NovelToon NovelToon
Mahabbah Yang Ternoda

Mahabbah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

“Affan, aku ingin nafkah batin.”

“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”

Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.

Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir Khilaf

Hampir setengah jam berlalu, Heli mencari keberadaan Hulya dan akhirnya menemukan wanita itu duduk tidak jauh dari dapur, tempat para koki menyiapkan pesanan.

"Hulya."

Hulya segera mengusap sisa air matanya. "Iya?"

"Ini ada makanan. Kamu antar ke meja nomor lima. Tadi Mbaknya bilang dia mau kamu yang antar."

Heli kemudian menatapnya serius. "Tapi ingat, kalau kerja jangan banyak ngobrol sama teman yang lagi mampir ke sini."

"Iya."

Hulya mengambil nampan berisi makanan. Ia mulai berjalan menuju meja nomor lima. Namun, langkahnya melambat ketika melihat siapa yang duduk di sana. Affandy dan Tiffany, Hulya menarik napas panjang. Ia berusaha menenangkan dirinya sebelum mendekati meja tersebut.

"Eh, makanannya sudah datang," ujar Tiffany.

Hulya satu per satu meletakkan makanan di atas meja. Saat hendak pergi, Tiffany kembali menggenggam lengannya.

"Mau ke mana?"

Hulya hanya bisa terdiam.

"Sayang, mau kentang goreng?" tanya Tiffany kepada Affandy.

Affandy menganggukkan kepala. Tiffany mengambil sepotong kentang goreng lalu menyuapkannya kepada Affandy dengan penuh perhatian.

"Makasih, Sayang."

"Sama-sama, Sayang."

Hulya mencoba menarik lengannya. "Lepasin tangan aku."

"Kalau aku enggak mau?" Tiffany balik bertanya.

"Mas, Affan..." suara Hulya mulai bergetar. "Aku mohon. Aku sudah cukup sakit. Tolong jangan mempermalukan aku lagi."

Affandy menatapnya datar. "Lepasin tangan dia. Lagian kita mau makan. Aku enggak mau diganggu siapa pun."

Tiffany akhirnya melepaskan tangan Hulya. "Kamu pergi. Kami mau makan romantis."

Hulya tidak menjawab. Ia berjalan menjauh dengan langkah berat. Sepanjang jalan, ia berusaha tegar. Baru saja ia berhasil melupakan kejadian di rumah, sekarang hatinya kembali dibuat hancur oleh Tiffany—kekasih suaminya sendiri.

[] [] []

Malam hari tiba, setelah selesai melaksanakan salat, Hulya keluar dari kamar untuk mencari suaminya. Ia menemukan Affandy sedang duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Dengan sedikit keberanian, Hulya duduk di sampingnya.

"Affan."

"Hmm..."

"Kamu mau kopi?"

"Hmm..."

Hulya mengerutkan kening.

"Ngomong yang benar, Affan. Enggak baik tahu. Orang bisu saja ingin bisa ngomong. Masa kamu bisa ngomong, jawabnya malah 'hmm'?"

Affandy akhirnya menoleh ke arah Hulya. Tatapan laki-laki itu membuat Hulya kembali gugup. Tanpa diduga, Affandy mendekatkan wajahnya.

"Affan, ka-kamu mau ngapain?"

Hulya memejamkan mata. Namun, tidak ada apa pun yang terjadi.

"Kamu jangan berharap kalau aku akan melakukan itu," ucap Affandy.

Hulya kembali membuka mata. Wajah mereka masih begitu dekat.

"Aku sama sekali enggak tertarik sama kamu."

Lagi-lagi Hulya hanya bisa terdiam mendengar ocehan suaminya yang sangat menyakitkan.

"Kalau kamu mau buatin aku kopi, buatin saja. Enggak usah banyak basa-basi."

"Kamu tunggu di sini, ya." Hulya beranjak untuk membuatkan kopi.

Beberapa saat kemudian, ia kembali membawa secangkir kopi panas yang disiapkan penuh cinta pada suaminya.

"Ini kopinya."

Affandy mengulurkan tangan dan mengambil cangkir tersebut. Ia menyeruput sedikit kopi sebelum menatap Hulya.

"Kamu nangis?" tanyanya ketika melihat mata wanita itu berkaca-kaca.

Hulya menggeleng dengan perlahan.

"Aku sudah bilang. Kalau kamu mau, aku bisa menceraikan kamu."

"Affan, enggak baik ngomong cerai. Allah enggak suka."

"Enggak usah sok tegar. Mana ada wanita yang mau berbagi suami sama orang lain?"

"Kamu tahu itu..." suara Hulya lirih. "Tapi kamu tetap melakukannya."

"Kalau kamu enggak mau, aku akan menceraikan kamu."

Hulya menatap suaminya. "Affan, aku nangis bukan karena perempuan itu."

"Lalu karena apa?"

"Aku merindukan pelukan orangtuaku."

Hulya bangkit dan pergi meninggalkan ruang tamu. Ia memang sangat merindukan ayah dan ibunya. Ingin rasanya ia menceritakan semua yang terjadi dan menangis dalam pelukan mereka. Affandy hanya memutar bola matanya malas. Ia kembali fokus pada layar televisi.

[] [] []

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, akhirnya Affandy masuk ke dalam kamar mereka. Ia melihat Hulya masih belum tidur. Wanita itu duduk di sebuah kursi dengan posisi membelakangi dirinya sehingga tidak menyadari kedatangan Affandy.

"Ma..." suara Hulya bergetar. "Hulya kangen ... Hulya kangen ketawa sama kalian."

Air mata kembali mengalir dari sudut matanya ketika ia menatap layar ponsel yang menampilkan foto kedua orangtuanya.

"Hulya butuh kalian. Hulya butuh pelukan kalian."

"Hiks ... hiks..."

Tiba-tiba Hulya berdiri ketika merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya.

"Affan! Kamu mau ngapain?" tanyanya terkejut.

Affandy sendiri tampak bingung dengan tindakannya. Entah kenapa, ketika melihat Hulya menangis sambil memandangi foto kedua orangtuanya, rasa iba muncul begitu saja dalam dirinya.

"Aku ngapain? Kamu jangan mikir aneh-aneh."

"Gimana aku enggak mikir aneh-aneh? Kamu aneh begitu," gumam Hulya.

"Aku sudah bilang. Aku enggak akan pernah menyentuh kamu."

"Terus tadi apa?"

"Aku enggak sengaja. Refleks."

Hulya mengerutkan kening. "Aku memang istri kamu. Tapi kamu jangan kurang ajar sama aku."

"Kamu istriku itu menurutmu. Menurutku, kamu cuma benalu."

Kata-kata itu lagi selalu saja Affandy mengucapkannya kepada Hulya.

"Jadi kamu enggak usah mikir kalau aku akan menyentuh kamu." Affandy berbalik dan segera berbaring di atas kasur.

Hulya masih tidak percaya bahwa beberapa saat lalu suaminya menyentuh pundaknya dengan lembut. Ia masih memandangi Affandy. Entah kenapa, ada rasa gugup sekaligus kecewa di dalam dirinya.

"Kenapa harus gugup, Hulya? Harusnya kamu senang. Dia hampir menyentuh kamu tadi."

Bahkan, ada sedikit rasa kesal di dalam hatinya. Andai saja tadi ia tidak protes, mungkin Affandy akan melakukan sesuatu yang selama ini ia harapkan dari suaminya.

"Ngapain kamu lihat-lihat aku?" tanya Affandy, menyadarkan Hulya dari lamunannya.

"Kamu enggak usah mikir jauh. Kamu harus pegang kata-kataku. Aku enggak akan menyentuh kamu."

Affandy menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Tidak lama kemudian, terdengar suara gemuruh yang cukup keras. Affandy tiba-tiba melompat dari atas ranjang dan menghampiri Hulya.

Detik berikutnya, hujan deras turun membasahi seluruh kota. Hulya masih merasa aneh melihat tingkah suaminya.

"Kamu kenapa?"

Affandy terdiam tanpa bicara, saat ini ia sedang panik hingga tidak menjawab pertanyaan istrinya. Kemudian suara gemuruh kembali terdengar. Affandy semakin mendekati Hulya, tetapi wanita itu justru mundur beberapa langkah.

"Jangan kurang ajar, Affan. Aku tahu kamu punya hak sebagai suami. Tapi enggak begini caranya."

"A-aku takut petir, Hulya."

Hulya mengernyitkan kening. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu. Belum sempat ia berkata apa-apa, suara petir kembali terdengar.

Affandy refleks hendak memeluk Hulya. Namun, Hulya segera menahan tubuhnya. "Affan. Enggak lucu, ya. Kamu jangan cari kesempatan. Kamu sendiri yang bilang enggak akan menyentuh aku."

"Aku nggak bermaksud kurang ajar sama kamu."

"Terus apa ha? Kamu bilang aku benalu, kamu juga berjanji nggak ada nyentuh aku."

Kembali terdengar suara petir dibarengi dengan gemuruh. Affandy merenggangkan kedua tangannya, namun Hulya mendorong pria itu.

"Affan!" ucap Hulya menunjuk wajah sang suami.

"Jangan kurang ajar atau akan melupakan hormat ku sebagai seorang istri."

1
azzura faradiva
Thor..., please pemain perempuannya jgn di bikin lemah/menye².harus ambil sikap tegas menghadapi suami durjana macam dia,cerai aja udah!!!!
Mardzan J.: sabar sabar, baru juga beberapa part
total 1 replies
Tamirah
Kok ada suami model gini jadi istrinya kok yo betah,mbok ya minta cerai aja
Mardzan J.: sabar, nanti juga ada waktunya.
total 1 replies
azzura faradiva
kasih karma tu laki biar pedangnya karatan(impoten) biar ga banyak tingkah
Mardzan J.: sabar lho🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!