NovelToon NovelToon
Switch Body, Yuk Nikah!

Switch Body, Yuk Nikah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikahmuda / Komedi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?

Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.

Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.

Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!

Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembalut

BAB 10

Pembalut

Wajah Daffa berubah tegang ketika melihat ada noda merah di celananya.

"GOD!"

Daffa yang panik tidak lagi bisa berpikir apa-apa. Ia langsung mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Dinda.

Daffa : Cil, celana lu ada darahnya🙈

Begitu terdengar notif pesan, Dinda segera melihat isi pesan itu.

Lutut Dinda terasa lemas begitu membaca pesan Daffa.

"Ya Tuhan..., habis sudah!"

Dinda menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia benar-benar menyerah pada keadaan dan pasrah menghadapi apa yang menimpa dirinya. Rasa malu sudah pasti ada, luka di hati tak mungkin terhindarkan, begitu pula kekecewaan yang terasa begitu dalam.

Bagaimana tidak? Seluruh tubuhnya telah dilihat, bahkan mungkin tersentuh oleh Daffa tanpa sepengetahuannya. Padahal selama ini, Dinda selalu membayangkan akan memberikan seluruh dirinya kepada suami tercintanya kelak. Namun sekarang, sesuatu yang begitu berharga baginya justru terjadi di luar kehendaknya.

Dengan tangan lemah dan kelopak mata yang mengembun, Dinda membalas pesan Daffa.

Dinda : Iya itu tubuh gue kayaknya baru datang bulan. Pakaikan pembalut ya Bang 🥺

Dinda : Cari aja di dalam nakas di pojokan. Biasanya, gue taruh di situ.

Dinda : Abang tahukan cara pakainya?

Dinda : Pakai ya, Bang. jangan nggak 🥺

Dinda : Cukup kesekian kali Abang bikin gue malu 🤧

Tidak butuh waktu lama, pesan itu mendapat balasan.

Daffa : Ntar gue lihat di yutub.

Setelah itu mereka tidak lagi berbalas pesan. Daffa segera menuju tempat menyimpan yang dimaksud oleh Dinda.

"Apa yang ini?" Gumam Daffa memegang sebuah benda yang di bungkus mirip roti.

Daffa yang masih kebingungan langsung membuka yutub. Kalau harus jujur, ia bahkan tidak tahu benda itu dipasang di bagian mana, apalagi bagaimana cara menggunakannya.

“Gila… beginian aja ada tutorialnya,” gumamnya sambil menatap layar ponsel.

Setelah menemukan video yang dianggap paling mudah dipahami, Daffa menyobek plastik pembungkus benda tersebut dengan hati-hati. Kemudian, ia mengambil celana bersih yang sudah disiapkan.

Sambil sesekali melirik layar ponsel, Daffa mulai mengikuti petunjuk dari video itu. Wajahnya tampak serius, seolah sedang mengerjakan tugas kuliah yang menentukan masa depannya.

Senyumnya terukir indah saat ia berhasil menggunakan pembalut.

"Gak enak banget rasanya."

Ia merasa sedikit gerah untuk melangkah dan duduk.

"Ting!"

Kembali terdengar bunyi notifikasi pesan. Daffa yang mendengarnya segera meraih ponselnya dan membuka pesan tersebut untuk melihat isinya.

Dinda : Bang?😭

Begitu banyak pesan yang dari Dinda. Daffa segera membalas pesan itu karena mengerti, Dinda pasti sudah sangat khawatir dan teramat malu akan kondisi seperti ini.

Daffa : Sudah.

Dinda : Sudah apa?

Daffa : Pake pembalut.

Dinda : 🙈

Andai bisa menghilang, Dinda ingin menghilang saat itu juga.

Daffa : Nggak enak banget rasanya. Btw, pembalut lu tinggal satu.

Dinda : Belikan yang sama mereknya dengan yang lu pakai tadi. Atau gue aja yang beli.

Daffa : Jangan! Lu lupa lagi di tubuh gue? Masa iya laki beli pembalut. Dah, biar gue aja.

Hening. Beberapa menit berlalu tanpa notif pesan. Baik Daffa maupun Dinda saat ini wajah keduanya tengah memerah.

Kemudian Daffa mengetik pesan berikutnya.

Daffa : Jangan khawatir, gue simpan rahasia ini sampai mati.

Dinda : makasih 🥺😭

Daffa : Btw bisa berikan dompet gue ke sini nggak?

Dinda : Itu tubuh gue , biar gue yang tanggung jawab beli pembalut. Pakai duit gue aja.

Daffa : Sekarang tubuh lu, tubuh gue juga. Jadi sama aja.

Dinda : Maksudnya?

Daffa : Gue tunggu di teras

Dinda bingung dengan pesan singkat Daffa terakhir. Namun ia menuruti permintaan pemuda itu untuk membawakan dompetnya.

Daffa sudah berdiri menunggu Dinda di depan teras rumah. Melihat Dinda datang, ia pun membenarkan posisi berdiri tegak yang tadinya santai bersandar pada dinding rumah.

"Tante Mayang tadi ngasi uang jajan. Nih, belum gue masukin ke dompet."

Sejumlah uang di berikan ke Daffa yang sedang berada dalam tubuh Dinda.

"Makasih."

"Kalau Mama ngasi cash, minta di Tf aja. Biar gue narik sendiri." Ujar Dinda yang berada di tubuh Daffa.

"Apa?"

"Jajan Gue. Biasanya awal bulan Mama ngasi cash."

"Ooh..."

"Mau gue temenin? Lu pasti mau beli pembalutkan Bang?"

"Lu mau pakai tangan gue buat ambil pembalut?"

Dinda menghela napas.

"Nggak gitu konsepnya. Gue cuma nunjukin aja, Abang yang ambil."

"Ya sudah, kita ke Mall sekalian." Ajak Daffa.

"Ngapain beli pembalut ke Mall segala?"

"Beli baju tidur yang baru."

"Buat apa? Baju gue kan banyak di lemari. Apa udah kotor semua?"

"Baju tidur lu kurang bahan semua. Lama-lama gue bisa kena serangan jantung kronis."

Wajah Dinda memerah, menahan malu.

"Lu kira gue nggak olah raga jantung apa Bang tiap hari?! Jamur lu suka bangun tanpa sebab. Parno gue jadinya."

Kini wajah Daffa yang berubah merah. Keduanya lalu saling mengalihkan pandangan ke lain.

"Mau nggak ini?" Tanya Daffa mengulang.

"Ya sudah. Pakai motor gue aja. Motor Abang kegedean, gue kesusahan makenya. Dan nggak mungkin kan dengan tubuh gue, lu yang bawa motor gede lu itu, Bang?"

"Ya udah. Kebetulan nih, gue bawa kuncinya."

Dinda yang berada di tubuh Daffa pun akhirnya menyetujui ajakan Daffa. Namun langkah Dinda terhenti ketika akan menaiki motor. Kembali Dinda mengarahkan pandangannya ke arah tubuh aslinya sendiri. Celana rumahan serta kaos oblong yang di kenakan Daffa di tubuhnya merusak pemandangan Dinda.

"Ck! Bang, lu nggak bisa milih outfit yang bener apa buat tubuh gue?!" Sewot Dinda.

"Gue nggak tahu selera lu, Cil."

"Pilihan kan banyak. Tinggal Lu cocokin aja sesuai fashion sekarang yang lu suka, beres kan?! Lu mau buat gue kayak orang kuper?!"

"Ya, sudah tunggu bentar."

Daffa meninggalkan Dinda dan kembali memasuki kamar untuk berganti pakaian.

Dalam 15 menit Daffa sudah keluar kembali. Gamis berwarna mocca dengan kerudung berwarna hitam walau hanya menutup kepala seperti selendang menjadi pilihan Daffa saat itu.

Dinda tertegun, ternganga tak percaya dengan pilihan Daffa di tubuh aslinya. Dinda yang sedikit tomboy paling jarang menggunakan gamis jika bukan hari besar keagamaan saja, atau acara sakral lainnya.

"Nggak salah pilihan lu, Bang? Kita mau ke Mall apa pengajian?"

"Nggak, pakai begini lebih nyaman walau panas."

"Itu sih nggak nyaman namanya kalau masih ngeluh panas."

"Nggak, pokoknya gini aja."

Karena mulai sekarang cuma gue yang boleh lihat.

Walau masih tak percaya, Dinda akhirnya menyalakan motornya dan memboncengi Daffa yang duduk manis di atas motor.

***

Dua puluh menit kemudian, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan.

Begitu memasuki mal, Daffa dan Dinda langsung dikejutkan oleh suasana yang begitu ramai. Ternyata, sedang berlangsung sebuah pameran yang menarik perhatian banyak pengunjung. Mereka pun sempat tertegun melihat lautan manusia yang memenuhi area mal di hadapan mereka.

"Apa kita pergi ke tempat lain aja? Lagian ngapain sih ke Mall segala?"

Dinda mulai protes. Ia sudah mulai terlihat malas untuk masuk lebih jauh ke dalam bangunan megah itu.

"Sini aja."

Tanpa meminta izin lagi, Daffa yang berada di dalam tubuh Dinda langsung meraih tangan Dinda dan menggenggamnya erat.

Meski tangan yang digenggam itu sebenarnya adalah tangannya sendiri, Dinda tetap merasakan sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya, ia merasakan tangannya disentuh oleh tangan orang lain.

Ada sensasi aneh yang sulit dijelaskan ketika jari-jari mereka saling bertaut. Dinda bahkan baru menyadari bahwa tangannya sendiri ternyata terasa begitu mungil dan lembut saat berada dalam genggaman Daffa.

Mereka pun masuk ke beberapa outlet dan memilih baju tidur serta beberapa pakaian yang lebih tertutup untuk Dinda.

Dinda melongo melihat belanja Daffa yang segitu banyaknya untuk tubuhnya. Ia sedikit khawatir, isi dompetnya tidak dapat membayar itu semua.

"Ngapain belanja sebanyak ini? Ini kebanyakan."

Dinda berbisik di telinga Daffa

"Ganti isi lemari lu. Baju-baju lu bikin sakit kepala."

"Tapi gue bisa bangkrut kalau begini!"

"Gue yang bayar."

Dinda tertegun mendengar ucapan Daffa. Ia merasa tidak enak hati, tetapi di sisi lain juga merasa ngeri melihat begitu banyak pakaian yang dibeli Daffa.

Setelah membayar belanjaan, mereka memasuki swalayan yang menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga. Sesampainya di depan rak panjang yang dipenuhi berbagai jenis pembalut, Daffa yang berada di dalam tubuh Dinda mengamati deretan produk tersebut, sejenak.

Satu per satu ia mengambilnya, lalu membaca keterangan mengenai fungsi dan kelebihan masing-masing produk dengan seksama.

Lama-kelamaan, kondisi Daffa terlihat semakin kurang baik. Sesekali ia meringis menahan rasa tidak nyaman, hingga keringat dingin mulai membasahi dahinya.

"Bang, lu nggak apa-apa?" Tanya Dinda yang melihat perubahan sikap Daffa.

"Nggak apa-apa."

"Nggak apa-apa bagaimana? Pasti perut lu sakit banget dan pinggang juga pegal-pegal. Kita pulang aja, yuk?"

Dinda paham yang di rasakan Daffa. Karena setiap bulannya, ia juga merasakan hal yang sama.

"Gue masih sanggup."

"Abang kelamaan milih sih. Udah yang ini aja kayak biasa."

Dinda langsung mengambil dua bungkus pembalut dengan merk yang sudah biasa ia gunakan.

-

-

-

Bersambung...

Jangan lupa like dan komen ya, terima kasih 🙏😊

1
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
awalnya pacaran nih ye wkwkwk
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
pasti Lo bakalan diterima
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
Alhamdulillah akhirnya tubuh mereka kembali lagi sprti semula
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ciee mangat bgt dapp
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
bayangin juga gada yg tegang 😂
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
bu mayang ternyata udah suka sama dinda jadi mantunya ya 🤣
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ngebet amat bang
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
harusnya kamu percaya anakmu dulu sii
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
jangan lupa undangan nya 🤣
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
berawal dari kesalahan pahaman Maslaah nya jadi rumit.
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
lah salah paham ternyata 🤣🤣🤣
salahin nggak pake kacamata itu
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
ribet kan jadinya
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
jadi gak lamaran nya
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ketawa Aja dulu
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
lama yg pasti Kamu
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
yg Bayarin km dap
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
meluk meluk segala, tau tau ada rasa eakkk wkwkwk
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
tiwi otw patah hati
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
udh deh kalian jadian aja
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
dih dr dulu juga dibully luh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!