Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pelanggaran aturan lagi
Malam makin larut di asrama putri. Dengkur halus dan deru napas santriwati yang tertidur lelap memenuhi ruang kamar. Namun di sudut ranjang bawah, dua pasang mata masih berkedip-kedip menatap langit-langit kamar. Aira dan Nazwa belum bisa tidur; cacing di perut mereka mendadak menyuarakan protes akibat efek makan malam yang terlalu cepat menguap.
"Nazwa... masih bangun?" bisik Aira sangat pelan, hampir tak terdengar.
"Masih, Ra. Lapar banget aku, ndak bisa merem," balas Nazwa berbisik, memegang perutnya yang keroncongan.
"Sama! Aku punya dua saset Milo hangat dari Ibu tadi siang. Enak banget pasti kalau diseduh jam segini," bisik Aira, matanya berbinar di kegelapan.
Nazwa langsung terduduk, matanya membelalak kaget sekaligus tergiur. "Tapi, Ra! Ini kan sudah jam sepuluh malam! Ini jam larangan keluar kamar! Kalau ketahuan pengurus, bisa berabe!"
"Tenang... dispenser dapur umum kan cuma di ujung lorong ini. Kita jalan merayap kayak ninja. Cuma ambil air panas sebentar, terus lari balik ke kamar. Tiga puluh detik beres!" desak Aira meyakinkan.
Setelah bernegosiasi singkat dengan rasa lapar, Nazwa akhirnya menyerah. Dengan hati-hati, Aira mengambil dua cangkir plastik dan dua saset Milo, sementara Nazwa bertugas menjadi navigator di belakangnya. Mereka membuka pintu kamar dengan gerakan sangat perlahan agar engselnya tidak berdecit.
Srett... srett...
Mereka berdua berjalan jinjit di sepanjang lorong yang remang-remang. Langkah kaki mereka mengendap-endap seperti agen rahasia yang sedang menjalankan misi berbahaya.
"Aira, pelan-pelan langkahmu! Sandalmu bunyi!" bisik Nazwa panik sambil menepuk bahu Aira.
"Iya, iya, ini sudah paling pelan!" balas Aira setengah berbisik.
Mereka berhasil mencapai dispenser dapur umum. Dengan sigap, Aira menuangkan air panas ke dalam dua cangkir plastik, lalu menyerahkan satu cangkir ke Nazwa. Bau harum cokelat Milo yang tersiram air panas mulai menyeruak di udara.
"Sukses! Ayo balik!" bisik Aira kegirangan.
Namun, baru saja mereka membalikkan badan untuk kembali ke kamar, tiba-tiba...
SRT!
Sebuah sorot lampu senter yang sangat terang menyala tepat menghantam wajah mereka berdua. Aira dan Nazwa seketika membeku bagai patung di tengah lorong.
"Siapa itu di depan dapur jam segini?!" terdengar suara menggelegar dari balik sorotan lampu senter.
Suara itu sangat dihafal oleh seluruh penghuni asrama. Ukhti Inggit!
"LARI, NAZWA!" teriak Aira kaget setengah mati.
"AIRA, JANGAN DITUMPAHIN MILONYA!" jerit Nazwa refleks.
Dalam kepanikan tiada tara, bukannya lari dengan tenang, kedua anak itu justru berlari kocar-kacir dengan gaya super aneh. Aira berlari jinjit sambil mengangkat cangkir Milonya tinggi-tinggi ke udara agar air panasnya tidak menyiram tangannya. Sementara Nazwa berlari memutar di belakang Aira, bingung harus bersembunyi di balik tiang mana.
"Aira, kiri! Eh, kanan! Aduh, Ukhti Inggit makin dekat!" jerit Nazwa panik sambil menutup kepala dengan kedua tangannya.
"Aira! Nazwa! Berhenti di tempat! Jangan lari!" gertak Ukhti Inggit, melangkah lebar mendekati mereka dengan senter yang terus menyorot pergerakan kikuk kedua santriwati itu.
Karena panik dan pandangan yang terbatas akibat silau lampu senter, Aira malah salah belok dan menabrak tiang jemuran kain, membuat gantungan baju berderak riuh. Nazwa yang berlari tepat di belakang Aira tidak sempat mengerem dan langsung menabrak punggung Aira dari belakang.
BRUK!
Keduanya jatuh terduduk di atas karpet lorong. Beruntung, dengan reflek tingkat tinggi bagaikan pendekar, kedua cangkir plastik berisi Milo hangat itu berhasil selamat dan tidak tumpah sedikit pun, meski posisinya kini terangkat tinggi di atas kepala mereka masing-masing.
Langkah kaki tegap Ukhti Inggit akhirnya berhenti tepat di hadapan mereka berdua. Lampu senter diturunkan, menampilkan sosok Ukhti Inggit yang berdiri dengan wajah berwibawa, tangan bersedekap, dan alis yang bertaut tajam.
Ukhti Inggit menatap Aira, lalu menatap Nazwa, kemudian matanya tertuju pada dua cangkir Milo yang masih dipegang erat di atas kepala mereka dengan posisi yang sangat konyol.
Ukhti Inggit menghela napas panjang dan dalam, menggeleng-gelengkan kepalanya penuh ketidakpercayaan.
"Ya Allah... Aira... kamu lagi, kamu lagi!" seru Ukhti Inggit dengan suara berwibawa namun ada nada kepasrahan yang tak tertahankan. "Kemarin sore kamu mandi pas Magrib. Tadi siang kamu minta maaf sama janji ndak bakal buat salah lagi. Sekarang jam sepuluh malam, kamu malah kelayapan di lorong kayak hantu!"
Aira menelan ludah dengan susah payah, matanya berkedip-kedip polos di bawah sorotan remang-remang. Cangkir Milonya perlahan ia turunkan ke dada.
"Af... afwan, Ukhti Inggit..." cicit Aira dengan suara seserak-seraknya, berpura-pura lemas. "Aira... Aira tidak kelayapan, Ukhti. Aira cuma... melatih ketangkasan malam."
Nazwa yang duduk di samping Aira langsung menoleh kaget mendengar alasan tidak masuk akal sahabatnya itu. "Aira! Kok melatih ketangkasan?!" bisiknya histeris.
Ukhti Inggit menaikkan sebelah alisnya, berusaha keras menahan garis bibirnya agar tidak tersenyum melihat tingkah polos kedua adik kelasnya itu. "Melatih ketangkasan apa jam sepuluh malam, Aira? Ketangkasan menyeduh Milo?"
"Nggih, Ukhti..." jawab Aira jujur sambil menunduk dalam-dalam. "Perut Aira sama Nazwa keroncongan banget, ndak bisa tidur dari tadi. Mau minum Milo hangat biar bisa merem. Eh, pas ambil air malah kepergok Ukhti Inggit..."
"Terus tadi kenapa malah lari-lari jinjit sambil ngangkat cangkir tinggi-tinggi begitu? Kalau air panasnya tumpah kena muka kalian gimana?" tegur Ukhti Inggit, ketegasannya kini bercampur dengan rasa geli yang makin sulit ditahan.
"Aira takut Milonya tumpah, Ukhti. Soalnya susu Milonya cuma tinggal dua saset bawaan dari Ibu," sahut Aira polos tanpa dosa.
Nazwa di sebelahnya ikut menambahkan dengan wajah memohon yang sangat mengasihankan. "Iya, Ukhti Inggit... Afwan banget. Jangan dihukum berdiri di lapangan malam-malam ya, Ukhti... Nanti Milonya dingin, ndak enak lagi..."
Ukhti Inggit akhirnya memalingkan wajah sejenak, memegang pelipisnya sambil menahan tawa yang nyaris pecah. Pengurus disiplin yang biasanya ditakuti seluruh penghuni pondok itu akhirnya menyerah pada kepolosan dua santri baru di hadapannya.
Ukhti Inggit menghela napas, lalu menatap mereka kembali dengan raut tegas yang dibuat-buat.
"Dengarkan Ukhti baik-baik," tegas Ukhti Inggit sambil menunjuk mereka dengan senternya. "Berdiri kalian berdua!"
Aira dan Nazwa langsung berdiri tegak secepat kilat, memegang cangkir Milo mereka rapat-rapat di dada seperti memegang piala kejuaraan.
"Kalian tidak Ukhti hukum berdiri di lapangan," kata Ukhti Inggit.
Aira dan Nazwa mendesah lega secara bersamaan. "Alhamdulillah..."
"TAPI!" potong Ukhti Inggit cepat, membuat mereka berdua kembali tegang. "Sekarang juga, berjalan dengan tenang—ingat, jangan jinjit apalagi lari-lari lagi—kembali ke kamar kalian! Minum Milonya di dalam kamar, lalu langsung tidur! Kalau lima menit lagi Ukhti dengar ada suara ketawa atau gerak-gerik di kamar kalian..."
"Siap masuk kamar dan tidur, Ukhti!" potong Aira lantang sambil memberi hormat grak dengan tangan kanannya—sementara tangan kirinya tetap memegang erat cangkir Milo.
"Matikan lampunya dan langsung merem!" tambah Ukhti Inggit geleng-geleng kepala. "Awas ya, Aira. Besok-besok kalau Ukhti dapati kamu melanggar aturan lagi jam berapa pun, Milonya Ukhti sita buat Ukhti minum sendiri!"
"Jangan, Ukhti! Nggih, Aira janji ndak ulangi lagi!" seru Aira panik.
"Sudah, cepat jalan! Berdua!" gertak Ukhti Inggit pelan.
"Nggih Ukhti! Syukron Ukhti Inggit! Assalamu'alaikum!"
Aira dan Nazwa langsung berbalik dan berjalan cepat—kali ini tidak jinjit lagi, melainkan jalan cepat dengan langkah serempak bagaikan prajurit Paskibraka yang sedang membawa nampan berisi cangkir Milo panas.
Di belakang mereka, Ukhti Inggit yang memperhatikan punggung kedua santriwati itu akhirnya tak sanggup lagi menahan tawanya. Ia terkekeh pelan sambil menyalakan kembali senternya, menggelengkan kepala melihat tingkah ajaib Aira yang selalu berhasil membuat malam-malam di pesantren jadi berwarna.