NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 10] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Lampu gantung kristal di plafon aula megah itu berpendar temaram, memantulkan bayangan-bayangan panjang yang mencekam di atas lantai marmer hitam. Udara di dalam ruangan terasa berat, pekat oleh aroma kayu pinus mahal dan tembakau.

Di ambang pintu ganda setinggi tiga meter, Oscar berdiri mematung. Posisinya agak kaku, jemarinya mengepal di samping paha sebelum ia melangkah masuk.

"Sepertinya ada masalah pelik yang baru saja mengganggu pikiranmu?"

Edwardo Carlous menyapa tanpa beralih dari dokumen di mejanya. Suaranya berat, bergema tenang namun sarat intimidasinya.

Oscar melangkah makin mendekat. Ia memiringkan kepalanya sedikit ke arah pintu, memberi gestur telak berupa kerlingan mata dan gesture tangan terbuka pada para pengawal berjas hitam yang berdiri di sisi aula. Isyarat mutlak bahwa pembicaraan ini hanya untuk empat mata.

Para pengawal membungkuk hormat lalu mundur perlahan, menutup pintu kayu jati itu tanpa suara.

"Ini masalah soal pernikahan ku..." kata Oscar pelan, suaranya sedikit berguncang saat melintasi karpet tebal aula.

Edward tak lantas menyahut. Ia menyandar pada kursi kulitnya, melirik jam tangan platinum yang melingkar di pergelangan tangannya. Matanya dingin, tajam memindai raut wajah sang adik.

"Lima belas menit," potong Edward Carlous datar, tanpa basa-basi. "Sebentar lagi aku harus berangkat, dan aku tidak punya waktu untuk dibuang."

Oscar menarik napas panjang, mengusap tengkuknya yang terasa dingin.

"Jadi...?"jujur saja Oscar sebenarnya sangatlah tidak ingin berbincang dengan Kaka nya ini,namun tidak lucu nantinya jika rahasia seperti ini terbongkar oleh Kaka nya sendiri ka

"Sebenarnya berapa nominal pastinya?" tanya Oscar ragu, volumenya hampir menyerupai bisikan.

Edward hanya tersenyum kecil. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan sinis, tentunya ia mengerti betul maksud kedatangan adiknya ini.

"Tiga miliar," katanya pelan, menyilangkan kedua tangan. "Sudah termasuk perjanjian jika kau ingin melampiaskan sesuatu padanya."lanjut setelahnya.

Edward memberi penekanan pada kata terakhir, sengaja menyenggol realitas bahwa pria di hadapannya ini baru saja mengikat janji suci dengan seorang wanita—sebuah ikatan yang di mata Edward tak lebih dari transaksi bisnis.

Wajah Oscar memerah, dadanya naik turun menahan gelombang kejengkelan. "Aku tidak sebejat itu!" balasnya kesal, suaranya naik satu oktav.

"Lalu apa sebenarnya yang kau inginkan, Adikku?" tanya Edward lembut, namun nada mengejek jelas menyertai setiap suku katanya.

Edward bangkit berdiri dari kursi kebesarannya. Langkahnya tenang namun berwibawa, berjalan melewati Oscar. Ketika keduanya berpapasan, terlihat jelas perbedaan postur mereka—Edward sang kakak berdiri begitu tegap dengan aura dominan meskipun kenyataannya tinggi badan Oscar tetaplah mengalahkan nya karena Edward hanya memiliki tinggi badan wanita ideal.

Tentu saja...rambut hitam pekat, middle part yang sangat rapi, sedikit wavy alami, dengan beberapa helaian tipis di sekitar dahi.dan hanya memiliki tinggi badan 155 CM!

Edward berjalan menuju sebuah lemari kayu ukir kecil di sudut ruangan, tempat koleksi wine,dan bir langka miliknya tersimpan rapi. Jemari tangannya yang kokoh mengambil satu gelas kristal saja, lalu menuangkan cairan merah pekat itu setinggi dua jari. Tanpa menuang ke gelas kedua, ia justru menyodorkan botol wine yang tersisa langsung ke dada adiknya.

"Mungkin... ucapan selamat dan selebrasi bersamaku?" ujar Edward. Ia memahami betul gestur kecemasan yang terpancar dari otot-otot bahu adiknya yang tegang. Setidaknya Ini cara Edward menghibur menyodorkan alkohol keras di tengah hawa dingin ruangan.

Oscar menatap botol berlabel gelap di tangannya. Sempat tersirat rasa hangat atas kepedulian kakaknya, namun bayangan tentang sosok wanita di rumahnya mendadak menyusup ke pikiran, merusak segalanya.

"Aku berpikir mencari cara mempertahankannya hingga waktu kontrak habis adalah hal yang baik. Setidaknya sampai masalah lainnya muncul," gumam Oscar pelan, mengamati pantulan cahaya lampu pada permukaan botol.

"Mereka datang dan mempertanyakan tentang statusku," lanjut Oscar. Ia menegakkan tubuhnya, menatap lurus pada sang kakak. "Mereka bilang, seharusnya dengan statusku saat ini, tidak mungkin aku berurusan langsung dengan hutang kontrak."

Oscar menghentikan ucapannya sejenak. Ia membuka sumbat botol, lalu menenggak wine tersebut beberapa kali langsung dari mulut botolnya. Di hadapan Edward, raut wajah pria itu tampak sarat ditindih rasa bersalah yang teramat sangat.

Edward menyadari perubahan raut itu. Mata tajamnya menyipit, mengunci pergerakan sang adik.

"Mereka meminta perdamaian dariku..." sambung Oscar seraya menyapu sisa minuman di bibirnya dengan punggung tangan. "...dan memintaku secara langsung menghapuskan saja jejak hutang tersebut."

Satu alis Edward sedikit terangkat. Ia menyandarkan pinggulnya pada tepi meja kerja, bersedekap dada. Mendengar permintaan konyol itu, rasa geli yang kelam mendadak menyeruak di dadanya.

"Apa mereka serius?" tanya Edward, senyumnya menghilang, berganti raut heran yang meremehkan.

"Yah, mereka juga bilang secara langsung jika wanita itu tidak memiliki ikatan darah resmi dengan keluarga Lezman," tambah Oscar.

"Ikatan?" cetus Edward singkat.

Hening seketika merayapi ruangan luas itu. Suasana mendadak mencengkam ketika tawa sayup mulai terdengar dari tenggorokan Edward . Tawa itu perlahan membesar, menyebar kedinginan di antara dinding-dinding aula yang sunyi.

Suara tawanya terdengar mengerikan—seperti sosok iblis yang baru saja menemukan domba tersesat untuk dimangsa.

"Apa mereka sedang bercanda?" Edward mendadak merubah sikapnya. Raut santainya sirnah total. Tatapannya mendadak liar dan tajam, seolah siap menerkam siapa saja yang ada di hadapannya. "Denganku? Dengan hutang sekecil ini?!"

Edward maju satu langkah, menekan intonasinya. "Setelah berhasil mencuri... dan mempermalukan nama Ayah?! Lalu dengan entengnya mereka bermain api?!"

Oscar menyusutkan bahunya dan memilih bungkam. Ia tahu betul, jika sang kakak sudah tersulit emosi seperti ini, bahkan napas keras pun bisa dianggap sebagai ancaman. Ia tak berani mengusiknya sedikit pun.

Edward membalikkan badan, mengepalkan tangan di belakang punggungnya. "Mereka sengaja melakukannya demi melindungi garis darah keturunan tersisa. Dan aku yakin wanita itu... di rumahmu, masih merencanakan sesuatu, kan?"

Edward mendengus dingin. "Dasar jalang!. Wanita bernama Ananira itu benar-benar nekat!"

Meskipun Edward mengucapkan kalimat itu dengan nada tegas yang dibuat-buat, Oscar justru tercekat. Ada kekeliruan fatal yang baru saja diucapkan kakaknya.

"Namanya Anisa, Kak... bukan Ananira," potong Oscar hati-hati, membetulkan kesalahan itu. "Dan kebetulan... Anisa ini yang menikah denganku."

Langkah Edward terhenti mendadak. Ia membalikkan badan dengan cepat, matanya membelalak penuh ketidakpercayaan.

"siapa Anisa?"

"iyah itulah dia"balasan Oscar singkat namun cukup jelas.

"Apa?!" serunya kasar. "Tidak mungkin!, Padahal aku sudah mengirimkan seseorang untuk menjemputnya ke rumahmu! Bagaimana mungkin dia salah membawa orang?!"

"Aku mengerti, Kak," sahut Oscar berusaha menenangkan atmosfer yang mendadak memanas. "Tapi sekarang... posisinya adalah aku sudah terlanjur meyakinkannya dan menikahinya. Dan..."

"Dan apa?!" tekan Edward , menatap adiknya menuntut.

Oscar menelan ludah, menatap botol di tangannya sebelum memberanikan diri menatap mata Edward . "Dan... aku rasa mungkin sangatlah tidak baik jika pernikahan ini selesai begitu saja."

Edward menatap adiknya dalam-dalam selama beberapa detik, sebelum akhirnya hela napas panjang keluar dari hidungnya.

"Ahh... aku mengerti," gumam Edward seraya menyunggingkan senyum sarat makna. "Itu terserah padamu mau melanjutkan atau bagaimana. Yang jelas, si tua bangka itu benar-benar sudah memancing emosiku."

Oscar menghembuskan napas lega yang teramat sangat. Ia memahami betul betapa mengerikannya situasi sang kakak saat ini, dan ia sangat bersyukur emosi membara itu tidak dilampiaskan kepadanya.

Edward berjalan perlahan menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan kota malam. "Bagaimana dengan Tuan Muda keluarga Li?" tanyanya pelan. Meskipun membelakangi adiknya, nada bicaranya jelas menuntut jawaban instan.

"Maksud Kakak... An Liu Li?" tanya Oscar memastikan.

"Yah..." Edward tercekat pelan. Ia menghembuskan napas keras, mengamati embun yang terbentuk dari napasnya di kaca jendela.

"Baru-baru ini, sistem pengamanan data resmi keluarga kita ada yang berusaha membobolnya," ujar Edward .

Oscar melangkah maju satu tindak, matanya melebar terkejut. "Apa?!"

"Setelah bawahanku menyelidikinya," lanjut Edward tanpa menoleh, "diduga penyerangan tiba-tiba itu datang dari seorang hacker suruhan An Liu sendiri. Semua bukti yang ditemukan terlihat jelas. Tak bisa dipungkiri tuan muda itu memiliki rasa berani untuk melawanku. Namun tetap saja... dia hanyalah bocah ingusan."

Edward berbalik, menatap Oscar dengan sorot mata merendahkan. "Karena hacker yang ia sewa untungnya hanya berhasil mengorek lapisan data luar tentang siapa sebenarnya kamu dengan topengmu... Oscar."

"Ma-maksud Kakak?" suara Oscar tercekat di tenggorokan, tangannya mengepal erat di samping badan.

"Data yang berhasil ia rebut hanyalah data terluar milikmu. Seolah ia benar-benar mengincarmu secara personal. Dan jelas, aku tidak menyukai hal tersebut," terang Edward dengan nada dingin yang menusuk tulang. Ia tahu adiknya memiliki banyak musuh di luar sana, namun jika sudah menyentuh ranah data pribadi keluarga Carlous, ia tak akan tinggal diam.

Edward menepuk dua kali pinggul Oscar cukup keras hingga adiknya itu sedikit terdorong. "Selebihnya, aku harap kau bisa mengurus pria tersebut. Dan urusan perihal Azriel dan Ananira, biar itu menjadi tanggung jawabku."sebelum Edward pergi ia tak sengan menghabiskan secangkir wine milik nya.

Edward melangkah melewati Oscar menuju pintu keluar. Namun tepat sebelum ia benar-benar meninggalkan adiknya di dalam aula yang sepi itu, Edward melangkah. Posisinya sudah membelakangi Oscar, hanya kepalanya yang menoleh sedikit ke belakang.

"Dan satu lagi..." tambah Edward , suaranya makin merendah, bernada peringatan berbahaya. "Baru-baru ini Ezekiel dan Roma mengatakan padaku keadaan mansion saat gadis itu datang... dan saat bagaimana An Liu memiliki ketertarikan alami terhadap gadis itu."

Edward membalikkan sedikit badannya, menatap tajam langsung ke manik mata Oscar. "Aku tidak mau salah menebak, tapi dari dugaan yang mereka sampaikan, aku bisa menyimpulkan satu hal. Sepertinya pria tersebut memang terobsesi dengan istrimu.

Perkataan sang Kaka berhasil menyentil dirinya seketika dari lamunan semula.

"Jika iya... semuanya akan terdengar jelas mengapa hanya data pribadimu saja yang ia korek, bukan?"

Oscar berdiri kaku. Tekanan di dadanya semakin berat saat menyadari jaring permusuhan ini ternyata jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.

"Aku mengerti, Kak," jawab Oscar mantap meski raut wajahnya pucat.

"Perbincangan selesai. Pulanglah, malam ini aku harus segera pergi," potong Edward tegas.

Ia kembali akhirnya memilih keluar aula. di ambang pintu, terdengar langkah sepatu kulit nya mengema. Tanpa menoleh lagi, sebuah intonasi dingin keluar dari mulutnya

"Ingat... berhati-hatilah."ucapan itu keluar begitu saja dari balik lorong yang ia lewati.

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!