Rania menatap tubuh Rina yang terlihat begitu kurus kering seolah tidak memiliki daging, padahal bisa dibilang bahwa Rina memiliki porsi makan yang begitu banyak ketika sedang mengisi perut, namun entah ke mana semua makanan yang sudah masuk sehingga dia terlihat begitu kurus dan pucat.
"Kok Mbak punya air susu?" Rania bertanya dengan nada heran.
Namun pertanyaan itu tidak pernah Rina jawab, tentu saja membuat Rania semakin bingung sehingga dia memutuskan untuk mencari tahu Dan setelah sedikit demi sedikit mengetahui maka Rania yang menjadi sangat syok, terlebih lagi dia juga menyadari bahwa Rina sama sekali tidak memiliki bayi namun dia terus memiliki air susu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. tangisan pilu
"Gila, Kenapa kita bisa nyasar seperti itu dan sekarang malah ketakutan seperti ini." Anwar menatap Edo dan juga kepala desa.
"Kalau kita pulang ke rumah apa nanti akan beresiko tuyul itu mengikuti juga?" Edo bertanya kepada mereka berdua.
"Tapi kan tidak mungkin juga bila kita Menghabiskan malam di pos ronda ini." Kepala desa terlihat tidak nyaman.
"Kalau sudah begini maka gosip itu memang benar bahwa Rina meninggal dunia karena dia telah bersekutu dengan para tuyul itu." Edo berkata dengan sangat.
Anwar dan juga kepala desa Saling pandang satu sama lain karena mereka kini juga masih Dilema dengan perasaan tersebut, sebenarnya kepergian mereka kali ini karena ingin menemui purnama dan meminta bantuannya, namun malah bertemu dengan tragedi yang cukup mengerikan sehingga menimbulkan rasa takut yang begitu besar.
Ini saja masih bingung antara mau pulang atau tetap bertahan di pos ronda ini, Karena Mereka takut bila nanti pulang ke rumah maka tuyul itu akan mengikuti mereka juga dan bisa saja nanti akan menimbulkan malapetaka untuk mereka bertiga yang telah bertemu secara langsung.
Grosaak.
"Opo kui?!" Anwar kaget sekali dan dia menoleh ke belakang untuk melihat.
"Sumber suara dari pohon pisang itu." Edo berkata dan dia duduk merapat.
"Eh tidak bisa ini kalau kita tetap ada di pos ronda, malah nanti yang ada akan terus bertemu dengan hal yang tidak baik." Kepala desa segera mengambil sandal dia.
"Eh tungguin aku!" Anwar kaget karena dia mau ditinggal oleh Kepala Desa dan juga Edo.
Namun langkah mereka kembali terhenti ketika di hadapan saat ini telah berdiri seorang wanita dengan rambut panjang serta gaun putih yang penuh dengan darah, bahkan saking takutnya saat ini mereka sampai tidak bisa bernafas karena takut bila nanti arwah itu akan menoleh dan mengetahui keberadaan mereka.
Edo dan yang lain Saling pandang satu sama lain karena mereka sedang mencari cara untuk kabur dari tempat ini tanpa menyadarkan sosok arwah tersebut, dugaan Anwar saat ini wanita itu adalah arwah Rina yang sedang gentayangan kesana kemari karena dia mengalami kematian yang sangat tragis sekali.
"Tolong aku, hiks hiks." Rina menangis dengan suara yang sangat menyayat hati.
"Rina?" Anwar justru memanggil dia untuk memastikan terlebih dahulu.
"Kok malah kau panggil sih!" Kepala desa mendorong Anwar karena dia merasa kesal.
Bruuugggh.
"Hiyaaaa seram nya!" Anwar berteriak ketika dia melihat sendiri bagaimana bentuk Rina saat ini.
Tetesan darah bertebaran ke mana-mana sehingga membuat arwar yang terjatuh di bawah kaki Rina ikut mencium aroma busuk tersebut, aroma darah bercampur dengan bau busuk bangkai Sehingga siapa saja yang mencium pasti akan ketakutan Setengah mati.
Edo segera menarik tangan Anwar agar pria itu bisa segera bangkit dan mereka harus berlari meninggalkan kawasan tersebut, namun apa daya karena kaki ini seolah mati sehingga tidak bisa bergerak dan berlari, terlebih lagi ketika Rina membalikkan tubuh untuk menatap mereka dengan air mata darah yang membasahi pipi dia.
"Tolong aku, sungguh aku tidak sanggup menahan rasa sakit ini." Rina berkata kepada mereka bertiga.
Bruugghhh.
Tanpa ada jawaban yang keluar atau pergerakan untuk melarikan diri, mereka bertiga pingsan di tempat karena tidak sanggup melihat Bagaimana keadaan Rina yang seperti itu, keheningan malam menjadi saksi bagaimana mereka tidak sanggup untuk melihat arwah yang sedang sangat menderita itu.
"Tolong aku, ini sangat menyakitkan sekali." Suara Rina terdengar begitu samar.
"Raniaaaaaaa....
Perlahan namun pasti sosok Rina yang sedang menangis itu mulai menghilang dari pandangan mata bersama dengan tiupan angin malam, suara anjing melolong pertanda dirinya juga melihat bagaimana arwah itu datang untuk meminta bantuan kepada para warga, kini hanya meninggalkan aroma yang begitu menusuk hidung.
"Tolong Kakak, Rania."
"Hiks, hiks..... Sakit sekali payudara ku.....
" Auuuuuuu......
"Raniaaaaaa... Hiks, Rania.....
Rintihan yang sangat menyakitkan hati bila ada manusia yang mendengarnya saat ini, Untung saja ketiga manusia itu sudah pingsan sehingga mereka sama sekali tidak mendengar Bagaimana Rina yang menangis kesakitan dan ingin mendapat bantuan dari sang adik yang masih hidup di dunia ini.
😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈☠️☠️😈😈😈
"Siapa dia, Ham?" Ayu bertanya ketika dia sedang keluar dari rumah untuk menjemur pakaian.
"Oh itu Delisa." Ilham tersenyum dan seolah Dia tidak memiliki kesalahan.
"Delisa siapa? Tidak pernah aku selama ini melihat dia datang ke sini." Tanya Ayu dengan nada penasaran yang begitu tinggi.
"Ya memang tidak pernah tahu aku bawa ke sini karena aku juga baru kenal dengan dia." Ujar Ilham tersenyum manis.
"Lah Terus kenapa dia sekarang ada di sini, lalu dia tadi malam tidur di rumah kau juga?" Ayu semakin bingung dan dia penasaran.
Delisa sendiri sama sekali tidak memiliki rasa malu dan malah menggandeng Ilham begitu saja di depan mata Ayu, tetangga baik Ilham ini sama sekali tidak paham Dan kini ia mulai merasa Jengah dengan kelakuan mereka berdua yang menurutnya sama sekali tidak pantas itu.
"Saya adalah calon istri dari Mas Ilham." Delisa mengenalkan diri tanpa ada rasa malu.
"Calon istri? Kau sudah membawa calon istri datang ke rumah saat ini!" Ayu sampai berteriak karena dia memang kaget bukan main.
"Ya Tentu saja tidak masalah karena sekarang aku memang tidak memiliki istri lagi dan Rina meninggal dunia." Ucap Ilham dengan nada yang begitu enteng.
"Kuburan Rina masih belum kering dan bunga itu masih menimbulkan aroma semerbak, lalu kau dengan tidak tahu malunya malah akan segera menikah lagi." Ayu berkata dengan emosi yang begitu tinggi.
"Eh kamu siapa sehingga bisa marah seperti itu?" Delisa berkata dengan nada yang sangat angkuh.
"Mau menikah lagi atau tidak Itu adalah urusan saya, Kamu tidak usah ikut campur karena kamu hanyalah Tetangga!" Ilham berkata dengan sangat tegas.
Bahkan Setelah dia berkata begitu maka langsung mengajak Delisa masuk ke dalam rumah meninggalkan Ayu sendirian, Ayu terbangun tidak percaya ketika dia melihat sendiri bahwa pria itu sudah membawa wanita lain masuk ke dalam rumah, meski dirinya hanyalah tetangga namun tetap saja Ayu ikut merasa geram dengan tindakan Ilham.
"Gila, aku harus lapor Pak RT karena dia telah membawa orang masuk ke dalam rumah." Tekad Ayu karena dia tahu Pak RT tidak suka pada Ilham.
"Memang pria anjing, istri belum juga ada seminggu tapi dia malah mau menikah lagi seperti ini." Ayu terus aja menggerutu.
"Bangsat, aduh aku geram sekali ini." wanita ini terlihat sangat kesal.
Meski dirinya hanyalah tetangga namun tetap saja Ayu merasa harus membela Rina yang saat ini sudah meninggal dunia, memang tidak masalah bila nanti Ilham akan menikah lagi dengan wanita mana saja, namun setidaknya harus menunggu waktu yang tepat dan saat ini adalah waktu yang begitu berduka karena dia baru saja kehilangan istri.
"Yu mau kemana?" Winar menegur Ayu yang berjalan cepat.
"Eh gila, Aku sebenarnya tidak suka bergosip tapi ini kalian harus tahu terlebih dahulu." Ayu mendekati tetangga dia.
"Apa? Tumben saja kau mau bergosip seperti ini dan terlihat sangat heboh!" Winar jadi penasaran bukan main.
"Gosip apa? aku juga mau dengar ini kalau ada gosip." Hania ikut mendekat karena kepo.
Terlebih lagi yang membawa kabar berita ini adalah orang yang selama ini Kalam dan tidak pernah mau bergosip dengan mereka, tapi mendadak saja hari ini Ayu Malah mengajak mereka duluan untuk membicarakan sesuatu yang kemungkinan sangat menggemparkan sekali.
Ayu segera menceritakan apa yang telah dia lihat lagi tadi tentang Ilham, tentu saja kabar itu langsung membuat mereka semua kaget dan reflek mulut para wanita itu menghujat kelakuan Ilham yang menurut mereka sangat tidak pantas, kini mereka baru tahu kenapa Ayu mau bergosip karena ini adalah fakta yang sangat mengejutkan sekali.