Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34.
Seminggu berlalu setelah Alfa dan Ayudia sah menjadi suami istri, cuti mereka telah habis dan saatnya kembali menjalani rutinitas seperti biasa, sesuai yang telah mereka bahas bersama kedua orangtua sebelumnya.
Dan pagi itu, keduanya bersiap menghadapi pekerjaan masing-masing yang seminggu ini mereka tinggalkan. Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian kerja, keduanya turun menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Alfa menarikkan kursi untuk istrinya lalu duduk di samping wanita tersebut. Kebersamaan sederhana seperti itu terasa istimewa bagi mereka apalagi masih pengantin baru
"Apa jadwalmu hari ini?" tanya Alfa sambil menyendokkan makanan ke piring Ayudia.
"Pagi ini ada rapat dengan tim proyek. Setelah itu, aku harus memeriksa perkembangan pekerjaan di lapangan," jawab Ayudia, lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Sepertinya jadwalmu hari ini sangat padat."
Ayudia mengangguk. "Sedikit. Kamu sendiri, bagaimana?"
"Jam sepuluh nanti aku ada janji dengan klien untuk membicarakan proyek gedung komersial..." Alfa menyesap air putih lalu melanjutkan, "...kalau kesepakatannya tercapai, timku akan segera menyiapkan rencana pekerjaan."
"Semoga semuanya lancar, ya." Ayudia tersenyum, lalu mengingatkan, "Jangan lupa makan siang. Jangan karena terlalu sibuk sampai lupa waktu."
Alfa tersenyum. "Kamu juga. Aku tidak mau istriku terlalu sibuk bekerja sampai lupa menjaga kesehatan."
Setelah menghabiskan sarapan, mereka mengambil tas dan barang-barang yang diperlukan kemudian berangkat ke kantor masing-masing.
***
Sesampainya di kantor, Ayudia langsung disambut oleh salah seorang staf yang menjadi bagian dari tim proyeknya. Gadis itu membawa beberapa berkas yang perlu diperiksa sebelum rapat dimulai.
"Selamat pagi, Bu Ayudia. Ini laporan perkembangan proyek yang kemarin Ibu minta. Ada beberapa bagian yang perlu mendapat persetujuan," ujarnya lantas menyerahkan map.
Ayudia membuka laporan tersebut lalu membaca bagian yang diberi tanda. "Tim lapangan sudah menjelaskan kendalanya?"
"Sudah, Bu. Mereka masih menunggu keputusan dari pusat mengenai perubahan material."
Ayudia meneliti laporan itu sejenak kemudian menutup map. "Masukkan ke agenda rapat. Kita bahas bersama agar keputusan yang diambil tidak menimbulkan masalah baru."
"Baik, Bu."
Tak lama kemudian, rapat dimulai. Ayudia mendengarkan penjelasan anggota tim sebelum memberikan pendapatnya. Ketika salah seorang staf mengusulkan jalan pintas untuk mengatasi keterlambatan pekerjaan, ia langsung menanggapi.
"Kita tidak bisa hanya mengejar waktu penyelesaian, tapi mengabaikan mutu pekerjaan. Kalau materialnya diganti, kita harus memastikan kualitasnya tetap sesuai standar!" tegas Ayudia.
Salah seorang anggota tim mengangguk. "Baik, Bu. Kami akan memeriksa kembali pilihan yang tersedia dan menyampaikan hasilnya hari ini."
"Pastikan koordinasi dengan tim lapangan berjalan baik. Saya tidak ingin keputusan dari kantor terlambat diterima oleh mereka yang mengerjakan langsung."
Setelah rapat selesai, Ayudia meminta sekretarisnya mengatur jadwal pemeriksaan lapangan. Ia ingin memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.
Menjelang siang, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Alfa muncul di layar.
["Sudah makan siang?"]
Ayudia tersenyum tipis lalu membalas. ["Sebentar lagi. Kamu sendiri sudah makan?"]
["Aku baru mau makan. Jangan sampai kamu lupa karena sibuk bekerja."]
Ayudia menggeleng sambil tersenyum. Meski sama sekali tak romantis, tetapi perhatian sederhana itu membuatnya merasa tetap dekat dengan suaminya di sela kesibukan di tempat berbeda.
Setelah membalas pesan tersebut, Ayudia menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum beristirahat dan melanjutkan pemeriksaan lapangan sesuai jadwal.
***
Di tempat berbeda
Alfa sedang menerima seorang klien di kantornya. Pria tersebut tertarik menggunakan jasa CV Pradana Karya untuk proyek pembangunan apartemen.
"Saya sudah melihat beberapa hasil pekerjaan CV Pradana Karya. Itulah alasan saya tertarik bekerja sama. Namun, saya ingin memastikan komunikasi selama proyek berlangsung berjalan lancar," ujar pria itu, lalu menyerahkan dokumen rancangan kerja.
Alfa mengangguk. "Setiap perkembangan akan dilaporkan secara berkala, Pak. Jika ada kendala, kami akan membicarakannya bersama sebelum mengambil keputusan."
Klien itu tampak puas. "Baiklah. Saya akan meminta tim menyiapkan dokumen kerja sama. Setelah itu, kita bisa membahas jadwal pelaksanaannya."
"Terima kasih atas kepercayaannya. Saya akan memastikan tim kami mempersiapkan segala sesuatu dengan baik."
Setelah klien berpamitan, Alfa meminta Desi menyiapkan dokumen yang diperlukan. Ia kemudian melanjutkan pekerjaan lain yang masih menunggu penyelesaian.
Di sela kesibukannya, Alfa menerima laporan dari Luthfi mengenai persediaan material di depo. Ada beberapa barang yang perlu segera dipesan agar stok tetap mencukupi kebutuhan pelanggan.
"Untuk material yang persediaannya mulai menipis, segera hubungi pemasok," pesan Alfa kepada Luthfi. "Pastikan harga dan kualitasnya sesuai sebelum melakukan pemesanan."
"Baik, Pak. Nanti saya laporkan lagi setelah mendapat kepastian dari pemasok."
Alfa kembali memeriksa berkas di mejanya. Memastikan seluruh pekerjaan berjalan lancar tanpa harus menunggu masalah muncul terlebih dahulu.
***
Kembali Ayudia
Menjelang sore, setelah menyelesaikan pemeriksaan lapangan wanita itu kembali ke kantor untuk menuntaskan laporannya. Ia memeriksa catatan hasil kunjungan sebelum menyerahkannya kepada sekretarisnya.
"Untuk bagian yang masih perlu diperbaiki, tolong sampaikan kepada tim terkait. Saya ingin mereka segera menindaklanjuti," ujar Ayudia.
"Baik, Bu. Apakah besok Ibu akan kembali ke lokasi yang sama?"
"Belum tentu. Kita lihat dulu laporan perkembangan mereka. Kalau perbaikannya berjalan sesuai arahan, aku bisa memeriksa proyek yang lain."
Setelah urusannya selesai, Ayudia merapikan meja dan memasukkan beberapa berkas ke dalam tas. Ia kemudian mengambil ponsel untuk mengirim pesan kepada Alfa.
["Pekerjaanku sudah selesai, ini mau pulang. Kamu masih di kantor, Mas?"]
Tak lama kemudian, balasan masuk.
["Masih. Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan. Kamu pulangnya hati-hati di jalan."]
Ayudia membaca pesan itu lalu membalas. ["Baiklah. Jangan pulang terlalu malam, ya. Aku tunggu di rumah."]
Setelah membalas pesan tersebut, Ayudia meninggalkan kantor dan berkendara pulang.
***
Alfa sendiri baru menyelesaikan pekerjaannya menjelang petang. Sebelum meninggalkan kantor, dia memastikan Desi telah menyiapkan dokumen untuk pertemuan berikutnya dan Luthfi sudah menghubungi pemasok material.
Sesampainya di rumah, Ayudia menyambutnya dengan senyuman manis lalu mengambil alih tas kerja suaminya, setelah mencium tangan pria itu.
"Mau langsung makan atau mandi dulu, Mas?" tanyanya.
"Sebaiknya aku mandi dulu, gerah rasanya seharian di luar," jawab Alfa.
Pria itu lantas menuju kamarnya untuk membersihkan diri, sementara Ayudia bergegas menaruh tas suaminya di ruang kerja. Setelahnya ia segera ke ruang makan, membuatkan minuman hangat.
Beberapa saat kemudian keduanya telah duduk bersama di meja makan, menyantap makanan hasil masakan Ayudia. Kebersamaan itu pun menjadi kesempatan bagi keduanya untuk berbagi cerita.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Ayudia disela makan.
"Lancar, kalau semua dokumen sudah beres, kami bisa segera membicarakan pelaksanaannya."
"Itu kabar bagus. Semoga proyeknya berjalan sesuai rencana."
"Bagaimana dengan proyek di kantormu?"
Ayudia menceritakan kendala yang ditemukan saat pemeriksaan lapangan dan keputusan yang diambil bersama tim. Alfa mendengarkan tanpa memotong, sesekali memberikan tanggapan ketika istrinya meminta pendapat.
*
*
*
Keesokan harinya
Ketika Alfa dan Ayudia hendak berangkat ke kantor, tiba-tiba ponsel pria itu berdering. Alfa tampak mengernyit mana kala mengetahui nama yang tertera di layar.
Ayudia yang melihat perubahan pada raut wajah suaminya lantas bertanya, "Ada apa, Mas? Telepon dari siapa?"
"Dari pihak penambang pasir."
"Ya sudah angkat, siapa tahu ada yang penting."
Alfa segera menggeser tombol hijau lalu menjawab, "Halo...?"
"Gawat, Pak! Ada masalah...sebaiknya Bapak segera datang kemari sekarang juga."