Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Erlan Horison berdiri di balik kaca lantai tertinggi gedung Horizon Group, memandang langit Melbourne yang diselimuti awan. Jas hitam yang dikenakannya masih rapi, dasi longgar di leher, dan di tangannya tergenggam segelas whiskey yang hampir tidak tersentuh.
Usianya baru menginjak tiga puluh lima, tapi nama belakangnya sudah cukup dihormati di kalangan bisnis Australia.
Horizon Group, perusahaan yang ia bangun dari nol setelah meninggalkan Jakarta, kini memiliki cabang di tiga negara dan ratusan karyawan.Tapi hari ini, pikirannya tidak sedang berada di angka-angka atau rapat dewan direksi.
Di meja kerjanya, sebuah tablet masih menyala menampilkan informasi dari anak buahnya. Kabar perceraian Aslan dan Naya sudah terdengar di telinga Erlan. Tidak banyak detail, hanya penggalan informasi bahwa gugatan sudah masuk ke pengadilan agama.
Erlan meletakkan gelasnya, lalu mengusap wajahnya kasar. Naya, adalah nama yang selama bertahun-tahun ia coba kubur dalam-dalam.
Dulu, di bangku kuliah, mereka sering duduk di perpustakaan yang sama. Naya selalu membawa buku tebal, rambutnya dikuncir seadanya, dan senyumnya hangat setiap kali mereka berdiskusi soal tugas. Erlan menyukai wanita itu dalam diam. Ia menyukai cara Naya berbicara dengan tenang, cara ia menolak ajakan teman-teman untuk bolos demi menyelesaikan makalah, cara matanya berbinar ketika membahas rencana masa depan. Berkali-kali ia ingin mengucapkan perasaannya, tapi selalu tertahan di ujung lidah.
Sampai suatu hari, Naya datang ke kampus dengan wajah yang sedikit berbeda. Ia bilang sudah dilamar oleh seseroang yang bernama Aslan. Pria yang lebih tua, mapan, dan menurut Naya saat itu, terlihat serius.
Erlan hanya tersenyum dan mengucapkan selamat. Malam harinya, ia duduk sendirian di balkon kamarnya, memandang langit-langit, dan memutuskan bahwa ia tidak bisa tinggal di kota yang sama dengan wanita yang baru saja memilih orang lain. Beberapa bulan kemudian, ia pergi. Meninggalkan Jakarta, meninggalkan semua kenangan, dan memulai segalanya dari nol di Australia.
Tahun-tahun berlalu. Ia membangun Horizon Group dengan tangan dan kepala yang penuh luka yang ia simpan sendiri. Ia pernah mendengar kabar Naya menikah, bahkan kabar tentang penderitaan Naya selama menjadi istri Aslan. Ia tidak mencaritahu soal itu, tapi selalu ada kabar burung yang sampai ke telinganya. Entah dari teman dekatnya, atau teman dekat Naya sendiri.
Sampai hari ini.
Erlan menatap lagi layar tablet. Perceraian. Naya digugat… atau justru menggugat. Ia tidak tahu detailnya. Tapi satu hal yang jelas, wanita itu sebentar lagi sudah tidak terikat dengan Aslan.
Ia berjalan kembali ke meja, membuka laptop, lalu memeriksa email dari divisi HRD. Ada laporan singkat tentang kandidat interview hari ini. Namanya langsung membuatnya berhenti menggulir.
Naya Adriani.
Erlan membaca data itu berkali-kali. Alamat sementara di Melbourne. Latar belakang pendidikan yang sama dengan yang ia ingat. Dan catatan dari HRD, kandidat ditawarkan posisi sekretaris CEO karena posisi sebelumnya sudah penuh.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menutup mata sejenak. Ironi terasa begitu kental. Wanita yang dulu ia suka diam-diam, yang sempat membuatnya meninggalkan segalanya, kini tanpa dia sadari berada di kota yang sama, bahkan sempat duduk di ruang interview perusahaannya.
Erlan membuka mata. Jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Di dalam dada, rasa yang dulu ia kira sudah mati suri perlahan bergerak lagi, bukan lagi seperti dulu, bukan lagi naif, melainkan sesuatu yang lebih dewasa dan lebih hati-hati.
Ia tidak tahu apakah Naya masih mengingat dirinya atau tidak. Tapi yang jelas dia tahu semua tentang wanita itu. Tapi satu hal yang ia pastikan, ia tidak akan membiarkan kesempatan ini lewat begitu saja tanpa memanfaatkannya.
Erlan mengangkat telepon internal. “Hubungi HRD. Saya ingin melihat berkas kandidat yang interview hari ini. Yang bernama Naya Adriani. Kirim ke saya sekarang.”
Setelah menutup telepon, ia berdiri lagi di depan kaca, memandang kota yang mulai menyala. Senyum tipis, hampir tidak terlihat, muncul di sudut bibirnya.
Dulu ia terlambat. Kali ini, ia tidak berniat mengulang kesalahan yang sama.
*****
“Kejarlah, Tuan,” ucap Sam akhirnya, suaranya tenang tapi tegas. “Sekarang dia sudah tidak ada yang memilikinya lagi. Jangan sampai Anda keduluan pria lain seperti sebelumnya.”
Erlan menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit sejenak, lalu menutup mata. Kalimat Sam menusuk tepat di bagian yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku tidak yakin dia akan menerimaku,” ucapnya pelan, nada suaranya kehilangan kepercayaan diri yang biasanya ia pakai di ruang rapat. “Sudah bertahun-tahun, Sam. Kita bukan orang yang sama lagi. Bahkan mungkin dia tidak ingat aku lagi.”
Sam meletakkan tablet di meja, lalu menyilangkan tangan di dada. Ekspresinya serius, seperti seseorang yang sudah terlalu lama melihat bosnya menyimpan sesuatu.
“Anda sahabatnya tuan, tidak mungkin dia tidak mengingat anda. Kalau Anda tidak mencoba, Anda tidak akan tahu. Mau sampai kapan Anda menyimpan perasaan ini? Sudah berapa tahun Anda bangun perusahaan ini sambil membawa nama itu di kepala? Sudah berapa kali saya lihat Anda menolak kenalan hanya karena masih memikirkan seseorang yang bernama Naya itu?"
Erlan membuka mata. Ia menatap Sam, lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Bayangan Naya di masa kuliah muncul lagi. Luka itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya belajar menindihnya dengan kerja, dengan ambisi, dengan kesuksesan yang akhirnya ia raih di negeri orang.
“Aku pergi dari Jakarta karena tidak sanggup melihatnya bersama orang lain,” gumam Erlan akhirnya. “Sekarang dia di sini, di kota yang sama, bahkan sempat duduk di ruang interview perusahaan ini… dan aku masih ragu.”
Sam menghela napas, lalu berbicara lebih pelan. “Ragu itu wajar, Tuan. Tapi menyesal karena tidak mencoba… itu jauh lebih berat. Dulu Anda terlambat karena diam. Jangan sekarang anda ulangi.”
Erlan terdiam lama. Jari-jarinya mengetuk pelan lengan kursi. Di kepalanya, dua pilihan bertarung, tetap menjaga jarak dan membiarkan Naya menjalani hidup barunya tanpa gangguan, atau mengambil langkah kecil, setidaknya memastikan bahwa wanita itu tahu ia masih ada.
Akhirnya ia menegakkan badan, meraih ponsel di meja, lalu menatap layar kosong beberapa detik. “Siapkan data lengkapnya,” perintahnya pelan. “Alamat sementara, nomor yang bisa dihubungi, jadwal kuliahnya kalau ada. Jangan langsung temui. Aku ingin tahu dulu… seperti apa hidupnya sekarang.”
Sam tersenyum tipis, lega. “Baik, Tuan. Saya kerjakan malam ini.”
Setelah Sam keluar, Erlan kembali menyandarkan kepala ke kursi. Di luar, kota terus bergerak. Di dalam dadanya, perasaan yang selama bertahun-tahun ia kunci pelan-pelan membuka diri lagi, bukan dengan keyakinan penuh, melainkan dengan hati-hati dan sedikit harapan yang takut ia akui.
Dulu ia kehilangan Naya karena terlalu lama diam. Dan sekarang tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.
jadi kenapa kamu harus marah?