NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Penyusupan ke Gudang Zhang

Rencana penyusupan itu disusun dengan sangat hati-hati selama tiga hari penuh.

Zhou Chen tahu, jika mereka bergerak terlalu ceroboh, bukan hanya bukti yang akan hilang—nyawa orang-orang yang terlibat pun bisa menjadi taruhannya. Karena itu, ia melibatkan lebih banyak anggota kelompoknya kali ini, meski tetap menjaga rahasia inti tentang keterlibatan Permaisuri dari sebagian besar dari mereka demi keamanan bersama.

"Zhao Kai akan memimpin tim penyusupan," jelas Zhou Chen kepada kelompoknya yang berkumpul di ruang rahasia bawah tanah kediamannya—tempat yang kini telah berubah fungsi dari sekadar tempat penemuan Mata Dewa menjadi semacam ruang strategi rahasia. "Xiao Hei akan mendampinginya sebagai kekuatan cadangan jika terjadi konfrontasi langsung. Yue Er akan mengawasi dari kejauhan sebagai mata pengintai, memberi sinyal jika ada bahaya mendekat."

"Bagaimana dengan hamba dan Paman Guo, Yang Mulia?" tanya Ah Fu.

"Kalian berdua akan bersiaga di titik pertemuan terdekat, siap membantu jika tim penyusupan membutuhkan jalur mundur yang aman," jawab Zhou Chen. Ia menatap setiap wajah di hadapannya, menyadari beban tanggung jawab yang kini ia pikul sebagai pemimpin kelompok kecil ini. "Aku tidak akan berbohong—ini berisiko. Tapi aku percaya, dengan persiapan yang matang, kita bisa melakukannya dengan aman."

Zhao Kai mengangguk mantap. "Hamba siap, Yang Mulia. Dan hamba yakin, ini bukan pertama kalinya hamba menghadapi misi semacam ini—hanya saja kali ini, hamba melakukannya dengan alasan yang benar-benar hamba percayai."

Malam penyusupan tiba dua hari kemudian, bertepatan dengan malam tanpa bulan yang memberikan kegelapan tambahan sebagai penyamaran alami. Zhou Chen sendiri, meski awalnya berencana menunggu di titik aman seperti biasa, akhirnya memutuskan untuk ikut serta dalam jarak yang cukup dekat—alasannya sederhana namun penting: hanya dirinya yang memiliki Mata Dewa, kemampuan yang bisa memberikan informasi krusial secara langsung tanpa perlu membongkar peti-peti secara fisik yang berisiko tinggi.

"Yang Mulia yakin ingin ikut sedekat ini?" bisik Zhao Kai, saat mereka berdua bersembunyi di balik tumpukan kayu di seberang gudang Zhang, cukup dekat untuk mengamati namun masih tersembunyi dalam bayang-bayang.

"Aku perlu melihatnya langsung," jawab Zhou Chen pelan. "Kalau aku bisa mengarahkan Mata Dewa ke peti-peti itu dari jarak yang cukup dekat, mungkin aku bisa mendapatkan informasi tanpa harus benar-benar membukanya."

Mereka menunggu dalam diam selama hampir satu jam, mengamati pola penjagaan yang mulai familiar dari pengintaian sebelumnya—empat penjaga bergantian mengelilingi gudang setiap beberapa menit, dengan celah waktu singkat di antara putaran mereka.

Tepat seperti yang diperkirakan, sekitar jam sepuluh malam, tiga gerobak mulai mendekat dari arah selatan, roda-rodanya berderit pelan di jalan berbatu yang sengaja dipilih karena jauh dari keramaian.

Zhou Chen mengarahkan pandangannya ke gerobak-gerobak itu begitu mereka cukup dekat, memusatkan konsentrasinya untuk mengaktifkan Mata Dewa semaksimal mungkin.

Analisis Objek — Peti Kargo Isi: Bukan tekstil Kandungan terdeteksi: Serbuk kristal berwarna keunguan, kemungkinan besar Bubuk Sari Bulan—bahan terlarang yang digunakan sebagai penambah kekuatan instan namun sangat merusak meridian jika dikonsumsi berlebihan Jumlah: Diperkirakan cukup untuk memasok kebutuhan ratusan orang selama beberapa bulan Nilai pasar gelap: Sangat tinggi, terutama di kalangan sekte bela diri kecil yang ingin mempercepat kultivasi anggotanya secara instan

Zhou Chen menahan napas, menyadari betapa besar dan berbahayanya operasi ini sebenarnya. Bubuk Sari Bulan bukan sekadar barang selundupan biasa—ini adalah zat terlarang yang bisa merusak fondasi kultivasi seseorang secara permanen jika disalahgunakan, sering kali diperjualbelikan secara ilegal kepada sekte-sekte kecil yang putus asa mencari jalan pintas menuju kekuatan.

Kalau ini benar terhubung dengan Permaisuri, pikirnya, jantungnya berdegup kencang, maka mereka tidak hanya terlibat dalam korupsi biasa. Mereka mendanai operasi yang bisa menghancurkan ratusan nyawa demi keuntungan pribadi.

Ia berbisik pelan kepada Zhao Kai di sampingnya, menjelaskan temuan mengejutkan itu.

Zhao Kai mengepalkan tangannya, ekspresinya mengeras. "Bubuk Sari Bulan... hamba pernah mendengar tentang zat ini saat masih bertugas di militer. Beberapa tahun lalu, ada laporan tentang sekelompok prajurit muda yang kehilangan seluruh kemampuan bela diri mereka secara permanen setelah menggunakannya tanpa tahu risikonya."

Namun sebelum mereka bisa mengumpulkan informasi lebih jauh, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Salah satu penjaga, yang biasanya mengikuti pola putaran yang konsisten, tiba-tiba menyimpang dari rutenya, berjalan lurus ke arah tumpukan kayu tempat Zhou Chen dan Zhao Kai bersembunyi.

"Ada yang mengintai!" teriak penjaga itu, tangannya sudah meraih gagang pedang di pinggangnya.

Zhao Kai bereaksi cepat, menarik Zhou Chen mundur lebih dalam ke bayang-bayang, namun gerakan itu tidak sepenuhnya luput dari perhatian. Suara langkah kaki bergegas mulai terdengar dari berbagai arah—para penjaga lain merespons teriakan rekan mereka.

"Kita harus pergi sekarang, Yang Mulia," bisik Zhao Kai tegas, sudah bersiap dalam posisi bertarung meski berharap tidak perlu benar-benar menggunakannya.

Namun harapan itu segera pupus ketika dua penjaga bersenjata muncul dari sudut gudang, pedang mereka sudah terhunus, mata mereka menyipit tajam ke arah bayangan yang mereka curigai sebagai penyusup.

"Keluar dari sana, atau kami akan menyerang!" seru salah satu penjaga, suaranya keras memecah keheningan malam.

Zhou Chen merasakan jantungnya berdegup kencang, namun ia memaksa dirinya tetap tenang, mengingat kembali pelajaran yang telah ia pelajari selama berminggu-minggu terakhir tentang pentingnya berpikir jernih di tengah tekanan.

Kalau kami bertarung sekarang, ini akan mengungkap identitas kami dan menggagalkan seluruh penyelidikan yang telah kami bangun. Tapi kalau kami hanya lari, mereka mungkin akan tetap mengejar dan mengenali kami.

Zhao Kai, dengan insting militernya yang tajam, segera mengambil keputusan cepat. "Yang Mulia, mundur ke arah timur menuju titik pertemuan. Hamba akan mengalihkan perhatian mereka."

"Tidak, kita pergi bersama—" Zhou Chen mencoba membantah, namun Zhao Kai sudah bergerak lebih dulu, melompat keluar dari persembunyian dengan gerakan cepat yang telah ia latih ulang berkat perbaikan teknik dari Kitab Langit Tanpa Akhir.

Pertarungan singkat namun intens terjadi—Zhao Kai, dengan teknik pedang yang telah disempurnakan, berhasil menahan dua penjaga sekaligus, memberikan cukup waktu bagi Zhou Chen untuk mundur ke arah yang telah disepakati.

Di kejauhan, Yue Er yang mengawasi dari titik pengintaiannya segera memberi sinyal peringatan kepada Ah Fu dan Paman Guo yang bersiaga di jalur mundur, memastikan jalan keluar tetap aman bagi mereka semua.

Setelah pertarungan singkat yang penuh ketegangan, Zhao Kai berhasil melepaskan diri dan bergabung kembali dengan kelompoknya di titik pertemuan, meski dengan luka gores kecil di lengannya.

"Kau terluka," kata Zhou Chen cemas, memeriksa lukanya begitu mereka berkumpul kembali dalam keadaan aman.

"Hanya luka ringan, Yang Mulia," jawab Zhao Kai, meski napasnya masih terengah dari pertarungan tadi. "Yang penting, kita berhasil mendapatkan informasi yang kita butuhkan tanpa terlihat jelas oleh mereka."

Dalam perjalanan pulang, dengan hati yang masih berdebar kencang dari insiden yang nyaris membahayakan nyawa mereka, Zhou Chen merenungkan kembali apa yang baru saja terjadi. Meski mereka berhasil mendapatkan konfirmasi tentang isi sebenarnya dari peti-peti selundupan itu, insiden malam ini juga menunjukkan betapa nyata dan berbahayanya ancaman yang mereka hadapi.

Kami hampir tertangkap, pikirnya, menatap Zhao Kai yang lukanya kini sedang diobati Yue Er dengan hati-hati. Kalau ini terjadi lagi, mungkin kami tidak akan seberuntung ini.

Namun di sisi lain, informasi yang mereka dapatkan malam ini—bukti konkret tentang Bubuk Sari Bulan yang diselundupkan dalam skala besar—memberikan mereka senjata yang jauh lebih kuat untuk menghadapi Pejabat Zhang dan, kemungkinan besar, pihak-pihak yang berada di baliknya.

Keesokan harinya, ketika ia melaporkan hasil penyusupan itu kepada Zhou Ming, sekutunya itu mendengarkan dengan seksama, wajahnya semakin serius seiring cerita berlanjut.

"Bubuk Sari Bulan," gumam Zhou Ming, mengulangi nama zat terlarang itu dengan nada penuh perhitungan. "Kalau ini benar, skalanya jauh lebih besar dari yang kita bayangkan sebelumnya. Ini bukan lagi sekadar korupsi kecil-kecilan—ini adalah operasi yang bisa menghancurkan reputasi, bahkan mungkin stabilitas seluruh kerajaan jika terungkap ke publik secara tidak terkendali."

Zhou Chen mengangguk, menyadari bahwa mereka kini berada di persimpangan penting. Bukti yang mereka miliki sudah cukup kuat, namun cara mengungkapkannya kepada dunia—tanpa membahayakan diri mereka sendiri atau memicu kekacauan politik yang tidak terkendali—akan menjadi tantangan besar berikutnya yang harus mereka hadapi.

Bersambung ke Bab 16 — Keputusan Berat

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!