NovelToon NovelToon
The Last Horizon: Zero To Heroes

The Last Horizon: Zero To Heroes

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Lamunan Malam

Siapa aku, seorang pecundang?

Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.

Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.

Tingkat Saint? Hah...

Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?

Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Aku Ingin Melihat Dunia Lebih Baik

Grimm Zyckur, seorang instruktur sihir di Perguruan Roroan. Ia berada di tingkat King—meski secara klasifikasi berada di bawahku, laporan informan Nyonya Mener menegaskan bahwa kemampuan berpedangnya sangat mumpuni untuk ukuran seorang penyihir. Grimm tidak terlalu bergantung pada Mana, melainkan mengandalkan intuisi bertarung yang luar biasa tajam.

Sementara itu, surat kedua di dalam amplop pemberian Nyonya Mener membeberkan rekam jejak singkatnya: Grimm adalah veteran perang perlawanan Istarloth melawan ekspansi Kekaisaran. Tapi ia kemudian mengkhianati tanah airnya sendiri. Alasan pasti pembelotannya tidak tertulis jelas, tetapi dugaan kuat mengarah pada iming-iming uang dan jabatan. Jabatan instruktur sihir sejatinya hanyalah kedok di permukaan; peran aslinya adalah seorang birokrat operasional di Orte, Ibu Kota Kekaisaran.

Baiklah, aku akan menyelesaikan semua ini.

Dari dua kali pertemuan rahasia ini, satu hal yang pasti: hubunganku dengan The Brotherhood harus tetap menjadi rahasia. Nyonya Mener menegaskan agar aku merahasiakan seluruh isi pertemuan serta dokumen apa pun yang mereka berikan. Keterlibatan Sandra dan Steven dalam urusan ini hanya akan menjadi beban tambahan, sekaligus menyeret mereka ke dalam bahaya.

Kyrin Arslan. Sejak pertemuan terakhir di mana ia memberitahuku kabar duka tentang kematian orang tuaku, aku terus berusaha mencarinya. Aku sempat bertanya kepada beberapa anggota The Brotherhood lainnya, dan mereka menjelaskan bahwa Kyrin saat ini berada di Orte untuk menjalankan misi infiltrasi berisiko tinggi: melenyapkan para petinggi militer Kekaisaran. Hingga detik ini, belum ada kabar lagi darinya.

Aku hanya bisa berharap ia sanggup kembali dengan selamat...

"Dengar!"

Brak!

Sandra mendadak membanting pintu kamar penginapan. Napasnya terengah-engah, memburu saat ia mengulurkan tangan meminta minum. Setelah meminum habis segelas air yang disodorkan Steven, ia baru bisa bersuara.

"Kompetisinya ditunda sampai bulan depan!"

Tepat seperti yang dikatakan Nyonya Mener. Jaringan informannya memang tidak perlu diragukan lagi.

"Kenapa ditunda?" tanya Steven mengernyit.

"Duke Welding mendadak pulang ke Ibu Kota," balas Sandra lelah.

"Lalu bagaimana dengan Kolonel Nicholas Hoult? Bukankah dia yang bertanggung jawab menjaga keamanan wilayah ini selama Duke bepergian?"

"Kolonel dan pasukannya sudah ditarik dan dikirim ke garis depan untuk bertempur melawan Levorian. Aku mendengar kabar kalau Charlment, Raja Levorian, memberikan perlawanan yang sangat sengit hingga memaksa pasukan Kekaisaran mundur."

"Hah? Kalau begitu, siapa yang memimpin Istarloth sekarang?" tanyaku tiba-tiba, bangkit berdiri dari kursi usai meremas surat di tanganku.

"Count Maxus diangkat kembali menjabat sebagai gubernur. Tapi ia dilarang melanjutkan kompetisi sampai ada perintah resmi dari Duke," jawab Sandra.

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" sambung Sandra seraya menepuk pundakku. "Kita tidak mungkin cuma berdiam diri di sini tanpa penghasilan sama sekali, kan?"

"Bagaimana dengan ribuan koin emas dari hasil menumpas goblin kemarin?" tanyaku bingung. "Bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk membayar biaya pembebasan status kita?"

"Tidak, Lyan," potong Steven menggeleng lemah. "Sesuai perintahmu kemarin, aku menemui Kaslana untuk mengurus pembelian surat pembebasan. Tapi biaya pembebasan kali ini dinaikkan drastis oleh pihak birokrasi dengan alasan untuk menyokong pengeluaran militer."

"Memangnya jadi berapa?"

"Seratus ribu keping emas... untuk kita bertiga."

"Seratus ribu?!" teriakku terperanjat dari kursi, refleks memegang dadaku yang mendadak sesak. "Uang yang baru kita kumpulkan bahkan belum ada sepersepuluh dari jumlah fantastis itu!"

Steven mengangguk lesu. "Satu-satunya jalan untuk mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat... hanyalah dengan memenangkan kompetisi ini."

"Kalau begitu, kita ke Guild sekarang!" seru Sandra bersemangat sambil berbalik menuju pintu.

"Tunggu dulu!"

Sebelum Sandra sempat memutar gagang pintu, aku melompat cepat dan menahannya. Melihat tingkahku yang mencurigakan, Sandra menyipitkan mata lalu sedikit menaikkan bila pedangnya.

"Kenapa? Kau tidak percaya dengan kemampuanku memilih misi yang benar?" gertaknya.

"Sejak kapan kau diberi wewenang tunggal untuk menentukan misi kita?!" dengusku. "Mulai sekarang semua keputusan diambil lewat voting, persis seperti kesepakatan kita setelah kau seenaknya mengambil misi melawan Jenderal Zigurad kemarin!"

"Hah... Ya sudah," desah Sandra mengalah. Ia berjalan lalu mengempaskan tubuhnya di pinggir kasur, menunggu apa yang hendak kukatakan.

"Kita tidak perlu repot-repot ke Guild. Aku punya tawaran misi pribadi dari seseorang yang memilih anonim. Misinya tergolong mudah—kita cuma perlu memetakan dan mencatat pemandangan alam selama perjalanan menuju wilayah Zurich—"

"Gajinya pasti kecil!" potong Sandra malas sambil memainkan poni rambutnya.

"Dia memberi kita sepuluh ribu keping emas... cuma untuk uang mukanya saja," sambungku tenang.

"APA?!"

Teriakan kompak Sandra dan Steven seketika menggelegar, membuat telingaku berdenging.

"Siapa orang gila yang mau memberi uang muka sebesar itu?!" desak Sandra dengan mata berbinar.

"Dia... seorang juragan kaya," tipuku dengan nada yang dibuat-buat. "Sudahlah, yang penting kan jumlah uangnya!"

"Benar sekali!" teriak Sandra antusias seraya mengacungkan tinjunya ke udara. "Dengan uang sebanyak ini, kita sudah berhasil mencicil sepersepuluh bagian lagi!"

"Lalu di mana uangnya sekarang?" sambung Sandra mulai meraba-raba serta memeriksa lipatan jubahku.

"Tidak mungkin aku menjejalkan peti uang di dalam baju, bodoh!" sergahku menepis tangannya. "Ini uangnya!"

Aku berlutut lalu menyingkap karpet di sudut kamar, memperlihatkan sebuah peti kayu berukuran sedang yang sengaja kusembunyikan di sana—peti yang diserahkan oleh ajudan Nyonya Mener tepat sebelum aku keluar dari markas tadi.

"Oalah! Jadi alasan kau membuat kami menunggu lama tadi karena sibuk mengangkut peti ini?!" cercos Sandra menepuk jidatnya.

"Kalau begitu tidak perlu tunggu lama-lagi! Aku akan mencari kusir langganan kita kemarin, Kalian tunggu di sini!" seru Sandra melesat pergi.

Brak!

Untuk kedua kalinya, ia membanting pintu kamar. Sandra berlari kencang menuruni tangga hingga terdengar suara orang di jalanan berteriak karena nyaris tertabrak olehnya.

Kini menyisakan aku dan Steven di kamar. Steven menatapku dengan sorot mata yang masih menyimpan keraguan atas tawaran misi anonim ini. Walau begitu, ia memilih untuk tidak memikirkannya lebih jauh—lagipula adiknya sudah menyetujui misi ini dengan teramat antusias. Sandra itu tipe orang yang sangat keras kepala; jika kami menolak, ia pasti nekat berangkat sendirian.

Tak lama, Sandra kembali dengan napas terengah-engah dan mengabarkan bahwa sang kusir setuju mengantar kami sesuai tarif standar. Tanpa membuang waktu, kami bertiga memutuskan pergi ke pasar kota untuk membeli perbekalan perjalanan. Perjalanan kali ini jauh lebih panjang dan berat daripada sebelumnya. Rute dari Istarloth menuju Zurich diperkirakan memakan waktu lebih dari seminggu perjalanan darat, melewati tiga duchy berbeda.

Duchy Zurich sendiri dinobatkan sebagai kadipaten terluas yang dikuasai oleh Kekaisaran—luas wilayahnya bahkan mencapai tiga kali lipat dari Istarloth.

"... Hei, ayo beli ini juga!" seru Sandra girang.

Gadis itu berlarian ke sana kemari, sibuk memborong barang-barang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan bertahan hidup: baju baru, pemerah bibir, hingga berbagai perlengkapan wanita lainnya. Yah, aku tidak bisa menyalahkannya juga, mengingat dalam pikirannya, kami pergi ke Zurich murni untuk 'mencatat pemandangan alam'.

Mumpung mereka berdua sibuk memilah barang di lapak utama, aku menyempatkan diri menyelinap ke sebuah toko peralatan sihir lokal. Aku meneliti jajaran staf dan instrumen sihir yang dipajang, mencari tongkat sihir baru dengan tingkatan yang sesuai untuk menggantikan tongkat lamaku yang sudah patah saat di Puncak Zantur.

Setelah memilah cukup lama hingga terdengar suara Sandra yang berteriak memanggil namaku, pilihanku akhirnya jatuh pada sebuah Staff Sihir Glamor berukiran rumit yang tingginya bahkan melebihi tinggi badanku sendiri. Meski harganya merogoh kocek lumayan dalam, sang pedagang memberikan garansi penuh—jika tongkat ini rusak atau patah dalam kurun waktu satu bulan pemakaian, aku bisa langsung mengklaim gantinya dengan yang baru.

"... Benda apa lagi yang kau beli itu, Lyan?!" tegur Sandra begitu melihatku keluar toko. "Kita pergi ke sana cuma untuk mencatat pemandangan, bukan untuk perang!" lanjutnya seraya mencolek-colek ornamen di ujung tongkat tersebut.

"Ini cuma untuk berjaga-jaga," keluhku santai. "Perjalanan kita sangat jauh, dan kita tidak pernah tahu ancaman atau bahaya apa yang mengintai di jalanan nanti."

"Terserah kau sajalah!" cibirnya memutar bola mata.

"Lalu, apa lagi perlengkapan yang kurang?" timpal Steven menyela. "Apakah stok bahan makanan yang kubeli ini sudah cukup?" tanyanya sambil menunjuk troli kayu belanjaan penuh sesak di dorongannya.

"... Lebih dari cukup," balasku mengangguk puas.

Usai melunasi seluruh barang belanjaan, kami kembali dan menunggu di depan penginapan. Sandra mengingatkan bahwa kusir kereta kami berjanji akan tiba tepat sebelum fajar menyingsing.

Sesuai ucapannya, tak lama kemudian suara derap langkah kaki kuda terdengar berderap di kejauhan, bertepatan dengan momen para prajurit patroli kota mulai menyalakan deretan lampu minyak di sepanjang jalan.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
ka mau masuk grup aku gak tempat berbagi cerita . dan saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!