Zavian Hartwell, 38 tahun. Menikah dengan Viona Lestari, janda anak satu. Zavian kaget karena setelah menikah, Viona malah menyodorkan putrinya untuk melakukan malam pertama mereka.
"Viona, kau gila? Dia putrimu. Dia masih anak-anak, " Zavian.
"Kita menikah karena bisnis, aku punya laki-laki lain. Tapi kau akan tetap akan merasakan malam pertama, dengan putriku. Dia akan menggantikan aku." Viona
"Tapi bunda ..." Mirella menatap ibunya memohon.
"Diam, lakukan perintah bunda. Kalau tidak, kamu akan di kirim ke luar negeri. Puaskan daddy Zavian!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Paginya, ketika Mirella membuka matanya, kepalanya agak pusing dan tubuhnya di dekap oleh seseorang. Zavian. Mirella melotot panik. Apalagi saat menyadari di balik selimut yang menutupi tubuhnya, ia tidak mengenakan apa-apa.
Apa semalam dia dan lelaki dewasa ini sudah ...
Mirella memutar otaknya berpikir keras sembari mengingat-ingat. Lalu ia mengingat dirinya di bawa ke kamar mandi oleh pria itu dan
membantu membersihkan tubuhnya yang kepanasan dan gemetar hebat.
Ingatan itu perlahan mengalir kembali, jernih namun terasa memalukan. Zavian tidak melakukan hal yang buruk. Mirella menghela napas panjang, rasa lega bercampur malu yang luar biasa menyelimuti hatinya. Perlahan ia mencoba melepaskan pelukan lengan kekar itu dari pinggangnya, bergerak sangat pelan agar tidak membangunkannya. Namun baru saja ia sedikit bergeser, pelukan itu justru terasa semakin erat, seolah tak membiarkan dia pergi dari sana.
Jantung Mirella berdetak cepat sekali. Walaupun usianya dan suami ibunya ini terpaut jauh sekali, tapi ... Om Zavian, atau ... Daddy, seperti yang bundanya suruh dia panggil begitu, laki-laki ini memiliki ketampanan luar biasa yang dapat menarik hati banyak wanita di luar sana.
Wajahnya memang terlihat sudah dewasa, tapi tidak keliatan tua. Tubuhnya terawat. Tinggi badannya mungkin sekitar 190 cm. Mirella merasa mungil sekali berada di sampingnya. Belum lagi hidung mancung, bibir yang tegas, dan sepasang mata gelap yang biasanya terlihat tenang, namun saat terpejam seperti ini terlihat menyembunyikan kelelahan. Pokoknya menurut Mirella suami bundanya ini sangat amat tampan.
Lalu ... Kenapa bundanya tidak mau tidur dengan laki-laki setampan ini? Kenapa malah memberikan dirinya, putri kandung wanita itu sendiri. Kalau tidak mau berhubungan intim, kenapa mereka menikah? Mirella terus berpikir keras.
Ia lalu menelan ludah, jantungnya berdegup makin kencang. Ia menyadari betapa nyamannya berada di pelukan ini. Hangat, kokoh, dan entah mengapa membuatnya merasa terlindungi dari segala ketakutan di luar sana. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Atau mungkin karena dia tidak pernah dekat dengan laki-laki lain sebelumnya. Di sekolah, dia di anggap gadis aneh. Jadi dia selalu menyendiri di tempat yang sepi.
Tiba-tiba kelopak mata Zavian bergerak pelan. Pandangannya fokus pada wajah Mirella yang sedang menatapnya lekat-lekat. Gadis itu melotot kaget lalu buru-buru turun dari tempat tidur. Ia tidak sadar kalau dirinya sedang telanjang bulat.
Saat ia keluar dari selimut itu dan turun dari kasur, tentu saja Zavian bisa lihat semuanya.
Sial.
Zavian segera membuang muka ke arah lain. Wajah Mirella sudah memerah bak kepiting rebus. Sejenak dia hanya berdiri seperti orang bodoh sebelum akhirnya melihat ada kemeja laki-laki di atas sofa lalu segera di sambarnya kemeja tersebut dan buru-buru masuk ke kamar mandi.
Mirella berlari setengah berlari menuju kamar mandi, menutup pintu dengan gemetar dan menguncinya rapat-rapat. Punggungnya bersandar pada pintu, napasnya tersengal, wajahnya terasa panas membara sampai ke telinga.
Ia memeluk tubuhnya sendiri, kemeja besar milik Zavian yang baru saja ia pakai terjatuh sedikit dari bahunya, tapi ia tidak peduli. Rasa malu itu begitu besar hingga matanya berkaca-kaca. Bagaimana bisa dia begitu ceroboh? Bagaimana dia berani menampakkan dirinya seperti itu di depan pria dewasa yang bahkan belum lama ia kenal benar? Suami ibu kandungnya sendiri.
Di luar sana, di dalam kamar, Zavian menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Seharusnya semalam ia memakaikan pakaian untuk gadis itu. Mirella pasti merasa malu dan canggung saat ini.
Zavian bangkit berdiri, mengambilkan pakaian ganti yang bersih, sebuah gaun tidur sederhana yang ada dalam lemari kamar itu, mungkin milik Viona. Ia lalunberjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi, mengetuknya pelan, lembut, tidak menakutkan sama sekali.
"Mirella ..." panggilnya pelan, suaranya terdengar tenang di balik pintu kayu itu.
"Aku menaruh pakaian bersih di depan pintu ini. Kau bisa mengambilnya dan mengenakannya."
Ia menunggu beberapa detik, lalu melangkah pergi menjauh dari pintu itu, duduk di ujung tempat tidur, membelakangi pintu kamar mandi agar gadis itu merasa aman keluar.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Akhirnya pintu terbuka sedikit, tangan kecil yang gemetar menyambar pakaian itu lalu tertutup kembali dengan cepat. Zavian merutuk dalam hati. Dan yang paling tidak masuk akal lagi, gadis remaja itu mungkin akan terlibat dengannya nanti. Iya yakin dengan sikap Viona, wanita itu tidak akan tinggal diam. Tapi Mirella masih anak-anak, dia tidak mungkin terlibat dengan gadis itu bukan?
Tak lama kemudian, pintu terbuka sepenuhnya. Mirella berdiri di sana, menunduk dalam, rambutnya sedikit berantakan, gaun tidur itu terlihat terlalu longgar di tubuhnya yang kurus. Ia menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya saling meremas di depan perutnya.
"Da-daddy ..."
Zavian berbalik perlahan, menatap gadis itu dengan tatapan lembut. Ia tidak mendekat, tetap berdiri di tempatnya, memberi jarak yang cukup. Aneh sekali di panggil daddy. Gadis itu yang pertama memanggilnya seperti itu. Tapi bisa di bilang Mirella adalah anak tirinya sekarang. Hanya saja, hubungan mereka kini terasa canggung.
"Kau merasa pusing atau tidak enak badan?" tanya Zavian.
Mirella menggeleng. Kepalanya menunduk sambil menggigit bibirnya lirih.
"Lapar?"
Mirella menggeleng lagi. Dia mau keluar dari kamar ini karena sudah terlalu malu pada pria itu.
"A-aku... Aku bi-bisa keluar?" tanyanya tanpa berani menatap mata Zavian.
Zavian mengangguk pelan, memberi isyarat dengan tangan agar ia lewat duluan.
"Tentu saja. Silakan. Ruang tamu di ujung lorong. Kamarmu sedang di bersihkan oleh pembantu, tunggu saja di ruang tamu sampai mereka selesai."
Mirella menggangguk lalu melangkah cepat, hampir berlari melewati pria itu, matanya tetap tertuju pada lantai, tak berani melirik sedikit pun. Saat kakinya melangkah keluar dari kamar itu, ia baru merasa bisa bernapas lebih lega, meski dadanya masih berdebar kencang. Lorong rumah yang luas itu terasa asing namun setidaknya tidak ada tatapan di sana.
Ini memang adalah rumah Zavian. Setelah ibunya dan pria itu menikah, mereka langsung pindah ke sini. Dia juga. Karena ... Ibunya ingin dia tidur dengan laki-laki itu, ayah tirinya sendiri.
Mirella baru sadar. Bagaimana kalau nanti bundanya tanya dirinya sudah berhasil tidur dengan laki-laki itu? Kalau dia jawab tidak berhasil, pasti dia akan di marahi habis-habisan dan di hukum lagi.
Gadis itu terus berpikir keras sampai ia terhenti kaget saat melihat sang bunda sudah berdiri di depannya dengan tatapan mengintimidasi.
"Bu-bunda?"
"Pagi, putriku. Kenapa melihat bundamu seperti itu? Kau takut?"
Viona tersenyum miring menatap sang putri.
daddy zavian sayang sama mirella sangat tulus dan ikhlas, tapi penasaran mirella jadian sama siapa ya daddy zavian/bara ya...