-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
****
Ivandra tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Aini untuk menghela napas. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi kerja, melipat kedua tangan di dada, lalu menatap jam dinding titanium yang tergantung melingkar di ruangannya.
"Waktumu tiga puluh menit," ujar Ivandra datar. Suaranya tidak keras, tetapi sanggup memberikan tekanan luar biasa di dada Aini.
Aini mengerutkan keningnya tipis. "Maksud Dokter?"
"Tiga puluh menit dari sekarang, pelajari dan hafal detail rekam medis lima pasien kritis di ICU yang ada di map itu," lanjut Ivandra tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Aini. "Jam sebelas tepat saya akan visite. Jika kamu tidak sanggup menjelaskan kondisi klinis, riwayat laboratorium, hingga rencana terapi mereka secara mendetail, kamu bisa angkat kaki dari tim saya detik itu juga."
Aini menelan ludah yang terasa makin mengganjal di tenggorokannya. Tiga puluh menit untuk lima pasien kritis?! Itu hampir mustahil! Namun, melihat binar dingin yang tidak memancarkan keraguan sedikit pun dari manik mata pria di depannya, Aini tahu protes hanya akan menjadi senjata bagi Ivandra untuk menendangnya keluar.
"Baik, Dokter. Akan saya persiapkan," sahut Aini tegas, berusaha menyembunyikan tremor pada suaranya.
Tanpa membuang waktu lagi, Aini membungkuk hormat lalu berbalik cepat menuju meja kecil di sudut koridor luar ruangan Ivandra. Jemarinya yang lentik bergerak cepat membongkar lembar demi lembar rekam medis. Grafis tanda-tanda vital, hasil analisis gas darah, nilai leukosit, hingga riwayat alergi pasien ia serap secepat kilat. Otaknya bekerja ekstra keras, melompati istilah-istilah medis rumit sembari menghafal tiap angka kritis yang tertera.
Tepat pukul sebelas siang, suasana di lorong Unit Perawatan Intensif (ICU) terasa mencekam. Suara ketukan teratur dari mesin monitor jantung berpadu dengan dengungan ventilator.
Ivandra berjalan paling depan. Jas putihnya berkibar pelan seiring langkah kakinya yang tegas dan penuh wibawa. Di belakangnya, berdiri rombongan dokter spesialis senior, beberapa dokter residen, serta perawat kepala ICU yang tampak bersiap membawa dokumen. Aini mengekor paling belakang dengan menggenggam erat pulpen dan catatan kecilnya.
"Pasien bed tiga," suara Ivandra menginterupsi keheningan. Ia berhenti di depan sebuah kubikel bernuansa temaram tempat seorang pasien tak sadarkan diri terbaring dengan berbagai selang menempel di tubuhnya.
Ivandra memutar tubuhnya, menatap lurus melewati para residen dan mengunci pandangannya tepat pada Aini. "Dokter Aini, laporkan."
Seluruh pasang mata di ruangan itu seketika tertuju pada Aini. Tatapan penasaran dari para perawat dan tatapan menguji dari para dokter senior membuat atmosfer ruangan kian menghimpit.
Aini melangkah maju satu pukulan jantung, berdiri di sisi ranjang pasien. Ia menarik napas dalam-dalam di balik masker medisnya.
"Bapak Bambang, 58 tahun, pasca-operasi evakuasi perdarahan epidural hari kedua," tutur Aini dengan suara jernih dan teratur. "Tanda-tanda vital saat ini: tekanan darah 135/85 mmHg, frekuensi nadi 82 kali per menit, respons GCS E3V4M6. Hasil evaluasi laboratorium pagi ini menunjukkan kadar natrium 138 mEq/L dan kadar hemoglobin 11,2 g/dL."
Para dokter spesialis di samping Ivandra mengangguk pelan, terkesan dengan kelancaran penyampaian koas baru tersebut tanpa perlu membuka catatan sedikit pun.
Namun, ekspresi wajah Ivandra tetap seperti patung es. "Terapi yang sedang berjalan?" tanya Ivandra menuntut.
"Infus Manitol 20% seratus mililiter per delapan jam, Asam Traneksamat satu gram per delapan jam intravena, dan profilaksis kejang menggunakan Fenitoin," jawab Aini lancar.
Ivandra memicingkan matanya. "Berapa dosis loading dose Fenitoin yang diberikan pada pasien ini saat pertama kali masuk, dan berapa kecepatan pemberian yang aman untuk mencegah aritmia jantung?"
Pertanyaan tajam dan mendetail itu membuat udara di sekitar Aini serasa mengkristal. Pertanyaan tersebut sebenarnya merupakan porsi materi spesialis, bukan lagi standar dasar koas.
Aini terdiam sejenak. Otaknya memutar balik memori lembaran rekam medis yang ia baca terburu-buru tadi. Kecepatan pemberian... lima puluh miligram per menit? Atau dua puluh?
Dua detik keheningan terasa bagai keabadian. "D-dosis awal lima belas sampai dua puluh miligram per kilogram berat badan... diberikan dengan kecepatan maksimal lima puluh miligram per menit, Dokter," jawab Aini, sedikit keraguan menyelusup di awal kalimatnya.
Ivandra melipat kedua tangannya di dada. Senyum sinis yang sangat tipis namun menusuk menghiasi bibirnya. "Sedikit ragu adalah celah menuju kematian pasien, Dokter Aini."
Aini menundukkan kepalanya sedikit. "Maaf, Dokter. Saya yakin kecepatannya tidak boleh melebihi lima puluh miligram per menit untuk menghindari hipotensi berat."
"Yakin?" sergah Ivandra dingin tanpa membiarkan Aini bernapas lega. "Keraguanmu di awal tadi menunjukkan bahwa kamu tidak benar-benar menguasai data pasienmu. Di ruang ICU ini, satu miligram atau satu detik kesalahanmu tidak bisa ditarik kembali dengan kata maaf."
Salah satu dokter senior di sebelah Ivandra mencoba mencairkan suasana. "Tapi laporan utamanya sudah sangat presisi untuk ukuran koas hari pertama, Dr. Ivandra—"
"Saya tidak meminta penilaian Anda, Dokter Hendra," potong Ivandra cepat tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Aini. Teguran itu seketika membungkam dokter senior tersebut.
Ivandra melangkah mendekati Aini. Jarak mereka begitu dekat hingga Aini bisa merasakan aura dingin dan aroma kayu cendana yang samar dari tubuh pria itu.
"Karena kamu menganggap keraguan kecil bukan masalah besar," bisik Ivandra dengan nada rendah yang amat menusuk, "malam ini kamu ambil jadwal piket malam sendirian di Departemen Bedah Saraf. Dan setelah jam piket selesai, rapikan seluruh instrumen microsurgery di laboratorium hingga steril sempurna."
Seorang perawat kepala di dekat sana membelalakkan mata. "Dokter Ivandra, instrumen microsurgery ada ratusan set dan sangat sensitif, biasanya itu dikerjakan oleh tim medis khusus—"
"Biarkan dia yang mengerjakan," sela Ivandra memutus kalimat perawat tersebut. "Supaya dia belajar bagaimana caranya menghargai ketelitian."
Ivandra kemudian memutar tubuhnya membelakangi Aini, melanjutkan visite ke ranjang berikutnya seolah tidak baru saja menjatuhkan hukuman yang teramat berat pada seorang dokter muda di hari pertamanya.
Malam makin larut di Rumah Sakit Utama Wigunadi. Jarum jam dinding di laboratorium microsurgery lantai lima sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Ruangan berlapis kaca itu begitu sepi dan dingin. Hanya terdengar gemericik air steril dan denting halus dari pinset serta gunting mikro yang berbenturan pelan.
Aini berdiri sendirian di depan bak pencucian khusus. Kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan steril memegang mikroskopik forceps dengan amat hati-hati. Matanya yang sudah memerah akibat kantuk dan lelah menatap lekat-lekat setiap celah kecil alat medis bernilai ratusan juta rupiah itu.
Bahunya bergetar pelan. Rasa lelah yang luar biasa menumpuk dari pagi, ditambah rasa cemas dan tekanan mental dari perlakuan dingin Ivandra, akhirnya mendesak keluar. Aini menggigit bibir bawahnya kuat-kuat di balik masker, menahan agar suara isakannya tidak pecah di dalam ruangan yang sunyi ini.
Setetes air mata akhirnya lolos dari sudut matanya, membasahi pipinya yang tertutup kain hijab.
"Bunda..." bisik Aini lirih pada keheningan. "Aini capek banget... Tapi Aini nggak boleh menyerah. Aini harus bertahan."
Aini menyapu air matanya cepat menggunakan lengan jas putihnya. Ia menarik napas panjang, menguatkan kembali jemarinya yang mulai pegal. Wajah ayunya yang menyiratkan kepasrahan dan kesenduan malam itu memancarkan keteguhan luar biasa. Ia menolak untuk hancur hanya karena kekejaman seorang dr. Ivandra Arya Wigunadi.
Di luar pintu kaca laboratorium yang temaram, sebuah bayangan pria jangkung berdiri membisu.
Ivandra, yang belum pulang dan sengaja memantau area departemennya, menatap figur gadis berhijab itu dari balik kegelapan lorong. Manik matanya yang biasanya sedingin es memperhatikan bagaimana jemari Aini tetap bekerja dengan sangat lembut dan teliti pada instrumen bedah, meski tubuh gadis itu jelas-jelas gemetaran menahan tangis.
Ada sesuatu pada sorot mata sendu namun keras kepala milik Aini yang perlahan terusik di benak Ivandra—sebuah perasaan asing yang langsung ia tepis dengan raut datar sebelum ia berbalik dan menghilang di belokan koridor malam.
Bersambung....
mampir ya ke novel ku