NovelToon NovelToon
Cegil Merajut Luka Hatinya

Cegil Merajut Luka Hatinya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."

Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.

Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang membawa satu rahasia terbesar. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.

Saat Rahasia Ziva mulai terkuak, memicu antara benci dan cinta. Apakah Ziva akan benar-benar merajut luka hatinya Rian, atau justru hancur bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Rian Menuntut.

Suasana kelas XII A mendadak seperti ruang interogasi tanpa AC. Pengap dan mencekik.

Marvel bangkit dari kursinya. Langkah kakinya yang disengaja lambat terdengar dominan di antara kesunyian. Dia berjalan menghampiri Rian, lalu berhenti tepat di samping meja yang baru saja digebrak.

Marvel terkekeh, suara renyah yang terdengar sangat menjengkelkan di situasi sekritis ini.

"Santai, Yan. Gak usah bawa-bawa ujian semester," Marvel menepuk bahu Rian, tapi Rian langsung menepisnya dengan sentakan kasar. Marvel tidak tersinggung, dia justru menatap seisi kelas sambil menaikkan sebelah alisnya. "Admin grup angkatan cuma nerima submisi. Lo gak bisa salahin mereka kalau ada konten yang... highly requested kayak foto lo sama Ziva semalem."

"Gue gak nanya prosedur admin, Vel," potong Rian. Suaranya tidak lagi meledak-ledak, melainkan turun beberapa oktav menjadi bisikan yang jauh lebih berbahaya. "Gue nanya siapa."

Di ambang pintu, Ziva masih mengamati dengan tenang. Namun, matanya tidak tertuju pada Rian atau Marvel.

Pandangannya terkunci pada Gaby yang diam-diam mencoba mundur dari kerumunan koridor, berniat menyelinap pergi.

Ziva melangkah masuk. Anggun, tanpa suara, tapi kehadirannya langsung mengalihkan sebagian atensi. Dia berjalan melewati Marvel begitu saja, seolah cowok populer itu hanyalah properti kelas yang tidak penting.

Ziva berhenti tepat di depan sebuah meja di barisan kedua, tempat tas ransel berlogo desainer milik Gaby berada.

"Mau ke mana, Gab? Barangnya ketinggalan," ucapan Ziva membuat Gaby menghentikan langkahnya di dekat pintu belakang.

Gaby menoleh dengan wajah pias. "Gue mau ke toilet. Minggir lo."

"Toilet atau mau hapus chat log?" Ziva mengambil ponsel pintar yang tergeletak di atas meja Gaby—ponsel dengan casing penuh stiker hologram.

"Balikin hp gue! Lo gak ada hak ya, cewek sialan!" Gaby histeris, dia berlari maju hendak merebut ponselnya.

Namun, sebelum Gaby sempat menyentuh Ziva, Rian sudah bergerak lebih cepat.

Badan tinggi Rian langsung memblokade pergerakan Gaby.

Rian tidak menyentuh Gaby, tapi tatapan matanya yang sedingin es membuat cewek itu memaku di tempat.

"Buka hp-nya, Ziv," perintah Rian tanpa mengalihkan pandangan dari Gaby.

"Rian! Lo gila ya? Lo belain cewek ini dan mau ngelanggar privasi temen angkatan lo sendiri?!" Marvel mulai menaikkan nada suaranya, merasa otoritasnya sebagai 'penguasa' informal di angkatan mereka mulai ditantang secara terbuka oleh Rian yang biasanya penurut.

Ziva mengabaikan perdebatan itu. Dia menimang ponsel Gaby, lalu mengetuk layarnya yang ternyata tidak terkunci karena Gaby terlalu panik saat meninggalkan mejanya tadi.

Aplikasi pesan instan masih terbuka di sebuah grup chat rahasia berisi empat orang.

Ziva tersenyum tipis. "Gak perlu dilanggar, Vel. Pintunya emang kebuka."

Ziva berdeham, lalu membaca baris demi baris pesan di layar dengan suara yang cukup lantang agar terdengar hingga ke koridor depan.

"'Gab, kirim sekarang ke grup angkatan pake akun bot. Kasih narasi kalau Ziva yang gatel dateng ke rumah Rian malem-malem. Biar seangkatan tahu dia serendah apa.'" Ziva menjeda bacaannya, menatap Gaby yang kini mulai gemetar hebat. "'Dan mastiin Rian gak bakal bisa ngebela dia lagi karena gengsi.'"

"Cukup, Ziv!" teriak Gaby, matanya mulai berkaca-kaca karena malu dan terpojok.

"Itu ketikan lo, Gab. Mau tahu siapa yang perintah?" Ziva membalikkan layar ponsel itu ke arah Rian dan seluruh anak di kelas. Nama kontak di bagian atas obrolan itu tertera dengan jelas, Keysha.

Kasus selesai. Pelakunya benderang.

Marvel terdiam. Dia tahu tabiat Keysha, tapi dia tidak menyangka sepupunya itu akan seceroboh ini meninggalkan jejak digital.

Marvel berdecak, berbalik memunggungi ruang kelas sambil mengacak rambutnya frustrasi. Sial, Keysha benar-benar merusak reputasi circle mereka hari ini.

Rian menarik napas panjang. Kemarahan yang tadi menguasai matanya kini meredup, digantikan oleh kekecewaan yang sangat dalam. Bukan kecewa pada Gaby, tapi pada fakta bahwa selama ini dia menghabiskan energinya untuk melindungi orang-orang seperti Keysha dan lingkarannya.

Rian berjalan mendekati Gaby. Jarak mereka dekat, tapi aura Rian membuat Gaby merasa ingin tenggelam ke dalam lantai.

"Lo tahu apa yang paling gue benci dari lo semua, Gab?" Rian bertanya, suaranya sangat tenang, tapi justru ketenangan itu yang meneror. "Lo semua ngerasa bisa ngancurin hidup orang lain lewat ketikan, terus besoknya bertingkah seolah gak terjadi apa-apa."

Gaby menunduk, air matanya mulai luruh. "Gue... gue cuma disuruh Keysha, Yan... Dia nangis semaleman gara-gara lo..."

"Gue gak peduli," potong Rian telak. "Dan lo gak usah bawa-bawa nama dia buat tameng pengecut lo."

Rian melirik Ziva, memastikan gadis itu baik-baik saja. Ziva hanya membalasnya dengan anggukan kecil—sebuah kode non-verbal yang mengatakan, 'Selesaikan ini dengan caramu.'

Rian kembali menatap Gaby, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas XII A dan anak-anak yang masih berkerumun di koridor luar. Mereka semua mendadak menahan napas, menunggu hukuman atau pukulan apa yang akan dilayangkan oleh cowok yang sedang murka ini.

"Gue gak bakal laporin lo ke BK," kata Rian.

Gaby mendongak, ada binar lega yang sempat melintas di matanya. Tapi itu tidak lama.

"Karena kalau lo masuk BK, urusannya cuma selesai di balik pintu tertutup antara lo, guru, dan orang tua lo. Terlalu enak," lanjut Rian, senyum dingin terukir di wajahnya yang tegas.

Rian menunjuk ke arah luar jendela kelas, tepat ke arah lapangan tengah di mana papan mading utama sekolah berdiri kokoh.

Tempat di mana semua pengumuman penting, daftar peringkat paralel, dan prestasi siswa dipajang untuk dilihat oleh ratusan pasang mata setiap harinya.

"Besok pagi, sebelum bel masuk berbunyi," Rian menjatuhkan tuntutannya dengan penekanan di setiap kata. "Gue mau ada kertas ukuran A4 tertempel di mading tengah. Isinya surat permintaan maaf terbuka dari lo, lengkap dengan tanda tangan lo di atas meterai, yang ngejelasin kalau semua foto dan narasi soal Ziva adalah fitnah yang lo bikin."

Gaby terperangah. "Yan... jangan di mading... gue mohon... reputasi gue..."

"Lo punya waktu sampai besok jam tujuh pagi," Rian tidak berkompromi. Dia melangkah mundur, mengambil tas ranselnya sendiri yang tergeletak di kursi. "Kalau kertas itu gak ada di sana besok pagi... file asli beserta rekaman chat di hp lo ini bakal mendarat di meja kepala sekolah. Dan gue sendiri yang bakal pastikan lo gak punya hak buat ikut ujian kelulusan atas kasus cyberbullying."

Rian berbalik, berjalan lurus ke arah pintu keluar tanpa memedulikan Marvel yang menatapnya dengan kepalan tangan mengeras, atau Gaby yang akhirnya terduduk lemas di lantai sambil menangis sesenggukan.

Di ambang pintu, Rian berhenti tepat di sebelah Ziva. Dia tidak menggandeng tangan Ziva—mereka belum ada di tahap itu—tapi jarak kedekatan fisik mereka sudah cukup untuk mengirimkan pesan tegas pada satu sekolah,

Siapapun yang menyentuh Ziva, harus melewati Rian lebih dulu.

"Ayo ke kantin. Gue laper," bisik Rian pada Ziva, suaranya kembali melunak seolah badai besar baru saja berlalu dari tubuhnya.

Ziva tersenyum, melangkah beriringan dengan Rian meninggalkan koridor XII A yang masih syok. Drama sekolah ini baru saja berganti sutradara, dan untuk pertama kalinya, Ziva merasa dia tidak perlu menghadapi medan perang sendirian.

......................

...****************...

Tbc,

1
Luna
untuk yg suka simpel dan no drama Indosiar,,,novel ini aku kasih bintang 5
Luna
akhirnya tamat juga,happy ending ceritanya,
Luna
timy ,,, akhirnya wujudmu muncul juga setelah sekian purnama🤣🤣🤣🤣,pantes aku feeling kok ada nama Jihan berarti ada timy 🤭🤭🤭🤭
Luna
jadi ingat dulu setelah SMA pingin kuliah tapi GK bisa GK ada biaya ,,, setelah bertahun tahun mempunyai 2 anak baru bisa kuliah lagi,,,😌
falea sezi
plin plan amat Riyan ini🤣 lu doyan kesya balik aja sana biar Ziva dpet cowok lain yg ganteng kaya lebih dr eluuu😒
Luna
penerus ziva dah nongol🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
good job sya👍
Luna
semangat sya💪,berubah jadi baik itu emang sulit . keberanian kamu ngomong ke guru tua keren loh,
Luna
akhirnya si Keysa waras juga,,, siapa tau nanti muncul jodoh mu sya🤭,
Rofiwan: akan kukabulkan jodoh untuk keysha yang... setara🤭
total 1 replies
falea sezi
bagus
falea sezi
uda ziva jauhin pindah sekolah😕 laki. oon. g ba nrima takdir ya😓
falea sezi
jangan ampe nyesel lu rian kehilangan ziva😓 buat ziva pergi aja thor rian bego malah nyalahin ziva
Luna
udah ziva menjauh aja dari cowok yang GK bisa terima takdir , siapa juga yg mau nabrak orang ,,,egois sekali ,,jadi GK respect sama Rian ,
falea sezi
malah nyalahin Ziva🤣 oon bgt ini Riyan plin plan
falea sezi
🤣🤣 si plin plan mending pergi aja ziv laki! gk tau diri cocok sama sampah kayak. keysa
Luna
GK respect sama Rian ,,, ujung ujungnya nanti marahan lagi sama ziva,,,,apa GK ada cowok lain yg bantu Keysa ,atau emang sengaja citra pengen ngerusak hubungan orang,
Luna
makin bodoh yg seharusnya minta tolong om nya dong buat klarifikasi,,,😑
falea sezi
😒 gila ini keysa
Luna
kan itu sudah jadi pilihan kamu sya dari awal ,,, jangan menyesal,cowok idaman mu ternyata tak sempurna seperti halusinasi mu🤣🤣🤣🤣🤣 terima takdir,Marvel memang kaya tapi sifatnya kek psikopat dan kamu sendiri yg membangkitkan nya keysa🤣🤣🤣🤣🤣
Queen Aisyah
🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!