NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Gemuruh dari reruntuhan

Getaran itu merambat naik melalui sol sepatunya, merambat ke tulang kering, lalu menghantam meridiannya dengan sensasi ngilu yang tajam.

Ye Chan tidak perlu melihat ke belakang untuk tahu apa yang sedang terjadi. Di dalam Lembah Kekacauan, frekuensi getaran sedemikian masif hanya berarti satu hal: sesuatu yang besar telah bangun dari tidurnya.

Ia tidak membuang waktu untuk menoleh. Naluri bertahan hidupnya menjeritkan peringatan yang sama: lari, atau mati.

Debu putih berjatuhan dari langit-langit terowongan. Di depannya, seekor monster tikus raksasa setinggi pinggang manusia berderit panik, mengabaikan keberadaan Ye Chan sepenuhnya saat ia berlari kencang menuju lubang pembuangan. Monster itu pun gemetar.

'Bahkan predator level rendah saja ketakutan,' pikir Ye Chan sembari merapat ke dinding lorong.

Ia tidak mencoba menahan monster-monster yang melintas. Ia membiarkan mereka lewat, membiarkan aliran makhluk panik itu membukakan jalan baginya.

Ye Chan terus bergerak ke arah berlawanan dari pusat gemuruh, namun tetap menjaga jarak dari kerumunan monster yang mulai saling injak dalam kepanikan kolektif.

Tiba-tiba, ia berbelok ke sebuah celah sempit di balik pilar batu yang runtuh. Keputusannya tepat. Hanya sedetik setelah ia masuk, sesosok bayangan besar melintas cepat di lorong utama.

Itu bukan monster biasa. Aura yang terpancar dari makhluk itu begitu pekat hingga membuat udara di lorong seolah membeku.

Ye Chan menekan punggungnya ke dinding batu, menahan napas sekuat tenaga. Ia menutup seluruh pori-pori kulitnya agar tidak ada sedikit pun sisa energi Qi yang keluar.

'Pembentukan Inti. Pasti,' batinnya, keringat dingin mengucur di pelipis.

Jarak mereka hanya terpaut beberapa meter. Monster itu—sesosok kadal raksasa bersisik duri—bergerak dengan kecepatan yang mustahil untuk ukurannya, melesat menuju kedalaman lembah, tepat ke arah sumber raungan tadi.

Makhluk itu tidak menoleh, tidak mencium aromanya, seolah-olah Ye Chan hanyalah debu yang tak berharga.

Ye Chan baru bisa mengembuskan napas setelah bayangan itu menghilang jauh ke dalam gelap.

'Jarak kami seperti langit dan bumi. Satu serangannya saja sudah cukup meremukkan tulangku.'

Ia tidak berhenti lebih lama.

Lorong utama di depannya telah berubah total. Runtuhan batu besar menutup jalur yang tadi ia lalui, menghalangi akses balik menuju rute yang lebih luas. Ye Chan mengeluarkan peta dari penyimpanannya, membentangkan peta kulit hewan yang sudah kusam itu.

Tinta merah di atasnya berpendar redup, menunjukkan jalur alternatif yang berkelok-kelok melewati bekas fasilitas pengangkutan bahan tambang kuno. Jalur itu lebih sempit, lebih berbahaya karena risiko jebakan, tetapi setidaknya belum runtuh.

Ia mulai melangkah lagi, kali ini dengan kewaspadaan ganda. Sesuai perkiraan peta, lorong ini penuh dengan sisa-sisa mekanis yang sudah tidak stabil.

Di depannya, tiga ekor monster mirip musang dengan taring panjang tampak gelisah di sebuah persimpangan. Mereka menghadap ke satu arah, ke arah raungan yang masih sesekali terdengar dari kedalaman lembah.

'Panik, tapi belum kabur,' analisis Ye Chan.

Jika ia memaksakan lewat, monster-monster itu pasti akan menyerang karena terpojok. Ye Chan tidak ingin membuang energi. Ia meraih kantung empedu monster yang ia ambil sebelumnya dari tas pinggangnya.

Dengan satu ayunan kuat, ia melempar gumpalan daging berenergi itu ke lorong sebelah kanan, jauh dari jalurnya. Aroma pekat dari empedu monster tingkat menengah langsung menguar di udara.

Tiga monster musang itu tersentak. Insting pemangsa mereka mengalahkan rasa takut. Tanpa suara, ketiganya melesat mengejar umpan, meninggalkan jalur utama.

Ye Chan tidak membuang waktu. Ia menyelinap cepat melalui koridor yang kini kosong. Namun, langkahnya terhenti saat seekor monster terakhir yang lebih kecil—sisa dari kelompok tadi—menyadari keberadaannya.

Monster itu menerjang. Ye Chan tidak menghindar. Ia justru merendahkan tubuh, membiarkan makhluk itu melompat di atasnya, lalu menyabetkan pedang besi yang sudah retak ke arah leher makhluk itu saat ia berada di titik tertinggi lompatannya.

Bilah pedang memotong bersih. Kepala monster itu jatuh ke lantai batu, menyusul tubuhnya yang menghantam tanah beberapa saat kemudian.

Ye Chan menyeka bilah pedangnya pada bulu monster itu. Gerakannya efisien. Tidak ada energi yang terbuang sia-sia. Ia mengambil inti energi dari bangkai tersebut dan terus bergerak.

Seluruh lembah kembali bergetar. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.

Ye Chan yang hampir mencapai gerbang keluar terpelanting ke depan, tangannya terpaksa menghantam lantai untuk menahan keseimbangan. Tekanan aura yang menyapu lembah begitu dahsyat, seolah-olah seluruh atmosfer di tempat itu sedang diperas oleh tangan raksasa.

Ia terjatuh berlutut. Meridian di dalam tubuhnya terasa seperti disayat oleh pisau tumpul. Nyeri itu membuatnya hampir muntah darah, namun ia memaksakan diri untuk tetap tegak.

'Ini bukan monster Pembentukan Inti tadi,' pikirnya, rahangnya terkatup rapat menahan sakit. 'Ini jauh lebih kuat.'

Sesuatu yang mengerikan sedang bangkit di kedalaman. Sebuah entitas yang bahkan tidak ingin ia ketahui bentuknya. Ye Chan memaksa kakinya berdiri meski gemetar. Ia harus keluar. Sekarang.

Gerbang batu kuno yang menjadi jalan keluar sudah terlihat. Namun, pintu itu tertutup rapat oleh bongkahan batu reruntuhan yang jatuh akibat gempa.

Ye Chan tidak membuang waktu dengan mencoba menggeser batunya. Ia melihat celah kecil di bagian bawah pintu yang tersumbat bebatuan yang lebih kecil.

Ia menyalurkan seluruh sisa Qi yang ia miliki ke pedang besinya. Bilah itu berpendar redup.

"Hancur," gumamnya pelan.

Ia menebas titik lemah tumpukan batu itu. Sekali. Dua kali. Dentuman logam beradu dengan batu menggema di lorong yang sempit.

Saat tebasan keempat, tumpukan batu itu retak dan runtuh, menciptakan lubang yang cukup untuk dilewati satu orang.

Ye Chan tidak menoleh lagi. Ia merangkak masuk ke celah tersebut, menyeret tubuhnya melewati puing-puing, hingga akhirnya cahaya alami yang samar menyambut matanya.

Ia berhasil keluar dari celah ngarai di permukaan tanah.

***

Udara segar di luar lembah terasa berbeda. Rasanya hambar dibandingkan hawa penuh Qi di bawah sana, namun bagi Ye Chan, itu adalah napas kehidupan.

Ia tidak langsung pergi jauh. Ia mencari ceruk di balik tebing yang tertutup semak belukar, tempat yang aman untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.

Setelah memastikan tidak ada tanda-tanda pengejaran, ia mengeluarkan hasil jarahannya.

Dua inti energi monster tingkat menengah, sekumpulan herba yang ia petik, dan kotak giok berisi Getah Akar Matahari. Semuanya utuh.

Ye Chan mengatur napasnya. Denyut meridiannya mulai melandai, meski rasa nyeri masih tertinggal sebagai pengingat betapa dekat ia dengan kematian. Ia memandang langit senja yang mulai menggelap.

Tujuannya sudah jelas. Ia sudah memiliki bahan-bahan dasar yang ia butuhkan. Sisa bahan lainnya bisa ia cari di pasar kultivator luar.

Ia kembali menatap Lembah Kekacauan yang kini tertutup kabut tebal dari kejauhan. Tidak ada lagi gemuruh. Tidak ada lagi tekanan aura yang menyesakkan. Semuanya kembali sunyi, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di balik dinding tebing itu.

'Setelah meridianku pulih, aku akan kembali menghitung semuanya.'

Bukan untuk mencari tahu monster apa yang menguasai kedalaman sana. Ye Chan sadar diri; ia bukanlah pahlawan yang berniat menantang bahaya demi kejayaan.

Ia hanya ingin bertahan hidup. Dan untuk bertahan hidup di dunia ini, ia membutuhkan kekuatan.

Ye Chan bangkit berdiri, menyarungkan pedangnya dengan satu gerakan mantap. Ia membalikkan badan, meninggalkan lembah itu di belakangnya, melangkah menuju arah di mana peradaban dan jawaban atas kerusakannya berada.

Pencariannya baru saja dimulai.

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!