Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?
Bab 10 (Ancaman dan Skenario Bulan Madu)
Suasana pagi di penthouse terasa jauh lebih sibuk setelah Kakek Wijaya memutuskan untuk mengirimkan dua asisten rumah tangga harian baru. Kehadiran mereka membuat Arini benar-benar harus melepaskan seluruh pekerjaan rumah tangga lamanya. Ia kini harus duduk manis di meja makan, mengenakan pakaian kasual berkelas, dan memerankan peran sebagai Nyonya Muda Wijaya seutuhnya.
Tepat pukul sembilan pagi, pintu lift pribadi berdenting. Yudha melangkah masuk dengan langkah terburu-buru. Wajah sekretaris kepercayaan Adrian yang biasanya tenang dan profesional itu kini tampak tegang. Ia membawa sebuah map dokumen hitam tebal di dekapannya.
“Pak Adrian, Nona Arini, maaf saya mengganggu waktu sarapan Anda," ujar Yudha sambil membungkuk hormat, suaranya sedikit direndahkan demi memastikan para pelayan harian di area dapur tidak mendengar pembicaraan mereka.
Adrian meletakkan cangkir kopi hitamnya. Mata elangnya menatap Yudha dengan tajam. "Ada masalah apa, Yudha? Wajahmu terlihat kacau."
Yudha meletakkan map hitam tersebut di atas meja marmer, membukanya, dan memperlihatkan beberapa lembar foto serta salinan dokumen rumah sakit. "Mata-mata kita di divisi infrastruktur melaporkan bahwa Baskoro tidak tinggal diam setelah kekalahannya di ruang rapat kemarin. Dia baru saja menyewa biro detektif swasta kelas atas untuk menyelidiki latar belakang medis ibu Nona Arini."
Arini yang sedang memegang garpu seketika membeku. Rasa cemas langsung menjalar di dadanya. "Maksud Anda, mereka mencari bukti pengobatan ibu saya?"
“Benar, Nona Arini," jawab Yudha beralih menatap Arini dengan raut wajah serius. "Baskoro mencium adanya anomali pada dana dua ratus juta rupiah yang ditransfer langsung dari rekening pribadi Pak Adrian ke yayasan rumah sakit, tepat satu malam sebelum pengumuman pernikahan kalian. Jika detektif Baskoro berhasil mengaitkan dana itu sebagai 'biaya transaksi' pernikahan kontrak, rahasia kita akan terbongkar di depan Kakek."
Rahang Adrian seketika mengatup rapat. Genggaman tangannya pada sendok perak mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Sifatnya yang dingin kini diselimuti oleh aura kemarahan yang pekat. Baskoro benar-benar menjadi duri yang siap menusuk posisinya kapan saja.
“Berapa lama waktu yang kita punya sebelum detektif itu mendapatkan laporan lengkapnya, Yudha?" tanya Adrian dingin, suaranya terdengar seperti embusan angin musim dingin.
“Saya sudah memerintahkan tim legal kita untuk memperlambat akses data administrasi di rumah sakit, Pak. Tapi itu hanya bisa bertahan paling lama satu minggu," lapor Yudha cekatan. "Untuk mematahkan kecurigaan Baskoro dan meyakinkan Kakek secara mutlak bahwa pernikahan ini didasari oleh cinta, kita membutuhkan sebuah pembuktian publik yang ekstrem."
Adrian bersandar pada kursinya, otaknya yang penuh kalkulasi bisnis berputar cepat mencari solusi logis. Setelah terdiam selama beberapa saat, ia menoleh ke arah Arini yang tampak cemas.
“Kita akan pergi bulan madu," ucap Adrian tegas.
Arini tersentak, menatap Adrian dengan mata membelalak. "Bulan madu? Adrian, apa Anda bercanda? Kita bahkan baru beberapa hari menikah di atas kertas!"
“Ini bukan lelucon, Arini. Ini strategi pengalihan isu," balas Adrian datar, namun ada intensitas yang kuat di dalam suaranya. "Jika sepasang pengantin baru langsung pergi melakukan perjalanan bulan madu yang privat dan tertutup dari media, publik dan Kakek akan melihatnya sebagai bukti bahwa kita memang saling menginginkan satu sama lain. Itu akan membuat penyelidikan Baskoro terlihat seperti tindakan obsesif yang sia-sia di mata Kakek."
Yudha langsung mengangguk setuju, mengetik sesuatu di tablet kerjanya. "Ide yang sangat tepat, Pak. Saya akan segera memesan vila privat di pulau pribadi kawasan Raja Ampat. Tempat itu sepenuhnya tertutup untuk umum dan memiliki sistem keamanan tingkat tinggi. Tidak akan ada detektif atau paparazi yang bisa menembus area tersebut."
"Atur keberangkatan kami untuk lusa, Yudha," perintah Adrian final.
"Baik, Pak. Saya pamit untuk mengurus seluruh akomodasi dan transportasi udara pribadi Anda," ucap Yudha profesional sebelum membungkuk hormat dan melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Setelah kepergian Yudha, keheningan yang sarat akan ketegangan romantis kembali menguasai ruang makan. Arini menatap gelang berlian di pergelangan tangannya, lalu beralih menatap suaminya. Perjalanan ke pulau pribadi berdua saja dengan sang "Es Kutub Utara" selama berminggu-minggu terdengar seperti sebuah tugas yang jauh lebih berat daripada menganalisis laporan keuangan triliunan milik Wijaya Group. Benteng pertahanan di dalam hatinya kini benar-benar berada di ambang batas bahaya.