"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Langkah Kaki di Bandar Udara
Suara deru mesin pesawat berbadan lebar yang baru saja mendarat bergema di landasan pacu Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Di dalam area kedatangan internasional yang sejuk, hilir mudik penumpang dari berbagai belahan dunia menciptakan atmosfer yang sibuk. Namun, di salah satu sudut dekat pintu keluar VIP, ketenangan itu terusik oleh kehadiran dua wanita yang penampilannya mengundang perhatian banyak pasang mata.
Clarissa Maheswari berdiri dengan anggun, mengenakan kacamata hitam besar dan setelan blazer berwarna merah marun yang mencolok. Sepasang matanya yang tajam terus mengawasi pintu kaca yang bergeser terbuka setiap beberapa detik. Di sebelahnya, seorang pria berjas rapi—pengacara senior keluarga Maheswari—berdiri sambil mendekap sebuah tas kerja kulit yang tebal.
"Pastikan semua berkas yang dikirim dari London sudah dilegalisasi oleh kedutaan, Anton," ucap Clarissa, suaranya terdengar dingin dan penuh tuntutan. "Aku tidak mau ada celah sekecil apa pun yang bisa digunakan oleh tim hukum Arka untuk menunda persidangan minggu depan."
"Semua sudah siap, Ibu Clarissa. Surat kuasa perwalian dari Ibu Saskia sudah sah secara hukum internasional," jawab pengacara bernama Antonio itu dengan anggukan patuh.
Tak lama kemudian, sosok yang mereka tunggu akhirnya muncul di ambang pintu VIP.
Saskia Maheswari melangkah dengan keangkuhan mutlak seorang wanita sosialita kelas atas yang telah bertahun-tahun menetap di London. Ia mengenakan jubah panjang desainer ternama berwarna krem, dipadukan dengan sepatu hak tinggi yang mengetuk lantai marmer bandara dengan ritme yang konstan. Wajahnya yang cantik dirias dengan sempurna, namun sepasang matanya memancarkan kedunguan emosional—dingin, egois, dan seolah tidak tersentuh oleh kehangatan manusiawi.
"Saskia!" Clarissa melambaikan tangannya, lalu melangkah maju untuk memberikan pelukan formal di pipi kanan dan kiri. "Perjalananmu lancar?"
Saskia melepas kacamata hitamnya, mengembuskan napas panjang dengan raut wajah yang tampak bosan. "Jakarta selalu saja panas dan pengap, Kak Rissa. Jika bukan karena saham Maheswari Group yang terus merosot akibat keputusan sepihak Arka memutuskan proyek konsorsium kita, aku tidak akan sudi menginjakkan kaki kembali ke negara ini."
Clarissa menyunggingkan senyuman sinis. "Tenang saja. Kedatanganmu kali ini akan membayar semua kerugian itu. Arka mengira dia bisa menyingkirkan kita hanya karena dia menyewa wanita kampung untuk berpura-pura menjadi ibu baru bagi Kenzie."
Mendengar nama anaknya disebut, tidak ada sekerat pun binar kerinduan di mata Saskia. Wanita itu justru mendengus meremehkan. "Kenzie ... anak itu pasti sudah sangat mirip dengan ayahnya, kaku dan membosankan. Aku heran kenapa Arka sampai senekat itu memalsukan institusi pernikahan hanya demi mempertahankan hak asuh anak kecil. Apa dia tidak tahu kalau aku bisa dengan mudah menghancurkan reputasinya dengan selembar surat kuasa ini?"
"Arka sedang terbutakan oleh kesombongannya sendiri, Saskia," sahut Clarissa, matanya berkilat penuh ambisi. "Wanita sewaannya itu, Nayara, bertingkah seolah dia adalah nyonya rumah yang sesungguhnya di kediaman Dewangga. Dia bahkan berani mempermalukan Tante Sandra di sekolah Kenzie beberapa hari lalu."
Saskia menaikkan sebelah alisnya, bibirnya mengukir senyuman yang sangat merendahkan. "Wanita sewaan yang tidak tahu diri. Mari kita lihat seberapa lama dia bisa mempertahankan ketenangannya saat berhadapan langsung denganku, ibu kandung dari anak yang sedang dia asuh. Ayo kita ke apartemen, aku butuh istirahat sebelum kita melakukan kunjungan kejutan ke rumah Arka."
***
Di saat yang sama, di dalam kamar tidur utama kediaman mewah Dewangga, suasana terasa begitu sunyi namun kian intens.
Sesuai dengan keputusan taktis yang mereka sepakati kemarin pagi, Naya mulai memindahkan seluruh pakaian dan barang-barang pribadinya secara permanen ke dalam kamar milik Arka. Pintu penghubung yang biasanya terkunci rapat dari dalam kini telah dibuka sepenuhnya, menyatukan dua ruang kehidupan yang sebelumnya terpisah oleh tembok hukum kontrak.
Naya berdiri di depan lemari pakaian besar berbahan kayu jati yang tertanam di dinding. Ia mengenakan gaun rumah kasual berwarna hijau lumut yang simpel. Dengan gerakan yang sangat teratur dan tenang, ia menyusun beberapa blus dan rok kain miliknya di sisi sebelah kiri rak lemari, berdampingan langsung dengan deretan kemeja kerja dan jas mahal milik Arka yang bernuansa gelap.
Melihat pakaian mereka yang kini berjejer rapat tanpa jarak, dada Naya sempat berdesir halus. Ada debaran aneh yang kembali mengetuk hatinya, namun kekuatan mental Naya yang sekeras baja segera menarik garis pembatas yang ketat di dalam pikirannya. Ini hanya strategi. Ini semua demi melindungi Kenzie, batin Naya memperingatkan dirinya sendiri.
Krieeek...
Suara pintu utama kamar yang terbuka membuat Naya menoleh pelan. Arka melangkah masuk. Pria itu tampak baru saja menyelesaikan panggilan telepon penting di lorong, wajah tegasnya masih menyiratkan sisa-sisa ketegangan kerja. Namun, begitu matanya menangkap sosok Naya yang sedang merapikan lemari pakaiannya, langkah kaki Arka seketika terhenti di tengah ruangan.
Arka berdiri terpaku, matanya menatap lekat-lekat botol-botol losion dan sisir rambut Naya yang kini sudah tertata permanen di atas meja riasnya. Aroma harum esensial lavender yang menenangkan dari tubuh Naya kini telah menguasai seluruh udara di dalam kamar pribadinya, mengusir hawa dingin yang selama bertahun-tahun ini menyelimuti ruangan tersebut.
"Semua ... sudah selesai kamu pindahkan, Naya?" tanya Arka, suaranya bariton merendah, terdengar agak serak karena kecanggungan yang mendadak pekat di antara mereka.
Naya menutup pintu lemari dengan perlahan, lalu memutar tubuhnya menghadap Arka dengan keanggunan mutlak yang selalu ia miliki. Wajah tenangnya begitu jernih, memancarkan aura seorang nyonya rumah yang sesungguhnya tanpa ada kepura-puraan.
"Sudah, Tuan Arka. Mulai sore ini, tidak ada lagi jejak yang bisa dicurigai oleh pelayan atau mata-mata Clarissa yang mungkin masih tersisa di rumah ini," jawab Naya, suaranya mengalun sangat stabil dan teratur. "Kamar sebelah sudah sepenuhnya dikosongkan dan dirubah fungsinya menjadi ruang belajar tambahan untuk Kenzie."
Arka melangkah mendekat, menghentikan jaraknya tepat dua langkah di depan Naya. Jarak yang dekat membuat ia bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di dalam sepasang mata bulat milik Naya. Debaran jantung Arka kembali berpacu dengan liar, rasa kagum dan rasa butuh yang besar merayap naik menguasai seluruh logikanya.
"Terima kasih, Naya. Aku tahu ... hidup bersama di dalam satu kamar seperti ini pasti sangat tidak nyaman untukmu," ucap Arka sungguh-sungguh, matanya memancarkan kelembutan yang jujur tanpa ada sekat kontrak bisnis. "Tapi tindakan beranimu ini adalah satu-satunya benteng yang membuatku merasa aman menghadapi gugatan pengadilan minggu depan."
Naya menatap lurus ke dalam mata elang Arka, mempertahankan pembawaannya yang tenang menghanyutkan agar tidak terlarut oleh kehangatan pria di hadapannya.
"Jangan merasa bersalah, Mas Arka," sahut Naya, sengaja menyisipkan panggilan 'Mas' untuk membiasakan lidah mereka sebelum badai yang sesungguhnya datang. "Kita sudah sepakat untuk melangkah lebih jauh. Menghadapi hilangnya privasi adalah risiko kecil dibandingkan dengan risiko kehilangan Kenzie ke tangan wanita seperti Clarissa."
Naya berjalan menuju meja kerja kecil di sudut kamar, mengambil beberapa berkas harian Kenzie. Sebelum melangkah keluar untuk menjemput anaknya di ruang bermain, ia menghentikan langkahnya sejenak di dekat Arka, memberikan tatapan mata yang begitu dalam.
"Sopir pribadi Anda, Heri, baru saja mengabarkan bahwa ada pergerakan di bandara siang ini. Informannya melihat Clarissa menjemput seorang wanita yang sangat mirip dengan foto Saskia Maheswari di area kedatangan internasional," ungkap Naya, nadanya tetap dingin dan taktis. "Ibu kandung Kenzie sudah resmi menginjakkan kaki di Jakarta, Mas Arka. Masalah dari masa lalu Anda telah tiba. Persiapkan mental Anda, karena permainan yang sesungguhnya akan segera dimulai dari pintu depan rumah ini."
Setelah mengatakan kalimat menohok itu dengan ketegasan yang mutlak, Naya melangkah keluar kamar dengan punggung yang tegak lurus, menyisakan keharuman lavender dan getaran ketegangan yang pekat di dalam kamar utama.
Arka mengepalkan tangannya di samping tubuh, rahangnya mengeras sempurna menatap pintu yang tertutup. Kedatangan Saskia mungkin adalah ancaman hukum terbesar bagi perwalian anaknya, namun melihat bagaimana Nayara berdiri kokoh di sampingnya sebagai benteng pertahanan yang sekeras baja, Arka tahu, ia tidak akan pernah membiarkan wanita bernama Nayara itu berjuang sendirian.
Bersambung...