Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.
Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.
Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 — Keadilan yang Tertunda
Proses hukum berjalan lebih cepat dari yang Kirana bayangkan, berkat kombinasi bukti kuat yang sudah dikumpulkan tim legal Rangga dan tekanan publik yang semakin besar setelah kasus ini menjadi sorotan media selama beberapa minggu terakhir.
Tiga minggu setelah laporan resmi diajukan, polisi akhirnya memanggil Om Broto untuk dimintai keterangan intensif. Kirana, yang mendapat kabar itu dari kuasa hukumnya, merasakan campuran emosi yang begitu kompleks—lega, namun juga sedikit gentar membayangkan konfrontasi yang mungkin akan terjadi jika kasus ini berlanjut ke persidangan.
"Kamu nggak perlu hadir langsung di pemeriksaan itu," jelas kuasa hukum Kirana, Bu Ratih, dalam pertemuan persiapan sebelum jadwal pemanggilan. "Tapi kemungkinan besar, kamu akan diminta memberikan kesaksian resmi di tahap berikutnya, terutama soal detail penandatanganan dokumen yang dulu kamu lakukan."
Kirana mengangguk, mempersiapkan mental untuk proses panjang yang masih harus ia lalui.
Rangga, yang duduk di sampingnya sepanjang pertemuan itu, menggenggam tangannya erat sebagai bentuk dukungan tanpa kata.
Hari pemeriksaan Om Broto pun tiba. Dari informasi yang diterima kuasa hukum mereka, Om Broto awalnya mencoba membantah semua tuduhan, mengklaim bahwa proses pengalihan aset itu sah dan atas persetujuan penuh dari Kirana sendiri. Namun ketika dihadapkan dengan bukti-bukti dokumen yang jelas menunjukkan pemalsuan tanggal notaris, serta kesaksian langsung dari mantan pegawai notaris yang terlibat, pertahanannya mulai runtuh.
"Tersangka akhirnya mengakui sebagian besar tuduhan setelah dikonfrontasi dengan bukti-bukti yang ada," lapor Bu Ratih dalam pertemuan lanjutan dengan Kirana dan Rangga, beberapa hari setelah pemeriksaan intensif itu selesai. "Kasus ini kemungkinan besar akan berlanjut ke persidangan dalam waktu dekat, dengan dakwaan pemalsuan dokumen dan penipuan."
Kirana menghela napas panjang, campuran perasaan lega dan lelah menyelimuti dirinya mendengar perkembangan itu. "Jadi ini artinya, kebenaran akhirnya mulai terungkap?"
"Betul," Bu Ratih mengangguk mantap. "Dan dengan bukti sekuat ini, peluang untuk memenangkan kasus ini di persidangan sangat besar. Kamu juga berhak mengajukan gugatan perdata untuk mendapatkan kembali aset yang seharusnya menjadi hak warismu, terpisah dari proses pidana yang sedang berjalan."
Rangga menggenggam tangan Kirana lebih erat, tersenyum bangga melihat perkembangan positif itu. "Ini berkat keberanian kamu, Kirana. Kalau kamu nggak berani melangkah maju, semua ini nggak akan pernah terungkap."
"Ini juga berkat kamu, Rangga," Kirana membalas, menatap pria di sampingnya dengan penuh rasa terima kasih. "Tanpa dukungan dan sumber daya yang kamu berikan, aku nggak akan pernah bisa sampai sejauh ini melawan Om Broto."
Beberapa bulan kemudian, setelah proses persidangan yang cukup panjang dan melelahkan, pengadilan akhirnya menjatuhkan vonis bersalah kepada Om Broto atas tuduhan pemalsuan dokumen dan penipuan, dengan hukuman penjara beberapa tahun serta kewajiban mengembalikan seluruh aset yang telah ia rampas secara ilegal dari keluarga Wibowo.
Kirana duduk di ruang sidang hari itu, menyaksikan langsung detik-detik pembacaan vonis, hatinya dipenuhi berbagai perasaan yang begitu rumit—kelegaan besar setelah bertahun-tahun hidup dalam ketidakadilan, namun juga rasa sedih yang tidak terduga melihat pamannya sendiri, orang yang dulu begitu ia percaya sebagai keluarga, harus menanggung konsekuensi seberat itu atas perbuatannya sendiri.
Setelah persidangan usai, Kirana berjalan keluar ruang sidang, disambut Rangga yang sudah menunggu di luar dengan senyum penuh kebanggaan dan kelegaan yang sama besarnya.
"Ini udah berakhir, Kirana," Rangga berkata, merengkuh gadis itu ke dalam pelukan hangat.
"Kamu akhirnya dapat keadilan yang seharusnya kamu dapatkan sejak dulu."
Kirana membalas pelukan itu, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir bebas—bukan lagi air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan dan syukur yang begitu mendalam.
"Aku nggak nyangka bakal sampai di titik ini,"
Kirana berkata di sela isak tangis harunya.
"Setelah semua yang aku lalui—kehilangan orang tua, kehilangan segalanya, harus berjuang dari nol—akhirnya aku bisa dapatkan keadilan itu."
"Dan kamu dapatkan semua itu dengan kekuatan kamu sendiri, Kirana," Rangga berkata lembut, menatap gadis di pelukannya dengan penuh kekaguman. "Saya cuma bantu di beberapa bagian, tapi kekuatan dan keberanian buat menghadapi semua ini, itu murni datang dari diri kamu sendiri."
Beberapa bulan setelahnya, sebagian aset keluarga Wibowo yang berhasil dikembalikan melalui proses hukum itu diserahkan kembali kepada Kirana, meski nilainya sudah jauh berkurang dibanding kekayaan yang dulu pernah dimiliki keluarganya. Namun bagi Kirana, nilai materi itu terasa jauh kurang penting dibanding kelegaan dan keadilan yang akhirnya ia dapatkan setelah perjuangan panjang yang begitu melelahkan.
"Aku mau sumbangin sebagian aset ini buat yayasan pendidikan," Kirana berkata suatu malam pada Rangga, menceritakan rencananya untuk masa depan. "Aku pengen bantu anak-anak yang mungkin ngalamin kesulitan hidup kayak yang pernah aku alami, kasih mereka kesempatan buat bangkit juga."
Rangga tersenyum bangga mendengar rencana mulia itu, semakin yakin bahwa gadis di hadapannya ini adalah sosok yang begitu istimewa, jauh melampaui apa pun yang pernah ia bayangkan sebelumnya tentang cinta sejati.
"Saya akan dukung sepenuhnya rencana kamu itu, Kirana," Rangga berkata tulus, menggenggam tangan gadis itu erat. "Dan saya rasa, ini saat yang tepat buat saya tanyakan sesuatu yang udah lama saya pikirkan."
Kirana menatap Rangga dengan penasaran, tidak menyangka bahwa malam itu akan menjadi awal dari babak baru yang jauh lebih indah dalam perjalanan cinta mereka berdua.
ini novel saya pertama🥰🥰