NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Topeng di Balik Senyuman

Langkah kaki Alya di tangga kayu rumahnya terasa begitu berat, namun bukan lagi sekadar beban tubuh 72 kilogram yang menyangganya. Ada beban kebencian yang amat pekat, berkecamuk menghantam dada kirinya. Setiap kali ia melangkah down menuju lantai bawah, bayangan pisau berburu berpola unik yang menusuk perut dan dadanya terus berputar bagaikan kaset rusak di dalam kepala.

Jebakan... Semuanya adalah jebakan sejak awal, batin Alya. Tangannya yang gempal mencengkeram erat pegangan tangga hingga buku-buku jarinya memutih.

Ketika kakinya memijak lantai ruang tamu, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok yang duduk bersisian di sofa berenda milik keluarganya.

Di sana, Rendy duduk dengan kemeja biru muda yang disetrika rapi—tampak persis seperti pria sopan, hangat, dan rendah hati yang dulu berhasil meluluhkan hati Alya yang dilanda rasa percaya diri rendah. Dan di sebelahnya, Siska duduk anggun berbalut gaun kasual berwarna pastel, tersenyum manis seraya membantu ibu Alya menata cangkir teh di atas meja.

Melihat kehadiran Alya, Siska langsung berdiri dan melambaikan tangan dengan ceria. "Al! Ya ampun, lama banget sih turunnya? Lihat nih, aku sama Rendy sampai udah ngobrol banyak sama Tante!"

Alya bergeming di ujung tangga. Tatapan matanya yang dingin memaku Siska, lalu perlahan beralih ke arah Rendy.

Saat Rendy berdiri dan melangkah mendekatinya dengan senyuman lembut—senyuman yang dulu selalu membuat dada Alya berdebar—sebuah gelombang ketakutan dan jijik yang sangat dahsyat mendadak menghantam Alya. Bau maskulin yang dipakai Rendy seketika berbaur dengan ingatan aroma amis darah yang merembes di blazer putihnya lima tahun di masa depan.

Tubuhku... terasa merinding parah.

Alya refleks mundur dua langkah saat Rendy mengulurkan tangan hendak menyentuh bahunya. Refleks itu begitu cepat dan kentara, membuat pergerakan Rendy terhenti di udara.

"Al?" Rendy menatapnya bingung, alisnya bertaut ringan. "Kamu kenapa? Muka kamu pucat banget."

"Jangan sentuh aku," ucap Alya pendek. Suaranya tidak keras, namun begitu dingin dan datar hingga membuat suasana hangat di ruang tamu itu seketika membeku.

Siska dan Rendy saling bertukar pandang sejenak. Siska lalu tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana dengan gaya manja khasnya. "Aduh, Al! Kamu ini baru bangun tidur langsung galak begitu, sih? Biasanya juga kalau ketemu Rendy kamu senyam-senyum sendiri. Kenapa? Kamu malu ya karena belum dandan dan cuma pakai piyama?"

Alya tidak merespons godaan Siska. Ia hanya menatap sahabatnya itu dengan intensitas yang mengerikan. Di masa depan, Siska-lah yang tertawa puas saat Rendy menusuk dadanya. Siska yang berdiri dengan gaun merah mewah, menikmati penderitaan Alya yang bersimbah darah. Namun saat ini, di depan ibunya dan di dalam kamar tamu yang sederhana ini, Siska menampilkan wajah seorang sahabat paling tulus di dunia. Tidak ada sedikit pun riak kejahatan atau raut musuh dalam selimut dari wajah cantik itu.

Sejak kapan? Pertanyaan itu memukul-mukul benak Alya. Sejak kapan mereka berdua menjalin hubungan di belakangku? Apakah sejak hari pertama Siska mengenalkanku padanya? Atau bahkan jauh sebelum itu?

"Alya, kok berdiri di situ saja?" Mama muncul dari arah dapur bersama Papa yang baru saja melepaskan kacamata bacanya. "Ayo duduk, Nak. Makanan sudah siap di meja makan. Papi sama Mami sudah tidak sabar mau ngobrol lebih banyak sama Rendy."

Papa Alya tersenyum lebar, menepuk bahu Rendy dengan ramah. "Iya, Rendy ini anak muda yang sopan sekali. Katanya dia bekerja di bidang konsultasi keuangan, ya? Bagus itu."

Rendy mengangguk penuh hormat, memasang raut wajah anak muda idaman para orang tua. "Iya, Om. Saya masih merintis, tapi saya selalu berusaha memberikan yang terbaik."

Alya menahan rasa mual yang mendadak bergejolak di perutnya. Penipu.

Makan siang hari itu berlangsung dalam atmosfer yang sangat ganjil. Papa dan Mama Alya begitu antusias menyambut Rendy. Bagi kedua orang tuanya yang sederhana, melihat Alya—yang selama ini merasa rendah diri karena bentuk tubuhnya—membawa seorang pria tampan dan berpendidikan ke rumah adalah sebuah kebanggaan besar.

"Rendy, ayo dimakan rendangnya. Ini resep khusus Mami," ujar Mama seraya menyodorkan piring lauk.

"Wah, terima kasih banyak, Tante. Baunya saja sudah enak sekali," puji Rendy manis.

Di sebelah Alya, Siska menyenggol lengan Alya pelan. "Al, makan dong. Kok cuma diaduk-aduk gitu nasi kamu? Tumben banget. Biasanya kalau ada rendang buatan Tante, kamu paling semangat."

Alya menurunkan sendoknya. Denting logam yang beradu dengan piring porselen terdengar nyaring di tengah gelak tawa Papa dan Rendy.

"Aku sedang tidak bernafsu," kata Alya datar. Ia menoleh perlahan menatap Siska. "Siska, aku mau tanya."

"Tanya apa, Al?" Siska mengedipkan matanya polos.

"Kenapa waktu itu... di acara ulang tahunmu tiga bulan lalu, kamu mendadak banget mengenalkan Rendy padaku?"

Pertanyaan itu membuat pergerakan Rendy yang sedang memegang sendok terhenti sejenak. Siska menyipitkan mata, tertawa kecil seolah pertanyaan Alya adalah hal yang konyol.

"Lho? Kok tiba-tiba tanya begitu, sih?" Siska memiringkan kepalanya. "Ya karena kalian berdua sama-sama jomblo! Lagian, waktu itu kan kamu yang minta dihibur karena stres kerjaan di Megah Corp. Makanya aku panggil Rendy yang kebetulan teman lamaku waktu SMA. Aku mikir, Rendy kan baik, dewasa, cocok banget buat nemenin kamu yang pemalu."

Alya mengepalkan tangannya di bawah meja. Memori tiga bulan lalu di tahun 2021—yang berarti beberapa minggu sebelum hari ini—kembali berputar di kepalanya dengan sangat jelas.

Saat itu, Siska merayakan ulang tahunnya di pesta sebuah pesta hotel mewah. Alya ingat betul bagaimana Siska mengeluh bahwa anggarannya kurang untuk menyewa ballroom hotel tersebut, dan Alya—dengan kebaikan hatinya yang bodoh—menawarkan diri untuk membantu membayarkan sebagian besar biaya sewa tempat itu dari tabungannya.

Di pesta itulah Siska menarik tangan Alya dan mengenalkannya pada Rendy. Rendy saat itu tampil begitu memesona, tidak memedulikan berat badan Alya yang 72 kg, dan justru terus memuji Alya sebagai wanita yang cerdas dan mandiri. Tiga bulan setelah perkenalan intens itu, Rendy menyatakan cintanya, dan Alya yang merasa dicintai apa adanya menyambut pria itu dengan tangan terbuka.

Bodoh... Aku dulu sangat bodoh, ratap Alya dalam hati. Acara ulang tahun itu... apakah tempat itu sengaja dirancang Siska untuk menjebakku? Untuk mengenalkanku pada Rendy agar mereka bisa menguras uang keluargaku dan posisiku di perusahaan?

"Kenapa, Al?" Rendy memotong lamunan Alya. Pria itu menatapnya dengan raut wajah penuh perhatian yang kini terlihat sangat palsu di mata Alya. "Kamu kelihatan gundah banget dari tadi. Ada masalah di kantor? Atau kamu kurang suka saya datang ke sini?"

Papa Alya terbatuk kecil, menatap putrinya dengan nada menegur halus. "Alya, tidak boleh begitu sama tamu. Rendy kan sudah berniat baik datang ke sini untuk silaturahmi."

"Tidak apa-apa, Om," potong Rendy cepat, menampilkan sosok pria penyabar. "Mungkin Alya lagi capek. Saya paham kok, pekerjaan di Megah Corp kan memang sangat padat."

Rendy kemudian mengulurkan tangannya di atas meja, berniat mengelus punggung tangan Alya untuk menenangkannya.

Namun, begitu ujung jari Rendy menyentuh kulit lengannya, Alya menarik tangannya secara mendadak dengan gerakan ekstrem hingga cangkir teh di samping piringnya tersenggol dan tumpah membahasi taplak meja.

Pyar!

"Alya!" seru Mama terkejut.

"Maaf," napas Alya memburu. Tubuhnya gemetaran hebat. Sentuhan Rendy terasa bagaikan pisau dingin yang hendak menguliti tubuhnya kembali. Trauma pembunuhan tragis di lantai 40 itu begitu nyata. Rasa sakit saat dadanya ditembus pisau berburu Rendy seolah menjalar kembali ke saraf-saraf tubuhnya. Ia benar-benar tidak sanggup berdekatan dengan pria itu.

"Aku... aku merasa kurang sehat. Aku mau ke kamar," ujar Alya seraya berdiri dari kursinya.

"Al, tunggu dulu! Ini tidak sopan namanya!" tegur Papa dengan nada agak keras.

Alya menahan air matanya, menatap kedua orang tuanya yang masih utuh dan sehat di depannya. Maafkan Alya, Pa, Ma... Alya cuma tidak bisa berpura-pura di depan orang yang di masa depan membiarkan kalian mati dan membunuh anak kalian sendiri.

"Maafkan Alya, Pa. Alya benar-benar pusing," bisik Alya tanpa memandang Rendy dan Siska lagi, lalu berbalik melangkah cepat menuju tangga.

Dari balik pintu kamar yang tertutup rapat, Alya menyandarkan punggungnya yang tebal. Ia membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai kayu. Napasnya masih tersengal-sengal, peluh dingin membasahi dahinya.

Ia mendengar suara langkah kaki dan gumaman dari ruang tamu di bawah. Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki pelan menaiki tangga.

Pintu kamarnya diketuk dari luar.

"Al? Ini aku, Siska. Boleh masuk?"

Alya mengusap wajahnya kasar, mencoba mengatur napasnya agar terdengar tenang. "Masuk."

Pintu terbuka, dan Siska melangkah masuk seraya menutup pintu kembali. Wajah manis sahabatnya itu kini menyiratkan rasa heran dan sedikit kekesalan yang disembunyikan di balik senyuman.

"Al, kamu sebenarnya kenapa sih hari ini?" Siska berjalan mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur Alya. "Rendy itu kurang apa coba? Dia sudah berusaha banget bikin kesan bagus di depan Tante sama Om. Tapi kamu malah bersikap dingin begitu? Kamu tahu kan, nyari cowok kayak Rendy yang mau menerima kamu apa adanya—dengan kondisi kamu yang... ya, kamu tahu sendiri badan kamu gimana—itu susah banget?"

Kalimat itu. Kalimat yang dulu selalu dijadikan Siska untuk menanamkan rasa rendah diri di dalam otak Alya. Pria mana yang mau dengan wanita berbadan gemuk sepertimu kalau bukan Rendy? Kata-kata itu yang dulu membuat Alya merasa sangat berutang budi pada Rendy hingga rela membiayai usaha pria itu dan menyerahkan segala asetnya.

Alya berdiri perlahan, menatap Siska dari ketinggian tubuhnya yang berbobot 72 kg. Meski tubuhnya belum ideal, tatapan mata Alya saat ini begitu pekat dan menekan, membuat Siska refleks terdiam.

"Siska," panggil Alya dingin. "Kamu jujur padaku."

"Ju-jujur soal apa?" Siska agak gugup melihat perubahan aura Alya.

"Sejak kapan kamu kenal Rendy?"

Siska mengedipkan mata, tertawa sumbang. "Kan aku sudah bilang tadi di meja makan! Kita teman SMA dulu. Kenapa sih kamu mendadak curigaan begitu? Kamu mikir aku ada apa-apa sama Rendy?"

"Aku tidak bilang kalian ada apa-apa," potong Alya cepat. "Aku cuma bertanya. Karena aneh saja, seorang Rendy yang kamu bilang hebat dan berpendidikan, bisa mendadak sangat tertarik padaku hanya dalam waktu singkat setelah kamu mengenalkannya di acara ulang tahunmu."

Siska menghela napas, memasang raut wajah prihatin. "Ya ampun, Alya... kamu itu pemikir banget, sih! Rendy itu suka sama kamu karena kamu itu pinter, kamu kerja di Megah Corp! Dia nggak peduli sama berat badan kamu! Kenapa kamu malah mikir yang aneh-aneh? Harusnya kamu bersyukur ada cowok sebaik dia yang mendekati kamu!"

Bersyukur? Bersyukur pada pembunuhku? Alya tersenyum sinis—sebuah senyuman yang belum pernah dilihat Siska sebelumnya selama belasan tahun mereka bersahabat.

"Begitu ya?" gumam Alya lirih. "Baiklah. Kalau memang dia begitu baik, aku yang akan membuktikannya sendiri."

Siska menatap Alya dengan dahi berkerut. Ada sesuatu yang berbeda dari sahabatnya ini. Alya yang biasanya pemalu, penurut, dan selalu meminta pendapatnya untuk setiap hal kecil, kini tampak begitu asing dan tidak tersentuh.

"Yaa... terserah kamu deh," kata Siska seraya berdiri. "Tapi mending kamu turun sekarang, kasihan Rendy sudah pamitan mau pulang sama Om dan Tante. Jangan bikin suasana makin aneh."

"Aku tidak akan turun," tegas Alya. "Katakan pada Rendy, aku sedang tidak ingin diganggu."

Siska menggeleng-gelengkan kepala dengan raut kesal tersembunyi, lalu melangkah keluar dari kamar.

Setelah pintu kembali tertutup, Alya berjalan menuju jendela kamar tidur. Dari balik gorden tipis, ia melihat Rendy berjalan keluar dari pintu depan rumahnya, bersalaman dengan Papa dan Mama dengan sikap yang sangat santun. Tak lama kemudian, Siska menyusul keluar.

Alya memperhatikan gerak-gerik mereka dengan cermat saat keduanya berjalan menuju mobil Rendy yang terparkir di pinggir jalan.

Di saat Papa dan Mamanya sudah kembali masuk ke dalam rumah, Alya melihat sebuah detail kecil yang dulu sama sekali tidak pernah ia perhatikan di kehidupan pertamanya:

Sebelum masuk ke dalam mobil, tangan Rendy sempat bergerak cepat menyenggol pinggul Siska, dan Siska memberikan lirikan mata penuh arti seraya mengumbar senyum tipis yang penuh intensitas ke arah Rendy. Sebuah gestur keintiman yang terbiasa, bukan sekadar hubungan teman biasa.

Alya mencengkeram gorden jendela hingga kainnya berkerut hebat.

Jadi benar... Alya berbisik pada dirinya sendiri, matanya membara oleh dendam. Kalian berdua sudah berhubungan sejak sebelum aku masuk ke dalam permainan kalian. Kalian menjadikan aku mangsa, memanfaatkan rasa tidak percaya diriku karena tubuhku yang gemuk ini, menguras harta keluargaku, dan akhirnya membunuhku di puncak karierku.

Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa takut dan merinding akibat trauma pembunuhan itu perlahan terkikis, berganti menjadi kemarahan yang dingin dan terukur.

"Rendy... Siska..." kata Alya pelan pada pantulan dirinya di kaca jendela. "Kalian pikir aku masih Alya bodoh yang bisa kalian permainkan? Di kehidupan ini, aku yang tahu akhir dari cerita kalian. Kita lihat, siapa yang akhirnya akan bersimbah darah dan memohon ampun."

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!