Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Subuh Yang Syahdu
Subuh ini makin syahdu.
Adzan dari masjid pesantren baru saja selesai. Suaranya menggema pelan, merambat di antara kabut pagi Jombang yang masih tebal dan dingin. Lampu-lampu pendopo sudah dimatikan, hanya sisa lampu kecil di serambi ndalem yang masih menyala remang-remang.
Namun rasa mual masih terasa di ulu hati. Sejak semalam, sejak aku dan Gus Azam berbisik lama di pendopo, perutku terasa tidak karuan. Asam, perih, dan ingin muntah terus.
Aku menarik nafas pelan, mencoba menahannya. Teh jahe yang semalam aku buat untuk Gus Azam tidak sempat kuminum. Semalam kami tertidur bersandar di tiang pendopo yang dingin, berbagi selimut tipis, berbagi rahasia tentang dua garis yang masih kami simpan.
Setelah sholat subuh, aku memberanikan diri untuk keluar dari pendopo dan masuk ke dapur ndalem. Niatku ingin membantu santri pengabdian menyiapkan sarapan untuk Ning Ummah yang hari ini akan persiapan operasi. Tapi baru satu langkah kakiku masuk ke ambang dapur, bau bawang merah yang baru saja diiris banyak sekali oleh santri, dan bau tumisan bumbu yang menyengat, langsung menghantam hidungku.
Seketika perutku bergejolak hebat.
Aku tidak tahan. Aku tutup mulutku cepat-cepat dengan kedua tangan, dan berlari kembali ke ndalem utama. Aku bersandar di dinding kayu ndalem yang dingin, memegang dadaku, berusaha mengatur nafas. Keringat dingin mulai muncul di dahi dan pelipis, padahal udara Jombang pagi ini sangat dingin.
Dari kejauhan, terlihat Gus Azam baru selesai berjamaah sholat subuh di masjid. Sorban masih melingkar rapi di lehernya, pecinya putih bersih, sarungnya masih terlipat tinggi karena habis wudhu. Saat melihatku berlari dengan wajah pucat sambil memegangi mulut, wajah teduh Gus Azam langsung berubah panik. Langkah kakinya yang biasanya tenang, pelan, dan berwibawa, langsung setengah berlari menghampiriku.
"Piah? Astaghfirullah, Ning... kamu kenapa? Mual lagi?"
Gus Azam langsung memegang kedua pundakku, menatap wajahku lekat-lekat. Matanya yang biasanya tajam saat memimpin rapat pesantren, pagi ini penuh khawatir.
Aku mengangguk lemah, tidak kuat bicara. Hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Gus Azam mengusap punggungku pelan dengan telapak tangannya yang hangat, "Ya Allah, pucat sekali wajahmu. Kamu masih mual gini, gimana kalau pagi ini kita ke dokter kandungan saja ya? Biar diperiksa sekalian. Gus khawatir, ini sudah dua hari mualnya tidak berhenti."
Aku menggeleng cepat, menggenggam ujung lengan baju koko Gus Azam.
"Jangan Gus... jangan ke dokter kandungan... waktunya pasti lama, antriannya panjang, harus ke kota. Piah gak mau ninggalin Ning Ummah lama... hari ini kan Ning Ummah mau persiapan operasi, Gus. Walaupun ada Ning Latifah di rumah yang jaga, tapi Piah tetap khawatir. Hati Piah gak tenang kalau jauh dari Ummah."
Mataku benar-benar berkaca-kaca sekarang. Di satu sisi aku ingin memeriksakan calon janin di perutku, di sisi lain aku tidak bisa meninggalkan Ning Ummah yang sedang berjuang dengan vonis kankernya. Rasanya berdosa sekali jika aku pergi bersenang-senang memeriksakan kebahagiaanku sendiri sementara maduku terbaring sakit.
Gus Azam menatapku dalam, lama. Lalu mengangguk pelan, sangat mengerti.
"Lalu gimana maunya Piah? Gus ikutin."
Aku menarik nafas panjang, memberanikan diri berbisik pelan sekali, hanya kami berdua yang dengar, "Gus... gimana kalau kita ke bidan terdekat saja? Ke tempatnya Bidan Norma yang di perempatan itu? Biar lebih aman dan dekat juga... karena kita kan belum mengumumkan kehamilanku ini ke siapa-siapa, Gus. Piah takut kalau ke rumah sakit besar di Jombang, banyak santri dan wali santri lihat, nanti jadi heboh. Piah ingin ini jadi rahasia kita dulu sampai operasi Ummah selesai."
Gus Azam tersenyum. Senyum teduh yang selalu membuat hatiku luluh dan tenang.
"MasyaAllah, pinter sekali istri Gus ini. Selalu mikirin perasaan orang lain dulu. Baiklah, kita ke Bidan Norma. Lebih private, lebih dekat, cuma lima menit dari pesantren. Sekarang Piah duduk dulu di sini ya, jangan kecapean, jangan berdiri terus. Gus ganti pakaian dulu, Gus ambil vespa, kita berangkat pelan-pelan."
Aku duduk di bale bambu pendopo, memegang perutku yang masih rata. Di dalam sana ada kehidupan baru, 6 minggu, yang semalam baru saja membuat Gus Azam menangis terisak di pelukanku. Aku usap pelan, "Nak, kamu kuat ya, kita mau periksa."
Lima menit kemudian suara khas vespa Gus Azam terdengar. Vespa hijau mint dari sponsor pesantren, yang suaranya halus sekali tapi tenaganya kuat, yang selalu dicuci sendiri oleh Gus Azam setiap sore.
"Berangkat, Ning?" tanya Gus Azam sambil menyodorkan helm untukku.
Aku naik pelan-pelan, dengan bantuan tangan Gus Azam, dan melingkarkan tanganku di pinggang kekar Gus Azam. Jujur, aku malu sekali. Sudah dua tahun menikah, tapi baru kali ini aku berani melingkar seperti ini di jalanan Jombang yang masih sepi.
Di perjalanan menuju bidan, jalanan Jombang masih sangat sepi. Kanan kiri hanya sawah yang baru saja diairi semalam, airnya menggenang memantulkan langit subuh, dan barisan pohon jati dan pohon pisang yang berembun. Kabut tipis masih menggantung di atas pematang sawah. Udara pagi Jombang menusuk sampai ke tulang, tapi punggung Gus Azam hangat.
Gus Azam tidak berhenti melihatku berkali-kali lewat spion vespanya. Sesekali dia menoleh ke belakang, memastikan aku baik-baik saja, memastikan peganganku tidak lepas.
Sampai di tengah jalan persawahan yang sepi, dekat jembatan kecil dari bambu yang menuju klinik, Gus Azam menghentikan vespanya pelan. Aku kaget.
"Gus kenapa berhenti di sini?" tanyaku.
Gus Azam turun dari vespa, lalu berdiri di depanku, menatapku dalam-dalam. Embun pagi masih menempel di peci dan bulu-bulu sorbannya. Wajahnya diterangi cahaya matahari pagi yang baru muncul malu-malu dari balik sawah.
Gus Azam meraih kedua tanganku yang dingin, menggenggamnya dengan kedua tangannya yang besar dan hangat.
"Piah... terima kasih ya... telah bersedia menjadi istri Gus, dan memberikan kesempatan Gus untuk bisa merasakan hari pertama mengantar istri kontrol kehamilan... ini adalah hal yang sangat Gus nantikan sejak malam pertama kita menikah. Gus kira Gus tidak akan pernah merasakan momen ini."
Ya Allah, kalimat itu...
Aku makin tertunduk, wajahku panas, air mataku menetes.
"Iya Gus... terima kasih juga telah sabar menunggu Piah yang keras kepala ini... yang dulu selalu menolak, selalu jaga jarak karena takut tidak bisa jadi istri yang baik untuk Gus dan Ummah..."
Tangan kekar Gus Azam pun meraih tanganku yang melingkar di pinggangnya tadi, menggenggamnya erat, menghangatkannya yang dingin karena angin sawah.
"Keras kepala? Tidak, Piah... Piah bukan keras kepala, tapi itu prinsip seorang wanita yang punya adab. Dan Gus justru jatuh cinta karena adab itu. Karena Piah tidak murahan, Piah menjaga dirinya, Piah menjaga pandangannya. Sekarang Allah hadiahkan adab itu dengan amanah seindah ini. Jadi jangan pernah bilang diri Piah keras kepala lagi ya."
Sepanjang sisa jalan aku menangis bahagia di balik punggungnya, memeluknya lebih erat.
Sesampainya di klinik Bidan Norma, Alhamdulillah belum ada pasien lain. Kliniknya kecil, catnya hijau, halamannya bersih. Aku pun langsung masuk dan diperiksa.
Di dalam ruang periksa yang harum minyak telon itu, keajaiban terjadi.
Bu Bidan menempelkan alat USG di perutku yang diolesi gel dingin.
"Tit... tit... tit... tit..."
Suara detak jantung itu terdengar, cepat, kuat, dan jelas.
Gus Azam yang berdiri di sampingku langsung berlutut di samping ranjang periksa, menggenggam tanganku, mencium punggung tanganku lama sekali, dan menangis. Bahunya bergetar.
"Piah, itu anak kita... kamu dengar, Piah? Itu detak jantung anak kita..."
Bu Bidan Norma tersenyum haru, "Selamat ya Gus, Ning... usia 6 minggu, detak jantungnya kuat, janinnya sehat. InsyaAllah jadi anak sholeh sholehah penerus Darunnajah."
Setelah selesai, dalam perjalanan pulang kami tidak langsung pulang. Gus Azam membelokkan vespanya ke sebuah warung kecil di pinggir jalan dekat sawah, warung yang menjual bubur ayam hangat dan teh poci.
"Piah belum makan dari semalam, pasti calon santri kecil kita lapar. Kita makan di sini dulu ya, biar mualnya hilang, sebelum kita kembali ke pesantren dan menjadi suami siaga untuk Ning Ummah."
Di warung kecil itulah, Gus Azam menyuapiku bubur ayam dengan tangannya sendiri. Sangat telaten. Tangan seorang Gus besar yang biasanya hanya memegang kitab kuning dan mikrofon untuk ceramah di depan ribuan orang, pagi ini dengan sabar menyuapi istrinya yang sedang hamil muda.
Dan pagi itu, subuh yang syahdu di Jombang itu tidak hanya tentang mual. Tapi tentang awal kehidupan baru, tentang detak jantung pertama yang kami dengar bersama.
---Bersambung---