Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jahatnya Sarah
#22
Sarah masih terdiam, dengan kegelisahan yang justru semakin memenuhi pikirannya. Jika gugatan Dina yang hanya berkaitan dengan harta bersama, mungkin masih bisa dihadapi.
Tapi jika gugatan Pak Hermanto terhadap permana Group mengenai kepemilikan saham benar-benar terkabul, bisa jadi keadaan Permana Group akan berubah. Masalahnya kini bukan cuma soal jumlah kekayaan, tapi posisi Farhan juga ikut terpengaruh.
Jika sudah demikian bagaimana dengan dirinya dan Malika?
Sarah menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan kecemasan yang mulai terlihat dengan jelas. “Lalu sekarang, apa yang bisa kita lakukan?” tanyanya kemudian.
“Suka atau tidak, ya harus kita lawan, kemarin Ayah dan Farhan juga sudah menemui pengacara. Mereka sedang mempelajari materi gugatan, dan menyiapkan materi untuk pembelaan,” ungkap Pak Jatmiko lugas tanpa keraguan.
Bu Sintia mengangguk setuju, “Benar, kita tidak boleh diam saja dan membiarkan Hermanto beserta keluarga nya mengambil apa yang telah jadi milik keluarga kita. Enak saja,” gerutunya, sifat tamak dan rakus Bu Sintia mulai mendarah daging, karena selalu dipupuk dari waktu-ke waktu.
Farhan yang sejak tadi diam kembali membuka dokumen gugatan Dina, tatapannya terpaku pada beberapa bagian yang menjelaskan tentang tuntutan harta bersama selama pernikahan mereka.
Termasuk juga permohonan nafkah iddah yang menjadi hak Dina setelah perceraian. Farhan membaca semuanya dengan wajah datar. Namun, sesuatu dalam hatinya terus membuatnya gelisah. “Dia benar-benar berani menggugatku. Wanita yang selama pernikahan patuh padaku, kini mulai menunjukkan warna aslinya.”
Tanpa Farhan sadari, Sarah melirik ke arahnya. “Mas?” kata Sarah lembut, tangan wanita itu juga menyentuh lengan Farhan.
Farhan mendongak, “Kenapa?”
“Apa yang Mas pikirkan?” tanya Sarah, padahal ia tahu apa yang menjadi penyebab keresahan hati suaminya.
Farhan menggeleng cepat, kembali duduk tegak, seolah tak ingin membagi perasaannya. “Kamu masih memikirkan Mbak Dina?”
Pertanyaan Sarah mengubah suasana ruangan menjadi hening. Bu Sintia dan Pak Jatmiko pun ikut menoleh ke arah Farhan yang tidak langsung memberikan jawaban. “Aku hanya sedang membaca isi gugatan, itu saja.”
Sarah tersenyum tipis. “Baiklah, tapi tolong jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu sakit. Bukankah ini hanya gugatan harta bersama, sebenarnya kalian sudah benar-benar selesai, kan? Jadi, aku minta jangan pikirkan Mbak Dina lagi,” pinta Sarah lembut, penuh permohonan.
Farhan pun mengangguk. “Hmm, baiklah.”
Sarah tersenyum senang, setelah mendengar jawaban suaminya, ia bahkan memeluk lengan Farhan lalu bersandar manja di pundak pria itu. “Mulai sekarang, aku tak akan membiarkan nama Dina menguasai pikiranmu, Mas. Karena kamu milikku, hanya untukku dan Malika,” monolog Sarah.
Beberapa saat kemudian suara Pak Jatmiko kembali memecah keheningan. “Farhan, jangan sampai kamu terpengaruh.”
“Terpengaruh oleh apa, Yah?”
“Oleh rasa kasihan.” Pak Jatmiko berdiri dari tempat duduknya.
“Perempuan seperti Dina akan menggunakan kelemahanmu untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dulu, dia mungkin ingin terlihat sederhana, demi menarik perhatianmu. Lagipula belum memiliki kesempatan untuk menunjukkan sifat dan warna aslinya,” imbuh Pak Jatmiko, dengan maksud tetap menghasut pikiran anaknya agar semakin membenci mantan Istrinya.
Jengah dengan ucapan tersebut, Farhan pilih menepi ke ruang kerjanya. Karena bukan sekali dua kali ia mendengar ucapan bernada hasutan tersebut, tapi sering kali. Baik itu dari ayah serta ibunya, hingga Sarah ikut mengatakannya.
Namun, malam ini kalimat tersebut tak terlalu mempengaruhi pikirannya, meski ia sendiri masih belum percaya bahwa Dina berani menggugat dirinya.
Biar bagaimanapun, Farhan yang pernah hidup dengan Dina, tahu juga seperti apa wanita itu. Dina tak pernah menuntut rumah mewah, atau minta dibelikan barang mahal, tidak pernah juga meminta dirinya diutamakan di atas pekerjaan.
Justru Dina dan keluarganya membantu menyokong Permana Group, alasan mereka menggugat, mungkin karena tak terima dengan semua perlakuan keluarga Permana terhadap Dina. Jika keluarga Permana memperlakukan menantu perempuan mereka dengan cara yang lebih baik, pasti hal ini tak akan terjadi.
•••
Malam semakin larut, satu per satu anggota keluarga meninggalkan ruang keluarga, termasuk Sarah.
Sarah masuk ke kamar terlebih dahulu, sementara Bu Sintia dan Pak Jatmiko melanjutkan pembicaraan di kamar. Mereka membahas pengacara dan strategi gugatan.
Di dalam kamar, Sarah duduk di tepi tempat tidur, wajahnya terlihat gelisah.
Ia baru saja menerima pesan dari seseorang, siapa lagi kalau bukan Cakra.
Sarah membaca pesan itu berulang kali sebelum akhirnya menghapusnya, karena kedatangan gugatan Dina bukan hanya mengancam kekayaan keluarga Permana. Tapi juga akan menjadi masalah baginya, ia akan kehilangan pemasukan untuk membungkam mulut Cakra.
Jika sampai Farhan dan orang tuanya tahu, maka dirinya dan Malika akan berakhir menjadi gembel di jalanan. Sarah tak mau itu terjadi.
Sarah memejamkan mata, mengatur nafas perlahan, karena ia harus tetap tenang, tak boleh panik. Sementara ini, ia akan tetap menempel di sisi Farhan, memberinya dukungan penuh, agar Farhan percaya bahwa dirinya adalah orang yang benar-benar mendukungnya secara penuh.
Ponsel Sarah kembali bergetar karena satu pesan kembali masuk.
📥 Jangan pernah lupa bagaimana semua ini dimulai.
Seketika itu juga jantung Sarah berdegup cepat, “Tidak, siapapun tak boleh tahu mengenai masalah ini,” geram nya.
Karena semakin banyak masalah terbuka, maka semakin besar kemungkinan Farhan akan mulai mengorek masa lalu.
📤 Jangan bicara sembarangan!
Di seberang sana, Cakra tersenyum licik.
📥 Aku tidak sembarangan, tapi ini fakta!
Sarah membeku menatap terpaku pada layar.
Pesan berikutnya masuk.
📥 Kita berdua tahu, Malika tidak mungkin hadir begitu saja tanpa campur tangan kita berdua.
Tangan Sarah gemetar, saat mulai mengetik pesan berikutnya.
📤 Aku akan membunuhmu, jika sampai kamu berani bersuara.
📥 Tenang. Aku tidak pernah mengatakan apapun kepada siapapun.
📥 Tapi kalau kamu membuatku jatuh sendirian, aku akan mengatakan kepada Farhan apa yang sebenarnya terjadi sebelum Malika lahir.
Sarah langsung mematikan layar ponselnya, wajahnya berubah pucat penuh kekhawatiran.
Selama ini ia mengira rahasia itu sudah terkubur bersama masa lalu, tapi ternyata semuanya belum berakhir, karena Cakra tak akan pernah berhenti untuk memanfaatkan kelemahannya itu.
Saat itu, Sarah merasa dunia seolah-olah sedang berpihak kepada Dina, Jika Dina melahirkan anak Farhan, maka ikatan mereka akan semakin kuat. Farhan akan semakin sulit meninggalkannya.
Sarah yang tidak menginginkan itu, mulai menyusun rencana bersama Cakra. Mereka berniat membuat kehamilan Dina bermasalah.
Sarah mulai mencari celah untuk mencelakai Dina tanpa menimbulkan kecurigaan.
Sedikit demi sedikit demi sedikit, ia memasukkan zat berbahaya ke dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh Dina.
Liciknya, Sarah sengaja membuat semuanya terlihat seperti keluhan kehamilan biasa.
Dan rencananya berhasil membuat kondisi Dina semakin memburuk.
Dina jadi sering sakit, tubuhnya semakin lemah, padahal ia sedang hamil, berat badannya sulit bertambah, karena ia kesulitan menelan makanan.
Bahkan beberapa kali Dina harus mendapatkan pemeriksaan karena kondisi kehamilannya semakin mengkhawatirkan.
Setiap kali melihat Dina kesakitan, Sarah justru merasa lega, karena berpikir penderitaan itu akan membuat Farhan lelah menjalani dan mendampinginya.
Namun, Sarah tak pernah memikirkan bahwa yang menderita bukan hanya Dina, tapi anak dalam kandungannya yang juga ikut merasakan imbasnya. Bayi itu tidak tahu apa-apa tentang kebencian orang dewasa di sekelilingnya.
Saat dokter akhirnya menyampaikan kabar bahwa janin yang dikandung Dina mengalami kondisi cacat bawaan, Sarah adalah orang yang paling bahagia. Karena rencananya telah berhasil, namun, ia terus meyakinkan dirinya bahwa semua yang terjadi adalah takdir Dina dan bayinya. Sedangkan ia sama sekali tak bersalah.
##Gaes, maapkan ya, kemarin othor ada acara arisan di luar, jadi cuma apdet 1 bab pendek pula 🤧 itu karena semalam othor udah ngantuk berat, gak sanggup melek lagi. 🙏🏻😵
hari ini insyaallah 2 babb masing 1000 kata lebih 😘