Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Sang Penguasa
Matahari sore membias warna keemasan yang hangat di atas Taman Mawar Istana Utama. Sehari menjelang Perayaan Musim Panas, para bangsawan tinggi dari berbagai daerah telah memenuhi kawasan istana. Di sepanjang koridor pualam taman, aroma bunga mawar yang mekar berpadu dengan gaun-gaun sutra mewah para kerabat kerajaan.
Aurelia melangkah anggun di sepanjang jalan setapak batu bersama Marta. Gaun malamnya yang berwarna biru keperakan jatuh mengombak indah, mempertegas kilau cincin Blue Sapphire di jari manisnya. Lehernya kini tak lagi berbalut perban, hanya menyisakan garis tipis samar yang telah diobati.
Dari arah paviliun kaca di ujung taman, seorang pria muda berzirah perak tegap dengan jubah biru bersulam lambang cenderawasih melangkah mendekat. Pria itu adalah Duke Valerius dari Wilayah Utara—seorang bangsawan muda yang tampan, gagah, dan baru saja kembali dari perbatasan usai memimpin pasukan mengamankan jalur perdagangan.
"Lady Aurelia dari Montclair?" sapa Valerius dengan suara nyaring yang hangat dan sopan. Pria muda itu membungkuk anggun, meletakkan tangan di dadanya. "Hamba, Valerius dari Utara, merasa sangat terhormat akhirnya dapat bertemu secara langsung dengan putri berbakat yang namanya hangat dibicarakan di seluruh wilayah."
Aurelia menghentikan langkahnya, menyunggingkan senyum diplomatis yang anggun. "Salam untuk Duke Valerius. Keberhasilan Anda mengamankan perbatasan utara dari gangguan tentara liar sungguh patut dipuji oleh Dewan Kerajaan."
Valerius tersenyum lebar, matanya memancarkan rasa kagum yang amat terbuka saat menatap keanggunan wajah dan ketenangan wibawa Aurelia. "Pujian dari Anda jauh lebih berharga daripada medali dewan, Lady Aurelia. Kedatangan hamba ke ibu kota kali ini salah satunya adalah untuk memastikan bahwa keluarga Montclair mendapatkan dukungan militer penuh dari wilayah utara."
Valerius melangkah satu tapak lebih dekat, mengulurkan tangannya dengan berniat menyambut jemari Aurelia dalam penghormatan formal bangsawan utara. Aurelia yang melihat iktikad politik yang menguntungkan tersebut bermaksud mengulurkan tangannya.
Namun, sebelum jemari Valerius sempat menyentuh tangan Aurelia, aura dingin yang luar biasa menekan mendadak melingkupi area taman!
Langkah kaki tegap yang berat memotong jarak di antara mereka. Tanpa peringatan, Raja Julian muncul dari balik lorong pilar pualam. Pria itu mengenakan pakaian kebesaran seram bergaris emas, dengan sepasang mata kelam yang menyala penuh amarah dan cemburu yang tak tersamarkan!
Julian melangkah berdiri tepat di antara Aurelia dan Valerius, secara fisik memotong ruang di antara keduanya. Tangan kekar sang Raja bergerak cepat, merangkul pinggang mulus Aurelia dan menarik tubuh wanita itu mendekat secara posesif ke sisinya.
"Duke Valerius," suara Julian terdengar begitu rendah, dingin, dan sarat ancaman mematikan yang membuat udara sore mendadak membeku. "Aku tidak ingat memberikan izin kepada para duke luar untuk melatih keahlian merayu mereka di Taman Mawar milik istanaku."
Valerius terkejut, serta-merta menarik tangannya kembali dan berlutut menyentuhkan satu lututnya ke tanah di hadapan sang Raja. "A-ampunkan hamba, Yang Mulia! Hamba hanya memberikan penghormatan formal kepada Lady Aurelia atas nama aliansi utara!"
Julian tidak mengendurkan cengkeraman tangannya di pinggang Aurelia. Matanya menatap Valerius dari atas dengan pandangan membunuh. "Lady Aurelia berada di bawah perlindungan langsung dan wewenang mutlak milikku, Valerius. Jika kau memiliki urusan militer utara, sampaikan di Hall of Council esok pagi, bukan di hadapan wanita yang mengenakan cincin segel kerajaanku."
Mata Valerius melirik sekilas pada pendar biru Blue Sapphire di jari manis Aurelia, lalu menundukkan kepalanya lebih dalam dengan peluh dingin di dahinya. "Hamba mengerti, Yang Mulia! Hamba mohon diri!"
Setelah Valerius terburu-buru pergi meninggalkan taman, Julian memutar tubuh Aurelia menghadap ke arahnya. Cengkeraman sang Raja pada pinggang Aurelia perlahan melarut menjadi pegangan yang erat namun hangat. Matanya yang kelam menatap lurus ke dalam mata cokelat Aurelia dengan gairah cemburu yang menyala-nyala.
"Kau tampak begitu menikmati percakapan dengan Duke muda dari utara itu, Aurelia," desis Julian dengan suara bariton yang dalam di depan wajah Aurelia.
Aurelia tidak panik. Ia justru menyunggingkan senyum memikat yang amat berbahaya, menyentuhkan jemari lentiknya yang mengenakan cincin Blue Sapphire tepat di dada bidang Julian.
"Apakah Sang Penguasa Kerajaan yang dingin ini sedang merasa cemburu hanya karena seorang duke menyapa selirnya?" bisik Aurelia melantun halus, membiarkan mata mereka saling mengunci.
Julian membeku sejenak, lalu terkekeh rendah dengan mata memicing posesif. "Aku tidak cemburu, Aurelia... Aku hanya menegaskan pada seluruh pria di kerajaan ini bahwa milikku tidak akan pernah bisa disentuh oleh siapa pun."
Tengah malam tiba, membungkus Istana Utama dalam kegelapan yang pekat. Ketika seluruh penghuni istana terlelap dalam tidur, Aurelia bergerak senyap menyusuri lorong rahasia di bawah Menara Hitam. Ditemani oleh Marta yang membawa lentera minyak temaram dan Selir Vivienne yang menunjukkan rute rahasia bekas Faksi Vance, langkah kaki mereka hampir tak terdengar di atas lantai batu yang lembap.
Tujuan Aurelia malam ini adalah Arsip Rahasia Bawah Tanah—tempat penyimpanan dokumen kelam kerajaan yang tidak pernah tersentuh oleh publik. Dari informasi sisa abu perapian yang dikumpulkan oleh pengasuh tua Vivienne, Faksi Vance menyimpan salinan berkas rahasia mengenai konspirasi kehidupan masa lalu Aurelia di tempat ini.
"Di sebelah sini, Lady Aurelia," bisik Vivienne, mengarahkan pintunya ke sebuah pintu besi berkarat dengan tiga kunci selot rahasia.
Dengan kunci kuningan yang didapatkan dari ruang kerja bekas Selir Celeste, Marta memutar selot tersebut. KLEK! Pintu besi tua itu terbuka, menghembuskan aroma debu dan kertas lapuk yang menyengat.
Di dalam ruangan batu yang sempit itu, berderet rak-rak kayu tua yang dipenuhi oleh gulungan perkamen berlapis lilin hitam. Aurelia melangkah masuk dengan tenang, matanya yang jernih meneliti setiap label nama di rak-rak tersebut.
Jemarinya berhenti pada sebuah peti kayu kecil berukir lambang Oakhaven yang tersembunyi di balik tumpukan berkas keuangan lama. Dengan bantuan belati peraknya, Aurelia mencungkil kunci peti tersebut hingga terbuka.
Di dalamnya, terbaring beberapa lembar dokumen berbahasa rahasia Oakhaven yang membawa stempel darah dan tanda tangan basah milik Ketua Dewan Vance!
Aurelia merogoh perkamen tersebut, membukanya di bawah pendar lentera minyak. Saat matanya membaca barisan demi barisan kalimat di atas kertas tua tersebut, napas Aurelia tertahan sejenak. Matanya berkilat oleh kejutan dan amarah yang luar biasa dingin.
Dokumen ini adalah bukti konspirasi masa lalu—bukti otentik yang menjelaskan bagaimana Faksi Vance bekerja sama dengan kerajaan asing Oakhaven sejak lima tahun lalu! Dokumen ini mencatat rencana terstruktur untuk meracuni ibu kandung Julian, menjebak keluarga Montclair dalam krisis keuangan, dan yang paling mengerikan: rencana pembunuhan eksekusi terhadap Aurelia di kehidupan lalunya!
"Jadi... kematianku di masa lalu bukanlah sekadar persaingan antarselir," bisik Aurelia dengan suara gemetar oleh amarah yang membara. "Genevieve dan ayahnya telah menjual jalur perbatasan kerajaan kepada Oakhaven demi menjamin tahta Ratu untuk Faksi Vance!"
Marta dan Vivienne yang mendengarnya bergidik ngeri. "Lady Aurelia... ini adalah bukti pengkhianatan negara!"
Aurelia mengepalkan tangannya tegap, meremas perkamen rahasia itu dengan erat. Seluruh kepingan puzzle dari dua kehidupannya kini telah menyatu secara sempurna. Pengasingan keluarganya, racun teh di masa lalu, hingga serangan panah di Hutan Pinus kemarin—semuanya bermuara pada kesepakatan berdarah antara Faksi Vance dan Kerajaan Oakhaven!
"Simpan seluruh berkas ini ke dalam kantong kulit, Marta," perintah Aurelia dengan suara yang amat dingin dan berwibawa. "Dokumen dari ruang bawah tanah ini adalah belati eksekusi akhir yang akan mencabut seluruh nyawa dan kehormatan Faksi Vance di hadapan publik besok malam."
Aurelia menatap kegelapan lorong bawah tanah dengan senyuman maut yang terkembang indah. Rahasia tergelap musuhnya kini berada di tangannya, dan malam Perayaan Musim Panas akan menjadi arena pembantaian politik terbesar yang pernah disaksikan oleh kerajaan ini.
~ To Be Continue