Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Malam minggu.
Lampu kamar Naya masih menyala terang.
Reno, Kenzo, dan Naya sama-sama ada di dalam—posisi duduknya absurd.
Naya di kasur, bersandar di bantal.
Kenzo duduk di sisi kasur, santai, satu tangan nyandar di ranjang.
Reno? Duduk di kursi belajar… sambil nyilang tangan, muka jutek.
Aura:
dua orang nyaman. satu orang nyesel hidup.
“Ken,” panggil Naya sambil narik ujung hoodie Kenzo.
“Hmm?” Kenzo nengok, senyum.
“Bantal gue jatoh.”
Kenzo langsung ambil bantal, rapihin, bahkan nyesuain posisi Naya. “Gini? Enakan?”
“Iya,” jawab Naya polos.
Reno berdehem keras. “Berisik amat sih.”
Kenzo melirik Reno, senyum tipis—nyolot versi santun. “Lo iri ya?”
“Enggak,” jawab Reno cepat. “Gue cuma… waspada.”
Naya ikut nimbrung. “Waspada apaan?”
“Waspada adek gue diambil orang,” jawab Reno datar.
Kenzo angkat alis. “Udah kejadian, Ren.”
“WOY—” Reno berdiri. “Gue masih di sini!”
Kenzo tetap santai. “Tenang. PG kok.”
Terus nambah pelan tapi nyeletuk,
“Dia aja yang nempel.”
Naya refleks nyubit lengan Kenzo. “Apaan sih!”
Reno menutup wajah. “Gue pulang aja ke kamar deh.”
“Katanya mau ngawasin?” Kenzo sengaja mancing.
“IYA—” Reno teriak kecil, lalu duduk lagi. “Makanya gue di sini.”
Naya ketawa kecil. “Kak Reno kalah telak.”
“Lo nggak bantu malah nambah,” balas Reno.
Kenzo mendekat dikit ke Naya, tapi masih sopan—jarak aman. “Nay, lo haus nggak?”
“Dikit.”
Kenzo berdiri. “Gue ambilin ya.”
Reno langsung refleks. “GUE AJA!”
Kenzo berhenti, nengok. “Tenang. Gue cuma ambil air.”
“Air doang kan?” Reno curiga.
“Iya. Air. Putih. Netral. Tidak menggoda,” jawab Kenzo serius tapi nyebelin.
Reno mendengus. “Kurang ajar.”
Kenzo baru mau melangkah ke pintu—
KLEK.
Pintu kamar kebuka.
Mommy berdiri di ambang pintu.
Sunyi.
Tiga orang itu langsung freeze.
Kenzo refleks mundur setengah langkah.
Naya langsung duduk tegak.
Reno… berdiri tegap kayak lagi apel pagi.
Mommy menyapu pandangan. “Ngapain rame-rame di kamar?”
“Nugas,” jawab Reno cepat.
“Nugas jam segini?” Mommy mengangkat alis.
Kenzo senyum sopan. “Iya tante. Saya nemenin aja.”
Mommy menatap Kenzo beberapa detik—tajam tapi terkendali. “Jam berapa ini?”
“Belum larut, Mom,” sahut Naya cepat.
Mommy melangkah masuk sedikit. “Kenzo, kamu nginep di kamar Reno kan?”
“Iya tante,” jawab Kenzo patuh.
“Bagus.” Mommy mengangguk.
Lalu menatap Naya.
“Naya, tidur. Jangan kebanyakan bercanda.”
“Iya Mommy.”
Mommy berbalik ke pintu, tapi berhenti sebentar. “Dan pintu jangan dikunci.”
“Iya,” jawab mereka bertiga hampir bersamaan.
Pintu tertutup.
Begitu langkah Mommy menjauh—
Reno langsung jatuh duduk di kursi. “GUE HAMPIR MATI.”
Kenzo nutup mulut, nahan ketawa. “Chaos ya.”
Naya nutup muka pake bantal. “Ya ampun…”
Reno melotot ke Kenzo. “Lo besok-besok jangan makin nyolot.”
Kenzo nyengir. “Nggak nyolot. Cuma menang.”
“MENANG APA—”
“Udah,” potong Naya sambil senyum.
“Malem minggu kok ribut.”
Reno mendengus. “Gue ke kamar.”
Sebelum keluar, dia nengok. “PG. INGAT.”
Kenzo angkat dua jari. “Siap, komandan.”
Begitu Reno keluar, Naya melirik Kenzo. “Lo sengaja ya?”
Kenzo mendekat dikit, suaranya rendah. “Dikit.”
Naya senyum kecil. “Tapi makasih… udah nginep.”
Kenzo balas senyum. “Anytime, my princess.”
Lampu kamar diredupkan.
Malam minggu berlanjut—
dengan satu kakak yang kalah telak,
dan dua orang yang berusaha terlihat biasa… padahal jelas nggak. 😏
Di Kamar Reno
Lampu kamar sudah dimatikan setengah.
Kenzo sudah rebahan santai di kasur—tangan di belakang kepala, posisi orang yang aman dan damai.
Sementara itu…
Reno duduk di kursi, mata melek, punggung tegak.
Aura:
satpam malam shift lembur.
“Lo nggak tidur?” tanya Kenzo sambil melirik.
“Jagain lo,” jawab Reno cepat.
Kenzo mengernyit. “Hah? Ngapain?”
Kenzo menatapnya tajam. “Lo kira gue bayi?”
“Takut tiba-tiba lo pindah kamar,” kata Reno serius.
Kenzo ngakak. “Gila lo.”
“Bahaya,” Reno mengangguk mantap. “Gue waspada.”
Kenzo memiringkan badan. “Dulu-dulu juga gue nggak dijagain.”
“Itu dulu,” sahut Reno cepat.
Kenzo senyum miring. “Ah. Padahal dulu lo sering nitip Naya ke gue.”
Reno langsung nengok. “Ya kan beda. Dulu lo belum macarin adek gue.”
Kenzo angkat alis. “Kata siapa?”
Reno langsung berdiri. “Wah-wah. Lo macarin adek gue dari kapan?”
Kenzo santai banget. “Baru,” katanya ringan.
“Depan bokap lo.”
Reno bengong. “…Anjir.”
Kenzo lanjut, masih sambil senyum. “Dulu gue belum macarin adek lo. Cuma TTM aja.”
“HAHAHAHA—” Kenzo ketawa puas.
Reno langsung pegang kepala. “ANJIR, KECOLONGAN GUE.”
Kenzo nutup muka pakai bantal, ketawa makin keras. “Makanya jangan sok jaga malam.”
Reno menunjuk Kenzo. “Lo licik.”
Kenzo balas santai. “Gue jujur.”
Reno menghela napas panjang, lalu jatuh duduk lagi. “Gue nggak bisa tidur.”
Kenzo menutup mata. “Tenang. Malam ini gue di sini.”
“Janji?”
“Janji,” jawab Kenzo enteng.
“PG. Sesuai SOP.”
Reno akhirnya selonjoran di kasur satunya. “…Besok gue tetep waspada.”
Kenzo senyum kecil. “Up to you.”
Lampu kamar benar-benar mati.
Malam berlanjut—
dengan satu kakak yang masih parno,
dan satu cowok yang menang tanpa usaha. 😌
Jam menunjukkan pukul 03.00 pagi saat Kenzo pelan-pelan membuka pintu kamar Naya. Langkahnya nyaris tanpa suara. Lampu kamar masih mati, hanya cahaya tipis dari luar jendela yang masuk.
Naya tidur miring, selimutnya sedikit turun.
Kenzo mendekat, lalu berbaring di sampingnya—hati-hati—dan menarik Naya ke dalam pelukannya.
“Jalan pagi mau?” bisiknya.
Naya menggeliat kecil, matanya masih terpejam setengah sadar.
“Mau,” jawabnya lirih, nyaris seperti gumaman.
Kenzo tersenyum. Tangannya mengusap rambut Naya pelan.
“Kita jalan ke lapangan bola pagi. Aku lari bentar, kamu nunggu sambil jajan. Oke?”
“Oke,” jawab Naya lebih jelas sekarang.
Beberapa detik hening, lalu Naya menoleh sedikit ke arah Kenzo.
“Kak Reno ikut?”
Kenzo mendengus pelan, nyaris ketawa.
“Nggak. Tidurnya nggak tenang semalem.”
“Kenapa?” tanya Naya, alisnya berkerut kecil.
“Takut aku lari ke sini,” jawab Kenzo enteng.
Naya langsung senyum kecil, geli.
“Padahal emang iya.”
Kenzo terkekeh pelan.
“Makanya baru ke sini jam segini.”
“Dia curigaan terus,” kata Naya, nada suaranya campur gemas.
Kenzo merapatkan pelukannya sebentar, lalu mengecup kening Naya dengan lembut.
“Biarin.”
Di luar, udara pagi masih dingin, tapi nggak setajam dini hari.
Jam di dinding kamar menunjukkan 06.00 pagi.
Di dalam kamar, Naya tersenyum kecil—tenang, nyaman, dan merasa aman di pelukan Kenzo.
Kenzo bangkit pelan dari ranjang, hati-hati banget biar nggak ngebangunin seisi rumah. Tangannya masih menggenggam jemari Naya yang dingin karena AC.
“Pake jaket ya,” bisik Kenzo.
Naya mengangguk. Gerakannya masih kaku karena kakinya yang digips, tapi matanya jauh lebih hidup dibanding beberapa hari lalu. Kenzo sigap ngambilin jaket.
“Pelan-pelan,” ucap Kenzo sambil membantu Naya.
Kenzo menggendongnya keluar kamar. Lorong rumah masih lengang. Lampu-lampu belum sepenuhnya mati.
Di ruang makan, Pappi sudah duduk sambil membaca koran. Mommy baru keluar dari dapur dengan secangkir teh.
Kenzo mendudukan Naya di sofa ruang tengah, lalu menyiapkan kursi roda yang terlipat di sudut ruangan.
“Mau ke mana pagi-pagi?” tanya Mommy, matanya langsung turun ke kaki Naya.
“Mau olahraga ringan ke GBK, tante,” jawab Kenzo sopan. “Naya cuma nungguin aja.”
Pappi melipat korannya.
“Jangan capek-capek ya sayang,” katanya ke Naya. “Kalau pegal langsung pulang.”
“Iya, Pappi,” jawab Naya manis.
Mommy mendekat, membetulkan jaket Naya sedikit.
“Jangan lama-lama. Dan hati-hati.”
Kenzo mengangguk.
“Iya tante.”
Setelah pamit, Kenzo mendorong kursi roda Naya keluar lewat pintu samping. Udara pagi langsung menyambut—dingin, bersih, dan segar. Burung-burung mulai ribut, langit biru muda perlahan terbuka.
Di garasi, Kenzo membantu Naya masuk ke mobil, lalu melipat kursi roda dan menyimpannya rapi di bagasi.
Perjalanan ke GBK terasa sunyi tapi nyaman. Musik pelan mengalun. Naya menatap keluar jendela, senyumnya nggak hilang-hilang.
Sampai di area GBK, suasana sudah mulai hidup. Beberapa orang jogging, ada yang stretching, ada juga yang sekadar jalan santai.
Kenzo menurunkan kursi roda, kemudian menggendong Naya dan mendudukannya di kursi roda, mendorong Naya ke bangku dekat penjual jajanan pagi.
“Kamu duduk di sini ya. Jangan kemana-mana,” kata Kenzo sok galak.
“Iya, Pak,” balas Naya nyengir.
Kenzo melepas jaketnya, lalu lari kecil ke lintasan. Gerakannya ringan, napasnya teratur. Naya memperhatikan dari kejauhan sambil minum susu hangat dan ngemil roti.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, dadanya terasa… tenang.
Beberapa menit kemudian Kenzo balik. Keringat tipis di pelipis, napas sedikit berat, tapi senyumnya utuh begitu melihat Naya.
“Capek?” tanya Naya.
“Enggak,” jawab Kenzo sambil duduk di
sampingnya. “Lumayan buat nebus dosa sering bikin kamu kepikiran.”
“Apaan sih,” Naya nyenggol lengannya pelan.
Kenzo meraih jemari Naya, menggenggamnya hangat.
“Pagi cerah,” katanya pelan. “Pagi ini nggak ribet sama Reno.”
Naya menoleh. Senyumnya kecil, tapi matanya penuh.
“Iya,” jawabnya lirih. “Lebih tenang gak ada yang cerewet,”
Kenzo mengecup kening Naya sekali lagi—singkat, lembut—lalu bersandar, menikmati matahari pagi yang mulai naik perlahan.
Dan di rumah, tanpa mereka tahu,
Reno masih tidur…
dengan perasaan aneh:
curiga, tapi tetap kalah telak. 😌
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...