NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fabdul

​Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.

​Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.

​Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.

​Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?

​Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Antara Garis Batas

Clara tiba di rumah Siska sesuai waktu yang telah mereka sepakati. Siska menyambutnya dengan ramah, lalu mengajaknya masuk ke ruang tamu.

“Silakan duduk, Clara. Senang akhirnya kamu bisa berkunjung ke rumah Tante,” ujar Siska.

“Terima kasih, Tante.”

Clara duduk di sofa, sementara seorang pelayan datang membawakan minuman. Siska duduk di hadapannya, memperhatikan perempuan yang dahulu begitu dekat dengan putranya itu.

“Ada banyak hal yang berubah sejak terakhir kali kamu berada di sini,” kata Siska. “Rasanya baru kemarin kamu masih sering datang menemui Devan.”

Clara tersenyum tipis. “Sudah cukup lama, Tante.”

“Benar. Waktu berlalu begitu cepat.” Siska menghela napas pelan. “Dulu, Tante sempat berpikir kalian akan menikah. Hubungan kalian juga sudah serius.”

Clara tidak langsung menjawab. Ia mengambil cangkir di hadapannya, lalu menyesap minumannya sebelum meletakkannya kembali.

“Banyak hal yang tidak berjalan sesuai perkiraan, Tante.”

Siska mengamati wajah Clara, berusaha menangkap sesuatu dari jawabannya. Namun, perempuan itu tetap terlihat tenang.

“Tante tidak pernah menyangka kalian akan berakhir seperti itu,” lanjut Siska. “Apalagi setelah kamu pergi tanpa menjelaskan apa pun kepada keluarga kami.”

“Aku tahu, Tante.”

Hanya itu jawaban Clara. Ia tidak berusaha membela diri ataupun menjelaskan alasan kepergiannya.

Siska akhirnya mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin kunjungan ini berubah menjadi percakapan yang membuat suasana tidak nyaman.

“Devan akan datang sebentar lagi. Tante sudah menghubunginya.”

Clara mengangguk. “Baik, Tante.”

Tidak lama kemudian, Devan tiba. Ia menyapa ibunya sebelum mengalihkan pandangan kepada Clara.

“Clara.”

“Devan.”

Mereka saling menyapa dengan tenang. Tidak ada sikap berlebihan, seolah keduanya hanya dua orang yang sudah lama tidak bertemu. Namun, jarak di antara mereka terasa berbeda dari dahulu.

Devan duduk di sofa yang berhadapan dengan Clara. Siska kemudian memulai percakapan ringan untuk mencairkan suasana.

“Kalian sudah lama tidak bertemu. Pasti ada banyak hal yang bisa dibicarakan.”

“Tidak terlalu banyak, Bu,” jawab Devan singkat.

Clara tersenyum kecil. “Kami sudah sempat bertemu untuk membahas beberapa hal.”

“Tentu saja. Kalian sekarang juga memiliki urusan pekerjaan.”

Devan mengangguk. “Proposal investasinya masih dalam tahap peninjauan. Kami akan mempertimbangkannya berdasarkan kebutuhan perusahaan.”

Clara menyambut penjelasan itu dengan sikap profesional.

“Aku mengerti. Aku juga tidak berharap keputusan diambil terburu-buru. Lebih baik semuanya diperiksa dengan teliti sebelum ada kesepakatan.”

“Setidaknya, kita sepakat soal itu,” ujar Devan.

Percakapan mereka berlangsung lancar, tetapi Siska tampaknya belum puas hanya membicarakan pekerjaan.

“Meski begitu, Tante rasa ada hal-hal yang tidak banyak berubah,” katanya sambil menatap keduanya bergantian. “Kalian masih bisa berbicara dengan nyaman seperti dahulu.”

Devan menangkap arah pembicaraan ibunya. Ia meletakkan cangkirnya di atas meja.

“Sudah lama berlalu, Bu. Kami hanya sedang berbicara.”

Siska tersenyum tipis, seolah tidak mendengar penolakan halus itu.

“Tentu. Ibu hanya mengatakan apa yang Ibu lihat.”

Clara tetap tenang. Ia tidak menanggapi ucapan Siska dengan komentar yang bisa disalahartikan. Baginya, pertemuan itu tidak perlu dibawa ke arah yang lebih jauh.

Siska kemudian mengalihkan pembicaraan kepada kehidupan Devan setelah menikah.

“Bagaimana kehidupan rumah tanggamu, Devan?”

“Baik, Bu.”

“Syukurlah.” Siska merapikan posisi duduknya. “Menikah tentu berbeda dengan hidup sendiri. Apalagi kalau dua orang berasal dari lingkungan yang berbeda. Mereka perlu banyak menyesuaikan diri agar tidak mudah terjadi kesalahpahaman.”

Devan memahami maksud di balik ucapan itu. Ibunya memang tidak menyebut nama Aira, tetapi ia tahu siapa yang sedang dibicarakan.

“Setiap rumah tangga punya cara masing-masing untuk menyesuaikan diri, Bu,” jawabnya tenang.

“Ibu hanya berharap kamu tidak mengabaikan hal-hal penting dalam kehidupan rumah tangga,” ujar Siska. “Bagaimanapun, pernikahan bukan sekadar tinggal bersama.”

“Aku tahu, Bu.”

Devan tidak memperpanjang pembicaraan tersebut. Ia juga tidak berniat menjadikan kunjungannya sebagai kesempatan untuk berdebat dengan ibunya.

Clara yang mendengar percakapan itu memilih diam. Ia tidak merasa perlu memberikan pendapat tentang pernikahan Devan. Kehidupan pribadi laki-laki itu bukan lagi sesuatu yang harus ia komentari.

Siska melirik Clara, lalu kembali menatap putranya.

“Baiklah. Ibu hanya ingin memastikan kamu memahami tanggung jawabmu.”

Devan mengangguk kecil. “Aku memahaminya.”

Percakapan kembali beralih ke hal-hal ringan. Clara sesekali menanggapi ucapan Siska, sementara Devan lebih banyak mendengarkan. Meski suasana terlihat tenang, ada kecanggungan yang tidak sepenuhnya bisa dihilangkan.

Mereka pernah berada dalam hubungan yang hampir berakhir di pelaminan. Kini, Clara duduk di hadapannya sebagai perwakilan investor, sementara Devan telah memiliki seorang istri.

Masa lalu itu masih ada, tetapi tidak seorang pun di antara mereka berusaha membicarakannya lebih jauh.

Di penthouse, Aira menyelesaikan urusannya sendiri. Setelah merapikan beberapa barang, ia duduk di ruang tengah dan membuka buku catatan yang biasa digunakannya untuk mencatat berbagai hal penting.

Pikirannya sempat tertuju pada kehidupan yang sedang dijalaninya. Sejak menikah dengan Devan, banyak hal yang harus ia pelajari, terutama ketika berhadapan dengan lingkungan keluarga Mahendra.

Namun, Aira tidak ingin menghabiskan waktunya dengan memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Ia masih memiliki tanggung jawab terhadap sanggar dan keluarganya, juga kehidupan pribadinya yang perlahan mulai ia tata kembali.

Ia menutup buku catatannya, lalu meletakkannya di atas meja.

Untuk saat ini, ia hanya ingin menjalani hari-harinya dengan tenang.

Setelah Clara berpamitan dan meninggalkan rumah, Siska kembali duduk di ruang tamu bersama Devan.

“Bagaimana menurutmu?” tanyanya.

Devan menoleh. “Tentang apa, Bu?”

“Clara.”

“Dia datang untuk membicarakan urusan pekerjaan. Sejauh yang kulihat, dia cukup profesional.”

Siska tampak kurang puas dengan jawaban itu.

“Ibu tidak sedang membicarakan pekerjaannya.”

Devan terdiam sesaat sebelum menjawab, “Kalau begitu, apa yang ingin Ibu bicarakan?”

Siska menatap putranya lekat-lekat.

“Kalian pernah sangat dekat. Ibu hanya merasa sayang kalau hubungan seperti itu berakhir begitu saja.”

“Hubungan itu sudah lama berakhir, Bu.”

“Namun, bukan berarti kalian harus menjadi orang asing.”

“Kami tidak sedang menjadi orang asing.” Nada suara Devan tetap tenang. “Aku bisa menghargai Clara tanpa harus mengaitkan pertemuan kami dengan hal lain.”

Siska menyandarkan punggungnya. Ia tidak menyukai jawaban putranya, tetapi juga tidak ingin memaksanya membicarakan sesuatu yang jelas-jelas ingin ia hindari.

“Baiklah. Ibu hanya menyampaikan pendapat Ibu.”

Devan berdiri dan merapikan jasnya.

“Aku mengerti. Kalau tidak ada lagi yang ingin Ibu bicarakan, aku pulang dulu.”

Siska mengangguk, meskipun raut wajahnya masih menunjukkan ketidakpuasan.

“Silakan.”

Devan berpamitan, lalu meninggalkan rumah ibunya.

Siska tetap duduk di ruang tamu setelah putranya pergi. Ia masih menganggap Clara sebagai perempuan yang paling cocok mendampingi Devan. Namun, kenyataannya kini berbeda. Devan sudah menikah, dan ia tidak bisa begitu saja mengabaikan kenyataan tersebut.

Sementara itu, Devan kembali ke penthouse dengan pikiran yang masih dipenuhi urusan perusahaan. Baginya, kedatangan Clara tidak mengubah apa pun. Ia akan tetap menilai proposal investasinya berdasarkan kepentingan Mahendra Group.

Adapun kehidupan pribadinya, ia tidak ingin ibunya ikut menentukan arah yang harus ia ambil.

Meski demikian, Devan tahu Siska belum sepenuhnya menerima pernikahannya dengan Aira. Selama ibunya masih memandang pernikahan itu sebagai sesuatu yang bisa dipertanyakan, perbedaan pendapat di antara mereka tampaknya belum akan berakhir.

Bersambung...

1
Muft Smoker
Devan gengsi ny msh Segede Bulan ,,
Ariany Sudjana
Devan sudah ada hati sama Aira, cuma masih Denial dengan perasaannya sendiri
Jesselyn Runtuwene
lanjut 👍
Jesselyn Runtuwene
lanjut
fabdul
Luar Biasa
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Jesselyn Runtuwene
ijin promosi novel juga Judul Sang Pemain ( yang awalnya tidak suka bermain bola menjadi pemain profesional ) mampir yuk
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Jesselyn Runtuwene
semoga saja Clara tidak menimbulkan masalah
Muft Smoker
Clara mungkin tenang dlm setiap obrolan ,, dan semoga akan ttap seperti tu ,, jgn prnh merusak rumah tangga prempuan lain ,, dan Devan harus selalu bisa mengambil sikap tegas ,,
Ariany Sudjana
kamu harus tegas Devan, jangan sampai si pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan aira, apalagi mama kamu kelihatan sekali masih berharap Clara yang jadi istri kamu, hanya karena pertimbangan sama-sama keluarga konglomerat
Jesselyn Runtuwene
semoga Clara tidak menjadi masalah bagi Devan
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Anvika
Ratih berhenti sejenak, keknya lebih bagus diganti napas Ratih tercekat.
fabdul: siap kak makasih ya atas masukannya, nanti aku baca kembali bab ini sebelum revisinya 😊
total 1 replies
Anvika
Mampir kak
Anvika
Lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,
Muft Smoker: ok siap kak ,,
semangat trus /Grin/
total 2 replies
Muft Smoker
waah nyari masalah aj niih siapa pun org ny😏
Muft Smoker
kasih kopi Aira ,, biar jernih fikiran si Devan ,, 🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!