Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 - RAHASIA DI BAWAH RANJANG NAGA
[WAKTU MISI PERTAMA: 08:45:21]
Aku menatap layar biru yang melayang di hadapanku, lalu mengembuskan napas panjang.
Delapan jam lebih.
Waktu itu masih terasa lama, tetapi aku tahu tidak ada jaminan bahwa aku akan baik-baik saja sampai hitungan mundur berakhir. Tenggorokanku masih perih. Sesekali, rasa mual kembali naik dari perut, memaksaku duduk diam sampai sensasi itu mereda.
Aku sudah mencoba beristirahat di ruang dalam seperti yang diperintahkan Segara. Namun, mataku tidak kunjung terpejam.
Bagaimana mungkin aku bisa tidur ketika sistem misterius itu terus mengingatkanku bahwa aku berada lima ratus tahun dari zaman asalku?
Aku bangkit dari tempat tidur kecil dan melangkah menuju pintu.
Dari celahnya, aku bisa melihat Segara masih berada di ruang utama. Ia berdiri di depan meja besar yang dipenuhi peta kerajaan, membaca beberapa lembar dokumen di bawah cahaya lampu minyak.
Punggungnya tegak. Gerakannya tenang. Sesekali ia mengambil kuas, membuat tanda pada peta, lalu kembali membaca catatan di hadapannya.
Pria itu tampak seperti seseorang yang tidak pernah membiarkan dirinya lengah.
Aku teringat aturan yang disampaikannya beberapa jam lalu.
Jangan menyentuh barang-barangnya. Jangan mengganggu pekerjaannya. Jangan mencampuri urusan kerajaan.
Seharusnya aku patuh.
Masalahnya, sistem memiliki rencana lain.
Layar biru muncul lagi.
[TUGAS TAMBAHAN: CARI RAHASIA DI KEDIAMAN KAISAR SEBELUM FAJAR.]
[PETUNJUK: RAHASIA ITU TIDAK BERADA DI ATAS MEJA. CARILAH DI BAWAH TEMPAT KAISAR MELETAKKAN KEPALANYA SETIAP MALAM.]
Aku membaca petunjuk itu dua kali.
Tempat ia meletakkan kepala?
Bantal?
Ranjang?
Perlahan, pandanganku beralih ke ranjang besar di ruang utama.
Ranjang kayu hitam itu berdiri tidak jauh dari meja kerja Segara. Ukurannya jauh lebih besar daripada tempat tidur di ruang dalam. Tirai putih menggantung di keempat sisinya, sementara seprai sutra dirapikan begitu sempurna hingga tidak ada satu lipatan pun yang terlihat.
Di bawahnya, tentu saja, ada ruang gelap yang tidak bisa kulihat dari tempatku berdiri.
Aku menggigit bibir.
Jangan-jangan petunjuk itu memang merujuk ke bawah ranjang.
Namun, mengapa sistem menyuruhku mencari rahasia di tempat tidur pribadi Kaisar?
Dan kenapa harus sebelum fajar?
Aku kembali melihat Segara. Ia masih sibuk dengan dokumennya, tidak menunjukkan tanda-tanda akan beristirahat dalam waktu dekat.
Aku hampir menyerah ketika layar itu berkedip lagi.
[MISI SAMPINGAN TERBUKA: PETI YANG TERLUPAKAN]
[TUJUAN: TEMUKAN PETI TERSEMBUNYI DAN BUKA ISINYA SEBELUM FAJAR.]
[HADIAH: PERSEDIAAN PERTOLONGAN PERTAMA TAMBAHAN DAN PETUNJUK MENUJU PERPUSTAKAAN TERLARANG.]
[PERINGATAN: KONDISI KERACUNAN HOST BELUM TERPASTIKAN. JANGAN MENGABAIKAN GEJALA YANG MEMBURUK.]
Aku menatap tulisan itu dengan perasaan campur aduk.
Petunjuk menuju perpustakaan terlarang.
Sebagai mahasiswa Sejarah, aku seharusnya merasa bersemangat mendengar hal itu. Siapa yang tidak ingin menemukan catatan yang sengaja disembunyikan dari sejarah resmi sebuah kerajaan?
Sayangnya, aku tidak sedang mengerjakan penelitian kampus.
Aku sedang berusaha agar tidak mati.
“Ini benar-benar gila,” gumamku.
“Apanya yang gila?”
Aku nyaris melompat.
Suara itu datang dari belakangku.
Aku menoleh begitu cepat sampai kepalaku kembali berdenyut.
Segara telah berdiri di dekat pintu ruang dalam. Aku tidak tahu sejak kapan ia berada di sana. Dokumen yang tadi dibacanya kini sudah berada di tangannya.
Matanya menatapku dengan curiga.
“Apa yang kau gumamkan?”
Aku segera menundukkan kepala.
“Tidak ada, Paduka.”
“Kalau tidak ada, mengapa kau berdiri di depan pintu sambil berbicara sendiri?”
Aku terdiam.
Pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi aku tidak memiliki jawaban yang masuk akal.
“Aku hanya belum terbiasa dengan kamar ini,” jawabku akhirnya. “Hamba sulit tidur.”
Segara memandangku beberapa saat.
“Kalau begitu, tidurlah.”
“Hamba akan mencoba, Paduka.”
Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia kembali ke meja kerja, meletakkan dokumen, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Aku menghela napas lega.
Setidaknya, untuk sementara, ia tidak bertanya lebih jauh.
Aku kembali masuk ke ruang dalam, tetapi kali ini aku tidak menutup pintunya sepenuhnya. Aku menyisakan celah kecil agar bisa melihat keadaan ruang utama.
Jika aku benar-benar harus mencari peti itu, aku perlu menunggu waktu yang tepat.
Aku tidak berniat mempertaruhkan nyawa hanya karena sistem menyuruhku melakukan sesuatu.
---
Waktu berlalu lambat.
Satu per satu lampu di sudut ruangan mulai diredupkan oleh seorang pelayan yang datang untuk membereskan meja. Setelah itu, pelayan tersebut meninggalkan kediaman Kaisar dengan langkah hati-hati.
Segara masih bekerja.
Aku duduk di tepi tempat tidur kecil, memeluk lutut sambil memperhatikan gerak-geriknya dari balik pintu.
Sesekali ia memijat pangkal hidung. Pernah sekali ia berdiri dan berjalan ke jendela, menatap halaman istana yang gelap sebelum kembali ke mejanya.
Ada sesuatu yang aneh pada kebiasaannya.
Ia tampak tidak pernah benar-benar beristirahat.
Aku tidak tahu apakah itu karena banyaknya urusan kerajaan atau karena ia memang tidak bisa tidur. Namun, ada kelelahan yang tidak bisa disembunyikan oleh sikap dinginnya.
Pikiran itu segera kutepis.
Aku tidak boleh terlalu mudah merasa iba kepada seseorang hanya karena melihatnya kelelahan.
Terutama seseorang yang baru saja mengancam akan membuang mayatku ke sungai.
Akhirnya, ketika malam semakin larut, Segara meletakkan kuasnya.
“Paduka akan beristirahat?” tanya seorang pengawal dari dekat pintu.
“Tidak perlu menunggu. Kalian boleh pergi.”
“Namun, Paduka—”
“Aku bilang pergi.”
Pengawal itu segera membungkuk. Tidak lama kemudian, ia meninggalkan ruangan dan menutup pintu dari luar.
Segara memadamkan satu lampu, lalu duduk di kursi dekat jendela. Ia membuka sebuah buku kecil yang sampulnya sudah usang.
Aku tidak dapat melihat judulnya dari tempatku bersembunyi.
Ia membaca beberapa halaman, berhenti cukup lama pada satu bagian, lalu menutup buku itu dengan gerakan yang lebih keras daripada yang diperlukan.
Untuk sesaat, ia hanya duduk diam.
Kemudian ia berdiri, meletakkan buku tersebut di atas meja, dan berjalan menuju ranjang.
Aku buru-buru menarik tubuh ke belakang agar tidak terlihat.
Dari celah pintu, aku mendengar suara kain bergesekan. Setelah beberapa saat, ruangan kembali hening.
Aku menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Tidak ada suara selain desir angin dari jendela dan bunyi samar kayu yang sesekali berderak.
Aku mengintip lagi.
Segara sudah berbaring dengan punggung menghadap pintu. Satu tangannya terletak di atas selimut, sedangkan tangan lainnya berada di dekat bantal.
Aku tidak tahu apakah ia sudah tidur.
Namun, jika aku ingin memeriksa bagian bawah ranjang, inilah kesempatan terbaik yang mungkin kumiliki.
Aku membuka pintu perlahan.
Engselnya mengeluarkan bunyi kecil.
Aku langsung membeku.
Segara tidak bergerak.
Aku menunggu beberapa detik sebelum melangkah keluar. Kaki telanjangku menyentuh lantai yang dingin. Aku berusaha menapak di bagian lantai yang tidak berderit, sambil menjaga agar ujung gaunku tidak tersangkut kaki meja.
Jarak ke ranjang hanya beberapa langkah.
Akan tetapi, malam itu terasa seolah aku sedang menyeberangi lapangan penuh penjaga.
Aku berlutut di sisi ranjang, lalu menunduk.
Gelap.
Awalnya aku tidak melihat apa pun selain bayangan kayu dan lapisan debu tipis. Aku meraba lantai dengan hati-hati sampai ujung jariku menyentuh sesuatu yang keras.
Sebuah peti.
Ukurannya tidak lebih besar daripada kotak sepatu. Kayunya berwarna cokelat tua, hampir hitam, dengan permukaan yang tertutup debu. Di bagian tutupnya terukir lambang ombak besar yang menghantam gunung.
Lambang Kerajaan Langit.
Aku menelan ludah.
Jadi, petunjuk sistem memang benar.
Aku meraih sisi peti dan mencoba menariknya keluar.
Berat.
Jauh lebih berat daripada ukurannya.
Aku mengubah posisi tangan, lalu menariknya sedikit demi sedikit.
KREEEET.
Suara gesekan kayu dengan lantai terdengar di tengah keheningan.
Aku langsung berhenti.
Di atas ranjang, Segara bergerak.
Jantungku serasa berhenti berdetak.
“Kahiyang?”
Suaranya rendah, masih terdengar berat karena baru terbangun.
Aku tidak menjawab.
“Siapa di sana?”
Aku menutup mata sebentar, berharap bisa menghilang begitu saja.
Sayangnya, aku tidak memiliki kemampuan itu.
Segara bangkit dari ranjang. Aku mendengar suara kakinya menyentuh lantai, disusul langkah yang mendekat.
Ketika aku menoleh, ia sudah berdiri di sisi ranjang.
Tatapannya jatuh tepat kepadaku yang sedang berlutut di lantai.
Lalu, matanya beralih ke peti yang setengah tertarik keluar.
Wajahnya berubah.
Bukan sekadar kesal karena seseorang melanggar perintah. Ada sesuatu yang jauh lebih keras pada garis rahangnya. Tangannya mengepal, dan untuk sesaat aku merasa seolah udara di dalam kamar menghilang.
“Apa yang kau lakukan?”
Aku buru-buru berdiri, tetapi kepalaku mendadak pening. Aku harus berpegangan pada sisi ranjang agar tidak terjatuh.
“Aku—”
“Jawab.”
Suaranya tidak keras. Justru karena itu, ancamannya terasa semakin nyata.
Aku melirik peti tersebut, lalu kembali menatapnya.
“Antingku jatuh,” kataku terbata-bata. “Aku sedang mencarinya.”
Segara menatap kedua telingaku.
Hanya satu anting mutiara yang masih terpasang.
“Anting yang mana?”
Aku hampir kehilangan kata-kata.
“Anting mutiara, Paduka.”
“Kalau begitu, tunjukkan.”
Aku terdiam.
Segara melangkah mendekat. Ia tidak perlu mengangkat suara untuk membuatku mundur setengah langkah.
“Jangan berbohong kepadaku di dalam kamarku sendiri.”
Aku menunduk, mencoba mencari jawaban lain. Namun, sebelum aku sempat berbicara, ia sudah berjongkok dan mendorong peti itu kembali ke bawah ranjang.
Gerakannya kasar.
Debu beterbangan, membuatku terbatuk beberapa kali.
“Jangan pernah menyentuh peti itu lagi,” katanya.
Aku memandangnya.
“Benda apa itu, Paduka?”
Ia berhenti.
“Bukan urusanmu.”
“Kalau memang bukan urusanku, mengapa peti itu disimpan di bawah ranjang Paduka sendiri?”
Pertanyaan itu terlepas sebelum sempat kupikirkan.
Aku langsung menyesal.
Segara berdiri perlahan. Tatapannya berubah semakin dingin.
“Karena aku menginginkannya berada di sana.”
Jawabannya pendek, tetapi tidak memberikan penjelasan apa pun.
Aku seharusnya berhenti bertanya. Namun, rasa penasaranku sudah terlanjur tumbuh.
“Apakah peti itu milik permaisuri sebelumnya?”
Kesunyian menyelimuti ruangan.
Aku bisa melihat perubahan kecil pada wajahnya. Bukan hanya kemarahan, melainkan sesuatu yang seolah sengaja ia tekan agar tidak muncul ke permukaan.
“Jangan membicarakan orang yang tidak kau kenal.”
“Namun, Paduka masih menyimpan barangnya.”
“Cukup, Kahiyang.”
Aku terdiam.
Ia menatapku beberapa saat sebelum berkata, “Peti itu milik Li Hua. Permaisuri yang pernah menempati kedudukanmu sebelum kau datang ke istana ini.”
Nama itu terasa tidak asing. Aku belum mengetahui seluruh sejarah kerajaan, tetapi aku pernah membaca nama Li Hua dalam salah satu catatan yang membahas pergantian permaisuri.
“Dia meninggal bertahun-tahun lalu,” lanjut Segara. “Dan tidak ada alasan bagimu untuk mengungkitnya.”
Aku menatap peti di bawah ranjang.
“Apakah dia meninggal karena sakit?”
Rahang Segara mengeras.
“Aku sudah memperingatkanmu.”
Aku segera menunduk.
“Maafkan hamba, Paduka.”
Ia tidak menjawab. Ia hanya memandangku dengan tatapan yang sulit kuartikan, seolah sedang mempertimbangkan apakah aku layak diberi peringatan sekali lagi atau harus segera dikeluarkan dari kamarnya.
Akhirnya, ia menunjuk pintu ruang dalam.
“Kembali ke tempat tidurmu. Jangan mendekati ranjang ini lagi malam ini.”
Aku menurut.
Tidak ada gunanya membantah ketika aku bahkan tidak mampu berdiri lama tanpa merasa pusing.
Sebelum masuk ke ruang dalam, aku sempat menoleh sekali lagi.
Segara masih berdiri di sisi ranjang. Ia tidak melihat ke arahku. Tatapannya tertuju pada bagian bawah ranjang tempat peti itu disembunyikan.
Ekspresinya telah kembali datar.
Namun, tangannya masih mengepal.
Aku menutup pintu perlahan dan bersandar di baliknya.
Jantungku berdetak begitu kencang hingga dadaku terasa sakit.
Aku hampir tertangkap basah. Kebohonganku tentang anting bahkan tidak bertahan lebih dari beberapa detik.
Namun, aku sudah mendapatkan satu petunjuk penting.
Peti itu memang milik Li Hua.
Dan reaksi Segara menunjukkan bahwa benda tersebut menyimpan sesuatu yang tidak ingin diketahui orang lain.
---
Aku duduk kembali di tepi tempat tidur kecil.
Layar biru muncul di hadapanku.
[OBJEK PENTING TERDETEKSI: PETI MILIK LI HUA]
[STATUS: TERKUNCI]
[AKSES: TERBATAS]
[MISI SAMPINGAN: BELUM SELESAI]
[PERINGATAN: JANGAN MEMAKSAKAN DIRI MELAKUKAN TINDAKAN BERISIKO SAAT KONDISI FISIK BELUM STABIL.]
Aku mengerutkan kening.
“Lalu bagaimana aku bisa membukanya kalau aku bahkan tidak boleh mendekatinya?”
Sistem tidak menjawab pertanyaanku.
Tulisan lain muncul beberapa detik kemudian.
[PETUNJUK TAMBAHAN: KUNCI TIDAK BERADA DI DALAM PETI.]
Aku menatap layar itu.
Tentu saja.
Peti terkunci, kuncinya berada di tempat lain, dan satu-satunya orang yang tahu di mana kunci itu disimpan adalah Kaisar yang baru saja mengancamku agar tidak menyentuh petinya.
Aku menjatuhkan diri ke bantal dan menutup wajah dengan kedua tangan.
“Kenapa harus aku?”
Tidak ada jawaban.
Aku hanya mendengar suara angin di luar jendela.
Untuk beberapa saat, aku membiarkan diriku diam. Tubuhku terasa semakin lelah, dan rasa pening mulai kembali muncul. Aku tidak boleh terus memaksakan diri. Besok aku harus mencari cara untuk memastikan kondisi tubuh ini tidak memburuk.
Namun, pikiranku masih tertuju pada nama yang baru saja kudengar.
Li Hua.
Siapa sebenarnya perempuan itu? Mengapa Segara menyimpan petinya, tetapi melarang siapa pun menyentuhnya? Dan jika ia benar-benar membenci permaisuri sebelumnya, mengapa benda milik perempuan itu masih berada begitu dekat dengan tempat tidurnya?
Aku tidak memiliki jawaban.
Aku hanya memiliki pertanyaan yang semakin banyak.
Di luar, malam masih gelap. Fajar belum tiba, dan hitungan mundur terus berjalan.
[WAKTU MISI PERTAMA: 08:12:33]
Aku menarik selimut hingga menutupi bahu.
Untuk sementara, aku harus beristirahat. Aku tidak akan mendapatkan apa-apa jika jatuh pingsan sebelum sempat menemukan jalan keluar dari masalah ini.
Namun, sebelum memejamkan mata, aku kembali menatap pintu yang memisahkan ruang dalam dari kamar utama.
Di balik pintu itu, peti Li Hua masih tersembunyi di bawah ranjang Kaisar.
Aku belum berhasil membukanya.
Aku juga belum tahu di mana kuncinya berada.
Tetapi aku tidak akan melupakan benda itu.
Sebab, jika ada satu hal yang kupelajari selama menjadi mahasiswa Sejarah, rahasia terbesar sering kali bukan ditemukan di tempat yang paling mencolok.
Kadang-kadang, rahasia justru disembunyikan di tempat yang tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun.
Bahkan di bawah ranjang seorang kaisar.