NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan Lima Detik 22.

Aroma tanah basah sisa hujan semalam masih menguar dari lapangan rumput sekolah.

Bagi kelas XII A, jam olahraga di hari Rabu adalah berkah sekaligus kutukan.

Berkah karena mereka bisa lepas dari rumus kalkulus, dan kutukan karena guru olahraga mereka, Pak Bambang, selalu punya ide gila untuk materi ujian.

Hari ini materinya adalah permainan tradisional: egrang.

Di sudut lapangan, riuh tawa anak-anak pecah saat melihat beberapa siswa tumbang baru dua langkah menaiki bilah bambu.

Namun di antara keriuhan itu, ada pembatas kasatmata yang memisahkan Dafa dan Lilis.

Sejak insiden kantin kemarin, mereka belum bicara lagi.

Dafa sengaja memberi ruang, sementara Lilis sibuk menata ulang hatinya.

Aksi Dafa yang membuang bekal Kinar sebenarnya sudah sampai ke telinga Lilis lewat gosip anak-anak OSIS, tapi ego Lilis menolak untuk langsung luluh.

Dia butuh bukti bahwa dia bukan sekadar tameng hukum bagi sang kapten basket.

"Oke, selanjutnya! Dafa dan Lilis, ambil bambu kalian!" seru Pak Bambang dari pinggir lapangan, meniup peluitnya pendek.

Lilis mengembuskan napas panjang.

Sial.

Dari tiga puluh anak di kelas, kenapa takdir selalu punya selera humor yang buruk untuk menyatukan mereka?

Dafa berjalan lebih dulu mendekati jajaran egrang yang bersandar di pohon mahoni.

Cowok itu mengenakan kaus olahraga sekolah yang melekat pas di tubuh atletisnya, dengan handuk kecil melingkar di leher.

Dia mengambil sepasang bambu setinggi dua meter, lalu berbalik tepat saat Lilis tiba di sampingnya.

"Mau yang ini? Bambunya lebih halus, gak bakal bikin tangan lo lecet," kata Dafa pelan. Suaranya rendah, hanya ditujukan untuk rungu Lilis di tengah kebisingan lapangan.

Lilis melirik sepasang bambu yang disodorkan Dafa. Ada bekas amplas di bagian pegangannya. Cowok ini pasti sengaja memilihkan dan merapikannya lebih dulu.

Rasa hangat yang familier mencoba menyusup ke dada Lilis, tapi dia cepat-cepat menepisnya.

"Gak usah repot-repot, Daf. Gue bisa ambil sendiri," jawab Lilis ketus, meraih sepasang bambu lain yang untungnya berada di dekat sana.

Dafa tidak mendebat.

Dia hanya menatap punggung Lilis dengan pandangan yang sulit diartikan.

Dia tahu, luka kecil karena ego yang tergores tidak bisa sembuh hanya dengan sepasang bambu halus.

Dia harus mengikuti permainan Lilis untuk saat ini.

"Peraturannya simpel! Siapa yang bisa jalan dari garis start ke garis finish tanpa jatuh, nilainya sempurna! Kalau jatuh di tengah jalan, ulangi dari awal!" Pak Bambang memberi instruksi dengan pengeras suara.

Anak-anak kelas XII A langsung bersorak, memberikan tekanan mental instan.

Lilis menelan ludah. Dia belum pernah bermain egrang seumur hidupnya.

Menjaga keseimbangan di atas dua bilah bambu sempit dengan tinggi setengah meter dari tanah terdengar seperti misi bunuh diri.

Namun, melihat Azril yang menonton di pinggir lapangan sambil memberikan gestur semangat, dan menyadari atensi Dafa yang terus tertuju padanya, Lilis mengeraskan rahang.

Dia tidak boleh terlihat lemah.

"Satu... dua... tiga... Mulai!"

Lilis menaruh kaki kanannya di pijakan bambu, lalu menyusul dengan kaki kiri.

Tubuhnya langsung limbung ke kanan. Otot-otot lengannya menegang, mencengkeram batang bambu dengan sangat kuat hingga aci-aci jarinya memutih. Dia berhasil melangkah satu kali. Dua kali.

Di sampingnya, Dafa bergerak dengan sangat mulus.

Sebagai atlet, sensor motorik dan keseimbangan Dafa berada di atas rata-rata.

Cowok itu melangkah dengan ritme yang stabil, namun kecepatannya sengaja dia turunkan. Mata nya tidak fokus pada garis finish, melainkan terus melirik ke samping kanan—pada Lilis yang mulai berjalan dengan tubuh gemetar.

"Jangan tegang, Lis. Badannya condongin ke depan sedikit, jangan ditahan di belakang," gumam Dafa, memberi instruksi tanpa menoleh, seolah dia sedang berbicara pada angin.

Lilis mendengar itu, tapi gengsinya menolak patuh. Dia justru memaksa tubuhnya tegak.

Akibatnya fatal. Pada langkah kelima, ujung bambu kirinya membentur gundukan tanah tersembunyi di balik rumput.

"Eh—eh!"

Keseimbangan Lilis runtuh total.

Bambu di tangan kanannya terlepas, sementara kaki kirinya masih tersangkut di pijakan.

Tubuhnya terlempar ke depan, meluncur bebas menuju permukaan tanah yang keras dan kering. Lilis memejamkan mata rapat-rapat, bersiap menyambut rasa sakit yang akan menghantam lutut atau wajahnya.

Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.

Sebelum tubuh Lilis menyentuh rumput, sebuah sentakan kuat menahan pinggangnya.

Dafa telah melompat turun dari egrangnya sendiri tanpa memedulikan nilai atau aba-aba Pak Bambang.

Menggunakan kecepatan refleks basketnya, Dafa meluncur ke depan dan menyusupkan lengan kanannya di bawah ketiak Lilis, sementara tangan kirinya mencengkeram pinggang gadis itu dengan erat.

Bruk!

Dafa menahan seluruh bobot tubuh Lilis.

Karena momentum yang terlalu kuat, mereka berdua jatuh bersamaan, namun Dafa memastikan tubuhnya berada di bawah, bertindak sebagai bantalan.

Suasana lapangan yang tadinya bising mendadak senyap.

Sorak-sorai anak-anak seolah teredam oleh efek slow motion yang dramatis.

Lilis perlahan membuka matanya.

Hal pertama yang dia lihat adalah kaus olahraga Dafa yang berjarak hanya beberapa senti dari hidungnya, Lilis mendongak perlahan, dan saat itulah dunianya berhenti berputar.

Mata Dafa menatapnya lurus. Sangat dekat, sangat intens.

Satu detik. Dafa memastikan tidak ada bagian tubuh Lilis yang terluka. Napas cowok itu memburu, memukul pelan kening Lilis.

Dua detik. Lilis bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di manik mata hitam Dafa. Tidak ada kepura-puraan di sana. Yang ada hanya rasa panik yang murni dan ketakutan yang nyata jika sesuatu yang buruk baru saja menimpa Lilis.

Tiga detik. Tangan Dafa yang berada di pinggang Lilis justru semakin mengencang, seolah enggan melepaskan perempuan itu kembali ke dunia nyata yang penuh dengan ego dan pembatas fiktif. Kehangatan telapak tangan Dafa menembus kain kaus olahraga Lilis, mengirimkan gelombang sengatan yang membuat jantung Lilis berdegup dua kali lebih cepat.

Empat detik. Rasa cemburu yang membakar Lilis sejak pagi—tentang Kinar, tentang bekal makanan, tentang rasa tidak dihargai—mendadak menguap tanpa sisa. Tatapan Dafa saat ini seolah sedang mengumumkan pada seluruh isi lapangan bahwa hanya ada satu nama yang ada di kepalanya. Dan nama itu adalah Lilis.

Lima detik. Batas waktu imajiner itu habis. Waktu kembali berjalan normal. Sunggingan senyum tipis yang sangat samar muncul di sudut bibir Dafa, mengikis habis ketegangan yang sempat merantai mereka. Rasa dingin di antara mereka mencair sepenuhnya, digantikan oleh keintiman yang terlalu nyata untuk disebut sebagai hubungan fiktif.

"Lo... gak apa-apa?" bisik Dafa akhirnya, suaranya parau tapi terdengar sangat lega.

Lilis mengerjapkan mata, mendadak sadar bahwa tiga puluh pasang mata di lapangan kini sedang menatap mereka dengan mulut ternganga.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!