Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Pesta di Istana & Bayang-bayang Kebohongan
Fajar menyingsing samar-samar, namun Meiying sudah terjaga. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap jendela yang mulai terang, napasnya terasa berat. Hari ini ia akan melangkah ke tempat paling berbahaya di seluruh kekaisaran — istana, tempat para bangsawan dan pejabat berkumpul, tempat mata tajam akan meneliti setiap gerak-geriknya.
A-Mei masuk membawa pakaian baru — gaun sutra berwarna merah muda lembut, dihiasi sulaman bunga persik yang halus. Kainnya lembut, warnanya cerah, namun terasa seperti pakaian topeng yang dipaksakan.
"Jenderal berpesan, Nyonya harus terlihat... pantas," ucap A-Mei pelan, sambil menyisir rambut Meiying. "Tersenyumlah jika dipandang. Tunduklah jika berbicara dengan orang yang lebih tinggi kedudukannya. Dan jangan tinggalkan sisi Jenderal sedetik pun."
Meiying menatap pantulan di cermin. Wajahnya sudah ditaruh bedak tipis, bibirnya diwarnai merah lembut, rambutnya disanggul rapi dengan jarum giok sederhana. Ia terlihat cantik, namun matanya menyimpan kegelisahan yang tak bisa disembunyikan.
"Apakah... banyak orang yang mengenal Rouran?" tanyanya lirih.
A-Mei berhenti menyisir. "Beberapa bangsawan muda pernah bertemu, Nyonya. Tapi tidak terlalu dekat. Tetaplah tenang, jawab singkat, dan biarkan Jenderal yang berbicara."
Meiying mengangguk, meski dadanya makin sesak. Tenang, katanya dalam hati. Kau bisa melakukan ini. Demi Ayah.
Kereta kuda melaju perlahan menuju gerbang istana. Langit cerah, matahari pagi menyinari atap-atap istana yang berlapis emas, berkilau mempesona. Namun bagi Meiying, kemegahan itu terasa seperti jaring yang siap menjeratnya kapan saja.
Saat kereta berhenti, jantungnya berpacu kencang. Tangan Wei Chen terulur membantunya turun — tangan yang besar, hangat, namun kaku. Ia tidak menatapnya, hanya berbisik pelan, "Jangan gemetar. Tersenyum."
Meiying menarik napas, meletakkan tangannya di lengan pria itu, melangkah masuk melewati gerbang istana yang menjulang tinggi.
Di aula utama, cahaya lampu gantung yang berkilauan menyilaukan mata. Ratusan orang berdiri berkelompok — bangsawan, jenderal, pejabat tinggi — mengenakan pakaian indah, berbicara dengan suara rendah, sesekali tertawa. Saat Wei Chen melangkah masuk bersama Meiying, percakapan perlahan mereda. Semua mata tertuju kepada mereka.
Inilah momen yang paling ditakuti Meiying.
Ia merasakan tatapan itu — meneliti, menilai, menyelidiki. Ia menunduk sedikit, berusaha tampil tenang, tersenyum tipis sesuai petunjuk.
"Ini dia Jenderal Wei Chen!" seru seorang pejabat tinggi mendekat, tersenyum lebar. "Dan istrinya... Putri Rouran, bukan?"
Meiying menelan ludah. Nama itu terasa asing di telinganya sendiri. Ia mengangguk pelan. "Salam hormat, Tuan..."
"Kau lebih cantik dari yang dikabarkan," puji pria itu, menatapnya lekat-lekat. "Apakah kau ingat saya? Kita pernah bertemu di pesta musim semi tahun lalu."
Darah seakan membeku di tubuh Meiying. Pernah bertemu? Ia tidak ingat pria ini sama sekali. Bagaimana mungkin? Ia bukan Rouran!
Suasana hening sejenak. Pria itu menunggunya menjawab, tatapannya menyelidik. Meiying meremas lengan baju Wei Chen tanpa sadar, tak tahu harus berkata apa. Jika ia mengaku tidak ingat, ia akan ketahuan. Jika ia berbohong, ia bisa salah menyebutkan hal yang tak pernah terjadi.
Di detik itu, tangan Wei Chen menindih jemari Meiying pelan — memberi isyarat. Ia melangkah sedikit ke depan, menatap pejabat itu dengan senyum tipis yang tak sampai ke matanya.
"Istriku belum pulih dari perjalanan jauh," ucapnya tenang namun tegas. "Ingatannya agak kabur. Mohon dimaklumi, Tuan Zhang."
Pria itu tertawa pelan. "Ah, tentu saja! Jangan dipaksakan, Nona Rouran. Semoga cepat segar kembali."
Ia pergi, namun rasa takut di dada Meiying tak kunjung hilang. Ia menoleh ke arah Wei Chen, ingin berterima kasih, namun pria itu menatap lurus ke depan, wajahnya tetap dingin, seakan tak terjadi apa-apa. Namun tekanan di jemarinya — tadi — bukan sekadar kebetulan.
Jam berikutnya berjalan seperti mimpi buruk yang panjang. Orang-orang terus mendekat, menyapa, bertanya. Meiying menjawab sesingkat mungkin, tersenyum, menunduk, membiarkan Wei Chen mengambil alih pembicaraan. Setiap kali ada pertanyaan yang menjebak, pria itu menyela dengan halus — mengalihkan topik, meminta maaf, atau sekadar berdiri lebih tegak hingga orang lain segan bertanya lebih jauh.
Namun bahaya tak selalu datang dari depan.
Di sudut aula, sekelompok wanita muda berdiri berbisik-bisik, sesekali melirik ke arahnya. Salah satu dari mereka — gadis bergaun ungu yang memancarkan keangkuhan — memisahkan diri dan berjalan mendekat.
"Rouran!" serunya ceria, namun matanya tajam. "Sudah lama tidak bertemu! Kenapa kau diam saja? Apa kau lupa janji kita?"
Meiying menegang. "Janji...?"
"Janji kita pergi ke taman bunga bulan lalu, tentu saja!" Gadis itu tersenyum miring, seakan menikmati kebingungan Meiying. "Kau yang membatalkan mendadak, lalu tak pernah terlihat lagi. Apa kau marah padaku?"
Semua mata di sekitar mereka beralih ke arah Meiying. Ia merasa terjebak. Jika ia mengaku tidak ingat, ia ketahuan. Jika ia mengarang cerita, bisa saja salah.
"Saya..." suaranya tercekat.
"Rouran sedang tidak enak badan, Nona Su," suara Wei Chen terdengar di sampingnya. "Tolong jangan banyak tanya."
Gadis itu — Nona Su — tersenyum tak puas. "Ah, Jenderal selalu melindunginya. Tapi aneh, bukan? Teman baiknya saja tak dikenali lagi." Ia mendekat sedikit, suaranya rendah namun terdengar jelas. "Atau... apakah kau benar-benar Rouran?"
Hening. Udara di sekitar mereka terasa menegang. Meiying menatap gadis itu, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit. Ia tak bisa lari. Ia tak bisa sembunyi.
Tiba-tiba ia melangkah maju, menatap Nona Su dengan tenang. "Maafkan saya, Nona Su. Saya memang belum pulih sepenuhnya. Banyak hal yang kabur di ingatan saya. Tapi saya ingat satu hal — persahabatan sejati tak akan mempertanyakan siapa saya, melainkan memahami apa yang sedang saya alami."
Nona Su terdiam, wajahnya memerah. Orang-orang di sekitar mulai berbisik, memihak ke arah Meiying.
Wei Chen menatapnya samping — takjub sekaligus waspada. Ia merangkul pinggang Meiying pelan, menariknya mendekat. "Cukup," ucapnya dingin kepada Nona Su. "Istriku lelah. Kami pamit."
Ia membimbing Meiying menjauh, keluar dari keramaian, menuju lorong yang lebih sepi di sayap istana.
Saat suara langkah kaki orang-orang hilang, Wei Chen berhenti di bawah sebatang pohon persik yang sedang mekar. Ia melepaskan pelukannya, berbalik menatap Meiying.
"Kau tadi berani," katanya rendah, matanya meneliti wajahnya. "Jawabanmu... cerdas."
Meiying menghela napas panjang, lututnya lemas. "Saya takut, Jenderal. Saya pikir semuanya berakhir."
Wei Chen terdiam, menatap ke arah lorong yang sepi. "Nona Su itu iri. Dia ingin posisimu. Dia akan mencari celah. Hati-hati terhadapnya."
"Saya tahu." Meiying menatapnya, berani bertanya hal yang sejak tadi mengganjal. "Mengapa... Anda membantu saya tadi? Anda seharusnya membiarkan saya ketahuan."
Wei Chen menoleh, tatapannya dalam dan sulit diartikan. "Karena jika kau jatuh, nama saya ikut jatuh. Pernikahan ini perintah kaisar. Jika gagal, itu berarti saya gagal."
Jawabannya logis, dingin, namun ada sesuatu di matanya yang tak sepenuhnya setuju dengan kata-katanya.
"Jadi... hanya itu?" tanya Meiying pelan, meski ia sendiri tak tahu mengapa hatinya terasa sedikit kecewa.
Wei Chen memandangnya lama, lalu berbalik. "Kembali ke kereta. Kita pulang."
Ia berjalan duluan, punggungnya tegak dan tak tergoyahkan, namun langkahnya tidak secepat biasanya. Seakan memberi waktu bagi Meiying untuk menyusul.
Di perjalanan pulang, suasana di dalam kereta hening. Meiying menatap ke luar jendela, melihat pemandangan yang melintas pelan.
"Terima kasih," ucapnya tiba-tiba. "Tadi... Anda menyelamatkan saya."
Wei Chen duduk di seberangnya, menatap ke arah pintu. Ia diam cukup lama, lalu berkata pelan, "Aku tidak melakukannya untukmu."
"Saya tahu," jawab Meiying lembut. "Tetap saja... terima kasih."
Ia menoleh, seakan ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya hanya menunduk. Kereta berbelok tajam, dan ia terdiam kembali.
Sesampainya di kediaman, Meiying turun lebih dulu. Saat ia melangkah masuk ke pintu, suara Wei Chen terdengar di belakangnya.
"Mulai sekarang," ucapnya, "jangan pernah berdiri sendirian di keramaian. Tetap di sisiku. Selalu."
Meiying berbalik. "Baik, Jenderal."
Ia hendak pergi, namun berhenti lagi. "Dan... pakaianmu hari ini cocok."
Lalu ia berbalik cepat dan pergi ke sayap barat, meninggalkan Meiying berdiri terpaku di tempatnya, tersenyum tipis tanpa sadar.
Di kamarnya nanti, Meiying duduk di tepi tempat tidur, memikirkan hari yang panjang ini. Hampir terbongkar, hampir hancur, namun ia selamat. Dan di antara semua ketakutan itu, ada hal kecil yang membuatnya terus berharap — tatapan Wei Chen, bantuannya, pujian singkatnya.
Namun ia tahu, ini belum berakhir. Nona Su belum menyerah. Dan di kediaman ini, rahasia-rahasia lama mulai merayap ke permukaan.
Di kejauhan, di kamar yang gelap, seseorang menatap bayangan Meiying yang masuk ke kamarnya. Sebuah surat ditulis dengan tangan gemetar, lalu dilipat rapi. Dia bukan Rouran, tulisnya. Dan surat itu akan dikirim besok pagi.