NovelToon NovelToon
Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Bad Boy / Action
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

​"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
​Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
​Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Tarian Peluru Sang Ratu

​"Aku tidak akan bersembunyi sementara rajaku berperang."

​Kalimat yang meluncur dari bibir Aletta itu menggantung di udara ruang bawah tanah, bertabrakan dengan raungan alarm keamanan yang memekakkan telinga. Xavier menatap tajam mata istrinya. Cengkeraman tangan Aletta pada gagang pistol Browning itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, namun tidak ada sedikit pun keraguan di matanya.

​Rahang Xavier menegang. Separuh akal sehatnya berteriak untuk membius gadis ini dan menguncinya di dalam brankas baja terdalam demi keselamatannya. Namun, separuh jiwa iblisnya justru bersorak liar, bangga melihat singa betinanya menolak untuk tunduk pada ketakutan.

​"Ini bukan latihan menembak, Aletta! Darah dan otak manusia akan berceceran di lantai rumah ini!" geram Xavier, mencengkeram kedua bahu istrinya.

​"Maka biarkan aku melihatnya," balas Aletta sengit, menantang tatapan badai suaminya. "Kau bilang aku adalah Ratumu. Mahkota ini tidak akan ada artinya jika aku lari di peperangan pertamaku. Aku ikut denganmu, Xavier."

​Suara ledakan keras yang mengguncang fondasi mansion memutus perdebatan mereka. Debu-debu berguguran dari langit-langit ruang bawah tanah. Pasukan Volkov telah berhasil menjebol gerbang utama.

​Xavier mengumpat kasar dalam bahasa Rusia. Ia melepaskan bahu Aletta, lalu beralih menatap Diego dengan tatapan yang bisa membunuh siapa pun di tempat.

​"Bentuk formasi Phalanx di sekelilingnya. Jika ada satu peluru saja yang menggores kulit istriku, aku akan menguliti kalian semua hidup-hidup, Diego. Mengerti?!" titah Xavier mutlak.

​"Nyawa saya taruhannya, Bos!" jawab Diego sigap, menarik senapan serbunya.

​Xavier merampas sebuah senapan HK416 dari rak senjata, mengokangnya dengan satu gerakan kasar yang mematikan. "Ayo kita sambut tamu kita."

​Lantai dasar mansion telah berubah menjadi zona perang yang kacau balau. Bau mesiu, debu puing, dan anyir darah menguar pekat di udara. Para pengawal keluarga Vassiliev terlibat baku tembak sengit dari balik pilar-pilar marmer melawan puluhan tentara bayaran Volkov yang berpakaian taktis serba hitam.

​Xavier memimpin jalan keluar dari lorong rahasia perpustakaan. Pria itu bergerak bagaikan malaikat maut yang terlepas dari neraka. Setiap tembakan yang keluar dari senapannya tidak pernah meleset, langsung menembus kepala atau dada musuh dengan presisi yang mengerikan.

​Aletta berlari di belakang Xavier, diapit oleh Diego dan dua pengawal elite lainnya. Napas Aletta memburu, jantungnya berdegup gila-gilaan melihat mayat-mayat bergelimpangan di atas karpet merah mansion miliknya. Ini adalah realitas dunia suaminya—dunia yang kini menjadi miliknya juga.

​"Kita mundur ke Ruang Komando Sayap Barat!" teriak Xavier di sela-sela rentetan tembakan. "Pertahanan depan sudah bobol!"

​Mereka bergerak menyusuri lorong panjang yang dihiasi lukisan-lukisan klasik. Namun, saat mereka melintasi area jendela kaca patri raksasa, sebuah ledakan granat flashbang meledak di tengah lorong.

​Cahaya putih membutakan mata. Suara dengingan nyaring menusuk telinga Aletta. Keseimbangannya goyah.

​Dari atap kaca yang hancur, lima pembunuh bayaran Volkov melompat turun menggunakan tali rappling. Baku tembak jarak dekat yang brutal pecah seketika. Dua pengawal yang melindungi Aletta tewas tertembak di tempat, darah mereka tepercik mengenai pipi Aletta.

​Aletta terjerembap ke lantai marmer, pistolnya terlempar sejengkal dari tangannya. Pandangannya masih kabur akibat flashbang. Samar-samar, ia melihat Xavier sedang bergulat sengit dengan dua pembunuh bertubuh raksasa, sementara Diego tertahan oleh baku tembak di sudut lain lorong.

​Di saat itulah, melalui sudut matanya, Aletta melihat salah satu pembunuh Volkov yang tersisa berhasil menyelinap. Pria berpakaian hitam itu mengangkat sebuah senapan laras pendek, membidik lurus ke arah punggung Xavier yang sedang lengah karena mencekik musuhnya.

​"XAVIER!" jerit Aletta sekuat tenaga.

​Waktu seolah melambat. Aletta tidak berpikir panjang. Insting bertahan hidup dan rasa takut kehilangan suaminya mengambil alih seluruh sarafnya. Ia merangkak maju, menyambar pistol Browning berlapis peraknya dari lantai, berguling ke samping, dan menodongkan senjata itu dengan kedua tangannya.

​Posturnya tidak sempurna. Tangannya gemetar. Tapi matanya—seperti yang Xavier ajarkan satu jam yang lalu—setajam niat membunuhnya.

​DOR! DOR!

​Dua peluru melesat keluar dari laras senjatanya, merobek udara.

​Pembunuh Volkov itu tersentak hebat. Satu peluru bersarang di bahunya, sementara peluru kedua bersarang telak di sisi lehernya. Darah menyembur deras. Pria itu menjatuhkan senapannya dan tersungkur ke lantai, tewas sebelum tubuhnya menyentuh marmer.

​Xavier yang mendengar tembakan dari jarak dekat itu segera mematahkan leher musuhnya dengan satu putaran brutal, lalu berbalik seketika.

​Napas Aletta tersengal. Pistol di tangannya jatuh bergemerincing ke lantai. Ia menatap mayat pria yang baru saja ia cabut nyawanya. Tangan Aletta bergetar hebat, rasa mual yang luar biasa tiba-tiba menghantam perutnya. Ia baru saja membunuh seseorang.

​Sebelum lutut Aletta benar-benar lemas, tubuh kokoh Xavier telah merengkuhnya erat. Pria itu menjatuhkan senjatanya sendiri, berlutut di lantai yang bersimbah darah, dan menarik kepala Aletta ke dada bidangnya.

​"Bernapaslah, Sayang. Bernapas," bisik Xavier serak, mengecup puncak kepala Aletta berkali-kali dengan posesif. "Kau menyelamatkan nyawaku. Kau melakukannya dengan sempurna."

​"A-aku membunuhnya..." bisik Aletta parau, mencengkeram kemeja Xavier erat-erat.

​Xavier menangkup wajah Aletta dengan kedua tangannya yang kasar dan bernoda darah, memaksa mata mereka bertemu.

​"Kau tidak membunuhnya, Aletta. Kau mengirimnya kembali ke neraka karena dia mencoba menyentuh milikmu," ucap Xavier dengan intensitas gelap yang membius. "Jangan pernah menyesali nyawa musuhmu."

​"Bos! Area lorong bersih!" lapor Diego yang berlari menghampiri mereka sambil terengah-engah. Namun, Diego tiba-tiba berjongkok di dekat mayat pria yang baru saja Aletta tembak. Ia menggeledah saku taktis pria itu dan menarik sebuah lipatan kertas tebal.

​Diego membuka kertas itu, dan wajahnya seketika memucat. "Bos... Anda harus melihat ini."

​Xavier membantu Aletta berdiri, menjaganya agar tetap berada di belakang tubuhnya, lalu mengambil kertas tersebut dari tangan Diego.

​Itu adalah cetak biru mansion Vassiliev. Namun, bukan sekadar cetak biru biasa. Denah itu secara detail menandai seluruh titik buta sensor laser, letak kamera keamanan, dan rute lorong rahasia bawah tanah yang hanya diketahui oleh lingkaran dalam keluarga Vassiliev.

​Rute penyerangan: Tembus gerbang utama sebagai pengalih perhatian. Masuk lewat atap sayap barat (kaca patri). Target: Xavier Vassiliev dan Nyonya Baru.

​Rahang Xavier mengetat hingga terdengar bunyi gemeretak gigi. Aura membunuh yang menguar darinya kini berkali-kali lipat lebih pekat daripada sebelumnya.

​Aletta yang ikut membaca cetak biru itu menatap suaminya dengan ngeri. "Xavier... tidak mungkin mereka bisa mendapatkan denah rahasia ini sendiri..."

​"Ada pengkhianat," desis Xavier, matanya menggelap menatap lorong yang dipenuhi mayat. Suaranya terdengar seperti janji sebuah pembantaian besar-besaran. "Ada tikus kotor Volkov yang menyusup di antara para Capo kita."

1
Nurwana
go go go Alleta....
Nurwana
semangat Alleta......
Nurwana
kayaknya makin berat hidupmu alleta....
Nurwana
alleta......
Nurwana
jangan cepat percaya alleta, selidiki dulu tentang kebenarannya. jangan sampai itu surat tipuan dari musuh suamimu.
Nurwana
saya mampir Thor.
Orang_Cuman_Cerita: Ok Semagat Ya 💪
total 1 replies
fatmawati (pipit)
disini aletta blm menguasai dunia IT apa untuk menemukan siapa yg menjadi dalang penjebakan
Orang_Cuman_Cerita
GOKIL💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!