DARK RONIN
Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.
Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Keputusan
Langkah Kakashi tidak menuju ke arah mana pun secara acak. Ia tahu persis ke mana kakinya membawanya — kembali ke jalan yang pernah ia lewati dalam kebingungan, kembali ke gubuk kecil di tengah hutan tempat seorang kakek asing memberinya pedang hitam itu, saat ia masih belum tahu ke mana harus pergi.
Matahari mulai merendah saat ia memasuki kawasan hutan yang rimbun itu. Suasana di sini tenang, jauh dari hiruk-pikuk dunia luar, jauh dari duka yang masih terasa menyayat di dadanya. Angin berhembus lembut menyisir dedaunan, seakan menyambutnya pulang ke tempat yang seharusnya menjadi tempat peristirahatannya. Ia berjalan terus, mengikuti jejak kenangan — melewati sungai kecil yang airnya jernih, melewati pohon tua tempat ia sempat beristirahat, hingga akhirnya gubuk kayu sederhana itu tampak di kejauhan, berdiri tenang di tepi padang rumput yang luas.
Asap tipis mengepul dari cerobongnya, menandakan penghuninya masih ada.
Kakashi memperlambat langkahnya, tangannya merapat ke gagang pedang hitam yang terselip di pinggangnya. Sepanjang perjalanan ke sini, ia memikirkannya berulang kali — pedang ini telah membantunya bertahan, namun juga hampir menelan jiwanya. Ia telah menyaksikan bagaimana kekuatan yang tersimpan di dalamnya bisa mengubah amarah menjadi sesuatu yang gelap dan mengerikan. Dan ia tidak ingin membawa kegelapan itu ke mana pun ia pergi.
Ia melangkah mendekat, lalu berhenti di ambang pintu yang sedikit terbuka.
Dari dalam, terdengar suara batuk halus, lalu suara yang sudah dikenalnya itu terdengar lembut:
"Masuklah, Nak. Aku sudah menunggumu."
Kakashi menarik napas pelan, mendorong pintu itu perlahan. Di dalam ruangan yang hangat dan sederhana itu, kakek tua itu duduk di dekat tungku api yang apinya menyala lembut. Wajahnya keriput namun matanya tetap jernih, seakan ia tahu siapa yang datang bahkan sebelum melihatnya.
"Kakek..." sapa Kakashi pelan, berdiri di tempatnya, tidak melangkah maju.
Kakek itu tersenyum tipis, menepuk tempat kosong di hadapannya. "Duduklah. Perjalananmu jauh, dan beban di pundakmu lebih berat daripada sekadar jarak yang kau tempuh."
Kakashi melangkah maju, duduk di atas tikar anyaman yang tersebar di lantai. Di antara mereka, api kecil di tungku itu mengeluarkan bunyi berdesis halus, memberikan kehangatan yang menenangkan. Namun Kakashi tidak meraihnya. Tangannya tetap di pangkuannya, menahan diri.
"Kau datang untuk mengembalikannya, bukan?" tanya kakek itu pelan, menatap pedang di pinggang pemuda itu. "Bukan sekadar berkunjung."
Kakashi mengangguk pelan. Ia mengeluarkan pedang hitam itu, memegangnya dengan kedua tangan, lalu menyodorkannya ke arah kakek itu dengan hormat.
"Ya, Kakek," jawabnya tenang namun getir. "Pedang ini... terima kasih telah meminjamkannya padaku. Tanpanya, aku mungkin tidak akan bisa sampai sejauh ini. Tapi aku tidak sanggup membawanya lebih jauh."
Kakek itu tidak langsung mengambilnya. Ia menatap wajah Kakashi lekat-lekat, seakan membaca setiap jejak perjuangan yang tertinggal di sana — kelelahan, kesedihan, keraguan, dan ketakutan yang masih tersisa.
"Ceritakanlah padaku apa yang terjadi," ucapnya lembut. "Dari awal. Hingga keputusan ini terbentuk di hatimu."
Dan Kakashi pun bercerita. Ia berbicara panjang lebar, tanpa menyembunyikan apa pun — tentang kedatangan mereka ke kediaman Garo, tentang pertarungan yang tidak seimbang, tentang Shizuka yang gugur di pelukannya, tentang amarah yang meluap dan bisikan yang memanggilnya untuk menghancurkan segalanya. Ia bercerita tentang bagaimana pedang itu seakan hidup, menariknya ke dalam kegelapan, dan bagaimana ia hampir kehilangan dirinya sendiri.
Ia bercerita tentang pengakuan Garo, tentang kedatangan utusan Tuan Daiki, tentang perpisahan dengan Aoi dan Daiki di bukit pemakaman itu. Setiap kata yang terucap terasa melepaskan beban yang selama ini ia pendam sendirian. Matanya berkaca-kaca, namun ia tidak menangis. Ia hanya berbicara, jujur dan apa adanya.
"Jadi..." suaranya pelan saat ia menyelesaikan ceritanya. "Aku menyadari, Kakek. Bukan pedang ini yang menjadi masalah utamanya. Tapi aku belum siap. Aku belum cukup kuat untuk menahan kegelapan yang ikut datang bersamanya. Setiap kali aku marah, setiap kali aku sedih, ia memanggilku. Dan aku takut... suatu hari nanti aku akan menjawab panggilannya itu."
Kakashi menundukkan kepalanya, menyodorkan pedang itu lebih dekat.
"Karena itu, izinkan aku mengembalikannya. Biarkan ia kembali di tempat yang tepat — di tempat yang tidak akan menggunakannya untuk melampiaskan amarah. Aku tidak ingin menjadi alat pembunuh, Kakek. Aku ingin menjadi pelindung. Tapi sepertinya... aku belum pantas memegang kekuatan sebesar ini."
Kakek itu diam cukup lama, menatap pedang hitam di tangan pemuda itu. Cahaya api memantul di permukaan gagang yang berukir wajah iblis itu, membuatnya tampak hidup sejenak. Lalu perlahan, kakek itu mengulurkan tangannya — bukan untuk mengambil pedang itu, melainkan menutup tangan Kakashi yang memegangnya.
"Kau salah paham, Nak," ucapnya lembut namun tegas. "Dengarkan aku baik-baik."
Kakashi mengangkat wajahnya, menatap mata tua itu.
"Pedang ini tidak memilih pemegangnya karena ia kuat atau tidak takut pada kegelapan," lanjut kakek itu. "Ia memilihmu justru karena kau takut. Karena kau merasakan beban membunuh. Karena kau tidak ingin menjadi seperti mereka yang menghancurkan tanpa rasa bersalah."
Kakek itu menarik napas pelan, tangannya tetap menutupi tangan Kakashi.
"Kau bilang kau hampir tersesat? Itu bukan tanda kau lemah. Itu tanda kau manusia. Kegelapan selalu ada di setiap hati, Kakashi. Bukan hanya di pedang ini. Di hatimu, di hatiku, bahkan di hati orang-orang yang paling baik sekalipun. Perbedaannya hanyalah apakah kau membiarkannya menguasaimu, atau kau belajar hidup berdampingan dengannya."
Ia menunjuk pedang itu.
"Pedang ini bukan milikku. Ia tidak pernah menjadi milikku. Ia hanya menunggu seseorang yang siap memahaminya. Dan kau telah membuktikan hari ini bahwa kau lebih siap daripada siapa pun — karena kau sadar akan bahayanya. Orang yang tidak takut pada kekuatan gelap adalah orang yang paling mudah ditelan kegelapan itu."
Kakashi terdiam, kata-kata itu perlahan meresap ke dalam hatinya, menenangkan keraguan yang selama ini menghantui.
"Tapi... bagaimana caranya?" tanyanya pelan. "Bagaimana caranya memegang kekuatan ini tanpa menjadi seperti mereka?"
Kakek itu tersenyum, melepaskan tangannya perlahan.
"Dengan tidak melawannya, dan juga tidak menurutinya," jawabnya. "Akui keberadaannya. Katakan pada dirimu sendiri: ya, aku bisa membunuh dengan ini. Ya, aku bisa menghancurkan siapa saja yang menyakitiku. Tapi aku memilih untuk tidak melakukannya. Aku memilih melindungi. Itulah kekuatan yang sesungguhnya — bukan kekuatan untuk menghancurkan, melainkan kekuatan untuk menahan diri."
Ia menatap Kakashi lekat-lekat.
"Jadi, Nak... kembalilah ke jalanmu. Bawalah pedang ini. Bukan sebagai beban yang kau takuti, melainkan sebagai pengingat. Setiap kali ia memanggilmu, ingatlah: kau tidak sendirian. Dan ingatlah mengapa kau memegangnya — bukan untuk mereka yang telah pergi, tapi untuk mereka yang masih ada dan membutuhkan perlindunganmu."
Kakashi menatap pedang itu di tangannya, lalu perlahan menariknya kembali ke pangkuannya. Ia merasakannya — dingin, namun tidak lagi terasa menakutkan. Ia menyadari bahwa selama ini ia takut pada dirinya sendiri, bukan pada pedang itu.
"Aku mengerti, Kakek..." ucapnya pelan, namun kali ini suaranya lebih mantap. "Terima kasih. Atas semuanya."
Kakek itu tersenyum lega, menepuk bahu pemuda itu.
"Pergilah, Kakashi. Jalanmu masih panjang. Dan ingatlah — rumah ini, hutan ini, akan selalu terbuka bagimu kapan pun kau butuh tempat untuk beristirahat."