Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Penempaan Darah dan Suara dari Kegelapan
Jalur Liar Hutan Timur — Pagi Hari
Kabut tipis berputar di antara celah pohon-pohon raksasa.
Lu Mingseng berdiri di ambang pintu batu yang bergetar. Luka di bahunya kembali berdenyut perih, sementara sisa darah Serigala Sisik Batu yang menempel di tangannya perlahan terserap ke dalam ukiran lambang kuno di dinding tebing.
Fang Rui, yang tadinya hendak mendaratkan tebasan maut, kini terkapar di tanah beberapa puluh meter di belakangnya. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya sesak oleh hantaman energi misterius yang baru saja meledak dari dalam lorong.
"K-kau..." Fang Rui memuntahkan darah segar, matanya membelalak penuh ketakutan saat menatap punggung Mingseng. "Energi apa ini?!"
Mingseng tidak menjawab. Ia bahkan tidak berbalik untuk melirik Fang Rui.
Seluruh perhatiannya tersedot oleh tekanan ghaib yang mengalir keluar dari tangga batu di hadapannya. Pendar cahaya merah keunguan di dalam lorong terasa sangat familier—sama persis dengan energi Bunga Darah Roh yang menyatu dengan tubuhnya tempo hari.
'Mingseng... berhati-hatilah,' suara Kaisar Keabadian bergema tegang di dalam jiwanya. 'Sensasi energi ini... berasal dari zaman yang jauh lebih tua dari ingatan pertamaku.'
'Apakah ini ada hubungannya dengan Bunga Darah Roh?' batin Mingseng bertanya.
'Bukan sekadar berhubungan,' sahut sang Kaisar. 'Bunga itu hanyalah benih kecil yang tumbuh dari aura di dalam ruangan ini!'
Panggilan dari Bawah Tanah
GUDUK... GUDUK...
Pintu batu raksasa Balai Penempaan Darah makin terbuka lebar. Hawa dingin yang menusuk tulang menyapu seluruh lereng gunung, memadamkan api dan membekukan embun di dedaunan sekitar.
"Siapakah di antara kalian... yang telah menyerap Bunga Darah milikku?"
Suara tua yang ghaib dan berat itu kembali bergema. Suara itu tidak keluar dari mulut siapa pun, melainkan merambat langsung melalui getaran tanah dan menancap di dalam pikiran semua orang yang hadir.
Dua pengikut Fang Rui merangkak mundur ketakutan hingga menabrak pohon. "B-bukan kami! Kami tidak tahu apa-apa!"
Fang Rui menggertakkan giginya, mencoba berdiri dengan tumpuan pedangnya. Namun tekanan aura di udara begitu berat hingga memaksa kedua lututnya kembali terhempas ke tanah.
Mingseng meraba dadanya. Di balik kulit dan ototnya yang kini sekuat baja, Meridian Pertama berdenyut kencang—seolah merespons panggilan sang pemilik suara.
Ia menyeka noda darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu mengambil satu langkah maju menuruni anak tangga batu pertama.
"Mingseng! Jangan gila!" teriak murid yang tadi diselamatkannya dari serigala. "Kita harus melapor ke sekte!"
Mingseng berhenti sejenak, tanpa menoleh ia berkata pelan, "Jika kita lari sekarang, tempat ini akan ditemukan oleh orang lain. Dan aku... butuh jawaban atas apa yang terjadi pada tubuhku."
Tanpa ragu lagi, Mingseng melangkah masuk menembus tirai cahaya merah keunguan.
Srett!
Begitu tubuh Mingseng melewati ambang pintu, struktur batu raksasa itu bergetar hebat dan tertutup rapat kembali!
Brak!
Suara pintu batu yang terkunci memutus seluruh pandangan dari dunia luar, meninggalkan Fang Rui dan murid-murid lainnya yang ternganga di tengah hutan.
Lorong Tulang dan Ujian Pertama
Di dalam lorong, kegelapan gulita seketika menyelimuti.
Namun, hanya berselang beberapa detik, ukiran-ukiran garis di dinding batu mulai menyala satu per satu, memancarkan cahaya merah keunguan yang temaram.
Mingseng melangkah perlahan. Setiap anak tangga yang dipijaknya dipenuhi oleh pecahan tengkorak binatang dan prasasti-prasasti batu yang telah hancur dimakan zaman.
'Suasana tempat ini terlalu sunyi,' bisik Kaisar Keabadian di dalam jiwanya. 'Waspadailah tiap jengkal tanah. Tempat penempaan darah pada masa lalu biasanya dibangun dengan genangan pengorbanan.'
Mingseng mengangguk pelan. Tangannya memegang erat pedang besi pendek bekas murid luar yang ia ambil tadi.
Setelah menuruni ratusan anak tangga, Mingseng akhirnya tiba di sebuah aula melingkar yang sangat luas. Di tengah aula, terdapat sebuah kolam batu raksasa yang kering. Di atas kolam tersebut, melayang sebuah Tengkorak Raksasa Berwarna Keemasan yang dililit oleh delapan rantai besi hitam.
Syuut!
Dua titik cahaya merah menyala di dalam rongga mata tengkorak raksasa tersebut.
"Pengunjung muda..." suara tua itu kembali bergema, langsung dari arah tengkorak melayang. "Tubuhmu ringkih, garis keturunanmu samar... Namun di dalam dadamu, terdapat riak Bunga Darah milikku yang telah menyatu sempurna."
Tengkorak itu perlahan melayang turun, berhenti tepat beberapa meter di hadapan Mingseng. Tekanan angin yang dihasilkannya membuat pakaian lusuh Mingseng berkibar keras.
"Katakan padaku, Anak Manusia... Bagaimana bisa jasad yang terlahir dengan Sembilan Meridian Terkunci sanggup menahan ledakan energi Bunga Darah tanpa hancur menjadi debu?"
Mingseng menatap lurus ke arah rongga mata merah tengkorak tersebut tanpa gentar. "Karena aku menolak untuk mati."
Hening sejenak di dalam aula.
Lalu, tawa nyaring yang menggetarkan seluruh pondasi bawah tanah meledak dari tengkorak emas itu.
"Hahaha! Menolak untuk mati! Jawaban yang sederhana, namun penuh dengan kesombongan!"
Tengkorak itu mendadak menghentak. Delapan rantai besi di sekelilingnya bergemerincing nyaring.
"Bagus! Jika kau ingin melangkah lebih jauh dan menguasai teknik sejati Penempaan Darah, buktikan bahwa tekadmu bukan sekadar bualan belaka!"
BUM!
Air di dalam dasar kolam yang tadinya kering mendadak meledak! Cairan merah kental seperti darah menyembur keluar, membentuk tiga sosok prajurit tanpa wajah yang menggenggam tombak darah kental.
"Kalahkan mereka dengan kekuatan fisik murni milikmu!" perintah suara tua itu. "Jika kau menggunakan energi luar, wadah tubuhmu akan langsung kuhancurkan!"
Pertarungan Fisik Murni
Tiga prajurit darah itu melesat kilat!
WUSSS!
Tombak pertama menyambar lurus ke arah dada Mingseng. Mingseng memiringkan tubuhnya, membiarkan mata tombak melesat tipis menggores jubahnya, lalu menghantam gagang tombak lawan dengan siku kanannya!
KRAK!
Berkat transformasi fisik dari Bunga Darah Roh tempo hari, tenaga murni di lengan Mingseng kini setara dengan pukulan ratusan jin. Gagang darah kental itu seketika hancur berkeping-keping!
Namun, prajurit kedua dan ketiga tidak memberi jeda. Mereka menyerang serentak dari sisi kiri dan kanan!
Mingseng melompat mundur, bertumpu pada pinggiran kolam batu, lalu menerjang balik bagai peluru. Ia mengabaikan tusukan di bahunya dan memilih menghantamkan tinjunya tepat ke dada prajurit darah kedua.
BUGH!
Dada prajurit darah itu jebol seketika, terpecah menjadi genangan cairan merah yang jatuh ke tanah.
'Satu lagi di belakangmu!' seru Kaisar Keabadian memperingatkan.
Mingseng memutar pinggangnya secara ekstrem, membiarkan sabetan tombak terakhir melesat di atas kepalanya. Dengan satu gerakan sapuan kaki yang cepat, ia merubuhkan keseimbangan prajurit ketiga, lalu menghantamkan pedang besinya menancap telak ke pusat energi lawan!
Brak!
Prajurit darah terakhir meledak menjadi uap merah tipis yang melayang di udara.
Mingseng berlutut satu kaki, napasnya memburu. Darah segar menetes dari luka di bahunya, namun matanya tetap berkilat penuh tekad.
Tengkorak emas yang melayang di atas kolam tertegun. titik merah di rongga matanya berkedip terang.
"Kekuatan otot yang begitu solid... refleks pergerakan yang tanpa keraguan..." gumam suara tua itu, dipenuhi rasa takjub yang tak tertahankan. "Kau benar-benar telah menempa wadah tubuhmu hingga batas maksimal seorang fana!"
Cahaya merah dari prajurit darah yang telah hancur melayang mengumpul, lalu meluncur deras menembus masuk ke dalam dahi Lu Mingseng!
SYUUUT!
Mingseng membelalakkan mata saat sebuah ingatan dan teknik baru mengalir deras ke dalam pikiran dan aliran darahnya:
[Teknik Tubuh Abadi: Pembalikan Darah - Tahap Pertama]
Sebuah teknik kuno yang mampu memanfaatkan aliran darah dan luka fisik untuk melipatgandakan kekuatan pukulan secara instan!
"Terimalah hadiah pertama ini, Anak Muda," ujar suara tua itu dengan nada yang kini dipenuhi rasa hormat. "Nama tempat ini adalah Balai Penempaan Darah, dan kau baru saja mengambil langkah pertama untuk menjadi penguasa sejati atas jasadmu sendiri!"
Mingseng mengepalkan tangannya. Kehangatan baru mengalir di sepanjang pembuluh darahnya, menyembuhkan luka-luka di bahunya dalam hitungan detik.
Di luar reruntuhan, badai besar baru saja dimulai... Namun di dalam kegelapan tanah ini, Lu Mingseng telah menemukan senjata terbesarnya untuk meruntuhkan para musuhnya!
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳