Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'
Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.
Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Penghinaan di Hari Ulang Tahun
"Dasar sampah tidak berguna! Cepat bersihkan tumpahan kuah sup itu dari lantai! Jangan buat malu keluarga kami di depan para tamu!"
Suara lengkingan itu berasal dari Ibu mertuaku, Erika. Wajahnya yang penuh riasan tebal tampak menor dan menatapku dengan tatapan jijik yang sudah sangat akrab di mataku selama dua tahun pernikahan ini.
Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan emas kakek dari keluarga istrinya, keluarga besar Wijaya. Semua orang berkumpul di aula restoran mewah ini. Mereka mengenakan pakaian desainer ternama, berkilauan dengan perhiasan emas dan berlian. Sementara aku? Aku hanya mengenakan kemeja pudar seharga lima puluh ribu rupiah yang sudah kucuci ratusan kali.
"Maaf, Bu, saya tidak sengaja menyenggolnya tadi," jawabku pelan sambil berlutut di lantai, mengelap lantai yang kotor menggunakan tisu seadanya.
"Maaf? Kalau baju mahal menantuku yang lain sampai kena noda karena kecerobohanmu, kamu tidak akan bisa menggantinya bahkan jika kamu menjual ginjalmu sendiri, Adrian!" bentak Erika lagi, sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh seluruh meja besar di aula tersebut.
Seketika, tawa meremehkan pecah dari para sepupu dan kerabat istrinya.
"Hahaha, lihatlah menantu kesayangan keluarga kita. Kerjaannya cuma bersih-bersih dan memasak."
"Kasihan sekali Kirana, wanita secantik dia harus punya suami berpenyakit dan miskin seperti Adrian."
"Kalau aku jadi dia, aku sudah lompat dari gedung karena malu!"
Aku mengepalkan tangan di bawah lantai. Rasanya perih, bukan karena lututku yang dingin menempel di lantai, tapi karena harga diriku yang diinjak-injak setiap hari. Aku terpaksa bertahan di keluarga ini hanya karena satu alasan: Kirana, istriku. Dia adalah satu-satunya orang yang memperlakukanku seperti manusia saat aku hampir mati kelaparan di jalanan dua tahun lalu.
Aku melirik ke arah Kirana yang duduk di meja utama. Dia hanya menunduk, menggigit bibir bawahnya dengan wajah memerah menahan malu. Dia tidak membelaku, tapi aku tahu dia juga tidak berdaya melawan tekanan keluarganya yang kejam.
Tiba-tiba, Kevin—menantu kaya dari anak pertama keluarga Wijaya—berdiri sambil memegang gelas anggurnya. Dia tersenyum sinis ke arahku.
"Eh, Adrian, kudengar ibumu di kampung sedang sakit keras dan butuh biaya operasi seratus juta minggu ini, ya?" tanya Kevin dengan nada berpura-pura simpati.
Aku tertegun, lalu mendongak. "I-iya, Kak Kevin. Dari mana Kakak tahu?"
Kevin tertawa meremehkan, lalu merogoh dompetnya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah. Dia melempar uang itu ke lantai, tepat di depan wajahku yang masih berlutut.
"Ini, ambil. Anggap saja sebagai modal awal untuk pengobatan ibumu. Tapi syaratnya mudah, merangkaklah seperti anjing dan gonggong tiga kali di depan semua tamu di sini. Kalau gonggonganmu bagus, aku akan pertimbangkan untuk meminjamkanmu sisa uangnya!"
Brakk!
Kirana tiba-tiba berdiri dari kursinya. "Kak Kevin! Itu sudah keterlaluan!" ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
"Keterlaluan apa, Kirana? Aku kan berniat baik ingin membantu suamimu yang pengemis ini," sahut Kevin santai tanpa rasa bersalah.
Mertuaku, Erika, langsung menarik tangan Kirana untuk duduk kembali. "Kirana, diam! Jangan membela si pembawa sial ini. Biarkan saja dia merangkak, toh uang seratus juta itu sangat penting untuk ibunya, kan? Dasar tidak tahu diuntung!"
Aku menatap lembaran uang seratus ribu di lantai itu. Pandanganku perlahan mengabur oleh amarah yang sudah mencapai puncaknya. Dadaku sesak, jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging. Selama dua tahun ini aku mengalah, tapi hari ini mereka menghina ibuku yang sedang sekarat.
Kenapa... kenapa dunia ini begitu kejam pada orang miskin?! pekikku dalam hati dengan kepalan tangan yang bergetar hebat hingga kukuku menusuk telapak tangan sendiri.
Tiba-tiba, di tengah kebisingan tawa mengejek dari ratusan orang di aula tersebut, sebuah suara mekanis yang dingin dan bergema terdengar langsung di dalam kepalaku.
[Ding! Emosi kemarahan dan keputusasaan tuan rumah telah mencapai batas maksimal.]
[Syarat pengaktifan terpenuhi.]
[Memulai proses sinkronisasi...]
[10%... 50%... 100%!]
[Selamat! 'Sistem Penguasa Dewa' telah berhasil diaktifkan dan terikat sepenuhnya dengan jiwa Anda!]
Aku tertegun di lantai. Suara apa itu?
Sebelum aku sempat mencerna apa yang terjadi, suara digital itu kembali terdengar, membawa sebuah pemberitahuan yang membuat seluruh darah di tubuhku mendidih seketika.
[Misi Pertama Diaktifkan: Tamparan Balasan untuk Keluarga Wijaya.]
[Hadiah Misi Instan: Transferan tunai senilai 10 Miliar Rupiah telah dikirimkan ke rekening pribadi Anda sebagai modal awal!]
Bzzzt!
Tepat saat itu, handphone jadul di saku celanaku bergetar kuat. Dengan tangan gemetar, aku merogohnya dan melihat sebuah notifikasi SMS dari bank resmi masuk ke layarku yang retak:
"Rekening Anda dengan nomor akhir 8821 telah menerima transferan masuk sebesar Rp 10.000.000.000,00. Saldo Anda saat ini: Rp 10.000.012.500,00."
Sepuluh... sepuluh miliar?!
Aku perlahan berdiri tegak. Perlahan, kepalan tanganku melonggar, dan rasa minder yang mengikatku selama dua tahun ini runtuh seketika. Aku menatap Kevin, Erika, dan seluruh anggota keluarga Wijaya satu per satu dengan pandangan yang dingin dan tajam seperti mata seekor elang yang siap menerkam mangsanya.
Waktunya membalas dendam telah dimulai.