NovelToon NovelToon
Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:178.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Kayla mengambil kunci mobil dan melangkah keluar. Suara pintu tertutup pelan, meninggalkan Arman sendirian di dalam rumah.

Arman adalah adik dari Damar, ayah kandung Kayla. Usianya hampir menginjak kepala empat, namun wajahnya masih terlihat muda. Rambutnya selalu rapi, pakaiannya sederhana. Ia memilih hidup tenang, jauh dari drama.

Sejak kakaknya bercerai, kondisi Eyang Narti semakin sering menurun. Penyakit datang silih berganti, seolah tubuh tua itu tak sanggup lagi menahan terlalu banyak kesedihan.

Arman sempat berpikir untuk menikah. Tapi niat itu selalu ia urungkan. Baginya, menjaga ibu jauh lebih penting daripada membangun kehidupan sendiri.

Di luar, Kayla menyalakan mesin mobil. Suara mesin yang hidup membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ada rasa akrab di sana. Rasa yang ia kenal betul.

Mobil melaju menembus jalanan Surabaya yang lengang. Lampu-lampu jalan berpendar lembut, berbeda dengan gemerlap Jakarta yang bising dan penuh godaan.

Kayla membuka jendela sedikit. Angin malam menerpa wajahnya, membawa aroma kota yang asing tapi hangat.

Ia memang berkata ingin ke alun-alun. Tapi pikirannya melayang ke arah lain.

Ke masa lalu.

Ke kebiasaan lama.

Ke dunia yang selalu memanggilnya ketika ia merasa kosong.

Tangannya mencengkeram setir lebih kuat.

“Cuma cari angin,” gumamnya, entah untuk meyakinkan Om Arman… atau dirinya sendiri. Mobil terus melaju, membawa Kayla menuju malam yang belum tentu sekadar angin.

Dan ia tak menyadari, bahwa langkah kecil itu akan menjadi awal dari rangkaian kejadian yang perlahan menyeretnya ke persimpangan hidup antara kembali jatuh, atau akhirnya pulang.

Kayla mengendarai mobil menyusuri jalanan kota dengan kecepatan sedang. Tidak ngebut, tidak juga terlalu pelan.

Lampu-lampu jalan memanjang seperti garis kuning pucat di kaca depan, sementara malam Surabaya terasa lebih tenang dibandingkan Jakarta.

Di dalam mobil, musik mengalun kencang.

Dentuman bass memenuhi ruang sempit itu, memantul di dada Kayla. Lagu-lagu lama yang biasa menemaninya berpesta kembali diputar irama yang sudah akrab dengan hidupnya.

Tangannya memutar volume sedikit lebih tinggi, seolah ingin menenggelamkan pikiran-pikiran yang mulai muncul.

Kayla hanya mengenakan celana pendek sepaha dan tanktop putih. Kardigan tipis ia biarkan terbuka, berkibar pelan tertiup angin dari jendela yang setengah terbuka.

Rambutnya digulung asal ke atas, menyisakan beberapa helai yang jatuh di pelipis. Di kakinya hanya ada sandal jepit sederhana, jauh dari kesan glamor yang biasa ia pakai di klub.

Namun justru itulah Kayla malam ini.

Apa adanya. Tanpa topeng.

Ia tersenyum kecil, lalu mulai bernyanyi mengikuti lirik lagu. Bahunya bergoyang ringan, jemarinya mengetuk setir mengikuti irama. Sesekali ia tertawa sendiri, menikmati kebebasan kecil yang ia ciptakan di ruang sempit bernama mobil.

Hanya itu yang bisa Kayla lakukan untuk mengusir jenuh.

Kalau di Jakarta, ia tahu persis harus ke mana. Klub malam dengan lampu strobo dan alkohol dingin selalu siap menyambut. Tempat di mana ia bisa lupa pada segalanya nama, luka, masa lalu.

Tapi ini Surabaya.

Di kota ini ada eyang. Ada Om Arman. Ada mata yang bisa mengenalinya. Ada rasa bersalah yang diam-diam mengintai.

Kayla tidak berani. Maka jadilah ia berdisko sendiri di dalam mobil.

Bernyanyi keras tanpa peduli suara fals. Menari kecil tanpa takut dinilai.

Di balik kaca mobil, Kayla terlihat seperti gadis biasa yang sedang menikmati malam. Tapi di dalam dadanya, ada kekosongan yang terus ia coba isi dengan musik dan gerakan.

Lampu merah menyala. Mobil berhenti. Kayla memandangi bayangannya sendiri di kaca depan. Sekilas, senyumnya memudar. Musik tetap berbunyi, tapi pikirannya melayang.

“Kenapa sih susah banget buat tenang?” gumamnya lirih.

Ia menarik napas panjang, lalu kembali tersenyum paksa. Tangan kanannya kembali menari di udara, mengikuti beat lagu.

Untuk beberapa menit ke depan, Kayla memilih lupa.

Karena terkadang, cara bertahan hidup satu-satunya adalah berpura-pura bahagia meski hanya di dalam mobil, sendirian, di tengah kota yang asing tapi terasa seperti rumah lama.

Saat sedang asyik mengikuti irama musik, tiba-tiba setir mobil terasa berat. Kayla mengernyit, refleks mengurangi kecepatan. Ada bunyi aneh seperti gesekan kasar lalu mobil oleng sedikit sebelum akhirnya berhenti total di pinggir jalan.

“Loh…?” gumamnya.

Kayla mematikan mesin. Musik berhenti. Sunyi langsung menyergap, begitu mendadak sampai telinganya berdengung.

Ia turun sedikit dari jok, menoleh ke kaca spion, lalu membuka pintu dan melihat ke arah ban. Dadanya langsung mengempis.

Bocor.

Ban depan kiri kempes nyaris rata dengan aspal.

“Ya ampun…” desis Kayla pelan.

‘’Kenapa pakai acara bocor segala sih!’’

‘’Gak bisa apa ya, kalau mau bocor tuh kasih aba aba gitu, biar aku lewat bengkel!’’

‘’Arrkkhh kalau gini gimana?’’

‘’Astagaaa! Apes apessss banget sih ahhh !’’

Ia berdiri mematung sejenak, menatap sekeliling. Jalan itu sepi.

Terlalu sepi. Lampu jalan jaraknya berjauhan, beberapa bahkan mati. Tak ada kendaraan lewat. Tak ada rumah. Hanya deru angin malam dan suara jangkrik yang terdengar menyeramkan.

Rasa tidak nyaman mulai merayap di tengkuknya. Kayla cepat-cepat masuk kembali ke mobil dan mengambil ponsel. Tangannya sedikit gemetar saat membuka layar, langsung mencari nama Om Arman.

No service.

Ia mengerjapkan mata, memastikan dirinya tidak salah lihat. Lalu mengecek data.

Tidak ada pulsa. Tidak ada data.

“Ah shittt!!” umpatnya kesal, ‘’Gembel banget gue, ya ampun sampai gak ada pulsa sama sekali!’’

Kayla menepuk dahinya sendiri. Ia lupa membeli pulsa sejak tiba di Surabaya. Terlalu terbiasa dengan Wi-Fi dan paket pascabayar di Jakarta.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Tenang, Kayla. Ini cuma ban bocor.

Namun perasaan tidak aman semakin kuat.

Dan saat itulah—

Tok. Tok.

Suara ketukan di kaca samping kanan membuat jantung Kayla nyaris berhenti.

Ia menoleh cepat. Ada bayangan seseorang berdiri di luar. Lalu satu lagi. Dan satu lagi.

Kayla menelan ludah. Tangannya refleks menggenggam setir erat-erat. Namun pikirannya terlalu polos malam itu ia berharap mereka adalah orang baik. Warga sekitar. Penolong.

Dengan ragu, Kayla menurunkan kaca sedikit.

“Mas…?” suaranya nyaris berbisik. “Mobil aku bocor—”

Kalimatnya terhenti. Pisau itu muncul begitu cepat. Mengkilap di bawah lampu jalan yang redup.

“Diam!” bentak salah satu dari mereka.

Kayla membelalak. Napasnya tercekat. “Mas, aku cuma—”

“Jangan teriak!” tangan kasar tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang. Tubuh Kayla menegang, jeritannya teredam di balik telapak tangan asing yang bau rokok dan keringat.

Air matanya langsung mengalir.

“Keluar!” perintah yang lain.

Kayla ditarik paksa keluar dari mobil. Kakinya hampir tersandung aspal. Kardigan tipisnya tersingkap, udara malam menusuk kulitnya. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena dingin melainkan ketakutan yang merambat sampai ke tulang.

“Serahin semua!” hardik salah satu dari mereka sambil mengacungkan pisau lebih dekat ke wajahnya.

1
Eka ELissa
kmu ma Kayla beda....
klau dia GK dpt perhatian ayh ibu nya
trus kalau GK ktmu Hanan dia ma spa.....beda dgn kmu dong...
dia idup sndiri Slma ini.....kmu.... ada ibu kn....ma ayah mu dia GK...
pnya BP juga gila.....
udh nurut aj kata mama mu
ntar durhaka lho...
Rahmi Miraie
nyesek banget jadi kayla,dr kecil ditinggal orangtuanya
sudah menikahpun mau berkumpul dgn mamanya terpisah jarak
Ainal Fitri
klo Kayla lg snting mgkn in Aflah akting terbaik nya tp ternyata in bukan akting setiap kalimat yg meluncur dr bibir nya adalah ungkapan isi hati nya. namun sakit bngrtbdengan Kayla yg bs menahan emosi sedemikian rupa. sungguh Hanan telah mngubah Kayla menjadi wanita yg sabar dan menerima takdir hidup nya dengan baik.
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kasihan Kayla, kebanyakan janji manis mamanya🤭
Sri Supariyah
salut sama Kayla,,,, krn didikan mas hanan, dia mulai tegar, walau luka batin gk akan pernah sembuh sampai kapanpun,,,,, novita lebih merasa sakit melihat Kayla diam, tenang tanpa drama nangis,,, beda dulu, klo Kayla nangis malah biasa aja, datar bgt,,, dan skarang novita baru merasakannya, smoga nasibmu gk sama seperti mantan suamimu si damar y vita,,,,
Sri Supariyah
woy Ivana, apa yg km liat apa yg km tangkap, blm tentu baik wey, Kayla itu kliatan aja bebas memilih, padahal hidupnya lebih hancur tanpa mama n papa nya tahuuu,,, km yg setiap hari dpt pelukan dan perhatian penuh dr mamamu,,,, Kayla gk pernah woyy,,, hidupnya hancur, tp terarah, dia dan hanan gk pernah pacaran, malah d jodohin, km tuh Ziva,,, liat pake mata bukan pake dengkul
Nar Sih
kayla ..sabar gk usah mikir janji mama mu terus ,lebih baik jalani aja hari,,mu dgn suami tercinta juga putra mu ☺️
Dinarkasih1205
Kayla berada di tangan yang tepat , hanan pelan2 bisa mendifik kayla jadi perempuan dewasa
Syifa Azhar
takutnya nanti kena diabetes kebanyakan makan janji manis ya kay😂
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
berkat didikan dan bimbingan penuh kasih sayang dari Mas Hanan,,, skrg Kayla bener² bisa menahan Amarah,,
Kayla sudah jadi lebih baik,,,
dan teruntuk Mama Novita,,,gak kasian apa sama anakmu sendiri,,,
mending STOP deh. jgn kasih janji pasti mulu,,,
cukup Kayla yg sllu di beri janji palsu,,cucumu sendiri Arash,,,jgn ya Mama Novita,,,dia juga termasuk Cucumi loh😔😔😔
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
lah ngadi² tuh Zivana,,,ngebanding²in sama Kayla,,,
di sangka Kayla mau apa ya di beri kebebasan itu,,,
Kayla juga pngn bgt berada di posisi Zivana,,krn apa,,krn bisa deket sama Mama'ny,,,
Gak Bersyukur tuh Anak🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️
Tiniewiniebitie Mimie Pisae
mama novita udah jadi nenek
diah nursanti
mommy main tebak2an,,Candra apa Arvin 🤪
Neng Saripah
kira2 siapa ya pacarnya zivana ?
Rahmi Miraie
aku malah jd kepikiran zivana dan candra menjalin hubungan makanya ditdntang sama mamanya
Budhe Satryo
wah siapakah pacarzivana ni mommy bikin penasaran
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa Zivana gak direstui,
siapa laki laki yang disukai Zivana ya 🤔
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
yaaa mungkin didikan Mama Novita yg cuek,,jadi anaknya Zivana,,ikutan cuek juga x
Syifa Azhar
apa yang terlihat belum tentu yang sebenarnya terjadi Zivanna,kelihatan aja Kayla dibebasin pdhl yang terjadi dia gak di peduli'in sama mama kalian😏
siapa nih cowok,jangan bilang Chandra.gak dapat kakaknya kamu kejar adiknya😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!