Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 23
Gema tawa para tamu masih tersisa di sudut-sudut ballroom Hotel Grand Palace saat Yevone menarik lengan Theodore menuju pintu keluar. Yevone menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menyembunyikan lelehan air mata di pipinya. Ia hanya ingin membawa suaminya jauh dari tatapan hina dan cacian keluarga besarnya sendiri.
Namun, baru saja langkah kaki Yevone dan Theodore menyentuh karpet dekat pintu ganda ballroom, pintu besar dari kayu jati itu mendadak terdorong terbuka lebar dari luar.
Suasana bising di dalam ruangan seketika menyusut. Tiga petugas keamanan berbadan tegap berjalan membuka jalan, diikuti oleh seorang pria tua berambut putih perak dengan setelan jas mahal. Pria tua itu berjalan terburu-buru, didampingi dua direktur rumah sakit terbesar di kota yang tampak membungkuk hormat di belakangnya.
Beberapa tamu terpandang di barisan depan langsung mengenali wajah pria tua itu. Bisik-bisik kaget seketika merebak di seluruh ruangan.
"Loh? Bukannya itu Profesor Edward?" gumam salah satu pengusaha properti terkenal dengan mata terbelalak.
"Astaga, beneran Profesor Edward! Ahli medis terbaik di dunia yang jadi dokter pribadi para presiden!" sahut tamu lainnya dengan nada tak percaya. "Gila, kok bisa pakar kesehatan sekelas beliau hadir di acara keluarga Mahendra?"
Melihat siapa yang baru saja melangkah masuk, Kakek Surya yang tadinya masih diselimuti amarah mendadak terpaku. Wajah pria tua itu langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Rasa marahnya hilang seketika, digantikan oleh rasa bangga yang luar biasa. Bahkan Walikota saja harus mengantre berbulan-bulan hanya untuk berkonsultasi dengan Profesor Edward.
"Profesor Edward!" Kakek Surya berjalan tergopoh-gopoh turun dari panggung utama, mengabaikan nyeri di lutut rentanya. Ia menyambut pria tua itu dengan senyuman paling manis. "Sebuah kehormatan luar biasa bagi keluarga Mahendra atas kedatangan Anda di pesta ulang tahun saya yang sederhana ini!"
Martha dan Kevin ikut berlari kecil mendekati panggung, memasang wajah manis penuh sanjungan.
Zico yang berdiri tak jauh dari sana langsung merapikan jasnya, membusungkan dada dengan penuh percaya diri. "Profesor Edward, apakah ayah saya yang meminta Anda datang ke sini untuk menyapa saya?" Zico bertanya dengan nada menyombongkan diri.
Namun, Profesor Edward sama sekali tidak mengindahkan ucapan Zico maupun sambutan manis Kakek Surya. Pria tua berambut putih itu bahkan tidak melirik tangan Kakek Surya yang terulur hendak menjabatnya.
Langkah kaki Profesor Edward mendadak terhenti di tengah-tengah ballroom. Hidungnya mengendus-endus udara di sekitarnya dengan dahi berkerut tebal. Matanya yang tajam berkedip berkali-kali, memancarkan kebingungan yang sangat besar.
"Aroma ini..." gumam Profesor Edward pelan, suaranya terdengar bergetar.
"Ada apa, Profesor? Apakah ada yang salah dengan hidangan di pesta kami?" tanya Kakek Surya dengan raut cemas, takut ada fasilitas hotel yang tidak berkenan di hati sang pakar medis dunia.
"Diam kamu!" bentak Profesor Edward tiba-tiba dengan suara nyaring, membuat Kakek Surya terperanjat kaget hingga bungkam seketika.
Profesor Edward memejamkan matanya rapat-rapat, memfokuskan seluruh indra penciumannya. Aroma wangi herbal yang sangat tipis, pahit namun menyegarkan dada, tercium samar melayang di antara bau minyak wangi mahal dan asap cerutu para tamu.
Mata Profesor Edward mendadak terbuka lebar. Kilatan histeris dan rasa tak percaya terpancar jelas dari manik matanya.
"Nggak mungkin... aroma segar ini... ini wangi Akar Salju Murni!" jerit Profesor Edward dengan suara melengking yang mengejutkan seluruh isi ruangan.
Tanpa memedulikan tatapan heran ratusan tamu, Profesor Edward berbalik dan mulai berlari kecil. Ia mengendus udara seperti orang kesetanan, melangkah terburu-buru menuju ke arah panggung utama. Ia menepis tangan Kevin yang mencoba membimbingnya, lalu menaiki anak tangga panggung dengan napas terengah-engah.
"Profesor! Anda mau ke mana?" tanya Martha heran sambil menyusul langkah pria tua itu dari belakang.
Profesor Edward tidak menjawab. Pandangannya terkunci pada sebuah sudut di samping meja persembahan kado. Lebih tepatnya, matanya menatap lurus ke arah sebuah tong sampah stainless steel di pojok panggung.
Tanpa ragu sedikit pun, pakar medis paling terkemuka di dunia itu langsung berlutut di lantai panggung. Ia memasukkan kedua tangannya yang bersih ke dalam tong sampah kotor tersebut, mengaduk-aduk tumpukan tisu bekas, sisa makanan, dan puntung rokok tanpa rasa jijik sama sekali.
Seluruh tamu di ballroom seketika melongo. Keheningan mencekam melingkupi ruangan. Kakek Surya, Martha, dan Zico membatu di tempat dengan mulut terbuka lebar, tak mampu mencerna pemandangan gila di depan mata mereka. Seorang profesor kelas dunia sedang mengaduk-aduk tempat sampah di pesta mereka?
"Profesor! Astaga, apa yang Anda lakukan?!" jerit Martha histeris sambil menutup mulutnya. "Tempat sampah itu kotor! Jangan menyentuhnya!"
"Dapat!" teriak Profesor Edward penuh euforia, mengabaikan teriakan Martha.
Dari dasar tempat sampah kotor itu, tangan Profesor Edward menarik keluar sepotong kayu kotak yang sudah retak. Di dalam kotak kayu sederhana itu, terdapat sepotong akar tanaman kering berwarna cokelat kehitaman yang bentuknya bengkok tak beraturan—akar yang baru saja dilempar oleh Kakek Surya dengan penuh rasa jijik beberapa menit yang lalu.
Profesor Edward mengangkat akar tanaman itu dengan kedua tangannya yang bergetar hebat, seolah sedang memegang benda paling berharga di seluruh jagat raya. Air mata keharuan bahkan tampak menetes dari sudut matanya yang keriput.
"Gila! Bener-bener gila dan barbar!" Profesor Edward berteriak histeris, matanya melotot menatap orang-orang di sekitarnya dengan amarah meledak-ledak. "Siapa... SIAPA BANGSAT YANG TEGA MEMBUANG HARTA KARUN TIADA TARA INI KE DALAM TEMPAT SAMPAH?!"
Kakek Surya menelan ludah dengan susah payah. Kakinya mendadak gemetar mendengar bentakan murka Profesor Edward.
"P-Profesor... tolong tenang dulu," Kakek Surya bersuara gagap, menunjuk akar kering di tangan sang dokter. "I-itu cuma rumput liar kering dari selokan yang dibawa sama si benalu miskin buat ngerjain saya... makanya saya buang ke tempat sampah..."
"RUMPUT LIAR MATAMU?!" raung Profesor Edward dengan napas memburu, menatap Kakek Surya seolah pria tua itu adalah makhluk paling bodoh yang pernah hidup. "Ini adalah Akar Salju Murni dari puncak tertinggi Pegunungan Hitam! Tanaman ajaib ini cuma tumbuh satu kali dalam seratus tahun di atas es abadi!"
Profesor Edward memeluk akar kering itu di dadanya dengan protektif. "Satu senti saja dari akar ini nilainya di lelang medis internasional bisa mencapai ratusan miliar rupiah! Bahkan para pemimpin negara adidaya harus mengantre berdarah-darah cuma buat mendapatkan segram ekstraknya!"
Seluruh isi ruangan seketika membeku. Kebisingan di ballroom lenyap tanpa sisa, digantikan oleh kesunyian yang merindingkan bulu kuduk.
"O-obat bernilai ratusan miliar?" gumam Kevin dengan suara mencicit, wajahnya mendadak pucat seperti kertas.
"Bukan cuma harganya yang gila!" Profesor Edward melanjutkan penjelasannya dengan suara gemetar penuh pemujaan. "Khasiat obat ini bisa membersihkan seluruh racun di organ dalam, menyembuhkan penyakit paru-paru kronis, dan memperpanjang usia seseorang secara instan hingga puluhan tahun! Dan yang paling penting... obat legenda ini cuma dimiliki oleh satu entitas penguasa di dunia bawah..."
Profesor Edward menyapu pandangannya ke seluruh ruangan dengan raut wajah penuh penghormatan yang mendalam. "...Sang Dewa Perang Aegis Corporation!"
Brak!
Tongkat naga di tangan Kakek Surya terlepas dan jatuh menghantam lantai marble dengan bunyi gema yang kencang. Wajah pria tua itu seketika kehilangan seluruh warnanya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak luar biasa.
Obat langka seharga ratusan miliar rupiah... obat penawar racun paru-paru yang sanggup memperpanjang usianya... baru saja ia lempar ke dalam tempat sampah dengan tangannya sendiri?
"Di mana beliau?!" Profesor Edward berteriak memecah keheningan, matanya menatap Kakek Surya dengan penuh desakan. "Siapa dermawan agung yang membawa obat legenda ini ke pesta Anda?! Di mana beliau sekarang?! Saya harus berlutut dan memohon untuk menyapa beliau!"
Kakek Surya berdiri terpaku di atas panggung seperti patung es. Tenggorokannya terasa sangat kering, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Pandangannya yang goyah perlahan beralih dari tong sampah di sudut panggung, menatap lurus ke arah pintu keluar ballroom yang kini sudah tertutup rapat—tempat di mana Theodore, si benalu yang selalu ia caci maki selama tiga tahun, baru saja melangkah pergi.