Evander Aldebaran, seorang anak konglomerat kaya raya yang memiliki berbagai macam perusahaan dengan beraneka jenis bisnis.
Evander dipercaya mengemban tugas istimewa sebagai Wakil Presiden Direktur dari Aludra Entertaiment yang merupakan perusahaan agency artis.
Namun sayangnya dimasa kepemimpinan Evander justru Aludra mengalami kemunduran dan membuat Ayah Evander meragukan kapabilitas putra tunggalnya itu.
Bahkan banyak anggota direksi yang mengajukan mosi pemecatan bagi Evander yang tidak kompeten itu.
Hingga pada akhirnya Evander dipertemukan dengan seseorang yang mampu membangkitkan keterpurukannya dimasa - masa suram itu.
Sampai pada akhirnya Evander bangkit dan dapat menguasai segalanya, namun harus dengan bayaran yang setimpal.
Bagaimana kisahnya? Dan siapakah orang yang melepaskan Evander dari keterpurukan?
Akan kah Evander mampu melawan segala godaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Peony, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINDERELLA
Agentha segera mengemas barang – barang yang ia perlukan saja dengan cepat, mulai dari pakaian hingga buku – buku pelajarannya juga laptop usang yang dia beli second saat pertama kali masuk ke universitas.
“ Terima kasih sudah membantu ku Jason. “ Ucap Agnetha tulus pada laki – laki yang baru saja memasukkan barang – barangnya yang tidak terlalu banyak itu kedalam bagasi mobil.
“ Sudah menjadi kewajiban saya Nona, silahkan masuk. “ Jason membuka kursi penumpang bagian belakang dan meminta Agnetha segera masuk kedalam sana. Dengan wajah terpaksanya Agnetha duduk dengan kasar di kursi penumpang.
“ Apakah aku boleh melihat Nenek ku? “ Tanya Agnetha pada Jason, dan laki – laki itu mengiyakan.
Mobil milik Evander terlihat sudah terparkir di rumah sakit tempat Nenek Agnetha dirawat, perempuan itu segera menuju ruang perawatan Neneknya. Dari balik pintu Agnetha melihat Neneknya masih terbaring belum stabil, sehingga proses operasi masih belum dapat dilakukan.
Agnetha terlihat membasuh tangan dan kaki Neneknya yang tampak lemah dan tidak berdaya terbaring diatas ranjang menggunakan handuk kain kecil yang disediakan di kamar mandi. Sesudahnya ia juga menyisir rambut Neneknya yang memutih itu, sambil mengusapnya pelan. Agnetha menitik kan air matanya, ia meratapi keadaan Neneknya yang belum juga membaik. Ia juga sedang meratapi nasibnya yang terlihat sangat pelik karena ia memilih menikah dengan Pria kaya raya itu.
***
Setelah dari rumah sakit Jason membawa Agnetha menuju sebuah rumah mewah tiga lantai yang berada tepat dipusat kota. Jason memarkirkan mobil yang ia kendarai itu tepat didepan pintu masuk rumah mewah tersebut. Ia membantu Agnetha membawa seluruh barang – barang nya masuk kedalam rumah.
“ Selamat datang Nona. “ Sambut seorang laki – laki yang merupakan seorang kepala pelayan rumah tangga di rumah itu. Agnetha hanya menyunggingkan senyum tipisnya pada pria paruh baya didepannya itu.
“ Mari Nona, kamar Nona ada dilantai tiga. Jika memerlukan apa – apa langsung saja panggil Pak Lim, dia yang bertanggung jawab penuh atas rumah ini dan segala urusan rumah tangga. “ Sambung Jason sambil membimbing Agnetha menuju tangga didekat mereka.
Agentha langsung masuk kedalam sebuah kamar yang sudah dimasuki oleh Jason baru saja, ia mengikuti Pria itu sambil mengedarkan pandangannya menilik setiap sudut rumah mewah itu.
“ Nona, ini adalah kamar anda untuk sementara sampai nanti Nona menikah dengan Pak Evander. Diatas meja ada sebuah ponsel baru yang telah saya belikan, saya harap agar dapat segera digunakan supaya Pak Evander tidak marah. “ Pesan Jason setelah Agnetha mengikuti nya masuk dalam kamar yang sangat mewah menurut Agnetha.
“ Oke Jason, terima kasih. Aku merasa baru saja menjadi Cinderella. “ Bisik Agnetha pelan pada Jason.
Pria itu segera meninggalkan Agnetha didalam kamar nya, sementara gadis itu tampak begitu kagum dengan kamar yang akan ia tempati itu. Ia menilik sekeliling kamar tidurnya yang sudah lengkap dengan kamar mandi dalam, meja belajar, meja rias juga dilengkapi dengan lemari pakaian yang besar.
“ Ah, bagaimana kelanjutan hidupku ini? “ Dengan perasaan pasrah Agnetha menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang yang besar itu.
Agnetha senang karena ia bisa menyelamatkan nyawa Neneknya melalui operasi yang sudah dijanjikan oleh Evander. Namun tidak dapat dipungkirinya bahwa dia takut menghadapi hari – harinya kelak, ia tahu Evander bukan laki – laki yang penyabar. Bahkan sangat jelas Evander adalah sosok yang ambisius, ia akan melakukan segala cara agar apa yang menjadi keinginannya bisa terwujud. Gaya bicara Evander pun juga terdengar sangat arrogant, ia begitu menuntut orang – orang yang ada disekelilingnya agar menuruti seluruh perkataannya.
Gadis polos itupun beranjak dari tidurnya, ia meraih ponsel yang berada diatas meja dan memandangnya dengan kagum. Ponsel keluaran terbaru diberikan pada nya dengan cuma – cuma hanya karena Evander melihat ponsel bututnya tadi.
Sekilas Agnetha memainkan layarnya, ternyata Jason sudah memasukkan kartu baru dan menambahkan nomor Evander juga nomor ponselnya. Seperti nya memang Evander ingin Agnetha khusus memakai nomor itu untuk berkomunikasi hanya dengannya dan orang – orang terdekatnya.
Kring .. kring.. kring
Ponsel baru yang masih berada ditangan Agnetha tiba – tiba berdering dengan sangat nyaring membuatnya terperanjat. Ia lihat nama Evander tertulis pada layar ponsel tersebut, dengan cepat ia mengangkatnya.
“ Halo, Evan. “ Sapa Agnetha pelan.
“ Bersiaplah, sore ini Deandra akan ke sana. Kita akan makan malam bersama Ayahku. Perlu kau ingat, jangan sampai Ayahku tahu bahwa kau mau menikahi ku karena aku sudah membiayai pengobatan Nenek mu.” Belum mendengar jawaban dari Agnetha, lelaki itu sudah memutuskan panggilannya.
Agnetha menarik nafasnya dalam, bahkan pria itu tidak memberitahu nya pukul berapa Deandra akan datang kesana. Karena takut Deandra lekas datang, Agnetha segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Ia berusaha memilih pakaian terbaiknya karena Evander bilang ia akan diajak bertemu dengan Ayahnya.
***
Belum sampai Agnetha selesai dengan pulasan bibirnya terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya ringan. Setelah ia mempersilahkan masuk, terlihat Deandra mendorong pelan pegangan pintu dan menyunggingkan senyuman cantiknya.
“ Nona, mari kita perlu mempersiapkan riasan dan pakaian untuk Nona. “ Ujar Deandra dengan sopan seraya mempersilahkan beberapa orang masuk kedalam kamar Agnetha.
Deandra sudah mempersiapkan beberapa pakaian yang sesuai dengan selera Evander dan di gantung pada hanger besi panjang. Juga beberapa pasang sepatu dengan bermacam – macam jenis dan warna. Tak luput beraneka macam tas berbagai model dan bentuk, perempuan itu juga membawa serta seorang stylish untuk membantu Agnetha merias wajahnya.
“ Silahkan Nona memilih pakaian yang akan digunakan untuk makan malam hari ini, saran saya adalah dress ini. Pak Evander berpesan agar tidak mengenakan pakaian terbuka. “ Deandra mengulurkan sebuah midi dress berwarna mint dengan lengan panjang bermotif floral.
“ Aku mengikuti apa yang menjadi saran mu saja Nona Deandra. “ Ucap Agnetha dengan sungkan.
Agnetha menerima dress itu kemudian melenggang ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Sesudahnya ia duduk pada bangku didepan meja riasnya untuk memoles wajah polosnya dengan sedikit make up natural.
“ Wajah anda sudah sangat cantik Nona, jadi tidak perlu terlalu banyak memberikan riasan. “ Gumam stylish itu memberi pujian.
Deandra tampak menatap lekat ke arah wanita yang akan dinikahi oleh atasannya itu, ia seolah tidak percaya jika pilihan Evander akan jatuh pada seorang perempuan lagu dan sederhana. Deandra sempat sanksi dengan rencana pernikahan Evander, karena laki – laki tidak menunjukkan rasa tertarik sedikitpun pada Agnetha.
“ Nona Agnetha, apakah semua baik – baik saja? “ Tanya Deandra dengan cemas sesaat setelah stylish meninggalkan mereka berdua.
“ Nona Deandra, panggil saja aku Agnetha. Aku tidak apa - apa hanya sedikit gugup menghadapi hari - hari ku yang berubah menjadi sangat mewah, aku juga sedikit takut menghadapi sikap Evander yang begitu dominan. “ Tukas Agnetha dengan bersedih.
“ Pada dasarnya Pak Evander adalah laki – laki yang baik Nona Agnetha. Sekali lagi maaf saya tidak seberani itu untuk menyebut nama mu. Mari Nona Agnetha kita tunggu Pak Evander dibawah.“ Deandra tersenyum simpul mengajak Agnetha keluar dari kamarnya.
Melihat sikap Agnetha yang begitu waspada dan khawatir Deandra menyadari bahwa pernikahan Agnetha dan Evander terjadi karena sebuah paksaan. Sudah jelas Evander lah yang pasti nya memaksa Agnetha agar mau menikah dengannya.
keren 👍
suka banget sama ceritanya thor ❤️