NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 — Sabtu di Magelang (Revisi)

“Bu Hartati menanyakan kamu, Ras. Di depan semua orang.” Suara Sekar terdengar jernih di ponsel meski angin sawah menderu.

Raras berdiri di pematang dengan caping milik Eyang di kepalanya. Di depannya, padi menguning sampai ke kaki Merapi yang berkabut, dan belasan buruh tani merunduk dengan ani-ani. Sabtu, pukul sembilan lewat lima belas.

“Arisannya Jumat sore?”

“Iya. Ibuku ikut, jadi aku dapat laporan lengkap sampai ke kuah soto.” Sekar menarik napas. “Bu Hartati bertanya, ‘Lho, Raras kok mboten ketingal, Bu Marlina?’ (Raras kok tidak kelihatan, Bu Marlina?) Bu Marlina menjawab kamu sedang pulang kampung untuk mengurus keluarga.”

“Pulang kampung.” Raras mengusap pangkal capingnya. “Rumahku memang di kampung.”

“Terus ada yang bertanya, ‘Kalau begitu, kenapa ada perempuan lain duduk di sebelah Ibu?’ Niken, Ras. Katanya pucat sekali dan tidak makan apa-apa. Bu Marlina memperkenalkannya lagi sebagai ‘anak kami’.”

Jemari Raras mengencang di ponsel. “Anak kami.”

“Ada lagi. Istri Pak Joko membicarakan soal pemasok. Katanya, suaminya bingung kenapa sekarang harus bayar tunai.” Sekar berhenti sejenak. “Bu Marlina diam lama sekali waktu mendengarnya. Ibuku bilang wajahnya berubah, seperti sedang menghitung sesuatu.”

“Menghitung apa?”

“Mungkin baru sadar siapa yang selama ini mengurus semuanya. Aku nggak tahu pasti. Tapi mukanya berubah.”

“Terima kasih, Sekar.” Raras memejamkan mata sejenak. “Aku senang akhirnya ada yang mulai menghitung. Tapi rasanya tetap tidak enak.”

“Tidak enak bagaimana?”

“Seperti menang lomba yang tidak pernah kuikuti.”

“Aku ke Magelang habis zuhur, bawa nasi liwet.” Suara Sekar melembut. “Jangan sendirian, ya.”

“Aku bersama Eyang dan Bapak.”

“Itu sendirian versi bangsawan.”

Raras tertawa, singkat dan basah, lalu mematikan sambungan.

“Nduk, mrene (sini).” Eyang duduk di bangku bambu di bawah pohon sawo, tongkatnya bersandar ke batang. “Tanganmu masih diplester. Jangan dipakai memotong padi. Lungguh wae (duduk saja).”

“Raras cuma mau melihat, Eyang.”

“Ya, lihat. Tapi rasakan juga.” Eyang menepuk bangku di sampingnya. “Gabah itu dipahami dari tangan, bukan cuma dari mata.”

Raras duduk. Dari bawah, bau jerami basah bercampur tanah naik ke hidungnya, dan sesuatu di dadanya yang sejak Senin mengepal mulai longgar satu jari.

“Dulu Danang ikut panen di sini, ya, Eyang?”

“Sekali, tahun pertama. Pakai sepatu putih, lalu mengeluh kena lumpur.” Eyang mendengus. “Tapi dia ikut menimbang hasil panen. Hitungannya cepat. Anak itu pintar, Nduk.”

“Eyang tidak pernah bilang begitu.”

“Buat apa? Kamu pasti senang mendengarnya. Aku takut kamu terlalu bahagia sampai tidak melihat hal lain.”

Raras menunduk. “Raras memang tidak melihatnya.”

“Dan itu bukan dosa. Kamu cuma tidak tahu.” Eyang menepuk lututnya. “Sing tanpo dosa kuwi ora ana, Nduk (yang tanpa dosa itu tidak ada, Nduk). Yang penting, sekarang kamu sudah melihat.”

“Raras sudah melihat, Eyang. Tapi Raras belum selesai menangis.”

“Kalau mau menangis, menangislah. Neng kene ora ana sing ngerti (di sini tidak ada yang tahu).”

Tapi Raras tidak menangis. Ia memandang padi bergoyang dan membiarkan angin yang menangis untuknya.

“Mbak Raras!” Seorang lelaki berkemeja batik datang dari arah jalan desa, map plastik terselip di ketiaknya. Aditya berjalan di belakangnya sambil menepis jerami dari sarung.

“Ini Pak Sumarno, Nduk. Advokat yang Bapak ceritakan.”

“Pak Sumarno.” Raras berdiri dan menjabat tangan lelaki itu dengan tangan kirinya. “Terima kasih sudah jauh-jauh ke sini.”

“Saya yang berterima kasih, Mbak. Jarang ada klien yang mengajak saya bertemu di sawah.” Ia tersenyum, lalu membuka map. “Saya sudah membaca surat dari Pak Danang. Kalimat di halaman dua itu bukan cuma tidak pantas, Mbak. Isinya juga tidak punya dasar yang jelas.”

“Maksud Bapak?”

“Surat itu menyatakan perpisahan terjadi karena Mbak ‘tidak mampu mendampingi suami dalam perkembangan usahanya’. Pernyataan seperti itu bisa merugikan Mbak kalau nanti ada sengketa harta.” Ia menyodorkan satu lembar. “Ini usulan kalimat penggantinya.”

Raras membaca dengan jari di bawah setiap baris. Kalimat itu rapi, netral, dan dingin: perpisahan terjadi atas kesepakatan bersama karena perbedaan tujuan hidup.

“Atas kesepakatan bersama,” ia mengulang. “Saya tidak sepakat, Pak.”

“Itu rumusan yang umum dipakai, Mbak.”

“Saya mengerti, Pak. Tapi Mas Danang meminta cerai karena ada perempuan lain. Dia sendiri sudah mengaku kepada saya pada Senin malam.” Suaranya datar, tetapi tangan kirinya mencengkeram tepi kertas. “Kalau surat ini menyebut kesepakatan bersama, berarti saya ikut mengakui bahwa perceraian ini pilihan saya juga. Padahal bukan.”

“Lalu Mbak ingin kalimatnya seperti apa?”

“Saya tidak ingin menyebut nama siapa pun, Pak. Saya hanya ingin menulis yang benar.” Raras menghela napas. “Pihak pertama mengakui telah menjalin hubungan dengan pihak lain sebelum surat ini disusun. Itu saja.”

Pak Sumarno menurunkan kacamatanya. “Kalimat itu tidak menuduh, Mbak. Kalimat itu mencatat fakta yang sudah diakui.”

“Itu yang saya inginkan.”

“Baik. Rumusannya jelas dan sesuai dengan fakta yang Mbak sampaikan. Pihak mereka mungkin akan menolak, tetapi mereka harus menjelaskan alasannya.” Ia mencatat di mapnya. “Kita kirim sekarang?”

“Sebentar, Pak.” Raras menahan lembar itu di dadanya. “Kalau kalimat ini dikirim, masih adakah jalan kembali kepada Mas Danang yang dulu?”

“Jalan itu sudah ditutup sejak surat itu dibuat, Mbak. Bukan karena kalimat yang akan kita kirim.”

“Saya tahu.” Ia menelan ludah. “Saya cuma perlu mendengarnya dari orang lain. Saya takut selama ini saya sendiri yang menutup jalan itu.”

“Mbak tidak menutup apa-apa. Mbak hanya menolak menandatangani pernyataan yang tidak benar.”

“Sekarang saja, Pak.” Raras menoleh pada Aditya. “Raras boleh, Pak?”

“Itu keputusanmu, Nduk. Bapak cuma bertugas membawa kopi.”

“Bapak tidak melarang?”

“Bapak tidak minta kamu menang, Nduk. Bapak cuma tidak mau kamu kalah karena diam. Kirim.”

Ponsel Raras bergetar di saku kebaya. Pesan Marlina, singkat: Ini Sabtu, Raras.

“Dari Ibu, Pak,” kata Raras, lalu mengetik dengan jempol kiri. Jawaban Raras sudah dikirim lewat Pak Sumarno, Bu. Mohon dibaca di sana.

“Cuma itu?” tanya Aditya dari belakangnya.

“Raras tidak perlu menjelaskan dua kali, Pak. Jawabannya sudah ada di surat.”

“Bagus. Orang yang menjelaskan berkali-kali biasanya takut tidak dipercaya.”

Pesan itu terkirim pukul sebelas kurang sepuluh. Raras kembali ke pematang dan memegang batang padi pertama dengan tangan kiri, merasakan butirnya yang berat dan kering. Seorang buruh menunjukkan cara memotongnya, dan ia tidak lagi memikirkan telepon. Ia mencoba, hasilnya miring, dan seluruh petak tertawa kecil.

“Ndoro, malah dipotong dari bawah,” kata Kang Sarto, mandor tua itu, sambil nyengir. “Ngeten, Ndoro (begini, Ndoro).”

“Terima kasih, Kang.” Raras tertawa, dan untuk sesaat suaranya kembali menjadi miliknya sendiri.

“Aku datang bawa nasi liwet, bukan bawa lumpur!” Sekar muncul di pematang dengan rantang di kedua tangan dan sandal yang sudah dipenuhi tanah. “Eyang, saya nggak sengaja.”

“Wis, lungguh (sudah, duduk).” Eyang membuka rantang dan mengendus. “Santane ora pelit. Bocah iki lulus (santannya tidak pelit. Anak ini lulus).”

“Alhamdulillah, lulus.” Sekar duduk dan menyodorkan sendok. “Ras, jadi kalimatnya sudah dikirim?”

“Sudah. Pukul sebelas kurang sepuluh.”

“Isinya apa?”

“Satu kalimat, Sekar. Mas Danang mengakui hubungan itu sebelum surat disusun.”

“Cuma itu?” Sekar membelalak. “Itu kalimat paling sopan yang pernah menampar orang.”

“Itu fakta. Fakta tidak perlu berteriak.”

“Terus kamu menelepon dia?”

“Tidak.” Raras mengaduk nasinya. “Tapi tiga kali pagi ini aku membuka kontaknya. Tiga kali juga aku menutupnya.”

“Itu bukan berarti kamu lemah, Ras.”

“Itu berarti aku masih manusia.” Raras tersenyum miring. “Bedanya, sekarang jempolku sudah belajar berhenti.”

Ponsel Pak Sumarno berdering tepat saat matahari tegak di ubun-ubun.

“Pak Sumarno.” Ia mendengarkan, wajahnya mengeras. “Ya. Baik. Saya sudah membaca. Terima kasih.” Ia menurunkan ponsel. “Mbak Raras, mereka sudah membalas lewat email.”

“Apa jawaban mereka, Pak?”

“Mereka menolak mengganti kalimat itu.” Ia membuka layar dan menyerahkannya. “Ada satu hal lagi. Seseorang meneruskan rangkaian email tanpa menghapus bagian bawahnya.”

Raras menggulir ke bawah. Di bawah balasan sopan pengacara itu, tertempel potongan percakapan dengan nama Surya Prasetya dan waktu kiriman dua puluh menit sebelumnya.

“Rapat sampai malam. Jangan ke mana-mana.”

“Itu bukan pesan untuk kita, Mbak,” kata Pak Sumarno. “Tapi sudah terlanjur ikut terkirim.”

“Rapat apa, Pak?”

“Saya tidak tahu, Mbak. Saya tidak mau menebak.”

“Bapak benar.” Raras mengembalikan ponsel itu. Tangan kirinya dingin, padahal matahari tepat di atas kepala. “Jangan ke mana-mana. Itu bukan kalimat orang yang mau berunding, Pak.”

“Itu kalimat orang yang menyuruh orang lain tetap di tempat.”

“Berarti Mas Danang akan melakukan sesuatu malam ini.”

“Atau ada orang yang akan melakukan sesuatu untuknya.”

Raras menatap hamparan padi di hadapannya. Ia ingin bertanya lebih jauh, ingin menelepon Danang dan memastikan apa yang sedang terjadi. Namun, ia tahu kebiasaan itu terlalu mudah kembali. Kali ini ia memilih menyimpan ponselnya dan menyelesaikan makan siang bersama keluarganya. Untuk sementara, ia tidak akan berlari mengejar jawaban yang belum tentu ingin diberikan kepadanya.

1
Muft Smoker
lanjuuut kak
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!