beranjak pergi, lalu berjalan cepat masuk ke dalam dapur mencari sosok Zhafira yang dibicarakan pelanggannya itu.
Setelah menemukan Zhafira yang sedang menyiapkan pesanan, ia langsung berbisik, "Fira...meja nomor lima ada empat orang yang sedang memesan minuman tapi dia memintamu khusus untuk mengantarkannya. Kayaknya akan terjadi sesuatu deh, Fir. Kamu harus hati-hati!" seru temannya itu sambil berpesan kepadanya untuk berhati-hati.
Fira tersenyum lembut mendengarnya, "Terima kasih banyak atas perhatian dan nasehatnya, Mbak. Aku sudah cukup kebal hal-hal seperti ini. Ya sudah, aku antarkan minumannya dulu ya, Mbak, " jawab Fira tenang.
Saat ia baru keluar dari dapur dan bisa melihat meja nomor lima, ia tersenyum sinis ternyata yang memesan minuman itu geng Cinderella ratu drama.
"Permisi, maaf saya mengantarkan pesanan minuman kalian!" seru Fira agak keras, sengaja agar terdengar jelas dan menarik perhatian orang
Benar saja tak hanya mereka di meja itu, namun banyak pengunjung lain yang ikut menoleh ke arahnya.
Tiba-tiba dari salah satu dari mereka dengan sengaja menyambar gelas minumannya itu. Lalu menumpahkan ke tubuhnya. Ia melakukannya begitu cepat, sehingga terlihat seolah-olah Zhafira yang melakukannya.
"Hei pelayan tak becus! Kamu sengaja ya?" teriaknya dengan keras sambil berdiri. Ia sengaja ingin menarik perhatian semua orang. Ia ingin menjebak Fira agar terlihat salah. Tapi yang tak ia sadari bahwa semua orang sudah memperhatikan mereka, semenjak Fira datang dan menaruh minuman itu ke meja.
"Ma...maaf, Mbak. Bukan saya yang menumpahkan minuman itu!" serunya sambil menundukkan kepalanya, ia dalam hatinya bersorak gembira bisa membalikkan jebakan itu.
Orang itu semakin bersemangat melontarkan tuduhan, wajahnya dibuat seakan ia yang tersakiti.
"Enak saja cuma bilang minta maaf. Kamu tak tau kan kalau baju saya ini sangat mahal. gajimu sebulan bahkan tak cukup untuk sekedar mengganti baju saya kotor dan basah ini!" serunya dengan lantang biar terdengar oleh pengunjung lain dan membuat Fira terdesak.
Fira pura-pura kaget dan mendongakan wajahnya menatap orang itu tak percaya, "Saya kan sudah meminta maaf tak sengaja, Mbak.."
"Mbak...mbak katamu?! Memangnya aku ini mbakmu?! Enak saya seenak memanggil begitu!" bentaknya dengan penuh amarah. Tanpa sadar tangannya mendorong tubuhnya Fira, sehingga tubuhnya terhuyung ke belakang hampir terjatuh. Namun untungnya ada seorang yang menangkap tubuhnya.
"Kamu tak apa-apa?" tanya laki-laki itu yang sengaja ingin mendekat ke arah kerumunan itu.
Fira perlahan sadar dari rasa terkejutnya setelah didorong begitu kuat. Jantungnya masih berdebar kencang, ia berpikir akan jatuh ke lantai.
Ia perlahan mendongakan wajahnya, ingin berterima kasih kepada orang yang sudah membantunya. Betapa terkejutnya saat melihat orang itu, bahkan keempat orang itu juga terkejut saat ditatap oleh orang itu.
"Bry...Bryan!" lirih mereka berempat.
"Terima kasih...sudah membantu saya," ucapanya tulus, meskipun hatinya masih berdebar kaget saat di dorong oleh orang itu.
Tiba-tiba datang seorang yang berpakaian rapi menyapanya, "Ada apa ini?" tanyanya dingin dan tegas.
Sabrina yang melihat orang yang berpakaian rapi itu yang kemungkinan sang Manager Restoran, ia langsung bereaksi, melupakan kalau disini ada seseorang yang ditaksirnya.
"Begini lho, Pak. Pelayan anda yang tak becus itu dengan sengaja menumpahkan minuman ke tubuh sahabat saya, Pak!" serunya dengan semangat.
Mendengar itu, manajer langsung mengernyitkan dahinya ragu, menatap bergantian ke arah orang yang menuduh dan ke arah Fira. Ia tak langsung memarahi Fira, karena ia tau bagaimana kinerja Fira selama ini. Walaupun dia bekerja diwaktu liburan kuliah saja.
"Apa benar begitu, Fira?" tanyanya.
"Halah, mana mungkin dia mau mengaku jujur begitu saja, Pak. Kan pepatah bilang, maling mengaku penjara penuh!" timpalnya lagi dengan nada meremehkan, seolah-olah tuduhannya itu sudah pasti benar adanya.
Tiba-tiba seorang pengunjung mendekat ke arah kerumunan itu. "Jangan percaya dengan ucapan mereka bertiga, Pak Manager. Orang itu sengaja memfitnah, Mbaknya ini!" serunya membela Fira.
"Hei, Bu. Kalau tak tau apa-apa, jangan ikut campur!" teriak Sabrina kepada Ibu paruh baya itu.
Ibu itu tersenyum simpul, ia bahkan punya bukti waktu tangan gadis itu menyiramkan minuman itu ke dirinya sendiri.
"Lihatlah, Pak Manager. Saya tak mengada-ngada asal membela orang. Aku juga tak mau ikut campur kalau tak ada unsur fitnah dan penindasan di sini!" ucapnya lagi.
Sabrina dan ketiga temannya langsung berubah pucat wajahnya, saat Ibu itu menyerahkan hapenya kepada Manager restoran.
Manajer itu langsung menatap tajam keempat gadis yang berdiri di hadapannya, suaranya terdengar tegas dan tak mau dibantah sedikitpun.
"Kalian hanya punya pilihan, mau minta maaf secara tulus kepada Fira! Atau mau aku laporan kepada pihak berwajib tentang tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik!" ucap tegasnya.
Keempat gadis itu ketakutan dan seketika wajahnya berubah pucat pasi. Tapi bagi Sabrina minta maaf itu hanya akan merendahkan harga dirinya. Tanpa kata dia langsung pergi tanpa bicara apapun.
Para pengunjung yang berada di restoran itu, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Fira menatap wanita itu dengan mata berkaca-kaca, hatinya terasa sangat hangat dan terharu. "Terima kasih banyak, Ibu... sungguh saya tidak menyangka masih ada orang baik yang berani membelaku seperti ini," ucapnya lirih dengan suara yang sedikit bergetar.
Ibu itu tersenyum lembut sambil mengusap bahu Fira, "Sama-sama, Nak. Yang benar tetaplah benar, kita tidak boleh membiarkan orang baik kena tuduhan fitnah keji itu," ucapnya menenangkan.