Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OBSESI MULAI TUMBUH
Kalimat "Anda bukan prioritas saya" seharusnya menjadi tembok beton yang memisahkan Vania dari Kevin. Sayangnya, bagi pria yang egonya setinggi langit dan otaknya terbiasa memecahkan konspirasi tingkat tinggi, kalimat itu bukan sebuah penolakan. Itu adalah sebuah tantangan.
Kevin tidak menerima jawaban yang terlalu mudah. Logikanya sebagai antagonis utama menolak fakta bahwa wanita yang dulu mengejarnya mati-matian, lalu sempat beralih mengejar Raka, tiba-tiba bisa pensiun dari drama percintaan hanya karena alasan "efisiensi". Pasti ada niat terselubung. Pasti ada agenda tersembunyi. Dan Kevin, dengan segala kesombongannya, bertekad untuk membongkar topeng Vania sampai ke akar-akarnya.
Maka, dimulailah apa yang dalam kamus hukum modern disebut sebagai stalking, tapi dalam kamus sinetron 90-an disebut sebagai "perhatian intens".
Keesokan harinya, Vania memutuskan untuk beradaptasi dengan dunia barunya. Karena tidak ada mesin kopi espresso, dia nekat menumbuk biji kopi sangrai menggunakan cobek batu besar di dapur, lalu menyeduhnya dengan air panas dan es batu dari kulkas. Dia menamai racikan itu "Es Kopi Susu Gula Aren Versi Miskin", dan sedang menikmatinya di bangku taman sambil membaca majalah mode yang sudah kedaluwarsa tiga bulan.
Tiba-tiba, Vania merasakan tatapan itu lagi.
Dia menoleh perlahan. Di balik pilar marmer putih di taman—pilar yang diameternya mungkin hanya tiga puluh sentimeter—terdapat sepasang sepatu kulit hitam mengkilap, celana bahan hitam, dan sebagian bahu bidang yang jelas-jelas tidak bisa disembunyikan oleh pilar sekecil itu.
Vania menghela napas, memijat pangkal hidungnya. Ini CEO konglomerat atau anak SMP yang lagi naksir teman sekelasnya? batinnya. Dia menatap "kamera" imajinernya. Kalian lihat kan? Dia pikir dia tidak terlihat. Padahal jasnya aja ketahuan separuh. Tolonglah, Tuan Kevin, harga diri Anda sebagai penjahat kejam ada di mana?
Vania sengaja tidak menegur. Dia kembali menyeruput es kopinya. Tapi tepat saat dia menunduk, dia melihat bayangan lain di rumput. Kevin sudah pindah posisi, sekarang bersembunyi di balik pot bunga raksasa.
Facepalm. Vania benar-benar menutupi wajahnya dengan tangan. Namun, di balik rasa malu dan geli itu, sebuah sensasi aneh merambat di punggungnya. Tatapan Kevin yang begitu intens, begitu fokus, dan begitu gelap... membuat bulu kuduknya meremang. Pria ini tidak main-main. Dia benar-benar mengawasinya seperti elang yang mengincar mangsa.
Situasi ini makin konyol saat makan siang di ruang makan.
Kevin duduk di ujung meja, memegang koran bisnis. Vania duduk di seberangnya, mengunyah roti tawar. Sesekali, Vania melirik ke arah koran di tangan Kevin.
Koran itu terbalik, batin Vania datar. Teksnya menghadap ke langit-langit. Dia bahkan tidak sadar.
Di sudut ruangan, Tante Ratna dan Raka sedang minum teh. Mereka melihat gelagat Kevin yang kaku dan Vania yang acuh tak acuh.
"Kasihan sekali," bisik Tante Ratna pada Raka, suaranya cukup keras untuk didengar satu ruangan. "Vania pasti sedang melakukan atraksi barunya. Dulu dia pura-pura pingsan di depan Kevin, sekarang dia pura-pura tidak peduli. Dia hanya ingin perhatian."
Raka mengangguk pelan, wajahnya penuh dengan tatapan merendahkan. "Dia tidak akan pernah berubah. Selalu mencari cara untuk membuat Kevin memperhatikannya."
Vania menelan rotinya, menatap Raka dan Tante Ratna dengan tatapan mati rasa. Kalian ini nonton sinetron apa? Aku di sini cuma mau makan roti, tapi kalian malah bikin narasi sendiri. Otak kalian perlu di-update ke versi 2026, guys.
Puncak dari keanehan ini terjadi saat Vania memutuskan untuk tidur siang. Dia terbangun karena merasa ada yang menatapnya. Dia membuka satu mata, dan melihat celah pintu kamarnya yang terbuka sekitar lima sentimeter. Di celah itu, ada satu mata hitam pekat yang sedang menatapnya. Mata Kevin.
Vania langsung menutup matanya rapat-rapat, pura-pura masih tidur, tapi tangannya meraba ke arah nakas, mencari sesuatu yang bisa dia lempar. Ini sudah di luar batas. Aku butuh senjata.
Karena dunia ini tahun 90-an dan pepper spray belum dijual bebas di Indomaret, Vania terpaksa berimprovisasi. Sore harinya, dia menyelinap ke dapur. Dia mengambil cabai rawit merah paling pedas, bawang putih, dan cuka. Dengan bantuan blender tua yang berisik seperti mesin traktor, dia menghaluskan semuanya hingga menjadi bubur merah yang menyengat.
Cairan kental dan berbau tajam itu dia saring, lalu masukkan ke dalam botol parfum kaca kosong bekas Chanel No. 5 yang dia temukan di lemari Vania asli. Dia memasang spray nozzle dari botol parfum lain.
Voila. Senjata taktis edisi 90-an. Vania memasukkan botol parfum berisi cairan pedas itu ke dalam tas Hermes-nya, tepat di sebelah survival kit-nya. Coba saja kau mendekat dengan niat aneh, Tuan Kevin. Wajah tampanmu akan melepuh dalam tiga detik.
Malam harinya, makan malam keluarga digelar. Suasana di ruang makan terasa lebih tegang dari biasanya. Pak Darmawan duduk di ujung meja, mengetuk-ngetukkan tongkatnya. Tante Ratna dan Om Reza duduk dengan senyum palsu, sementara Raka menatap piringnya. Kevin duduk di sebelah kanan Pak Darmawan, wajahnya datar.
Vania duduk di seberang Kevin, sibuk memisahkan wortel dari nasi gorengnya. Dia berharap makan malam ini berjalan cepat dan membosankan.
Tiba-tiba, Kevin meletakkan garpunya. Suara denting logam itu membuat seluruh ruangan hening. Semua mata tertuju padanya.
"Pak," ucap Kevin, suaranya berat dan bergema, menatap Pak Darmawan. "Saya punya pengumuman."
Pak Darmawan mengangkat alisnya. "Pengumuman apa, Kevin?"
Kevin tidak menatap Pak Darmawan. Dia menoleh perlahan, menatap lurus ke arah Vania. Tatapan itu gelap, posesif, dan penuh dengan kemenangan seorang predator yang baru saja menutup jebakannya.
"Mulai besok," ucap Kevin, suaranya datar namun mematikan, "Vania akan menemaniku ke kantor setiap hari."
Hening.
Garpu Tante Ratna jatuh ke piring. Mata Raka terbelalak. Vania, yang sedang memegang sendok nasi goreng, membeku. Sendok itu berhenti di tengah jalan, nasi gorengnya hampir jatuh kembali ke piring.
Ke kantor? batin Vania, otaknya berputar cepat. Setiap hari? Ke kantor Kevin? Itu sarang ular! Itu markas villain! Kenapa?!
"Kenapa Vania harus ke kantormu?" tanya Raka, suaranya sedikit meninggi karena tidak nyaman. "Dia tidak bekerja di perusahaanmu, Kevin."
"Dia akan menjadi asisten pribadiku," jawab Kevin tanpa berkedip, matanya tetap mengunci Vania. "Aku ingin mengawasinya. Aku ingin memastikan dia tidak lagi membuat keputusan yang... tidak logis."
Vania menatap Kevin. Pria itu tersenyum tipis. Senyuman yang sama sekali tidak mencapai matanya. Senyuman yang berkata: Kau bilang aku bukan prioritasmu? Mari kita lihat bagaimana kau bertahan ketika aku menjadi satu-satunya hal yang kau lihat setiap hari.
Vania menelan ludah, tangannya secara refleks meraba tas Hermes-nya yang tergantung di sandaran kursi, memastikan botol parfum berisi cabai rawit itu masih ada di dalamnya.
BERSAMBUNG...