NovelToon NovelToon
I AM The Mirecle Itself

I AM The Mirecle Itself

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad wahyu

I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

"Monster... Kau monster...!"

Suara sang komandan ksatria tidak lagi menggema angkuh. Hawa murni keemasan tingkat *Master* yang menyelimuti tubuhnya kini bergetar tidak stabil, meredup dan menyala tak beraturan seperti lampu minyak yang kehabisan sumbu. Dua ksatria bawahannya yang tersisa di sampingnya bahkan tidak berani menarik napas. Horor psikologis telah mencengkeram kesadaran mereka hingga ke akar-akarnya.

Di depan mereka, Ren berdiri tegak di tengah kabut yang anyir darah. Remaja *Zero-Core* itu tidak memancarkan hawa membunuh. Tubuhnya sedatar batu mati. Namun, tatapan mata abu-abu keperakannya—sebuah persepsi yang lahir dari riak anomali yang berada di luar yurisdiksi seluruh kategori alam semesta—terasa begitu menembus jalinan eksistensi mereka.

"Kenapa kau gemetar?" Ren bertanya, suaranya terdengar sangat sunyi di tengah hutan yang sunyi. "Kau memiliki kasta *Master*. Statistik kekuatanmu berada di ribuan tingkat di atasku. Bukankah logika duniamu mendikte bahwa yang bermutasi lebih tinggi selalu menang?"

"C-Cukup bualannya!" Sang komandan berteriak histeris, mencoba mengusir ketakutan yang mencekik dadanya. Dia mengangkat pedang emasnya tinggi-tinggi. Seluruh sisa energi Qi murni di dalam tubuhnya diledakkan secara brutal. Bumi di bawah tebing hancur, dan sebuah pusaran energi keemasan raksasa berbentuk bilah pedang setinggi lima puluh meter memadat di udara. Serangan pamungkas tingkat *Master* yang mampu membumihanguskan seluruh isi *The Outer Pit* dalam sekejap.

"Aku tidak tahu trik kotor apa yang kau gunakan untuk membunuh mereka! Tapi di hadapan daya hancur mutlak ini, trikmu tidak akan berguna! Mati kau, kutukan Vaelen!!"

*BUMMM!!!*

Bilah energi raksasa itu dihempaskan ke bawah. Kecepatannya melampaui batas sonik, memicu tekanan udara yang meremukkan pepohonan kuno di sekitar menjadi serpihan. Serangan itu mengunci posisi Ren secara mutlak. Tidak ada ruang untuk menghindar bagi tubuh fisik biasa.

Namun, di bawah mata persepsi tingkat **Survivor**, Ren tidak melihat daya hancur. Dia hanya melihat rentetan garis mekanisme yang bergerak kaku:

* *Aktivasi tebasan: Membutuhkan waktu 0,3 milidetik untuk mencapai tanah.*

* *Titik pelepasan energi murni: Berpusat pada batu kristal magis di hulu pedang emas sang komandan.*

* *Mekanisme pertahanan komandan: Kosong. Seluruh aura pelindung zirahnya dipindahkan untuk memperkuat serangan.*

Ren bergerak. Dia tidak melompat mundur. Sebaliknya, dengan ketenangan yang mengerikan, dia justru melangkah maju lurus menantang terjangan bilah energi raksasa tersebut.

Tepat pada milidetik ke-0,1 sebelum tebasan itu menyentuhnya, Ren melepaskan taring besi raksasa dari bahunya. Menggunakan sisa kawat besi jagal yang terlilit di tangannya, dia melemparkan taring seberat tiga puluh kilogram itu bukan ke arah bilah energi, melainkan langsung ke arah tebing batu tepat di bawah posisi berdiri sang komandan.

*KRAKKK!*

Taring besi mati itu menghantam celah batu penyangga tebing dengan sudut kemiringan yang sangat pas. Batuan tebing yang sudah retak parah akibat ledakan energi sang komandan sendiri mendadak runtuh.

Detik itu juga, posisi berdiri sang komandan goyah. Hulu pedang emasnya bergeser tiga derajat ke arah kiri atas.

*WUSH—BOOM!!!*

Akibat pergeseran tiga derajat itu, arah lintasan bilah energi raksasa setinggi lima puluh meter tersebut meleset total. Tebasan maut itu melintas tepat di samping telinga Ren, membelah hutan kabut di belakangnya hingga membentuk parit menganga sejauh beberapa kilometer, namun tidak menggores sehelai rambut Ren sedikit pun.

Lebih dari itu, sisa gelombang ledakan energi raksasa yang melenceng tersebut menghantam lurus ke arah Gerbang Perbatasan Luar Kekaisaran—sebuah benteng obsidian besar yang berdiri beberapa kilometer di belakang hutan. Benteng yang dilindungi formasi sihir pelindung itu hancur berantakan menjadi puing-puing akibat hantaman serangan dari panglimanya sendiri.

"T-Tidak... Bagaimana mungkin..." sang komandan terjatuh berlutut di atas reruntuhan tebing. Pedang emasnya terlepas, energinya terkuras habis hingga kering. Dia menatap Ren yang berjalan mendekatinya melintasi uap panas sisa ledakan.

Dua ksatria tersisa di sampingnya sudah kabur terbirit-birit ketakutan, mengabaikan kehormatan militer demi melarikan diri dari makhluk Nol yang tidak masuk akal ini.

Ren berhenti tepat di depan sang komandan yang terduduk lemas. Ujung sepatu rombengnya menyentuh hulu pedang emas yang telah mati energinya. Binar abu-abu keperakan di matanya menatap sang komandan tanpa emosi—sebuah getaran horor psikologis yang mutlak.

"Kau menghitung dimensi. Kau menghitung tingkat energi. Kau menghitung kasta kekuatan," ucap Ren rendah, mengambil pedang emas kosong tersebut dan mengarahkannya tepat ke leher sang komandan. "Kau mengorbankan keluargaku belasan tahun lalu murni karena kalian sibuk menghitung angka."

Ren menatap lurus ke dalam mata sang komandan yang dipenuhi air mata ketakutan.

"Sekarang, di hadapan seseorang yang tidak memiliki angka... kenapa kau masih menghitung?"

*SLASH!*

Bilah pedang emas dingin itu berayun tanpa aliran Qi, namun ketajamannya murni memutus urat leher sang komandan. Kepala ksatria tingkat *Master* itu menggelinding jatuh ke atas tanah kotor Hutan Kabut, menyusul runtuhnya simbol pertahanan luar Kekaisaran Ortodoks.

Ren membalikkan tubuhnya, menatap puing-puing Gerbang Perbatasan luar Kekaisaran yang telah hancur terbuka. Jalan menuju pusat peradaban tirani kini terbentang luas di depannya. Di atas sana, di balik hampa udara semesta, sesuatu yang berada di luar seluruh yurisdiksi kategori fiksi tetap mengamati tanpa wujud, tersenyum dari balik ketiadaan makna.

Langkah pertama menuju pembantaian kasta Kekaisaran telah selesai. Dan sang Nol baru saja memulai Level 1 yang sesungguhnya.

1
indah Mayaddah f
Kerja berat tiap hari, di panggil si nol terus di hina tapi Ren diam aja. Sabar sekali dia 😔
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬
Saya biasanya lihat kultivasi, hari ini belajar sihir🤣
Myz Pena
waoow meskioun makhluk itu sebesar bukit kecil namun kekuatannya tidak kaleng - kaleng.. sungguh dahsyat
CNNTAYY
haha rahasia valeria aja sampai ketahuan mana ukuran sepatu dan rambut lagi🤭
iorlif
siapakah sosok tanpa tubuh pasti itu?
Siti Aisyah
Hebat sekali valeria bisa mengalahkan seekor calamity wolf itu👍
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
mampir auhtor. mau tanya mau ikut masuk grup aku gak. saling berbagai ceritaa dan support
Muhammad Wahyu: gimana kak?
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!