Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 30
... istana yang dulunya dingin dan penuh racun, Anran tidak hanya berhasil bertahan hidup dari takdir penderitaan, tetapi juga mengukir legenda kejayaan dan kedamaian abadi bersama pria yang mencintainya sepenuh jiwa.
Kehadiran Anran mengubah wajah Kerajaan Great Yan untuk selamanya. Di bawah bimbingan dan otoritasnya sebagai Permaisuri Agung, Balai Pengobatan Kerajaan berkembang pesat menjadi pusat ilmu medis paling maju di seluruh benua. Sistem riset medis dan sanitasi yang ia perkenalkan secara bertahap berhasil menekan angka kematian akibat wabah, menyelamatkan jutaan nyawa rakyat biasa, serta melahirkan generasi tabib baru yang jujur dan berdedikasi.
Di dalam istana belakang, tak ada lagi faksi bangsawan atau menteri yang berani mencoba bermain api dengan konspirasi kotor. Mereka sadar betul bahwa di samping Tahta Naga milik Kaisar Tian, berdiri sosok Ratu Agung yang sanggup menembus dan melumpuhkan segala bentuk kejahatan hanya dengan sekali pandang.
Beberapa Tahun Kemudian...
Di paviliun Istana Fengyi yang tenang, semerbak keharuman bunga krisan dan teratai mekar menyambut angin sore yang lembut. Tawa riang seorang anak kecil bergaung jernih menembus keheningan pelataran pualam.
Seorang pangeran cilik berwajah tampan dengan sepasang mata elang yang sangat mirip dengan Kaisar Tian berlari kecil menghampiri selasar, membawa sekantung kain berisi dedaunan kering.
"Ibu Permaisuri! Lihat, Hamba berhasil membedakan daun mint dan akar licorice ini tanpa salah!" seru sang pangeran cilik seraya memamerkan hasil buruannya dengan wajah berbinar bangga.
Anran, yang duduk anggun di tepi selasar kayu jati berbalut gaun sutra santai, mengulas senyum hangat yang amat memikat. Ia mengusap lembut kepala putra kecilnya. "Bagus sekali, Yuan'er. Seorang calon penguasa Great Yan tidak hanya harus mahir memegang pedang, tetapi juga wajib memiliki ketelitian dan belas kasih untuk menyembuhkan rakyatnya."
Dari balik koridor, derap langkah kaki tegap Kaisar Tian terdengar mendekat. Jubah biru gelapnya melambai lembut diterpa angin. Sang kaisar berlutut satu kaki, mengangkat putra kecil mereka ke dalam pelukannya yang hangat sebelum merengkuh tubuh anggun Anran di sisinya.
Kaisar Tian menggenggam erat jemari halus Anran, menatap pendaran matahari terbenam yang memancarkan warna keemasan indah di atas langit istana ibu kota.
"Dunia luar mungkin akan mengukir nama kita sebagai Penguasa Teragung Kerajaan Great Yan," bisik Kaisar Tian dengan suara bariton yang sarat akan rasa cinta abadi. "Namun bagiku... takdir terindah dalam hidupku adalah hari di mana kau hadir dan mengubah seluruh jalanku."
... Anran menyandarkan kepalanya di bahu tegap Kaisar Tian, membiarkan kehangatan dan rasa aman membungkus hatinya. Tatapannya tertuju pada langit sore yang perlahan berganti warna menjadi jingga keemasan, memantulkan pendar indah di atas permukaan air kolam batu giok.
"Saya juga bersyukur, Yang Mulia," bisik Anran dengan suara halus yang menenangkan. "Di kehidupan ini, Saya tidak hanya menemukan tempat untuk berdiri tegak, tetapi juga menemukan seseorang yang bisa Saya percayai sepenuhnya tanpa perlu rasa ragu."
Pangeran Yuan'er yang berada di dalam dekapan sang kaisar menengadah, mengedip-kedipkan sepasang mata bulatnya yang jernih. "Ayah Baginda, Ibu Permaisuri... apakah Kerajaan Great Yan akan selalu indah dan damai seperti ini?"
Kaisar Tian terkekeh rendah, suara baritonnya bergaung hangat saat mengusap lembut pipi mungil putranya. "Selama Ayah dan Ibu ada di sisimu,