NovelToon NovelToon
Lily

Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: Lili Pinarsih

Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Pagi itu, gudang kecil yang dijadikannya kamar semakin sempit bagi Lili Valley.

Ia berdiri di sudut ruangan dengan selimut yang dipeluk erat di depan tubuhnya. Air matanya belum berhenti mengalir. Di hadapannya, Satoshi Katagiri tampak kebingungan, seolah-olah ia sendiri tidak memahami bagaimana kemarahannya dapat membawanya sejauh itu.

Namun, bagi Lili, tidak ada yang membingungkan.

Ia tahu pria itu sedang berusaha menahannya. Ia tahu Satoshi tidak ingin dirinya pergi. Dan setelah tiga tahun hidup bersama pria tersebut, ia juga tahu bahwa ketakutannya tidak akan membuat Satoshi dengan mudah mengurungkan niatnya.

“Tuan, tolong keluar,” pintanya lirih.

Satoshi menatapnya.

“Lili, dengarkan aku.”

“Saya tidak ingin mendengar apa pun.”

“Aku belum selesai bicara.”

“Saya sudah cukup mendengar perkataan Tuan selama tiga tahun.” Suara Lili bergetar, tetapi ia berusaha mengangkat wajahnya. “Sekarang, saya hanya ingin Tuan keluar dari kamar saya.”

Kamar saya.

Bukan kamar kami.

Pilihan kata itu membuat Satoshi mengatupkan rahang. Ia baru menyadari bahwa bahkan tempat sekecil itu telah menjadi wilayah yang ingin dilindungi Lili darinya.

“Apakah kau begitu membenciku sekarang?” tanyanya.

Lili menatapnya dengan mata basah.

Pertanyaan tersebut terasa begitu tidak masuk akal hingga untuk beberapa detik ia tidak mampu menjawabnya.

“Apakah Tuan benar-benar ingin mengetahui jawabannya?”

Satoshi terdiam.

“Selama tiga tahun, saya berusaha mencintai Tuan. Saya mencoba memahami alasan Tuan membenci saya. Saya terus berpikir bahwa mungkin suatu hari nanti Tuan akan berubah, bahwa suatu hari Tuan akan berhenti menyakiti saya.” Ia menarik napas yang tersendat. “Namun, setiap kali saya berharap, Tuan selalu menunjukkan bahwa saya salah.”

“Lili—”

“Saya bahkan tidak meminta Tuan mencintai saya lagi.”

Kalimat itu menghentikan Satoshi.

Lili mengeratkan pelukannya pada selimut.

“Saya hanya meminta agar Tuan membiarkan saya pergi.”

Satoshi mengalihkan pandangan. Pikirannya kembali kepada gagasan yang muncul sejak malam sebelumnya: bagaimana jika Lili mengandung anaknya? Mungkin perempuan itu akan mempertimbangkan kembali perceraian. Mungkin kehadiran seorang anak akan membuatnya tetap tinggal.

Namun, kini ia melihat Lili berdiri di hadapannya dengan tubuh gemetar, berusaha melindungi dirinya sendiri dari pria yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung.

Bagaimana mungkin ia mengharapkan Lili membangun keluarga bersamanya ketika perempuan itu bahkan tidak merasa aman berada di dekatnya?

Ia mengusap wajah dengan kasar.

“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu,” katanya akhirnya.

Lili tertawa kecil di antara isak tangisnya. Tidak ada kebahagiaan dalam tawa tersebut, hanya kepedihan yang telah terlalu lama dipendam.

“Lalu, mengapa Tuan tidak pernah memikirkan perasaan saya ketika Tuan menyakiti saya?”

Satoshi tidak menjawab.

“Ketika Tuan membawa perempuan lain ke rumah ini, apakah Tuan pernah berpikir bagaimana rasanya bagi saya? Ketika Tuan menghukum saya hanya karena memanggil Tuan sebagai suami, apakah Tuan pernah memikirkan betapa sakitnya hati saya dan bagaimana dengan cincin pernikahan kita yang tuan buang?” Lili mengusap pipinya. “Sekarang, ketika saya ingin pergi, Tuan justru membuat saya semakin takut.”

Ia berhenti sejenak, mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kalimat berikutnya.

“Saya tidak akan menyerahkan diri saya hanya agar Tuan merasa memiliki saya.”

Wajah Satoshi menegang.

Lili melanjutkan, kali ini dengan suara yang lebih tegas.

“Tubuh saya bukan sesuatu yang dapat Tuan gunakan untuk mengikat saya. Pernikahan kita tidak memberikan Tuan hak untuk memaksa saya melakukan sesuatu yang tidak saya inginkan.”

Kalimat itu menghantam Satoshi lebih keras daripada teriakan mana pun.

Ia teringat bagaimana selama ini dirinya menggunakan status sebagai suami untuk membenarkan perlakuan buruknya. Ia selalu menganggap bahwa karena Lili adalah istrinya, perempuan itu harus menerima segala keinginannya.

Padahal, ia tidak pernah memberikan apa yang semestinya menyertai ikatan pernikahan tersebut: rasa hormat, perhatian, dan rasa aman.

Satoshi menatap tangan Lili yang masih gemetar.

Untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha mendekat.

“Aku...” Ia berhenti, kesulitan menemukan kata-kata. “Aku tidak tahu harus bagaimana.”

“Kalau begitu, biarkan saya pergi.”

Satoshi memejamkan mata.

Jawaban itu sederhana. Namun, untuk seseorang yang selama ini terbiasa memperoleh apa pun yang diinginkannya, menerima penolakan terasa seperti kehilangan seluruh kekuasaannya.

Ia ingin menyalahkan Tyson. Ia ingin menuduh Lili telah berubah. Ia bahkan ingin mengatakan bahwa perempuan itu seharusnya memahami betapa sulitnya dirinya menerima kemungkinan kehilangan seorang istri.

Namun, semua alasan tersebut tidak dapat menghapus kenyataan bahwa ia sendirilah yang membawa mereka ke titik ini.

“Aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja,” ucapnya lemah.

Lili menunduk.

“Kalau begitu, Tuan tidak pernah benar-benar memahami saya.”

---

Keheningan memenuhi kamar.

Satoshi akhirnya mundur menuju pintu. Ia menatap Lili beberapa saat, seolah-olah masih berharap perempuan itu akan memanggilnya atau meminta agar ia tetap tinggal.

Namun, Lili tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya berdiri di sudut ruangan, menunggu pria itu pergi.

Satoshi membuka pintu, kemudian berhenti sebelum melangkah keluar.

“Pakaianmu...” Ia melirik kain gaun merah muda yang telah robek. “Aku akan meminta seseorang membawakan pakaian lain.”

“Saya bisa mengurus diri saya sendiri.”

Jawaban tersebut kembali membuatnya terdiam.

Dahulu, Satoshi bahkan tidak pernah membelikan Lily baju mahal atau perhiasan, Satoshi hanya memberinya gudang sempit untuk dijadikan kamar namun Lily menerimanya dengan penuh rasa syukur. Sekarang, perempuan itu tidak lagi menginginkan apa pun darinya.

Satoshi keluar dan menutup pintu.

Namun, alih-alih segera pergi, ia berdiri di lorong dengan kepala tertunduk.

Dari balik pintu, ia tidak mendengar suara Lili. Tidak ada tangisan keras ataupun kemarahan. Hanya keheningan yang membuatnya semakin menyadari betapa jauh jarak di antara mereka.

Ia berjalan menuju dapur.

Kotak bekal untuk Tyson masih terletak di atas meja. Di sampingnya terdapat sendok, wadah lauk, dan beberapa peralatan yang belum sempat dibereskan Lili.

Satoshi memandangi makanan itu lama sekali.

Beberapa jam lalu, ia melihat bekal tersebut sebagai bukti bahwa Lili sedang memberikan perhatian kepada pria lain. Ia merasa tersaingi oleh seseorang yang bahkan tidak memiliki kekayaan dan kedudukan sepertinya.

Sekarang, ia melihat sesuatu yang berbeda.

Lili telah menyiapkan makanan itu karena ia ingin melakukannya. Tidak ada paksaan, tidak ada tuntutan, dan tidak ada janji bahwa Tyson harus membalas kebaikannya.

Perempuan itu mampu memberikan perhatian dengan tulus kepada seseorang yang memperlakukannya dengan baik.

Satoshi menunduk.

Ia pernah menerima perhatian yang sama selama tiga tahun, tetapi selalu membuangnya seolah-olah tidak memiliki nilai.

Kini, ketika Lili tidak lagi memberikan perhatian itu kepadanya, ia baru memahami betapa berharganya sesuatu yang selama ini dianggapnya biasa.

Ia meraih kursi, lalu duduk dengan kedua tangan menutupi wajah.

“Apa yang sudah kulakukan?” bisiknya.

Tidak ada yang menjawab.

---

Di dalam kamar, Lili duduk di tepi ranjang setelah menemukan pakaian lain yang dapat dikenakannya. Tangannya masih gemetar ketika ia merapikan gaun yang robek dan meletakkannya di samping tempat tidur.

Ia ingin menangis sepuasnya.

Namun, air matanya mulai mengering, meninggalkan rasa perih yang sulit dijelaskan.

Pagi itu seharusnya menjadi hari ketika ia mengambil langkah pertama menuju kebebasan. Ia telah merencanakan semuanya dengan hati-hati: mengantarkan bekal kepada Tyson, pergi ke pengadilan, lalu mulai menyusun kehidupan baru di rumah kecil yang dibelinya dengan hasil kerja kerasnya sendiri.

Sekarang, semua rencana itu terhenti.

Lili mengambil telepon genggamnya dari atas meja. Layarnya menampilkan waktu yang terus berjalan. Ia membayangkan Tyson mungkin sedang menunggu kedatangannya atau bertanya-tanya mengapa ia tidak muncul seperti yang dijanjikan.

Ia ingin menghubunginya, tetapi ia takut Satoshi akan mengetahui apa yang dilakukannya.

Untuk beberapa saat, ia hanya menggenggam telepon tersebut.

Kemudian, ia membuka catatan berisi alamat rumah kecilnya, nomor dokumen penting, dan informasi yang telah disiapkannya selama berbulan-bulan.

Ia tidak akan menyerah.

Satoshi mungkin dapat menghalanginya hari ini. Ia mungkin dapat membuatnya takut untuk sementara waktu. Namun, pria itu tidak dapat menghapus keinginannya untuk hidup dengan aman.

Lili mengusap pipinya, lalu menarik napas panjang.

“Aku harus pergi,” bisiknya kepada dirinya sendiri. “Aku harus menyelamatkan diriku.”

Kali ini, ia tidak memikirkan apakah Satoshi akan menyesal. Ia tidak memikirkan apakah suatu hari pria itu akan mencintainya. Ia bahkan tidak memikirkan apakah pernikahan mereka masih dapat diperbaiki.

Ia hanya memikirkan masa depan yang ingin dibangunnya.

Masa depan ketika ia tidak perlu gemetar setiap kali mendengar langkah kaki seseorang mendekati pintunya.

Masa depan ketika ia dapat memasak, menulis, tertawa, dan tidur tanpa takut akan disakiti.

Masa depan yang menjadi haknya, terlepas dari apakah Satoshi mengizinkannya atau tidak.

---

Menjelang pukul delapan, Satoshi kembali berdiri di depan kamar Lili.

Tangannya terangkat, tetapi kali ini ia tidak langsung memutar gagang pintu.

Ia mengetuk pelan.

“Lili.”

Tidak ada jawaban.

“Aku meletakkan pakaian di depan pintu. Kau bisa mengambilnya jika membutuhkannya.”

Keheningan menyambutnya.

Satoshi menatap pintu tersebut, kemudian menundukkan kepala.

“Aku tidak akan masuk.”

Ia meletakkan kantong berisi pakaian di lantai, lalu melangkah mundur.

Untuk pertama kalinya, ia berusaha menghormati batas yang ditetapkan Lili, meskipun tindakan kecil itu sama sekali tidak dapat menghapus apa yang telah dilakukannya.

Sebelum berbalik, ia mengucapkan sesuatu yang tidak pernah terpikir akan dikatakannya.

“Maafkan aku.”

Di dalam kamar, Lili mendengar suara tersebut.

Namun, ia tidak membuka pintu.

Ia tidak menjawab.

Bukan karena ia tidak mendengar permintaan maaf itu, melainkan karena ia sudah terlalu sering terluka untuk menganggap satu kalimat sebagai bukti perubahan.

Satoshi akhirnya pergi.

Dan di balik pintu yang tetap tertutup, Lili kembali menatap dokumen-dokumennya.

Ia tidak tahu berapa lama lagi ia harus bertahan di rumah tersebut. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Satoshi berikutnya.

Namun, satu hal telah berubah di dalam hatinya.

Ia tidak akan lagi mengorbankan dirinya demi mempertahankan pernikahan yang hanya memberinya penderitaan.

Sementara itu, Satoshi mulai memahami bahwa rasa takut kehilangan bukanlah alasan untuk menyakiti seseorang.

Sayangnya, memahami kesalahan tidak berarti ia telah memperbaikinya.

Dan bagi Lili, permintaan maaf tidak akan mengembalikan rasa aman yang telah direnggut darinya.

Pagi itu, pernikahan mereka semakin mendekati akhir.

Bukan karena Lili berhenti menjadi seorang istri, melainkan karena ia akhirnya memilih untuk menjadi manusia yang berhak menentukan nasibnya sendiri.

1
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, semangat upnya. tulisannya seruuu😍
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁
Lili Pinarsih: mkasih ya 🥰 aku jugaa udah mampir kok dicerita kamu😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!