"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pertarungan berlangsung semakin liar, Juna dipaksa mundur berkali-kali menghindari setiap ayunan galah besi yang datang dari berbagai arah tanpa bisa ditebak. Setiap kali ia mencoba membalas, Kaisar Dirgantara sudah lebih dulu bergerak, memanfaatkan lingkungan sekitar dengan kecepatan yang membuat Juna kewalahan.
DUAGH!!
Sebuah tendangan mendadak menghantam perutnya, membuat Juna terjungkal mundur beberapa langkah, punggungnya membentur dinding lorong dengan suara benturan yang keras. Ia mencoba bangkit, namun Kaisar Dirgantara sudah berada di hadapannya, menjatuhkan galah besi itu dan menggantinya dengan kepalan tangan telanjang yang menghantam telak ke rahangnya.
BUAGH!!
Juna terhuyung, dunia di sekelilingnya berputar sesaat, tubuhnya limbung tidak berdaya. Kaisar Dirgantara mencengkeram kerah bajunya, mengangkatnya dengan mudah seolah bobot tubuh Juna tidak berarti apa-apa baginya.
"Lu kuat, gue akuin itu," Kaisar Dirgantara berkata sambil menatap wajah Juna yang penuh luka dari jarak dekat, suaranya kini terdengar lebih serius, tidak lagi sekadar mengejek. "Tapi kuat doang nggak cukup buat ngelawan gue. Gue udah bertarung pake apa pun yang ada di sekitar gue sejak kecil. Lu baru mulai belajar."
"Kalo gitu ajarin aku," Juna menjawab serak, meski tubuhnya masih tergantung lemas dalam cengkeraman Kaisar Dirgantara, "biar lain kali aku bisa bales."
Kaisar Dirgantara tertawa mendengar itu, suaranya bergema di lorong sepi. "Lucu juga lu, udah babak belur masih sempet sok berani. Gue suka itu. Tapi bukan berarti gue bakal ngasih ampun sekarang."
'Sialan,' batin Juna, kesadarannya menipis di tengah rasa sakit yang mendera. 'Dia jauh lebih licik dari Ben. Lebih tenang, lebih terkendali, dan jauh lebih berbahaya. Aku harus cari cara buat ngebaca gerakannya, bukan cuma nunggu dia capek kayak lawan Ben kemarin.'
Ia merasakan tubuhnya diseret ke sudut lorong, tempat sebuah tong sampah besar berdiri diam di dekat pintu belakang kantin. Sebelum sempat memberontak, tubuhnya sudah dijejalkan paksa ke dalam tong sampah itu.
JEBLUK!!
Sampah dan bau busuk langsung menyergap seluruh inderanya, tubuhnya terjepit tidak nyaman di antara kantong-kantong sampah yang menumpuk, sisa-sisa makanan basi menempel di seragamnya yang sudah kotor sejak pertarungan sebelumnya. Juna mencoba bangkit, namun sebuah tutup tong sampah tiba-tiba dijatuhkan tepat di atas kepalanya.
"Ini topinya," Kaisar Dirgantara tertawa puas, suaranya terdengar dari luar tong sampah, disusul suara tepukan pelan seolah sedang memberi selamat. "Lain kali jangan main-main, ya, Blacky. Nikmatin dulu aja topi barunya, cocok banget sama bau badan lu yang emang udah nggak jauh beda."
"Kaisar," Juna menahan diri untuk tidak meledak, suaranya teredam dari dalam tong sampah, "lain kali aku janji bakal balikin ini semua ke kamu, sampai kamu sendiri yang minta ampun."
"Ditunggu," jawab Kaisar Dirgantara santai, nada suaranya sama sekali tidak terancam. "Gue nggak sabar liat lu coba."
Langkah kakinya terdengar menjauh, meninggalkan Juna yang masih terjepit di dalam tong sampah, bau busuk memenuhi paru-parunya setiap kali ia menarik napas, membuatnya nyaris muntah karena bau yang begitu menyengat.
Juna mendorong tutup tong sampah itu dengan susah payah, akhirnya berhasil memanjat keluar dengan gerakan canggung, seragamnya kotor dan basah oleh sisa-sisa makanan busuk yang tidak ingin ia pikirkan lebih jauh. Ia terjatuh ke lantai lorong, terbatuk-batuk sambil berusaha mengeluarkan bau busuk dari tenggorokannya.
Ia berdiri di lorong yang kini sunyi, napasnya masih memburu, tubuhnya penuh luka baru yang menambah deretan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Setiap sendi terasa nyeri, namun pikirannya sendiri sudah kembali bekerja jauh lebih cepat dari rasa sakit yang mendera.
'Raja seperti ini,' batinnya, menyeka wajahnya dengan lengan baju yang sama kotornya, 'pasti punya banyak pembenci di dalam pasukannya sendiri. Cara dia mempermalukan, mengancam, dan mengorbankan orang lain seenaknya, cepat atau lambat bakal balik nyerang dia sendiri. Kalau begitu, aku bisa suruh Gery buat menyelidikinya.'
Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya yang berdarah, meski tubuhnya babak belur, pikirannya sudah kembali berputar cepat, menyusun rencana baru dari kekalahan yang baru saja ia alami.
Ia berjalan pincang menyusuri lorong menuju keran air terdekat, membersihkan sisa-sisa sampah yang masih menempel di rambut dan seragamnya sebisa mungkin sebelum ada orang lain yang melihatnya dalam kondisi memalukan seperti ini. Air dingin yang mengalir dari keran membuat luka-luka kecil di wajahnya terasa perih, namun ia menahan diri untuk tidak mengaduh, terlalu fokus menyusun langkah berikutnya di kepalanya.
'Dua kali kalah dari dua orang yang berbeda,' batinnya sambil menatap pantulan wajahnya sendiri yang babak belur di permukaan air yang tergenang di wastafel. 'Tapi setiap kekalahan itu selalu ngasih aku sesuatu yang bisa dipakai lagi nanti. Ben ngajarin aku soal pola serangan. Kaisar Dirgantara ngajarin aku soal kelemahan di balik kepercayaan yang dibangun lewat ancaman.'
Ia menegakkan tubuhnya, menatap bayangannya sendiri dengan tatapan yang jauh lebih tenang dari beberapa menit lalu, sebelum akhirnya melangkah pergi menuju asrama untuk beristirahat, mempersiapkan diri untuk langkah selanjutnya yang sudah mulai terbentuk jelas dalam benaknya.