Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYUSUP
“Permisi, Clara... Siapa yang memberi kamu izin masuk ke ruang kerja saya tanpa ketukan?”
—
Suara Aura mengalun tenang, memecah keheningan ruang kerja utama di lantai empat puluh lima Fahreza Tower. Wanita berusia muda yang sedang mengandung empat bulan itu berdiri tegak di dekat ambang pintu ganda. Dalam balutan gaun terusan berwarna merah anggur (burgundy) yang pas membingkai lekuk tubuhnya, Aura memancarkan wibawa dingin yang amat menekan.
—
Clara yang tadinya sedang berdiri rapat di dekat meja kerja mahoni seketika menghentikan aktivitasnya. Jemari lentiknya yang sedang memegang map berkas tebal menarik diri secara perlahan. Tanpa memperlihatkan rasa gugup atau penyesalan sedikit pun, Clara memutar tubuhnya, mengulas senyuman manis nan terlatih yang dipoles lipstik merah menyala.
—
“Maaf kalau kedatangan saya mengejutkan Anda, Nyonya Aura,” sahut Clara santai, suaranya halus namun memancarkan keangkuhan yang terselubung. “Pintu ruangan Anda tidak terkunci dari luar, dan sebagai pengawas independen dari konsorsium Singapura, saya cuma mau meletakkan berkas laporan evaluasi awal di atas meja Anda.”
—
Aura melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Langkah kaki dengan sepatu hak tinggi lima sentimeternya berdenting teratur di atas lantai kayu jati premium, menciptakan gema yang menambah kesan intimidatif. Dua sekretaris pribadi Aura bersiap di luar pintu, sementara Aura terus memangkas jarak hingga berdiri dua meter di hadapan Clara.
—
Mata jernih Aura menatap lurus ke dalam manik mata Clara. Ketajaman intuisinya menangkap sesuatu yang tidak beres pada posisi berdiri Clara tadi. Posisi tubuh wanita itu terlalu dekat dengan papan nama emas berukir Nyonya Aura Fahreza - Komisaris Utama dan brankas dokumen rahasia di samping meja.
—
“Laporan evaluasi awal?” pancing Aura halus, melipat kedua tangannya di depan dada. “Bukankah konsorsium Singapura baru saja menyetujui draf kerja sama kemarin malam? Kenapa laporan evaluasinya diserahkan secepat ini... dan diserahkan sendiri oleh Anda tanpa melalui sekretariat eksekutif?”
—
Clara membetulkan posisi tas genggam mewahnya, mempertahankan senyuman diplomatisnya.
—
“Konsorsium kami bekerja dengan standar kecepatan internasional, Nyonya. Kami tidak suka menunda-nunda waktu, terutama jika menyangkut pengawasan aset triliunan rupiah di Fahreza Group,” balas Clara dengan nada bicara yang terkesan menggurui. “Saya rasa, sebagai komisaris muda yang mendadak naik jabatan, Anda pasti paham pentingnya efisiensi kerja.”
—
Aura menyunggingkan senyuman tipis yang sangat mematikan. Kalimat sindiran 'komisaris muda yang mendadak naik jabatan' jelas-jelas ditujukan untuk meremehkan statusnya yang berawal dari pernikahan dengan Hendra.
—
“Efisiensi kerja itu penting, Clara,” ujar Aura pelan, suaranya selembut sutra namun menusuk tajam. “Tapi dalam struktur hirarki Fahreza Group, etika dan tata krama berada di atas efisiensi. Ruangan ini adalah area terlarang untuk siapa pun tanpa izin tertulis dari saya atau Mas Hendra. Mengabaikan aturan dasar itu bukan menunjukkan efisiensi, tapi menunjukkan keputusasaan.”
—
Raut wajah Clara sempat membeku sejenak. Senyuman manis di bibirnya sedikit luntur mendengar balasan Aura yang begitu tenang namun meremukkan harga dirinya.
—
Sebelum Clara sempat menyusun kata-kata untuk membela diri, pintu penghubung antara ruangan Aura dan ruangan Hendra mendadak terbuka lebar.
—
Hendra Fahreza melangkah masuk. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu mengenakan setelan jas kustom abu-abu gelap tiga lapis. Penampilannya yang tegap, tampan, dan gagah seketika mendominasi seluruh atmosfer ruangan. Raut wajah sang taipan sangat dingin, dan mata cokelat gelapnya berkilat penuh ancaman begitu melihat sosok Clara berdiri di dekat meja istrinya.
—
Hendra melangkah cepat, langsung memotong jarak dan melingkarkan tangan kokohnya di pinggang Aura secara protektif. Ia menarik tubuh Aura mendekat ke dadanya, memberikan benteng perlindungan mutlak bagi sang istri yang sedang mengandung.
—
“Kenapa wanita ini ada di ruangan kamu, Sayang?” tanya Hendra dengan suara beratnya yang menekan, bahkan tanpa sudi menatap wajah Clara.
—
Aura menoleh pada suaminya, mengusap pelan dada bidang Hendra untuk menenangkan aura membunuh yang terpancar dari tubuh pria itu.
—
“Nona Clara beralasan ingin menyerahkan berkas evaluasi dari konsorsium Singapura, Mas,” terang Aura tenang. “Tapi sepertinya Nona Clara lupa jalan menuju meja sekretaris di luar.”
—
Hendra menolehkan pandangannya pada Clara. Tatapan mata sang taipan bagaikan belati es yang sanggup membekukan darah siapa pun yang menatapnya.
—
“Dengar baik-baik, Clara,” tegas Hendra dengan nada suara rendah yang amat berbahaya. “Saya mengizinkan konsorsiummu menaruh perwakilan di kantor ini murni karena hitungan profesionalisme bisnis. Tapi kalau kamu berani melangkah satu senti saja melampaui batas wewenangmu, apalagi lancang memasuki ruangan pribadi istri saya tanpa izin... saya akan pastikan kontrak investasi Singapura dibatalkan hari ini juga, dan kamu diseret keluar dari gedung ini oleh pengawal!”
—
Clara menelan ludahnya yang terasa pahit. Di bawah tekanan aura dominan dari Hendra Fahreza, keangkuhan yang tadi dipamerkannya runtuh seketika. Pria matang di hadapannya ini bukan tipe pengusaha yang bisa digertak atau digoda dengan pesona wanita. Hendra adalah pelindung mutlak yang siap menghancurkan apa saja demi membela Aura.
—
“Maafkan saya, Pak Hendra... Nyonya Aura,” bisik Clara, akhirnya menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Saya tidak bermaksud melanggar aturan. Saya akan kembali ke ruangan saya sekarang.”
—
Clara berbalik dengan terburu-buru, melangkah cepat keluar dari ruang kerja Aura. Pintu ganda kayu jati ditutup rapat kembali oleh pengawal pribadi di luar.
—
Suasana di dalam ruangan kembali tenang dan hening.
—
Hendra memutar tubuh Aura agar menghadap sepenuhnya ke arahnya. Pria matang itu menundukkan kepala, menatap wajah cantik istrinya dengan binar khawatir yang amat jujur. Jemari kokohnya mengusap pelan pipi mulus Aura.
—
“Kamu tidak apa-apa, kan, Sayang? Dia tidak melakukan sesuatu yang membahayakan kamu atau anak kita?” cecar Hendra penuh perhatian.
—
Aura tersenyum manis, membalas usapan tangan Hendra di pipinya. “Aku baik-baik saja, Mas. Gertakan kelas teri begitu nggak akan bisa bikin aku panik. Tapi ada satu hal yang aneh...”
—
Dahi Hendra berkerut tipis. “Apa yang aneh, Aura?”
—
Aura mengarahkan pandangannya ke meja kerjanya. “Waktu aku masuk tadi, Clara berdiri rapat di dekat papan nama emas dan brankas. Tangannya memegang map, tapi matanya fokus memperhatikan pemindai sidik jari di brankas dokumen rahasia kita. Dia bukan cuma sekadar mau antar berkas, Mas. Dia sedang mencari sesuatu.”
—
Mata Hendra memicing tajam. Analisis tajam dari istrinya makin memperkuat kecurigannya sejak awal.
—
“Saya sudah perintahkan tim keamanan untuk memasang kamera tersembunyi mikroskopis di seluruh sudut ruangan ini kemarin sore,” bisik Hendra di dekat telinga Aura. “Ayo kita lihat rekaman pengawasannya di ruangan saya.”
—
—
Sepuluh menit kemudian di ruang kerja utama Hendra.
—
Layar monitor besar di atas meja mahoni memperlihatkan rekaman video beresolusi tinggi yang diambil dari sudut atas ruang kerja Aura beberapa menit sebelum Aura masuk.
—
Di dalam video tersebut, Clara terlihat melangkah masuk secara diam-diam. Wanita itu tidak meletakkan berkas di meja, melainkan mengeluarkan sebuah alat pemindai elektronik kecil berbentuk kartu dari dalam tasnya. Dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, Clara menempelkan alat tersebut pada panel kunci elektronik brankas rahasia milik Aura, mencoba meretas kode enkripsi di dalamnya!
—
Aura yang duduk di samping Hendra menahan napas sejenak saat menyaksikan rekaman tersebut.
—
“Dia meretas brankas...” gumam Aura pelan. “Tapi apa yang dia cari di dalam sana? Seluruh dokumen keuangan perusahaan kan ada di server utama.”
—
Hendra mengepalkan tangannya di atas meja, raut wajah tegasnya memadat bagaikan karang.
—
“Di dalam brankas itu ada dokumen asli kepemilikan dua puluh lima persen saham kamu dan sertifikat balik nama aset utama dinasti yang saya alihkan atas namamu bulan lalu,” terang Hendra dingin. “Kalau dokumen fisik itu hilang atau dipalsukan stempelnya, Paman Danu dan fraksi dinasti tua bisa mengajukan gugatan sengketa kepemilikan di pengadilan untuk membekukan hak suaramu!”
—
Aura menyunggingkan senyuman sinis yang amat anggun. Puzzle permainan musuhnya kini terlihat makin terang benderang. Paman Danu yang gagal menumbangkannya melalui serangan di bursa saham ternyata menggunakan Clara untuk mencuri dokumen fisik kepemilikan sahamnya!
—
“Rencana yang lumayan cerdas dari Paman Danu,” komentar Aura santai sambil mengusap perutnya yang membuncit tipis. “Tapi sayangnya mereka bertindak terlalu teledor.”
—
Hendra menoleh, menatap istrinya dengan binar ketertarikan yang kian dalam. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya, merangkul bahu Aura.
—
“Lalu, apa rencana kamu untuk membalas permainan ini, Ratu saya?” pancing Hendra dengan suara beratnya yang menawan.
—
Aura memiringkan kepalanya sedikit, menatap suaminya dengan mata jernih yang memancarkan kecerdasan mutlak.
—
“Jangan tangkap Clara sekarang, Mas,” ujar Aura mantap. “Kita biarkan dia berpikir kalau rencananya berhasil. Kita ganti dokumen asli di dalam brankas dengan dokumen jebakan. Kita pancing Clara sampai dia menyerahkan dokumen itu langsung ke tangan Paman Danu di depan seluruh dewan direksi minggu depan.”
—
Hendra terkekeh rendah—sebuah tawa seksi dan bangga yang menggetarkan dadanya. Pria matang itu membungkuk sedikit, mengecup bibir merah Aura secara mesra.
—
“Kamu benar-benar wanita yang sangat berbahaya dan mempesona, Aura,” puji Hendra tulus. “Saya makin gila karena mencintai kamu.”
—
Aura tertawa merdu, membalas ciuman suaminya dengan penuh kehangatan. Di dalam pelukan Hendra Fahreza, ia merasa tak tergoyahkan. Setiap ancaman yang datang bukannya meruntuhkan posisinya, melainkan justru menjadi panggung baru untuk membuktikan kejayaannya di samping sang suami.
—
—
Sore harinya di sebuah kafe privat di kawasan Senopati, Jakarta Selatan.
—
Suasana kafe yang remang dan tenang itu dipesan secara khusus agar tidak ada pengunjung lain yang mengganggu. Di sebuah sudut meja yang paling tersembunyi, Clara duduk bersanding dengan Paman Danu Fahreza.
—
Paman Danu menopang kedua tangannya pada kepala tongkat kayu bersepuh emasnya. Raut wajah pria tua itu tampak penuh dengan dendam dan ketidaksabaran.
—
“Bagaimana hasilnya, Clara?” cecar Paman Danu dengan suara serak yang menekan. “Kamu berhasil meretas brankas wanita jalang itu?”
—
Clara mengulas senyuman puas, meminum sedikit kopi lattenya sebelum menjawab.
—
“Hampir berhasil, Pak Danu,” sahut Clara percaya diri. “Alat peretas dari konsorsium Singapura berhasil menyalin frekuensi sensor kunci elektronik brankas Aura tadi pagi. Besok malam saat kantor sepi usai jam kerja, saya bisa mengambil seluruh dokumen fisik saham dan sertifikat aset atas nama Aura tanpa ada yang tahu.”
—
Mata Paman Danu berkilat penuh kepuasan yang kejam. “Bagus! Begitu dokumen fisik itu berada di tangan kita, saya akan menggunakan pengacara dinasti untuk mengajukan pembekuan hak suara Aura di pengadilan sebelum acara syukuran empat bulan kehamilannya digelar!”
—
Clara menyilangkan kakinya dengan anggun. “Tapi ingat janji Anda, Pak Danu. Setelah Aura jatuh dan dicopot dari jajaran komisaris, sepuluh persen dari porsi saham lepas itu harus dialihkan ke rekening konsorsium saya.”
—
“Jangan khawatir,” balas Paman Danu dingin. “Setiap orang yang membantu saya meruntuhkan wanita yang sudah memenjarakan Aris itu akan mendapatkan imbalan yang sangat mewah.”
—
Kedua penyusup itu saling melempar senyuman kemenangan, tanpa menyadari sedikit pun bahwa setiap kata yang mereka ucapkan di dalam kafe privat itu telah direkam secara jernih oleh mikroskopis alat penyadap yang terpasang rapi di bawah meja mereka.
—
—
Tiga hari berlalu dalam sekejap.
—
Malam Jumat yang dingin diselimuti hujan gerimis tipis yang mengguyur ibu kota. Jam dinding di lantai empat puluh lima Fahreza Tower menunjukkan pukul delapan malam. Seluruh staf dan karyawan telah pulang, menyisakan lampu-lampu lorong eksekutif yang dimatikan sebagian.
—
Sesosok bayangan bergaun hitam melangkah pelan keluar dari lift servis di lantai empat puluh lima.
—
Clara.
—
Wanita itu melangkah tanpa suara menyusuri lorong yang sepi, menuju ke arah pintu ruang kerja Aura. Ia menggunakan kartu akses eksekutif hasil penggandaan ilegal untuk membuka pintu ganda kayu jati tersebut.
KLIK.
Pintu terbuka mulus tanpa menimbulkan suara alarm.
Clara menyunggingkan senyuman puas di dalam kegelapan ruangan. Ia melangkah cepat menuju meja kerja Aura, menghampiri brankas rahasia di dinding samping. Dengan jemari yang gemetar oleh sensasi kejahatan, Clara menempelkan alat pemindai elektroniknya ke panel sensor.
BEEP! BEEP!
Lampu indikator brankas berubah menjadi hijau, dan pintu besi tebal itu terbuka secara otomatis!
Di dalam brankas, sebuah map kulit hitam tebal bertuliskan ‘DOKUMEN ASLI SERTIFIKAT SAHAM DAN ASET NYONYA AURA FAHREZA’ tergeletak rapi.
“Akhirnya...” bisik Clara penuh kemenangan. Tangannya merogoh ke dalam brankas, menarik map kulit hitam tersebut dan membukanya untuk memastikan isinya.
Namun, ketika Clara menarik lembaran kertas di dalamnya di bawah pendar cahaya lampu senter kecilnya, raut wajah wanita itu seketika membeku kaku.
Di atas lembaran kertas putih tebal itu, bukan tertera pasal-pasal perjanjian saham... melainkan sebuah cetakan foto beresolusi tinggi yang memperlihatkan tangkapan layar video saat Clara sedang dipasangi alat penyadap oleh tim intelijen pribadi Hendra tiga hari lalu di kafe Senopati!
Di bagian bawah foto tersebut, terukir sebuah tulisan tangan yang sangat rapi dan anggun menggunakan tinta emas:
‘Terima kasih sudah mengambil umpan ini dengan sangat patuh, Clara. Salam hangat dari Nyonya Aura Fahreza.’
DEG!
Jantung Clara mendadak berhenti berdetak. Darah di seluruh tubuhnya seketika terasa membeku bagaikan es. Map di tangannya terlepas dan jatuh berserakan ke atas karpet mahal!
TET! TET! TET!
Suara sirine alarm keamanan berdaya tinggi mendadak bergema nyaring, membakar keheningan lantai empat puluh lima! Lampu-lampu sorot darurat berwarna merah seketika menyala terang, menerangi seluruh sudut ruang kerja Aura!
Pintu ganda ruang kerja terdorong terbuka dengan sangat keras!
Enam orang pengawal pribadi bersetelan hitam bersama tim penyidik kepolisian melangkah masuk dengan cepat, mengepung Clara dari segala penjahu!
Di balik barisan pengawal dan polisi, Hendra Fahreza melangkah masuk dalam balutan jas hitam mewahnya, mendampingi Aura yang tampil sangat anggun mengenakan gaun malam sutra berwarna biru navy. Aura merangkul lengan tegap suaminya, menatap Clara yang berdiri kaku di dekat brankas dengan pandangan kemenangan mutlak yang sangat dingin.
“Selamat malam, Clara,” sapa Aura dengan suara selembut sutra yang mengalun merdu di tengah lengkingan sirine alarm. “Apakah dokumen jebakan dari saya sesuai dengan ekspektasimu?”
Clara jatuh terduduk di atas lantai karpet, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat. Tubuhnya gemetar hebat saat menyadari bahwa sejak awal ia hanyalah seekor tikus kecil yang masuk ke dalam sarang jebakan yang disusun secara sempurna oleh Aura!
Dua orang petugas kepolisian melangkah maju, memegang kedua lengan Clara dan memasangkan borgol besi di pergelangan tangannya.
KLIK!
“Nona Clara, Anda ditangkap atas tuduhan pencurian dokumen rahasia perusahaan, peretasan ilegal, dan spionase industri,” tegas kepala penyidik kepolisian dengan suara resmi.
Clara mendongak dengan mata sembab dan penuh air mata ketakutan. “Nggak! Tolong, Pak Hendra! Nyonya Aura! Saya cuma disuruh sama Pak Danu! Pak Danu yang janji kasih saya uang!”
Hendra menatap Clara dengan pandangan membunuh khas sang penguasa, tanpa ada rasa iba sedikit pun.
“Jangan khawatir, Clara...” ucap Hendra dengan suara rendahnya yang amat dingin dan berbahaya. “Paman Danu dan seluruh kroninya di dewan dinasti sudah ditangkap oleh tim kejaksaan di rumahnya sepuluh menit yang lalu berdasarkan bukti rekaman suara yang kamu serahkan sendiri di kafe Senopati.”
BUM!
Pengakuan Hendra bagaikan petir menyambar yang menghancurkan sisa-sisa kesadaran Clara! Seluruh konspirasi kejahatan dinasti tua runtuh total malam ini tanpa ada satu pun yang tersisa!
Petugas kepolisian menyeret Clara keluar dari ruang kerja. Jeritan dan tangisan histeris wanita itu perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang tenang di lantai eksekutif.
Sirine alarm dimatikan.
Hendra memutar tubuhnya, merangkul pinggang Aura dengan sangat rapat dan protektif. Pria matang itu menundukkan kepala, memandangi wajah cantik istrinya yang bercahaya di bawah pendar lampu ruangan. Binar rasa bangga, kagum, dan cinta yang tak terhingga membakar dada sang taipan.
“Semuanya sudah bersih secara mutlak, Ratu saya,” bisik Hendra lembut di dekat telinga Aura, lalu menempelkan telapak tangannya di atas perut membuncit istrinya yang kini memasuki usia kehamilan lima bulan. “Tidak ada lagi Paman Danu, tidak ada lagi Aris, dan tidak ada lagi musuh yang berani menyentuh keluarga kita.”
Aura mendongak, menyandarkan kepalanya di dada bidang Hendra yang hangat. Ia mengulas senyuman paling manis dan bahagia dari dasar hatinya, membalas usapan tangan suaminya di perutnya.
“Terima kasih, Mas Hendra... untuk cinta dan perlindungan kamu yang luar biasa,” bisik Aura tulus.
Hendra menyunggingkan senyuman paling menawan di wajah tegasnya, lalu menundukkan kepala untuk menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, intim, dan sarat akan keabadian.