NovelToon NovelToon
Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:48.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Kayla mengambil kunci mobil dan melangkah keluar. Suara pintu tertutup pelan, meninggalkan Arman sendirian di dalam rumah.

Arman adalah adik dari Damar, ayah kandung Kayla. Usianya hampir menginjak kepala empat, namun wajahnya masih terlihat muda. Rambutnya selalu rapi, pakaiannya sederhana. Ia memilih hidup tenang, jauh dari drama.

Sejak kakaknya bercerai, kondisi Eyang Narti semakin sering menurun. Penyakit datang silih berganti, seolah tubuh tua itu tak sanggup lagi menahan terlalu banyak kesedihan.

Arman sempat berpikir untuk menikah. Tapi niat itu selalu ia urungkan. Baginya, menjaga ibu jauh lebih penting daripada membangun kehidupan sendiri.

Di luar, Kayla menyalakan mesin mobil. Suara mesin yang hidup membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ada rasa akrab di sana. Rasa yang ia kenal betul.

Mobil melaju menembus jalanan Surabaya yang lengang. Lampu-lampu jalan berpendar lembut, berbeda dengan gemerlap Jakarta yang bising dan penuh godaan.

Kayla membuka jendela sedikit. Angin malam menerpa wajahnya, membawa aroma kota yang asing tapi hangat.

Ia memang berkata ingin ke alun-alun. Tapi pikirannya melayang ke arah lain.

Ke masa lalu.

Ke kebiasaan lama.

Ke dunia yang selalu memanggilnya ketika ia merasa kosong.

Tangannya mencengkeram setir lebih kuat.

“Cuma cari angin,” gumamnya, entah untuk meyakinkan Om Arman… atau dirinya sendiri. Mobil terus melaju, membawa Kayla menuju malam yang belum tentu sekadar angin.

Dan ia tak menyadari, bahwa langkah kecil itu akan menjadi awal dari rangkaian kejadian yang perlahan menyeretnya ke persimpangan hidup antara kembali jatuh, atau akhirnya pulang.

Kayla mengendarai mobil menyusuri jalanan kota dengan kecepatan sedang. Tidak ngebut, tidak juga terlalu pelan.

Lampu-lampu jalan memanjang seperti garis kuning pucat di kaca depan, sementara malam Surabaya terasa lebih tenang dibandingkan Jakarta.

Di dalam mobil, musik mengalun kencang.

Dentuman bass memenuhi ruang sempit itu, memantul di dada Kayla. Lagu-lagu lama yang biasa menemaninya berpesta kembali diputar irama yang sudah akrab dengan hidupnya.

Tangannya memutar volume sedikit lebih tinggi, seolah ingin menenggelamkan pikiran-pikiran yang mulai muncul.

Kayla hanya mengenakan celana pendek sepaha dan tanktop putih. Kardigan tipis ia biarkan terbuka, berkibar pelan tertiup angin dari jendela yang setengah terbuka.

Rambutnya digulung asal ke atas, menyisakan beberapa helai yang jatuh di pelipis. Di kakinya hanya ada sandal jepit sederhana, jauh dari kesan glamor yang biasa ia pakai di klub.

Namun justru itulah Kayla malam ini.

Apa adanya. Tanpa topeng.

Ia tersenyum kecil, lalu mulai bernyanyi mengikuti lirik lagu. Bahunya bergoyang ringan, jemarinya mengetuk setir mengikuti irama. Sesekali ia tertawa sendiri, menikmati kebebasan kecil yang ia ciptakan di ruang sempit bernama mobil.

Hanya itu yang bisa Kayla lakukan untuk mengusir jenuh.

Kalau di Jakarta, ia tahu persis harus ke mana. Klub malam dengan lampu strobo dan alkohol dingin selalu siap menyambut. Tempat di mana ia bisa lupa pada segalanya nama, luka, masa lalu.

Tapi ini Surabaya.

Di kota ini ada eyang. Ada Om Arman. Ada mata yang bisa mengenalinya. Ada rasa bersalah yang diam-diam mengintai.

Kayla tidak berani. Maka jadilah ia berdisko sendiri di dalam mobil.

Bernyanyi keras tanpa peduli suara fals. Menari kecil tanpa takut dinilai.

Di balik kaca mobil, Kayla terlihat seperti gadis biasa yang sedang menikmati malam. Tapi di dalam dadanya, ada kekosongan yang terus ia coba isi dengan musik dan gerakan.

Lampu merah menyala. Mobil berhenti. Kayla memandangi bayangannya sendiri di kaca depan. Sekilas, senyumnya memudar. Musik tetap berbunyi, tapi pikirannya melayang.

“Kenapa sih susah banget buat tenang?” gumamnya lirih.

Ia menarik napas panjang, lalu kembali tersenyum paksa. Tangan kanannya kembali menari di udara, mengikuti beat lagu.

Untuk beberapa menit ke depan, Kayla memilih lupa.

Karena terkadang, cara bertahan hidup satu-satunya adalah berpura-pura bahagia meski hanya di dalam mobil, sendirian, di tengah kota yang asing tapi terasa seperti rumah lama.

Saat sedang asyik mengikuti irama musik, tiba-tiba setir mobil terasa berat. Kayla mengernyit, refleks mengurangi kecepatan. Ada bunyi aneh seperti gesekan kasar lalu mobil oleng sedikit sebelum akhirnya berhenti total di pinggir jalan.

“Loh…?” gumamnya.

Kayla mematikan mesin. Musik berhenti. Sunyi langsung menyergap, begitu mendadak sampai telinganya berdengung.

Ia turun sedikit dari jok, menoleh ke kaca spion, lalu membuka pintu dan melihat ke arah ban. Dadanya langsung mengempis.

Bocor.

Ban depan kiri kempes nyaris rata dengan aspal.

“Ya ampun…” desis Kayla pelan.

‘’Kenapa pakai acara bocor segala sih!’’

‘’Gak bisa apa ya, kalau mau bocor tuh kasih aba aba gitu, biar aku lewat bengkel!’’

‘’Arrkkhh kalau gini gimana?’’

‘’Astagaaa! Apes apessss banget sih ahhh !’’

Ia berdiri mematung sejenak, menatap sekeliling. Jalan itu sepi.

Terlalu sepi. Lampu jalan jaraknya berjauhan, beberapa bahkan mati. Tak ada kendaraan lewat. Tak ada rumah. Hanya deru angin malam dan suara jangkrik yang terdengar menyeramkan.

Rasa tidak nyaman mulai merayap di tengkuknya. Kayla cepat-cepat masuk kembali ke mobil dan mengambil ponsel. Tangannya sedikit gemetar saat membuka layar, langsung mencari nama Om Arman.

No service.

Ia mengerjapkan mata, memastikan dirinya tidak salah lihat. Lalu mengecek data.

Tidak ada pulsa. Tidak ada data.

“Ah shittt!!” umpatnya kesal, ‘’Gembel banget gue, ya ampun sampai gak ada pulsa sama sekali!’’

Kayla menepuk dahinya sendiri. Ia lupa membeli pulsa sejak tiba di Surabaya. Terlalu terbiasa dengan Wi-Fi dan paket pascabayar di Jakarta.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Tenang, Kayla. Ini cuma ban bocor.

Namun perasaan tidak aman semakin kuat.

Dan saat itulah—

Tok. Tok.

Suara ketukan di kaca samping kanan membuat jantung Kayla nyaris berhenti.

Ia menoleh cepat. Ada bayangan seseorang berdiri di luar. Lalu satu lagi. Dan satu lagi.

Kayla menelan ludah. Tangannya refleks menggenggam setir erat-erat. Namun pikirannya terlalu polos malam itu ia berharap mereka adalah orang baik. Warga sekitar. Penolong.

Dengan ragu, Kayla menurunkan kaca sedikit.

“Mas…?” suaranya nyaris berbisik. “Mobil aku bocor—”

Kalimatnya terhenti. Pisau itu muncul begitu cepat. Mengkilap di bawah lampu jalan yang redup.

“Diam!” bentak salah satu dari mereka.

Kayla membelalak. Napasnya tercekat. “Mas, aku cuma—”

“Jangan teriak!” tangan kasar tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang. Tubuh Kayla menegang, jeritannya teredam di balik telapak tangan asing yang bau rokok dan keringat.

Air matanya langsung mengalir.

“Keluar!” perintah yang lain.

Kayla ditarik paksa keluar dari mobil. Kakinya hampir tersandung aspal. Kardigan tipisnya tersingkap, udara malam menusuk kulitnya. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena dingin melainkan ketakutan yang merambat sampai ke tulang.

“Serahin semua!” hardik salah satu dari mereka sambil mengacungkan pisau lebih dekat ke wajahnya.

1
Eka ELissa
uang Kayla byk umi kmrin aj abis mnang balap liar 200 juta tiap main...
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
insya allah Hanan akan membimbingmu Kayla😍😍😍
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
duuhh yg bentar lg mau di lamar,,,deg-degan ya😁😁😁😁
billaacha90
sabar Kay, nanti kalau kamu sudah mengerti kamu pasti malu sendiri
billaacha90
tentu dong, kamu boleh kok kalau sama om nya Kayla, Fatimah 🤣🤣
billaacha90
asyik asyik asyik 🤗🤗
billaacha90
Nah kamu tahu sendiri kan Fatimah, kamu yang sebagai perempuan ae bisa bilang begitu🤭
billaacha90
tentu malu lah kakakmu Fatimah, yang di tolong cewek yang sungguh menggoda lho 🤭
billaacha90
itu juga kan anak umi🤣🤣
billaacha90
ealah ustadz tadi keluar ternyata dari rumah pak kyai tho🤣🤣
sansan
wahhhh ditanya lsg soal mahar... emang Umi calon mertua paling didambakan
Enisensi klara
Si Kunti emang virus 😏😏
💥💚 Sany ❤💕
Padahal Kay yang dilamar napa aku yang senyum2 gak jelas, untung gak da yang lewat 😂😂😂
💥💚 Sany ❤💕
Selamat ya Kay... aku ikut seneng. Semoga lancar sampai hari H
💥💚 Sany ❤💕
lagi serius-serusnya tapi malah hampir ngakak gara2 tingkah Fatim dan Arfin. Suka banget ma karakter Fatim yang apa adanya dan si Arfin yang kadang ada olengny dikit tapi bikin suasana hidup.
billaacha90
Wah Kayla pingsan ini, karena beban yang dia tanggung dihadapi sendirian. untung masih ada orang yang masih perduli dengan dia
billaacha90
semoga kamu bisa mengerti apa maksudnya cowok yang menolong kamu Kay
Ririn Alfathunisa
semoga lancar sampe hari h ya buat kalian,dan semoga GK ada halangan alias drama dari Mak Lampir emaknya si arfin
billaacha90
untung mas nya bisa beladiri ini, jadi Kayla ada yang menolongnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!