Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pawai Besi dan Debu
Bumi tidak lagi bergetar karena sihir, melainkan karena beratnya baja murni.
Tiga hari setelah kepergian utusan Kekaisaran, Faksi Ketiadaan memulai pawai kematian mereka menuju utara. Meninggalkan batas-batas Sektor Empat dan Kastil Adiwangsa yang kini dialihfungsikan sepenuhnya menjadi pabrik senjata raksasa, sebuah armada darat yang belum pernah disaksikan oleh sejarah dunia sihir merayap membelah benua.
Mereka tidak menunggangi kuda perang berzirah atau kapal udara yang anggun. Pasukan hibrida Kaelen bergerak menggunakan Behemoth Darat—kendaraan tempur raksasa beroda rantai yang digerakkan oleh reaktor mesin uap bertekanan tinggi. Cerobong-cerobong bajanya memuntahkan pilar asap hitam pekat yang menutupi langit siang, menciptakan malam buatan di mana pun mereka melintas. Di atas geladak kendaraan-kendaraan raksasa ini, lima ribu prajurit Garda Ketiadaan berdiri dalam diam, menggenggam senapan laras panjang mereka dengan disiplin absolut yang ditanamkan oleh Jenderal Kael.
Di kendaraan komando utama yang posisinya berada di tengah formasi, Kaelen berdiri di ujung geladak observasi. Angin utara yang membekukan menerpa wajahnya, namun ia tidak merasakan dingin.
Dunia di mata Kaelen bukan lagi lanskap fisik yang puitis. Hutan pinus yang membeku, perbukitan berbatu, dan langit kelabu di hadapannya telah diretas oleh Inti Leviathan dan gauntlet obsidiannya menjadi sebuah matriks data. Retinanya menangkap aliran suhu, kepadatan oksigen, dan yang paling penting: konsentrasi mana di udara. Ia bisa melihat resonansi sihir dari jarak puluhan kilometer jauhnya, berdenyut seperti urat nadi yang bercahaya di cakrawala utara.
"Kita akan mencapai Dataran Tunduk dalam waktu dua jam," lapor Jenderal Kael, melangkah mendekat dengan peta gulung di tangannya. Suara derak roda rantai kendaraan membuat Kael harus berteriak agar terdengar. "Itu adalah dataran terbuka. Jalur paling cepat menuju Ibukota, tapi juga tempat yang paling tidak menguntungkan untuk pasukan darat. Jika Koalisi Lima Klan mengirim pasukan pelopor mereka, mereka pasti akan mencegat kita di sana."
Kaelen tidak mengalihkan pandangannya dari cakrawala. "Kepadatan mana di utara meningkat empat ratus persen sejak satu jam yang lalu. Mereka sudah di sana, Jenderal. Gabungan dari Klan Terra dan Klan Glacial. Aku bisa melihat struktur sihir pelindung mereka membentuk dinding raksasa sejauh lima kilometer."
Kael mengerutkan kening, mencoba menatap ke arah yang sama, namun matanya hanya melihat kabut tebal. Kemampuan Kaelen untuk memindai sihir dari jarak sejauh ini sepenuhnya berada di luar akal sehat.
Di sudut geladak observasi, Lyra dan Dokter Silas duduk di atas peti amunisi. Lyra sedang mengasah belatinya, sementara matanya tak lepas dari punggung Kaelen. Pemuda itu berdiri terlalu tegak. Bahunya tidak bergerak saat bernapas. Gauntlet obsidian di lengan kanannya terus memancarkan dengungan frekuensi rendah yang membuat telinga berdenging.
"Dia belum tidur sejak kita meninggalkan kastil," bisik Lyra pada Silas. "Apakah mesin di lengannya itu juga menghilangkan kebutuhannya untuk beristirahat?"
Silas menghela napas berat, wajah tuanya terlihat semakin lelah di bawah cahaya langit yang mendung. "Artefak itu mendaur ulang energi kehidupan di sekitarnya untuk menjaga sel-sel Kaelen tetap prima. Secara fisik, dia berada di puncak evolusi biologis. Secara mental... dia berada di ambang ketiadaan. Mesin itu mendikte respons emosionalnya. Sebentar lagi, dia tidak akan tahu bedanya antara membunuh musuh atau menebang pohon."
Tepat dua jam kemudian, kabut utara tersapu oleh angin kencang, menyingkap pemandangan yang membuat darah seluruh pasukan Faksi Ketiadaan berdesir.
Di ujung Dataran Tunduk, benteng raksasa telah berdiri tegak memotong jalur mereka. Namun itu bukan benteng batu biasa. Itu adalah mahakarya sihir dari lima puluh ribu pasukan pelopor Koalisi Klan. Klan Terra (Bumi) telah mengangkat tanah dan batu menjadi tembok setinggi tiga puluh meter, sementara Klan Glacial (Es) melapisinya dengan es abadi yang memantulkan cahaya menyilaukan. Di atas tembok tersebut, ribuan ksatria elemen berdiri rapat, panji-panji mereka berkibar menantang.
Armada Behemoth Darat milik Kaelen berhenti perlahan. Mesin-mesin uap mereka mendengus kasar, seolah monster besi yang sedang bersiap menerjang.
Di atas tembok es raksasa musuh, sosok komandan Klan Terra maju ke tepi. Suaranya diperkuat oleh sihir angin hingga bergema ke seluruh dataran.
"Pasukan pemberontak dari Sektor Empat!" suara sang komandan menggelegar, penuh dengan kebanggaan ksatria masa lalu. "Kalian berdiri di hadapan Tembok Keputusasaan! Senjata kotor kalian tidak akan bisa menembus perisai es abadi kami! Menyerahlah sekarang, atau kami akan mengubur kalian semua di bawah dataran ini hidup-hidup!"
Rexor yang berdiri di geladak meriam utama meludah ke samping, menyeringai buas memamerkan gigi emasnya. "Tembok Keputusasaan? Nama yang bagus untuk sebuah kuburan raksasa."
Kaelen mengangkat tangan kirinya, memberikan isyarat visual kepada seluruh armada.
"Jenderal Kael," perintah Kaelen, suaranya tenang, mengalir jernih melintasi hiruk-pikuk mesin. "Maju seribu meter. Masuk ke dalam jarak efektif meriam. Rexor, siapkan Null-Bringer."
"Tapi Tuanku, jika kita maju seribu meter, kita akan masuk ke dalam jangkauan panah sihir mereka!" protes Jenderal Kael.
"Laksanakan." Hanya satu kata, tajam dan absolut. Tidak ada ruang untuk diskusi.
Armada raksasa itu kembali bergerak maju. Melihat mesin-mesin baja itu merangsek mendekat, komandan musuh di atas tembok memberikan perintah tembak.
Langit di atas Dataran Tunduk seketika berubah warna. Puluhan ribu panah es yang menyala biru, bongkahan batu meteor magis, dan tombak air bertekanan tinggi dilontarkan melengkung dari balik tembok es, jatuh seperti hujan kiamat ke arah armada Kaelen.
Para prajurit Garda Ketiadaan secara insting merunduk di balik pelat baja kendaraan mereka. Namun Kaelen tetap berdiri tegak. Saat hujan sihir mematikan itu berjarak seratus meter dari armada, Kaelen mengangkat gauntlet obsidian kanannya.
Domain Null meledak dari lengannya, bukan berbentuk pusaran, melainkan menciptakan kubah pelindung transparan berwarna ungu kelam yang menutupi seluruh armadanya. Saat puluhan ribu serangan sihir musuh menghantam kubah ketiadaan tersebut, keajaiban mematikan kembali terjadi.
Batu-batu meteor magis itu kehilangan massanya dan hancur menjadi pasir biasa yang berjatuhan ringan ke atas atap baja kendaraan. Panah-panah es abadi menguap seketika menjadi kabut tak berbahaya. Hujan kiamat yang seharusnya meratakan pasukan Kaelen berubah menjadi sekadar gerimis debu kotor.
Di atas tembok es musuh, kepanikan meledak. Para ksatria elemen membelalakkan mata, tidak percaya melihat serangan gabungan dari dua klan besar dihancurkan tanpa sisa.
Kaelen menurunkan lengannya perlahan, menatap tembok es raksasa di depannya dengan mata ungu yang menyala buas.
"Giliran kita," bisik Kaelen. "Rexor."
"Beri mereka neraka!" raung Rexor, menarik tuas merah di konsol meriam utamanya.
Empat meriam Null-Bringer raksasa memuntahkan api dan asap tebal. Peluru-peluru berukuran raksasa yang diisi dengan serbuk batu obsidian mati melesat membelah udara dengan kecepatan supersonik, menghantam telak bagian tengah Tembok Keputusasaan.
Ledakan yang terjadi tidak menghasilkan api, melainkan badai vakum hitam. Serbuk obsidian mati menyebar di permukaan es abadi, langsung menghisap seluruh energi mana yang mengikat partikel es dan batu tersebut. Tembok yang diklaim tak bisa ditembus itu mulai berderak mengerikan. Keajaibannya lenyap. Es abadi retak, hancur, dan mencair dalam hitungan detik.
Fondasi batu di bawahnya, yang kehilangan sihir penopangnya, tidak sanggup menahan berat temboknya sendiri. Dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga, Tembok Keputusasaan runtuh ke depan, menimpa puluhan ribu ksatria elemen yang berada di bawahnya dan di atasnya. Jeritan kematian tertelan oleh longsoran batu dan air es.
Dari balik reruntuhan tembok yang runtuh, ribuan ksatria elemen yang selamat mencoba merangkak mundur, kebingungan dan dipenuhi teror murni. Sihir perlindungan mereka padam, senjata mereka rusak, dan formasi mereka hancur berantakan.
Kaelen tidak memberi mereka waktu untuk bernapas. Ia melompat dari geladak kendaraan komando, mendarat di atas tanah berlumpur dengan dentuman keras.
"Garda Ketiadaan, serbu!" perintah Jenderal Kael melalui pengeras suara magis yang telah dimodifikasi.
Lima ribu prajurit hibrida melompat turun dari kendaraan tempur mereka. Senapan uap mereka diangkat. Tanpa perlu merapal mantra atau memusatkan mana, mereka memuntahkan badai peluru logam murni ke arah para penyihir yang kini berlarian tanpa pelindung. Darah membasahi Dataran Tunduk, mewarnai es yang mencair menjadi merah pekat.
Di tengah pembantaian massal itu, Kaelen berjalan lurus menembus kekacauan. Para ksatria musuh yang mencoba menyerangnya dengan sisa-sisa sihir mereka mendapati energi mereka tersedot paksa saat mereka berjarak lima meter dari pemuda itu. Kaelen mengayunkan gauntlet obsidiannya, menghancurkan zirah dan tubuh musuh dalam satu hantaman kinetik, membuka jalan setapak yang dipenuhi mayat.
Ia berhenti di depan komandan Klan Terra yang kini tergeletak dengan kaki terjepit reruntuhan batu, menatap Kaelen dengan mata terbelalak.
"Kau... monster tanpa jiwa..." isak sang komandan, memuntahkan darah.
Kaelen menatap pria itu, kepala dimiringkan sedikit layaknya mesin yang sedang memproses data. "Jiwa adalah kelemahan yang menghalangi kebenaran mutlak. Dan kebenaran mutlaknya adalah... sihir kalian sudah usang."
Kaelen mengangkat sepatu botnya, dan mengakhirinya.
Di balik awan mendung, arah menuju utara kini terbuka lebar. Ibukota Kekaisaran tinggal berjarak seratus mil jauhnya. Dan sang Anomali membawa kiamat di tangan kanannya.