NovelToon NovelToon
Kau Rebut Tunanganku, Ku Rayu Gebetanmu

Kau Rebut Tunanganku, Ku Rayu Gebetanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:146.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.

Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.

“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”

Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.

Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.

"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"

Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Kembali ke Vantage Internasional.

Kini tiba saatnya pembacaan keputusan setelah para petinggi Vantage Internasional melihat dan merundingkan semua pengajuan dari semua perusahaan yang hadir. Ruangan yang awalnya begitu penuh dengan obrolan pelan itu seketika menjadi senyap.

Semua orang menunggu dengan dada berdebar. Mata mereka menatap ke arah panggung di mana perwakilan utama Vantage International telah berdiri tegak di sana.

"Setelah menimbang matang-matang usulan kerja sama, kesiapan operasional, struktur kemitraan, hingga hasil perbaikan pasal-pasal kontrak selama beberapa hari terakhir, kami telah menetapkan perusahaan yang dipercaya untuk bermitra dengan Vantage International."

Suasana semakin hening. Semua orang bahkan menahan napas menanti nama yang disebut.

"Proyek ini kami amanahkan kepada..." Perwakilan itu berhenti sejenak. Matanya menyapu ke arah para hadirin sebelum kemudian melanjutkan dengan suaranya yang tegas.

"WIJAYA KUSUMA GRUP.”

Seketika, mata semua orang menoleh ke arah tempat duduk rombongan Wijaya Kusuma. Perlahan suara tepuk tangan terdengar satu satu, lalu semakin banyak. Peserta yang duduk tak jauh dari mereka mengulurkan tangan memberi ucapan selamat.

Nathan hanya menerima uluran itu seraya mengangguk pelan. Wajahnya terlihat biasa. Seolah hasil itu sudah ia duga sejak awal. Alena yang duduk di sampingnya diam-diam menghela napas lega seolah beban berat di pundaknya perlahan luruh.

Sementara itu di sisi lain dari ruangan itu, Reno meremas tangannya erat. Sedangkan Tuan Richard menatap lurus ke arah Nathan dengan sorot mata tajam. Kekalahan ini terasa begitu perih. Sekali lagi mereka dipaksa mengakui keunggulan Wijaya Kusuma Grup.

Ketika pihak Vantage meminta Nathan naik ke atas panggung untuk menyampaikan visi dan misi, pria itu malah menyuruh Alena yang naik. Alena tentu saja terkejut dengan perintah itu. Karena biasanya pemilik perusahaan lah yang maju. Tetapi karena Nathan bersikeras, akhirnya gadis itu pun maju.

Pembawaannya begitu tenang, tak ada sedikitpun riak gugup. Sudah terbiasa baginya berhadapan dengan berbagai situasi maupun orang penting. Di atas panggung, gadis itu berdiri tegak, suaranya jernih dan tegas menyapa seluruh hadirin. Uraiannya lugas dan berisi, memancarkan kecerdasan dan kematangan yang memukau siapa saja yang mendengarnya.

Dari tempat duduknya, Reno terpaku menatapnya. Matanya tak lepas dari semua gerak gadis itu. Ia baru benar-benar menyadari, wanita yang dulu hampir menjadi istrinya itu kini bersinar begitu cemerlang, jauh lebih hebat dan piawai daripada yang pernah ia bayangkan.

Sementara itu, di sisi lain panggung, Nathan menatapnya lekat dengan sorot mata bangga. “Aku tak pernah salah memilih,” gumamnya dalam hati.

Begitu Alena turun dari atas panggung, Nathan segera berdiri sambil merapikan ujung jasnya dengan tenang. Dua direktur yang mendampingi segera ikut berdiri. Satu di antara mereka membawa tablet serta berkas-berkas Alena.

"Kita pergi sekarang," ucap Nathan begitu berhadapan dengan Alena.

Alena segera mengangguk sambil meraih tablet dan berkas-berkas yang diulurkan oleh seorang direktur, lalu berjalan mengikuti Nathan.

Baru beberapa langkah mereka keluar dari ruangan itu, sebuah suara memanggil dari belakang.

"Alena."

Gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh. Begitu pun Nathan yang ada di sampingnya. Bahkan dua direktur juga ikut berhenti lalu berdiri di samping kiri dan kanan Nathan dan Alena dengan posisi agak ke belakang.

Tuan Richard melangkah dengan cepat ke arah mereka, menatap wajah Alena penuh harap.

"Apa boleh Om ingin bicara sebentar denganmu?"

Nathan merasa geram melihat keberadaan Tuan Richard. Apalagi ketika ia melihat ada Reno juga di belakang Richard. Ia tidak suka Alena bicara lagi dengan mereka. Bukan karena meragukan Alena, melainkan karena ia tak ingin ada celah bagi Reno untuk kembali mendekati Alena. Namun, ia juga tak bisa melarang Alena berbicara dengan siapa pun. Akhirnya ia hanya berdiri diam di sisi gadis itu, dengan matanya yang menyorot tajam wajah Reno.

“Ada apa, Om?" tanya Alena.

"Alena, Om ingin meminta maaf padamu," ucap Tuan Richard dengan wajahnya yang terlihat rasa bersalah.

Alena menatapnya tenang. "Kenapa Om minta maaf?”

"Om tidak bisa mendidik Reno, hingga dia melakukan kesalahan besar padamu." Richard menghela napas panjang. "Om tahu kamu pasti benar-benar terluka hari itu. Hari yang seharusnya menjadi kebahagiaan seumur hidup, malah dihancurkan begitu saja olehnya."

"Sudahlah, Om. Itu sudah berlalu. Saya sudah melupakannya," jawab Alena tersenyum tipis.

"Kamu... Kamu tidak sakit hati sama Reno?"

"Tidak." Alena menggeleng pelan. "Saya menganggap semuanya telah selesai. Dan saya tidak ingin mengingat-ingatnya lagi.”

Richard menatapnya lekat-lekat, lalu memasang raut wajah yang tampak tulus sedih. "Alena, apakah selama ini Om pernah bersikap kurang baik padamu?"

Alena terdiam mendengar pertanyaan itu, tapi sedikit kemudian gadis itu menjawab mantap. "Tidak, Om. Selama ini Om sangat baik kepada saya. Bahkan Om lebih memahami dan memperhatikan saya dibandingkan Reno," ucap Alena jujur, sesuai dengan yang selama ini ia rasakan. Bahkan gadis itu pernah merasa Tuan Richard bahkan lebih menyayanginya dibanding Tuan Gunawan.

Namun tanpa seorangpun tahu tangan Nathan perlahan mengepal. Pria itu memang hanya diam, namun dengan matanya yang jeli ia bisa melihat. Tuan Richard bukan orang setulus itu. Orang itu memang terlihat menyayangi Alena, tetapi itu karena Richard memiliki kepentingan besar.

"Kalau begitu..." Tuan Richard masih menatap Alena dengan wajah penuh harap. "Apakah ada kemungkinan hubunganmu dengan Reno bisa diperbaiki?"

Alena tak langsung menjawab, gadis itu menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya menatap wajah Tuan Richard dengan tenang. "Maaf, Om," jawabnya singkat. Namun dua kata itu sudah menyiratkan arti yang jelas dan tegas.

Wajah Tuan Richard seketika berubah. Di balik senyum yang dipaksakan, tangannya mengepal erat. Tidak terima dengan penolakan Alena. Namun ia tetap berusaha terlihat pengertian.

"Om mengerti..." ucapnya pelan. "Namun Om tetap berharap, suatu saat nanti kamu mau memikirkannya kembali. Reno memang keliru besar. Namun Om tahu, dia masih begitu mencintaimu."

Alena tidak menolak ataupun mengiyakan. Baginya, segala hal yang berkaitan dengan Reno sudah menjadi bagian dari masa lalu yang tak ingin ia ulangi lagi.

"Maaf, Om. Saya masih harus menyelesaikan pekerjaan." Alena sedikit membungkukkan badan. "Kalau begitu saya permisi."

"Baiklah." Tuan Richard mengangguk pasrah. “Om senang bisa bicara denganmu. Semoga kita bisa bicara lagi lain hari."

Alena sama sekali tak mengiyakan. Gadis itu membalikkan badannya lalu melangkah pergi bersama Nathan dan dua orang direktur Wijaya Kusuma.

Sepanjang jalan menuju area parkir, tak sepatah kata pun keluar dari mulut Nathan. Sesampainya di samping mobil, Alena membuka pintu penumpang bagian depan di samping kemudi, lalu setelah Nathan masuk dan duduk dengan nyaman, gadis itu dengan geraknya yang lincah berjalan memutar dan masuk di bagian kemudi.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Nathan.

Alena yang baru hendak menyalakan mesin mobil menoleh. "Saya?” tanyanya tak mengerti. "Memang saya kenapa?”

Nathan menatap wajahnya lekat-lekat. "Kamu benar-benar tak ingin kembali padanya?"

Alena memalingkan wajahnya, kembali menatap ke depan sambil menggeleng pelan. Tangannya bergerak tenang memasukkan kunci kontak, memutarnya perlahan hingga terdengar deru mesin yang menyala halus.

"Tidak ada istilah kembali, Tuan," ucapnya tegas dengan mata menatap lurus ke depan. "Yang ada hanya jalan ke depan, dan saya sudah memilihnya."

Alena memindahkan tuas persneling dengan mantap, lalu perlahan melepaskan rem. Mobil pun meluncur pelan, bergerak mulus membawa mereka pergi, menjauh dari segala masa lalu yang tak ingin ia ingat lagi.

Nathan tersenyum tipis mendengar jawaban Alena. "Bagus," ucapnya pelan

Alena spontan menoleh dengan kening berkerut. "Bagus?"

Nathan segera mengalihkan pandangannya, menatap jalanan yang ada di luar jendela. Tidak ingin Alena melihat ekspresi wajahnya.

"Kita masih punya banyak pekerjaan. Jika kamu tidak bisa konsentrasi pada pekerjaan hanya karena masalah pribadi, aku akan rugi karena memberikan gaji yang tinggi padamu."

Alena menghela napas kesal. bosnya itu benar-benar menyebalkan.

1
Elina thea
terharu Melani ternyata sebaik itu....harusnya Richard bersyukur punya istri kayak Melani ketika dia salah tapi masih ada yg mengingatkan
Nar Sih
alena pasti terkejutt nih ,dan sgra dinikah kan sja lebih baik biar nathan sgra jujur
Muft Smoker
setuju ma sikap bu melani ,,
meski cinta dg pasangan tp ttap bersikap tegas ketika pasangan ny melakukan kesalahan 👍👍👍
sunaryati jarum
Bagus Bu Melani,anda memang istri panutan.Tidak mau suami melakukan kejahatan, dengan membiarkan orang telah membunuh keluarga dan merampas hartanya tetapi tidak melaporkan
Nar Sih
good job alena👍
Nar Sih
siap,,kmu hancur selena🤣
Ayuk Witanto
keren Bu Melani
Ayuk Witanto
yah ketahuan
Nar Sih
kasihan sunguh kasihan selena ,rencana mu gagal lgi ,🤣🤣
Sri Angga
istri yg baik,,memberi wejangan KPD suami ny yg punya ambisi harta
Nar Sih
sepertinya alena hnya ank angkat ya ,pantesan beda baget org tua nya
Nar Sih
hahaha 😂😂kasihan selena di buli orang di bilang org gilaa
Adinda
mungkin tuan gunawan dan istrinya dalang pembunuhan orang tua kandung Alena demi merebut harta Alena
Ariany Sudjana
bagus Melani contoh istri yang bijak, tidak mau terbawa arus kejahatan suaminya. harusnya Richard mendengarkan pendapat Melanie, secara tidak langsung kamu terlibat pembunuhan Gautam, dan kalau kamu tidak menyerahkan diri, hukuman yang sangat berat menanti kamu Richard
Sri Rahayu
kacau pikiran Richard...dia diam Melani akan meninggalkanya...kl lapor polisi takut masuk penjara🙃🙃🙃...lanjut Thorr😘😘😘
Ariany Sudjana
sayang Melani keburu ketahuan, seandainya bukti itu bisa di amankan
Ariany Sudjana
bagus Alena, kamu harus menuntut balas atas kematian orang tua kandung kamu, jangan ragu Nathan mendukung kamu. pantas saja semua kerjaan si pelacur ga ada benarnya dibanding kamu, ya jelas bibit bebet bobotnya beda, Alena jauh lebih unggul dibanding si pelacur murahan itu
Noor hidayati
harusnya entah kemana thor🙏
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: astaghfirullah 🤣... oleng 🤣🤭😭🙈
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Ayuk Witanto
apa mungkin hipnoterapi waktu Alena kecil pasca kematian papanya adalah untuk menghapus sebagian ingatan Alena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!