Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar tak pernah berubah : 04
Ponsel tergeletak di atas tempat tidur, menyala dengan suara dering pelan. Baru saja mati layarnya, kembali menampilkan gambar deburan ombak beratap langit senja.
Panggilan beruntun itu dari nama kontak — Mas Fahmi. Sayangnya pemilik ponsel baru saja resmi menyandang status istri dari pria telah melepas masa duda.
Di lantai bawah, Saniya duduk berhadapan bersama pria yang akan memasukkan ring cincin polos dari emas putih di jari manisnya.
Ia tampak ragu mengulurkan tangan kiri, jemarinya menggenggam, lalu tangan kanan yang terangkat ke depan.
Tangan Saniya masih menggantung di udara, pria berstatus suaminya melirik lengan tertutup selendang dalam pangkuan gaun pengantin polos bahan linen.
“Disini saja,” pinta suara pelan, meski sudah mengusahakan setenang mungkin, tetap hatinya bergetar dengan perasaan melankolis.
Cincin pun dimasukkan sampai ujung pada jari berkuku putih tanpa memakai kutek.
Giliran Saniya yang memasangkan cincin sama seperti yang dikenakannya, tetapi lebih lebar sedikit.
Pemasangan cincin telah usai, Saniya mencium takzim punggung tangan pria yang mengelus pucuk kepalanya.
Tak ada napas tertahan, darah berdesir, dan detak jantung berpacu. Sepasang suami-istri itu sama-sama bersikap hangat tetapi dingin dalam hati.
Acara sederhana tersebut benar-benar hanya dihadiri kedua belah pihak keluarga mempelai, pak penghulu, dan fotografer, serta pelayan hunian Hadi berjumlah lima orang terdiri dari asisten rumah tangga, lalu sopir pribadi.
Putra-putri Yarash Wilman tidak ikut serta, dan belum pernah ditemukan dengan ibu tiri mereka.
“Nak, selamat menempuh hidup baru, semoga rumah tanggamu rukun selalu,” papa Gustav hampir tidak mampu menyelesaikan kalimatnya, tertelan oleh suara isak tangis yang sedari tadi dia tahan.
“Maafkan Papa, Saniya.” Dipeluknya wanita yang bersikap santun, tidak menangis maupun matanya berkaca-kaca.
Saninya mengelus punggung pria yang dulu, sudah sangat lama, bahkan kerap kali ingatan memudar ketika dia bermain kuda-kudaan di atas punggung ayahnya, dan disemangati oleh almarhum Yuga Hadi.
“Gak ada yang perlu dimaafkan, karena memang bukan salah Papa. Saniya mengerti, paham, kalau sampai sekarang kalian belum ikhlas atas kepergian mas Yuga. Gapapa, Pa. Sungguh.” Saniya menarik tubuhnya sampai pelukan mengendur, ia tersenyum lebar menatap sedikit lama wajah pria pernah menjadi pelindung terhebatnya.
Ditatap lekat dengan sorot mata hambar, jantungnya seperti ditusuk benda tajam tak kasat mata. Papa Gustav menggigit bibir bagian dalam demi menahan gumpalan rasa menyesakan dada.
Saniya bergeser dengan tangan kanan menarik kaki palsunya, dia mundur sedikit, lalu ketika hendak bersimpuh badannya ditarik dan dipeluk. Tepat pada pusara telinga, suara dingin menusuk menembus sampai relung hati.
“Jangan pernah kamu menganggap jika pernikahan ini sepadan dengan apa yang sudah dirimu perbuat 18 tahun lalu. Putra kebanggaanku tidak akan pernah bisa hidup kembali, semua itu karena keegoisanmu. Camkan itu!” mama Amira berbisik dengan suara rendah, mata terpejam menyembunyikan ekspresi kejam.
“Sampai mati pun aku gak akan lupa, Ma. Terima kasih sudah mengingatkan.” Saniya melerai pelukan, meraih tangan ibunya lalu mencium takzim, menghayati kedekatan yang mungkin kedepannya tidak pernah terjadi lagi.
Sungkeman pun beralih ke ibu dan ayah mertuanya. Ia perlakuan sosok tua tersebut sama seperti kedua orangtuanya sendiri. Tatapan sopan, sikap menghormati.
Mama Fitria dan papa Darius, belajar berlapang dada menerima menantu tidak sempurna secara fisik, namun memiliki kepribadian sopan, adab bagus, dan pembawaan diri tenang.
Sesi acara memasuki puncaknya yakni, foto keluarga, lanjut menyantap hidangan bentuk syukuran sederhana.
“Mas, aku naik ke kamar untuk ganti baju ya, biar bisa cepat pergi. Kasihan anak-anak kalau ditinggal terlalu lama,” alasannya masuk akal demi menutupi fakta sesungguhnya.
Begitu akad selesai, segera angkat kaki dari sini!
Sehari sebelum waktu ini tiba, Saniya di usir oleh ibunya dengan kalimat tidak diperhalus demi menjaga perasaan putrinya sendiri.
“Apa perlu saya bantu membawa barang-barangmu?” pria berpeci hitam, kemeja putih dan celana senada lalu memakai jas warna gading, menawarkan bantuan.
“Tidak perlu, Mas. Barangku tidak banyak, lagian ada lift.” Saniya menolak, enggan mengizinkan seseorang memasuki kamarnya.
Yarash mengangguk, tidak berniat memaksakan diri.
.
.
Ketika sudah masuk ke dalam kamar, hal pertama yang menarik mata adalah, ponsel masih menyala sampai baterai tersisa 11 persen.
Saniya mendongak demi mencegah air mata yang tiba-tiba membuat matanya memanas. Jarinya gemetaran membuka pesan berantai dikirim dengan jeda waktu berdekatan.
Mas Fahmi; Niya, bisa jelaskan ke Mas, ini maksudnya apa?
Video yang tadi dikirim oleh Fauzia, dishare ke ponsel kekasihnya. Fahmi Basya masih enggan percaya.
‘Ya, hari ini Saniya menikah. Tolong lupakan aku, anggap saja hubungan yang sudah terjalin 4 tahun lamanya, tak pernah ada.’
Balasan dikirim, lalu ponsel dimatikan, dan dimasukan kedalam shoulder bag warna hitam yang biasa dipakai untuk menyimpan barang pribadi ketika berpergian.
Saniya berganti pakaian dengan mengenakan dress longgar baby blue polos yang panjangnya mencapai pergelangan kaki, lengan sesiku.
Penahan sanggul sederhana dilepas, dan rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Gaun pengantin polos warna putih kiriman dari ibu mertuanya, dimasukkan ke dalam koper.
Wanita baru saja mengakhiri masa lajangnya, enggan menatap lama kamar teramat sederhana bila dibandingkan dengan kamar Fauzia Serla.
Kamar tidur Saniya hanya terdapat satu ranjang ukuran cukup satu orang, lemari pakaian dua pintu karakter Hello Kitty, meja rias pendek warna pink, dan warna cat dinding memudar terdapat banyak coretan pulpen, pensil pewarna.
Ini kamar Saniya sedari dia berumur tujuh tahun, sampai sekarang tidak berubah, dibiarkan tetap begitu saja.
Dua koper besar bagian sisi bawah terdapat goresan lecet, ditarik sepasang tangan. Saniya keluar dari kamar masa kecil, lalu masuk ke dalam lift yang khusus dibuat untuknya, namun meninggalkan luka dalam hati.
Pertengkaran hebat kedua orangtuanya, telah mengajarkan dia lebih baik diam daripada bersuara mengutarakan keinginan berujung biduk rumah tangga ayah dan ibunya terancam selesai di meja hijau pengadilan agama.
***
Koper besar tadi sudah dimasukkan ke dalam mobil, Saniya melambaikan tangan tidak benar-benar tertuju kepada siapapun, hanya formalitas demi menutupi kenyataan pahit jika dirinya layaknya orang asing di rumah orang tuanya sendiri.
Mobil pribadi Yarash Wilman melaju dengan dikemudikan seorang sopir.
‘Mas Yuga, Saniya telah menjadi seorang istri, dan sekarang sudah gak tinggal lagi bareng Mama, Papa, dan Zia,’ adunya ke sosok tinggal nama.
“Kalau kamu lelah, istirahatlah dulu. Perjalanan ke rumah kita masih jauh, sekitar satu setengah jam baru sampai.” Yarash membuka jasnya, menaruh di bagian tengah tempat duduk.
Respon Saniya hanya berupa anggukan, dia duduk di ujung jok mobil Land Cruiser hitam mengkilap. Memandangi jalanan raya dibalik kaca jendela gelap.
Entah karena betulan lelah, atau hatinya tengah gundah, Saniya tertidur dengan kepala bersandar di samping jok menyentuh jendela.
Sementara Yarash Wilman, sibuk dengan pekerjaan sempat tertunda dikarenakan akad nikah sederhana.
***
Dua puluh menit sebelum tiba di hunian Yarash, Saniya terjaga tanpa dibangunkan.
Saat laju mobil memasuki halaman empat kali lipat luasnya dibandingkan hunian Hadi — Saniya melirik anak laki-laki sedang berdiri di teras dan hanya memakai popok bayi. Kedua tangannya memegang pedang mainan.
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...