Aluna Putri adalah mahasiswi yatim piatu yang menghabiskan waktunya bekerja keras, hingga suatu hari ia nyaris tumbang karena kelelahan di depan Kayvan Dipta Madhava, CEO kaku sekaligus om dari sahabatnya, Raline.
Pertemuan canggung itu menjadi awal dari skenario besar yang disusun oleh Baskara Madhava yaitu papa dari Kayvan dengan alasan kesehatan yang menurun, tuan Baskara mendesak Kayvan untuk segera menikahi gadis pilihannya yang tak lain adalah Aluna.
Terdesak masalah finansial yang mengancam pendidikannya, Aluna terpaksa menerima tawaran pernikahan kontrak dari Kayvan.
Meski terpaut usia dua belas tahun, benih cinta mulai tumbuh di sela-sela kesibukan kuliah Aluna dan jadwal padat Kayvan.
Pada akhirnya, Aluna dan Kayvan membuktikan bahwa cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu memiliki, melainkan tentang siapa yang sanggup bertahan dan melindungi dalam diam.
Bagaimana Kelanjutannya??
Yukkk Gass Bacaaaa!!!!!
IG: LALA_SYALALA13
YT: NOVELALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Layak Mendapatkannya
Aluna menatap dokumen-dokumen itu, lalu beralih menatap Kayvan.
Ia melihat pria yang selama ini ia anggap dingin dan kalkulatif, ternyata menggunakan seluruh kekuatannya untuk membangun benteng di sekelilingnya.
"Kenapa Om melakukan ini semua untuk saya?" tanya Aluna dengan suaranya sedikit bergetar.
"Apa karena Om merasa kasihan?" lanjutnya.
Kayvan berdiri, berjalan memutari meja dan berdiri tepat di depan Aluna, ia mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam netra Aluna yang jernih.
"Kasihan adalah kata yang salah." bisik Kayvan.
"Awalnya mungkin aku hanya ingin memenuhi keinginan papa, tapi melihatmu berjuang sendirian, melihatmu menolak bantuanku karena harga dirimu, aku menyadari sesuatu. Aku butuh seseorang sepertimu di hidupku yang membosankan ini dan aku ingin melindungimu karena aku tidak ingin melihat mata jernihmu ini kehilangan sinarnya lagi." tutur Kayvan.
Tangan Kayvan perlahan terangkat dan mengusap helai rambut yang jatuh di wajah Aluna.
Sentuhan itu terasa hangat dan penuh perasaan, sesuatu yang tidak pernah ia duga dari pria sekaku Kayvan.
"Menikahlah denganku Aluna, bukan sebagai pelarian tapi sebagai awal yang baru dan aku berjanji tidak akan mengekangmu. Kau tetap bisa kuliah, tetap bisa mandiri, tapi kali ini kau punya rumah untuk pulang dan pundak untuk bersandar." ucap Kayvan.
Aluna merasakan air mata mulai mengenang, untuk pertama kalinya sejak kepergian orang tuanya, ia merasa benar-benar dijaga.
Ia menyadari bahwa di balik segala keraguannya ada rasa aman yang sangat besar setiap kali ia berada di dekat Kayvan.
"Janji tidak akan meremehkan saya?" tanya Aluna dengan suara serak, mencoba menyelipkan sedikit keberaniannya yang tersisa.
Kayvan tersenyum tipis yaitu senyum yang benar-benar tulus dan jarang terlihat.
"Aku tidak akan pernah berani meremehkan wanita yang bisa membuat CEO Madhava Group mati kutu dengan satu tatapan tajamnya."
Aluna tertawa kecil di tengah sisa tangisnya. Ia perlahan mengangguk.
"Baiklah Om, mari kita lakukan." jawab Aluna dengan lirih.
Malam itu, di bawah temaram lampu ruang kerja sebuah babak baru dimulai.
Aluna Putri tidak lagi berdiri sendirian melawan badai, di hadapannya ada seorang pria yang mungkin kaku dalam kata-kata, namun kokoh seperti gunung dalam perbuatannya.
Persimpangan dilema itu akhirnya membawanya ke satu arah yaitu menjadi bagian dari keluarga Madhava.
Di luar ruangan, hujan turun dengan rintik yang tenang, seolah ikut merayakan keputusan yang akan mengubah hidup kedua insan tersebut selamanya.
Persiapan akad nikah pun dimulai secara rahasia, sebuah langkah awal menuju kehidupan canggung di bawah satu atap yang menanti mereka di depan mata.
...****************...
Malam setelah keputusan besar itu diambil, suasana di mansion Madhava terasa lebih tenang, namun ada ketegangan halus yang merayap di dada Aluna.
Ia duduk di kursi meja rias kamar tamunya, menatap pantulan dirinya di cermin.
Tidak ada perhiasan mewah hanya wajah seorang mahasiswi yang tampak lelah namun memiliki gurat ketegasan di matanya.
Aluna menarik napas panjang, menikah. Kata itu dulunya adalah impian yang ia simpan untuk masa depan yang jauh, mungkin setelah ia sukses menjadi seorang ahli statistik atau memiliki karier yang mapan.
Namun sekarang kata itu menjadi pelindung darurat yang harus ia ambil.
Ketukan pintu pelan membuyarkan lamunannya, Kayvan masuk dengan kemeja yang sudah dilipat lengannya hingga siku.
Wajahnya yang biasanya kaku tampak sedikit lebih santai, meski sorot matanya tetap tajam dan penuh perhitungan.
Di tangannya, ia membawa sebuah map cokelat yang tampak lebih tebal dari sebelumnya.
"Belum tidur?" tanya Kayvan. Suaranya rendah mengisi kesunyian kamar tersebut.
"Belum, masih... mencoba mencerna semuanya." jawab Aluna jujur.
Kayvan menarik kursi dan duduk di hadapan Aluna, ia meletakkan map itu di atas meja rias, di antara alat tulis dan buku-buku kuliah Aluna.
"Aku ingin kita membahas detailnya sebelum hari akad, aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita setelah kita sah menjadi suami istri."
Aluna mengangguk, ia menghargai kejujuran Kayvan. Pria ini memang efisien, selalu ingin segala sesuatunya terstruktur dengan jelas.
Kayvan membuka map itu, isinya bukan hanya dokumen hukum, tapi juga beberapa lembar kertas yang tampak seperti draf kesepakatan pribadi.
"Pertama soal pendidikanmu, aku sudah mendaftarkan namamu sebagai penerima beasiswa penuh dari Yayasan Madhava. Ini bukan atas namaku pribadi jadi secara administratif kau tetap menjadi mahasiswa berprestasi yang dibiayai yayasan, tidak akan ada yang tahu di kampus bahwa itu adalah bantuan suamimu." ucap Kayvan.
Aluna sedikit terkejut mendengar ucapan Kayvan yang begitu perhatian kepadanya.
"Terima kasih Om, itu sangat berarti buat saya."
"Kedua," Kayvan melanjutkan.
"Soal pekerjaanmu, aku tidak melarangmu untuk tetap menjadi tutor atau bekerja paruh waktu tapi aku ingin kau membatasi jamnya, fokus utamamu adalah lulus dengan nilai terbaik. Jika kau butuh uang tambahan, kau adalah istriku, kau memiliki hak akses ke rekening bersama yang sudah kusiapkan. Tapi aku tahu harga dirimu tidak akan membiarkanmu mengambilnya begitu saja, jadi aku tetap akan memberimu gaji sebagai asisten risetku selama kau masih ingin melakukannya." ucap Kayvan panjang lebar.
Aluna menatap Kayvan dengan lekat, pria ini benar-benar memikirkannya sampai ke detail terkecil.
Ia tidak hanya menawarkan uang, tapi ia menawarkan solusi yang tetap menjaga martabat Aluna sebagai wanita mandiri.
"Dan yang ketiga." suara Kayvan sedikit berubah, lebih pelan dan serius.
"Soal hubungan kita di dalam rumah ini, kita akan tinggal di bawah satu atap. Aku tidak akan memaksakan hak-hak suami jika kau belum siap. Kita akan mulai sebagai teman yang tinggal bersama dan kau punya ruang pribadimu, dan aku punya ruang pribadiku, kecuali jika di depan Papa atau publik, kita harus bersikap selayaknya pasangan." ujar Kayvan.
Aluna merasa sedikit lega mendengar poin terakhir, ketakutan terbesarnya adalah harus melayani pria yang belum sepenuhnya ia cintai dalam artian romantis yang dalam.
"Terima kasih sudah mengerti Om Kayvan." ucap Aluna begitu berterima kasih.
"Satu hal lagi Aluna." Kayvan menatap mata Aluna, seolah ingin menembus dinding pertahanannya.
"Ini bukan hanya soal melindungimu dari Handoko, ini juga soal melindungimu dari rasa sendirian, sejak orang tuamu pergi, kau selalu berdiri sendiri. Sekarang biarkan aku menjadi orang yang berdiri di belakangmu. Jika kau lelah, kau boleh bersandar dan kau tidak perlu selalu menjadi kuat di depanku." seru Kayvan.
Kalimat itu sederhana, namun sanggup meruntuhkan dinding pertahanan yang dibangun Aluna selama bertahun-tahun.
Ia menunduk dan mencoba menyembunyikan matanya yang mulai memanas.
"Kenapa Om baik sekali?" bisik Aluna.
"Karena kau layak mendapatkannya." jawab Kayvan singkat.
Pagi berikutnya, mansion Madhava dipenuhi oleh keceriaan Raline, gadis itu seolah menjadi koordinator persiapan akad nikah yang sangat dadakan tersebut.
Ia mondar-mandir membawa beberapa sampel kain kebaya sederhana dan katalog bunga.
"Aluna! Om bilang akadnya sederhana saja di ruang tengah, tapi aku tetap ingin kamu pakai kebaya yang cantik, putih bersih ya? Biar kelihatan sakral." seru Raline sambil membentangkan kain brokat di depan Aluna yang baru saja turun untuk sarapan.
"Raline jangan terlalu heboh, Om Kayvan bilang hanya keluarga inti." Aluna mencoba mengerem semangat sahabatnya.
"Justru karena keluarga inti semuanya harus sempurna! Masa sahabatku jadi tanteku sendiri penampilannya biasa saja? Oh my God aku masih nggak percaya kalau minggu depan aku harus panggil kamu Tante Aluna." Raline tertawa terpingkal-pingkal membayangkan hal itu.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
ud gt cwek ny sok ni x... harga dr hrga dr....🙏🏻