Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Freya de luca
Rara melangkah keluar dari kamar mandi dengan kimono mandi bahan sutra putih yang melilit tubuhnya. Uap air hangat masih tipis membubung, menguar bersama harum minyak lavender yang menempel di kulit mulusnya.
Ia berjalan mendekati meja rias berukuran besar dengan cermin berukir emas. Tangan lentiknya mengambil handuk kecil, menyapu sisa-sisa makeup tebal dan eyeliner tajam yang tadi pagi menghiasi wajah Zelara Sabiru. Begitu riasan tebal itu luntur sepenuhnya dilapis bilasan air bersih, Rara membeku menatap pantulan dirinya di cermin.
Di balik polesan antagonis yang menusuk, wajah asli Zelara ternyata luar biasa cantik natural. Kulitnya seputih porselen, matanya bulat jernih dengan bulu mata lentik alami, serta bibir merah muda segar tanpa perlu polesan gincu menyala. Wajah ini tidak memancarkan aura jahat sama sekali hanya sosok wanita muda yang anggun dan memesona.
Rara menyentuh pipinya, menatap lekat-lekat pantulan mata di cermin. Raut ragunya kini menghilang, berganti dengan kilat keteguhan yang membara.
"Kali ini... aku akan merubah semuanya," bisik Rara pelan namun sarat akan penekanan pada setiap kata. "Aku bakal bantu Bashkar. Nggak akan ku biarkan dia menderita sendirian lagi di dunia novel sialan ini!"
Dengan tekad yang sudah bulat, Rara melangkah menuju walk-in closet. Ia melewati deretan gaun-gaun mewah berlebihan, busana terbuka, dan pakaian dengan warna-warna mencolok yang biasa dikenakan Zelara untuk menarik perhatian atau sekadar menunjukkan keangkuhannya. Rara memilih gaun kasual berbahan rajut halus berwarna krem lembut berpotongan sederhana yang jatuh sedikit di bawah lutut. Tanpa perhiasan mencolok, tanpa gaun heboh.
Di depan meja rias, ia hanya memoleskan pelembab wajah, sedikit bedak tipis, dan lip balm berwarna merah muda alami. Riasannya sangat minim, menonjolkan kecantikan alaminya yang bersih dan hangat sangat berbeda dari sosok Zelara yang biasa dipenuhi aura permusuhan.
Setelah menyisir rambut panjangnya dan membiarkannya terurai bebas di bahu, Rara membuka pintu kamar dan melangkah keluar.
Suasana mansion di lantai bawah terasa begitu hening dan penuh tekanan. Saat Rara mulai menuruni anak tangga marmer satu per satu, pandangannya langsung tertuju ke arah ruang makan utama yang luas.
Di ujung meja makan panjang berukir mewah, seorang pria sedang duduk tenang memotong daging stik di piringnya.
Itu Bashkar Deluca.
Langkah kaki Rara sempat tertahan sejenak di anak tangga terakhir. Mata Rara tak berkedip menatap sosok suaminya secara langsung untuk pertama kali. Bashkar mengenakan kemeja hitam yang gulungan lengannya dinaikkan hingga sebatas siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh dan garis ketegangan tubuh yang sempurna. Pria itu memiliki rahang tegas yang terukir sempurna, hidung mancung yang tajam, serta rambut hitam pekat yang ditata sedikit berantakan namun tetap terlihat sangat elegan.
Namun, yang paling dominan dari diri Bashkar adalah auranya.
Pria itu memancarkan aura dominasi yang luar biasa dingin dan pekat. Udara di sekitar ruang makan seolah membeku setiap kali Bashkar menggerakkan jarinya. Para pelayan yang berdiri berjejer di sudut ruangan menundukkan kepala dalam-dalam, napas mereka bahkan terdengar sangat ditahan karena takut melakukan kesalahan sekecil apa pun yang bisa memancing kemarahan sang pemimpin mafia. Bahkan para pengawal berbadan tegap yang berjaga di sudut pintu tampak berdiri kaku penuh ketegangan. Aura kejam dan tak tersentuh itu memancar kuat dari tubuh Bashkar tanpa pria itu perlu mengucapkan sepatah kata pun. Semua orang takut padanya.
Kecuali Zelara atau lebih tepatnya, Rara saat ini.
Mengetahui semua kepedihan, kesepian, dan luka mendalam di balik wajah dingin itu, Rara tidak merasa takut sedikit pun. Yang tersisa di dalam dadanya hanyalah rasa simpati yang mendalam dan keinginan kuat untuk melindunginya.
Dengan langkah mantap dan tanpa ragu, Rara berjalan mendekati meja makan. Gesekan halus gaun sederhana yang dikenakannya menembus keheningan ruang makan.
Bashkar sama sekali tidak mendongak, jemarinya tetap tenang menggenggam pisau dan garpu, menganggap kehadiran istrinya seperti biasa awal dari omelan, bentakan, atau tumpahan kemarahan yang sudah biasa ia terima setiap hari.
Namun, bukannya berteriak atau melempar barang seperti biasa, Rara justru menarik salah satu kursi di dekat Bashkar dengan tenang, lalu mendudukkan dirinya di sana. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menopang dagu, dan menatap wajah tampan suaminya dari jarak dekat dengan binar mata yang hangat dan lembut.
Bashkar menghentikan gerakan pisaunya. Suasana di ruang makan yang tadinya dingin mendadak berada di titik beku. Pria itu perlahan mendongakkan kepala, mengalihkan pandangan kelamnya tepat ke arah wanita yang baru saja duduk di sampingnya. Tatapan matanya begitu tajam, pekat, dan pekat akan keheningan yang mengintimidasi tipe tatapan yang biasanya sanggup membuat pria dewasa bertubuh kekar berlutut memohon ampun.
Namun, alih-alih berteriak histeris, melempar piring, atau melontarkan caci maki seperti yang biasa dilakukan Zelara Sabiru setiap kali menatapnya, wanita di depannya ini justru mengumbar senyum tipis yang amat manis.
"Haii," sapa Rara ceria dengan nada suara yang teramat santai.
Suasana hening seketika. Para pelayan dan pengawal yang berdiri kaku di sudut ruangan sampai saling bertukar pandang tak percaya. Masing-masing dari mereka menahan napas, tak yakin apakah Nyonya mereka sedang merencanakan kegilaan baru atau benar-benar sudah hilang akal.
Jujur saja, di dalam hatinya, Rara merasa canggung setengah mati. Mengucapkan kata 'hai' dengan nada kasual pada seorang gembong mafia berdarah dingin bukanlah hal yang biasa ia lakukan di kehidupan lamanya sebagai siswi SMA. Apalagi saat ini, Bashkar masih terus menatapnya tanpa berkedip. Manik mata pria itu yang berwarna kelabu gelap seolah mengunci seluruh pergerakan Rara, menguliti setiap mimik wajahnya dengan ketelitian yang menakutkan.
Ditatap sejarak ini oleh pria sekelas Bashkar Deluca yang memiliki ketampanan di atas rata-rata rahang kokoh, hidung mancung, serta garis bibir yang menawan membuat darah di tubuh Rara berdesir hebat. Pipi Rara mendadak terasa panas. Merah merona menjalar cepat hingga ke ujung telinganya. Ia refleks mengalihkan pandangannya sebentar ke arah piring stik, tak kuat membendung daya pikat sang suami.
Anjirrr... ditatap pria tampan modelan begini emang beneran bikin jantung mau copot! jerit Rara histeris di dalam batinnya, memegangi dadanya yang berdegup kencang bak maraton. Tapi tunggu... dia kan suami gue sekarang?! Aduh, tapi tetep aja kagak aman buat kesehatan jantung gue kalau tiap hari disuguhi visual beginian!
Sebelum Rara sempat menguasai rasa gugupnya atau mengalirkan percakapan lebih jauh, sebuah langkah kaki beritme cepat dan kasar bergema nyaring dari arah pintu masuk utama ruang makan.
TAK! TAK! TAK!
Suara ketukan hak sepatu tinggi itu membelah hening dengan penuh keangkuhan.
"BASHKARRRR!"
Sebuah teriakan melengking nan penuh amarah melayang di udara. Seorang wanita berpenampilan sangat mewah dengan balutan gaun merah menyala dan perhiasan berkilauan melangkah masuk tanpa dihentikan oleh pengawal. Wajahnya dipenuhi amarah yang membara.
Dialah Freya Deluca kakak perempuan Bashkar. Seorang wanita yang sepanjang hidupnya dilimpahi kasih sayang dan kemewahan, namun menyimpan rasa benci yang teramat mendalam kepada adik laki-lakinya.
"Dasar tidak tahu diri!" sembur Freya begitu tiba di dekat meja makan. Tangannya mengepal keras di samping tubuh. "Apa yang sudah kau lakukan pada investor dari Eropa, hah?! Gara-gara campur tanganmu yang lancang itu, aku kehilangan proyek senilai ratusan miliar hari ini! Kau sengaja ingin menghancurkanku?!"
Bashkar sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Ia bahkan tidak menunjukkan riak terkejut atau panik sedikit pun. Dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan, ia menyapu mulutnya dengan serbet kain putih, lalu meletakkannya di atas meja.
"Proyek itu bermasalah," ucap Bashkar singkat. Suaranya berat, datar, dan tanpa emosi. "Perusahaan mitra yang kau ajak kerja sama terlibat pencucian uang. Jika ditandatangani, seluruh aset Deluca di sektor itu akan disita negara dalam kurun waktu satu bulan."