NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Lumpuh

Istri Kontrak CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.

​Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kegelapan Ruang Bawah Tanah

​Tidak butuh waktu lama bagi jaringan informasi Doni dan para pengawal kepercayaan Rian untuk bergerak. Hanya dalam kurun waktu kurang dari satu jam setelah perintah mutlak itu diberikan, pelacakan digital dan penyisiran di sekitar kawasan kampus membuahkan hasil.

​Berdasarkan rekaman kamera pengawas (CCTV) luar kos serta keterangan pemilik bangunan, ketiga mahasiswa berandalan yang terlibat dalam penjebakan itu—Satria, Reno, dan Galang—ternyata tidak bersembunyi jauh. Mereka merasa aman dan dengan santainya sedang nongkrong di sebuah kafe semi-terbuka yang terletak tidak jauh dari gerbang kampus, tertawa-tawa seolah tidak terjadi apa-apa.

​Malam semakin larut ketika sebuah mobil SUV hitam berukuran besar berhenti mendadak di depan kafe tersebut. Pintu mobil terbuka secara bersamaan, dan empat orang pria berbadan tegap berjas rapi dengan sorot mata tajam melangkah turun tanpa suara. Suasana kafe yang tadinya riuh seketika mendadak menciut saat para pengawal pribadi Rian Wijaya masuk ke dalam area tempat duduk pengunjung.

​Satria, yang kepalanya masih dibalut perban tipis akibat hantaman vas bunga Kirana, menoleh kaget saat meja mereka dikepung.

​"K-kalian siapa?! Mau apa?!" bentak Satria dengan suara bergetar, mencoba berdiri, namun sebuah cengkeraman tangan yang kokoh di bahunya langsung menekannya kembali duduk dengan keras.

​"Kalian bertiga ikut kami sekarang," ucap salah seorang pengawal dengan suara berat dan dingin mutlak, tidak memberi ruang untuk membantah.

​"Hei! Jangan sembarangan! Kalian nggak punya hak—" protes Reno terpotong saat Galang menyenggol lengannya sambil melihat tatapan mematikan dari para pengawal di sekeliling mereka. Tidak ada pilihan. Tanpa bisa melawan, ketiga pemuda itu diseret keluar kafe, dipaksa masuk ke dalam mobil, dan langsung dibawa menuju mansion pribadi Rian Wijaya untuk menghadapi murka sang penguasa yang sesungguhnya.

​Mobil SUV hitam berukuran besar itu melaju kencang meninggalkan kawasan kafe, membelah jalanan kota yang kian sepi hingga akhirnya memasuki gerbang besi mansion pribadi Rian Wijaya. Kendaraan tidak berhenti di lobi utama, melainkan langsung berbelok menuju area tersembunyi di bagian belakang bangunan—menuju sebuah pintu baja tebal yang mengarah langsung ke ruang bawah tanah pribadi.

​Begitu mobil berhenti, pintu belakang dibuka secara kasar oleh para pengawal. Satria, Reno, dan Galang ditarik keluar dengan paksa. Ketiga pemuda itu meronta-ronta ketakutan, namun tenaga mereka tak sebanding dengan para pengawal berbadan tegap tersebut.

​Sebelum mereka sempat melihat situasi sekitar, tangan mereka diikat erat menggunakan kabel ties ke belakang punggung, dan wajah mereka langsung diselubungi dengan kain hitam pekat.

​"Tolong! Ampun! Kami mau dibawa ke mana?!" jerit Galang panik, napasnya tersengal-sengal karena ketakutan.

​"Diam!" bentak salah seorang pengawal dingin.

​Dengan paksaan, mereka digelandang menuruni anak tangga semen yang curam dan berbau lembap. Suara langkah sepatu bot yang menggema di ruangan tertutup menandakan mereka telah dibawa masuk ke dalam ruang bawah tanah—sebuah tempat privat yang jarang sekali dijamah orang, tempat di mana hukum keluarga Wijaya berlaku mutlak tanpa tersentuh dunia luar.

​Ketiga pemuda itu didorong dan dipaksa berlutut berjajar di atas lantai semen yang dingin, dengan kepala masih tertutup kain hitam dan tangan terikat kencang. Suasana di ruang bawah tanah itu terasa begitu sunyi, mencekam, dan penuh dengan aura kematian.

​Tidak lama kemudian, suara derit pintu besi besar dibuka dari luar, disusul oleh derap langkah kaki yang tenang namun berwibawa. Seseorang berjalan mendekat ke arah mereka.

1
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Rian and Kirana
Ariany Sudjana
ah ga seru, masak orang sekaliber Rian, ga bisa mengungkap keterlibatan Shinta juga?
Iffanaya 😽
kamu jg harus hati² jg sama Shinta ya Rian
Ryuu
baguuus
Ryuu
Semangat nulis nya sayang😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!