Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Persiapan Ke Paris
Gilbert berdiri cukup lama di dalam bandara, tatapannya masih tertuju pada layar yang menampilkan daftar keberangkatan pesawat. Dia bahkan sudah memeriksa semuanya sendiri, mulai dari loket informasi, daftar penumpang, hingga memastikan kepada petugas bahwa nama Ivy memang tercatat sebagai salah satu penumpang yang telah meninggalkan negara itu. Namun pada akhirnya, tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Ivy benar-benar telah pergi, Gilbert menundukkan kepalanya. Ada rasa sesak yang memenuhi dadanya, dia merasa sudah benar-benar kehilangan Ivy saat ini. Bukan karena Ivy meninggal, tetapi karena Ivy pergi begitu jauh, meninggalkan semua orang yang selama ini menjadi keluarganya.
"Bagaimana aku harus mengatakan ini kepada Cassandra?" gumam Gilbert lirih, memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa sakit.
Dia menghela napas panjang, seandainya saja Mateo bisa menjadi pria yang sedikit lebih bertanggung jawab. Seandainya saja putranya mau membuka matanya dan menyadari betapa banyak luka yang telah diberikan kepada Ivy. Mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi, mungkin Ivy masih berada di negara ini, mungkin menantunya itu masih bisa mereka temui kapan saja. Tetapi sekarang semuanya sudah terlambat. Gilbert akhirnya berbalik dan berjalan menuju Jack.
"Ayo kita pulang." Kata Gilbert datar.
Jack mengangguk.
"Baik, Tuan."
Keduanya kemudian meninggalkan bandara, sepanjang perjalanan pulang, Gilbert hanya diam. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan tentang apa yang akan dilakukan Ivy setelah sampai di Jepang, dia hanya berharap Ivy mau menemui mereka setelah ini.
Beberapa waktu kemudian, mobil Gilbert akhirnya tiba di kediaman keluarga Agler. Begitu memasuki rumah, Gilbert langsung melihat Cassandra yang sedang duduk di ruang keluarga. Cassandra segera menyadari wajah suaminya yang tampak murung.
"Kau sudah menemukan Ivy?" Tanya Cassandra.
Gilbert berhenti beberapa langkah dari istrinya.
Untuk beberapa saat, dia tidak mampu menjawab.
Cassandra langsung berdiri, menatap suaminya itu dengan tatapan penuh tanya.
"Gilbert?"
Gilbert menarik napas dalam-dalam.
"Ivy sudah pergi."
Cassandra mengerutkan keningnya.
"Pergi?" cicit Cassandra.
"Ya." Jawab Gilbert sambil menghela nafas lelah.
"Ke mana?" Tanya Cassandra lirih.
Gilbert menelan salivanya dengan susah payah, tapi dia kembali menghadap Cassandra.
"Jepang."
Wajah Cassandra langsung berubah.
"Jepang?"
Dia melangkah mendekati Gilbert, menatap mata pria itu tajam.
"Maksudmu Ivy pergi ke Jepang?"
Gilbert mengangguk perlahan.
"Dia sudah berada di sana." Kata Gilbert
Cassandra terdiam.
"Bukankah dia hanya pergi sebentar?" Tanya Cassandra lirih, tubuhnya bahkan sampai gemetar.
Gilbert menggeleng.
"Menurut informasi yang diberikan Jack semalam, Ivy sudah menyiapkan semuanya. Tiket pesawat, dokumen, dan tempat tinggal."
Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Dia tidak pergi untuk berlibur, Cassandra."
Gilbert menatap istrinya dengan sedih.
"Ivy benar-benar berniat tinggal di sana untuk waktu yang lama."
Cassandra seolah kehilangan kata-kata.
Wanita yang pernah menjadi menantunya itu ternyata telah pergi meninggalkan negara ini. Sepertinya luka yang telah di berikan oleh putranya, benar-benar sudah menghancurkan wanita itu hingga dia memilih menjauh dari semuanya.
"Bagaimana bisa..." bisiknya.
Cassandra kemudian buru-buru bertanya,
"Apakah kau tahu di mana dia tinggal?"
Gilbert mengangguk.
"Aku tahu alamatnya."
Mata Cassandra langsung berbinar penuh harapan.
"Kalau begitu, ayo kita ke sana."
Gilbert terdiam.
"Cassandra..."
"Ayo kita bersiap-siap, jangan membuang waktu." Kata Cassandra.
"Tunggu dulu." Gilbert segera menghentikan istrinya itu.
"Aku ingin menemui Ivy." Kata Cassandra tegas, tatapannya tajam. Apakah suaminya ini tidak mengerti jika dia benar-benar ingin menemui Ivy saat ini, hatinya benar-benar tidak tenang sebelum meminta maaf pada wanita itu.
"Aku ingin berbicara dengannya secara langsung." Kata Cassandra, suaranya bahkan bergetar.
Gilbert menghela napas, lalu tangannya menyentuh bahu Cassandra.
"Cassandra, kita bahkan tidak tahu apakah Ivy ingin bertemu dengan kita." Kata Gilbert lembut.
"Aku tidak peduli." Bentak Cassandra.
Cassandra menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku ingin menemui-Nya."
Gilbert hanya diam, menatap Cassandra sendu.
"Kalau dia marah, biarkan dia marah. Kalau dia membenci kita, biarkan dia membenci kita, tapi aku tidak bisa hanya duduk diam di sini sementara Ivy saat ini berada sendirian di negara lain. Dia terluka Gilbert dan itu semua karena putra kita." Kata Cassandra putus asa.
Cassandra lalu menggenggam lengan Gilbert.
"Tolong bawa aku ke sana." Kata Cassandra sambil menangis tersedu sedu.
Gilbert menatap istrinya cukup lama, dia tahu Cassandra tidak akan menyerah. Pada akhirnya, Gilbert mengangguk.
"Baik."
Cassandra langsung mengusap air matanya.
"Kapan kita berangkat?" Tanya Cassandra.
"Secepatnya."
Gilbert menatap Jack.
"Jack, siapkan semuanya. Cari penerbangan paling cepat ke Jepang dan pastikan semua dokumen perjalanan kami lengkap."
"Baik, Tuan."
Jack segera pergi untuk menjalankan perintah tersebut. Sementara itu, Cassandra masih berdiri di tempatnya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, Ivy.
Kini Cassandra menyadari bahwa mungkin selama ini Ivy benar-benar merasa tidak memiliki tempat di sini. Itulah sebabnya dia memilih pergi, untuk menyembuhkan hatinya yang terluka.
Cassandra mengepalkan tangannya.
"Aku akan menemukanmu, Ivy."
Dia menatap ke arah pintu dengan mata berkaca-kaca.
"Setidaknya izinkan mommy bertemu denganmu sekali lagi."
Beberapa jam kemudian, semua persiapan akhirnya selesai.
Gilbert mendapatkan penerbangan menuju Jepang pada malam itu juga, Jack telah memastikan seluruh dokumen perjalanan mereka lengkap, sementara Cassandra hampir tidak melakukan apa pun selain menunggu keberangkatan.
Wanita itu bahkan tidak sempat makan, sejak tadi pikirannya hanya tertuju pada Ivy. Wanita yang pernah menjadi menantunya, menantu yang selama ini tidak pernah dia akui keberadaannya.
"Cassandra, sebelum kita pergi. Sebaiknya kau makan dulu."
Gilbert meletakkan sepiring makanan di hadapan istrinya.
"Aku tidak lapar." Kata Cassandra lalu menggeser piring itu.
"Kau belum makan sejak tadi siang." Kata Gilbert kembali meletakan piring itu di depan Cassandra.
"Aku tidak bisa makan sebelum bertemu Ivy." Ucap Cassandra lirih.
Gilbert menghela napas.
"Kita bahkan belum tahu apakah Ivy akan mau bertemu dengan kita."
Cassandra terdiam, perkataan itu menusuk hatinya. Namun, setelah beberapa saat, dia menggeleng.
"Aku tetap harus pergi."
"Aku tahu."
Gilbert duduk di sampingnya.
"Aku juga ingin bertemu dengannya."
Cassandra menoleh.
"Gilbert..."
"Selama ini aku selalu berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja."
Gilbert menatap kosong ke depan.
"Aku pikir Ivy akan bertahan, aku pikir suatu hari Mateo akan berubah. Aku pikir keluarga kita akan kembali seperti dulu."
Dia tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan dalam tawanya.
"Ternyata aku salah."
Cassandra menundukkan kepalanya, mereka berdua sama-sama tahu siapa yang paling banyak membuat Ivy terluka dan orang itu putra mereka sendiri, Mateo.
Sementara itu, di paris...
Ivy berdiri di depan jendela apartemen barunya. Di luar, langit sore mulai berubah warna. Kota yang asing itu terlihat begitu berbeda dari tempat yang selama ini dikenalnya. Tidak ada rumah keluarga Myles, tidak ada rumah keluarga Agler, tidak ada Mateo, tidak ada orang-orang yang setiap hari mengingatkannya tentang masa lalu. Kini, Ivy merasa benar-benar sendirian tampa orang-orang yang pernah menyakitinya.
Ivy meletakkan tangannya di atas dadanya sambil menghela napas panjang.
"Aku benar-benar sudah pergi." Bisik Ivy, matanya mulai berkaca-kaca. Akhirnya dia terbebas dari pria yang telah banyak melukainya.
Tidak ingin larut dalam kesedihan, Ivy lalu segera menghapus air matanya yang hampir jatuh.
"Aku tidak akan kembali."
Ivy sudah membuat keputusan, dia akan memulai semuanya dari awal. Memulai bisnisnya di sini lalu kembali membangun kehidupannya dan yang paling penting melupakan semua orang yang pernah membuatnya merasa tidak berharga.
Ivy kemudian berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan. Di atas meja terdapat sebuah map berisi dokumen-dokumennya, dia membukanya dan melihat alamat tempat kerja yang akan dia datangi beberapa hari lagi. Semuanya sudah direncanakan, tidak ada alasan baginya untuk kembali.
Di sisi lain, pesawat yang membawa Gilbert dan Cassandra akhirnya lepas landas. Cassandra duduk di samping jendela, sepanjang perjalanan dia hampir tidak berbicara. Gilbert yang duduk di sebelahnya beberapa kali melirik istrinya.
"Cassandra."
"Ya?"
"Kalau Ivy tidak mau menemui kita..."
Cassandra langsung menoleh.
"Jangan katakan itu."
Gilbert terdiam.
"Aku tahu dia mungkin marah kepada kita," lanjut Cassandra dengan suara pelan. "Aku tahu mungkin dia tidak ingin melihat wajah kita."
Dia menggenggam tangannya sendiri.
"Tapi aku tetap ingin meminta maaf."
Gilbert menatapnya.
"Untuk apa?"
Cassandra tersenyum pahit.
"Untuk semua hal yang seharusnya kulakukan sebagai seorang mertua."
Gilbert tidak menjawab, karena dia sendiri juga memiliki penyesalan yang sama. Beberapa jam kemudian, pesawat mereka mendarat di Jepang.
Begitu keluar dari bandara, Cassandra langsung bertanya,
"Alamat Ivy?"
"Sudah ada."
Gilbert mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan alamat tersebut.
Cassandra langsung melihatnya.
"Kalau begitu kita pergi sekarang."
"Tapi ini sudah malam." Kata Gilbert, dia hanya khawatir jika Ivy sudah tidur saat ini.
"Aku tidak peduli."
"Cassandra..."
"Aku sudah menunggu terlalu lama."
Gilbert akhirnya mengangguk, mereka kemudian masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan.
Sepanjang perjalanan, Cassandra terus melihat keluar jendela. Jantungnya berdebar semakin kencang, semakin dekat mereka dengan tempat Ivy tinggal, semakin besar rasa takut yang muncul dalam dirinya. Bagaimana jika Ivy tidak mau membuka pintu? Bagaimana jika Ivy menyuruh mereka pergi? Atau lebih buruk lagi bagaimana jika Ivy mengatakan bahwa dia sudah tidak menganggap mereka sebagai keluarganya?Cassandra menggigit bibirnya, namun dia tetap bertahan. Tidak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen.
Jack melihat alamat di ponselnya.
"Ini tempatnya, Tuan."
Cassandra langsung membuka pintu mobil.
"Ivy ada di sini?"
Gilbert mengangguk.
"Menurut alamat yang kita dapatkan, iya."
Cassandra menatap gedung itu, untuk sesaat, kakinya terasa berat. Namun kemudian dia menarik napas dalam-dalam.
"Ayo."
Mereka bertiga masuk ke dalam gedung.
Bersambung