JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI
Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.
Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.
Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.
Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.
"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."
Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
konfrontasi dua singa
Begitu langkah kaki Nayara menjauh dan menghilang di balik belokan koridor, atmosfer di tempat itu mendadak turun hingga ke titik beku. Keheningan yang tercipta bukan lagi keheningan biasa, melainkan ketegangan purba antara dua penguasa yang siap saling cabik.
Bugh!
Satu pukulan mentah dan sangat keras mendarat telak di rahang kokoh Dante. Sentakan itu begitu kuat hingga membuat kepala Dante tertoleh ke samping. Belum sempat Dante membalas atau menyeimbangkan tubuhnya, tangan tua namun masih sangat bertenaga milik Lorenzo melesat maju, mencengkeram leher Dante dan mendorong tubuh tinggi besar putranya itu hingga menghantam dinding beton koridor dengan keras.
Brakk!
Lorenzo mempererat cekikannya. Mata pria tua itu merah menyalang, dipenuhi kilat murka dan kegilaan yang tak tertahankan. Napasnya memburu tepat di depan wajah Dante.
"Rencana apa yang sedang kamu mainkan di belakangku, Dante?!" geram Lorenzo dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah, urat-urat di lehernya menegang kuat. "Katakan padaku! Dari mana kamu bisa membawa gadis itu ke rumah ini?!"
Dante tidak melawannya secara fisik. Dia membiarkan punggungnya menempel di dinding dan lehernya dicekik oleh ayahnya sendiri. Sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan tadi justru terangkat, membentuk seringai miring yang tampak begitu mengejek dan menantang bahaya.
"Rencana?" Dante terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar parau karena jalur napasnya yang tertekan cengkeraman Lorenzo. Sepasang mata elangnya menatap lurus, tanpa ada rasa takut sedikit pun pada sang Don. "Aku sedang tidak merencanakan apa-apa, Ayah."
"Jangan berbohong padaku, keparat kecil!" bentak Lorenzo, makin mempererat cekikannya hingga wajah Dante mulai mengeras. "Wajah gadis itu... tidak mungkin sebuah kebetulan! Apa yang kamu ketahui tentang dia?! Apa yang kamu inginkan dari anak itu?!"
Dante memegang pergelangan tangan Lorenzo yang mencengkeram lehernya, bukan untuk melepaskannya, melainkan untuk menekannya lebih dalam seolah menantang batas kesabaran ayahnya.
"Aku sudah bilang, aku tidak tahu apa-apa dan tidak merencanakan apa pun," desis Dante dengan nada dingin yang menusuk. "Dia hanya tawanan yang tidak sengaja menangkap basah aksiku di gang gelap kemarin malam. Aku membawanya ke sini murni sebagai mainan pribadiku. Kenapa? Apa ada yang salah dengan itu, Don Lorenzo?"
Lorenzo menatap tajam mata putranya, mencoba mencari celah kebohongan di sana. Namun, netra Dante sekaku batu dan sedingin es, menyembunyikan rapat-rapat dendam membara tentang kematian ibunya di masa lalu. Lorenzo melepaskan cekikannya dengan sentakan kasar, membuat Dante terbatuk kecil sambil mengusap lehernya yang memerah.
"Mainan, katamu?" Lorenzo mundur selangkah, menunjuk ke arah koridor tempat Nayara pergi dengan tangan yang masih gemetar. "Kamu memperlakukannya seperti sampah! Kamu menyiksanya di depan mataku!"
Dante menegakkan tubuhnya kembali, merapikan kerah kemeja hitamnya yang sempat kusut dengan gestur yang sangat santai. Dia menyeka darah di sudut bibirnya menggunakan ibu jari, lalu menatap noda merah itu dengan senyuman iblis.
"Dia pelayanku, Ayah. 𝘜𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯𝘬𝘶 adalah 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 mutlak atas dirinya," sahut Dante dengan suara yang kembali tenang namun penuh penekanan. "Dan aku sangat menikmati permainan ini. Melihatnya ketakutan, menangis, dan memohon... itu sangat menghiburku."
Lorenzo mengepalkan tinjunya erat-erat, dadanya bergemuruh hebat mendengar kalimat Dante. Dia tahu tabiat kejam putranya, namun melihat wajah yang sangat mirip Emily itu harus menderita di tangan Dante membuat hatinya terasa seperti tersayat sembilu.
"Jangan pernah sentuh atau sakiti gadis itu lagi di rumah ini, Dante. Itu perintahku!" ancam Lorenzo dengan suara yang sarat akan otoritas tertinggi keluarga Moretti.
Dante tidak menjawab dengan kata-kata patuh. Dia hanya menatap ayahnya dengan tatapan elang yang misterius, tahu betul bahwa umpan balas dendamnya telah dimakan bulat-bulat oleh Lorenzo. Permainan psikologis ini baru saja dimulai, dan Dante tidak akan berhenti sampai ayahnya merasakan hancur yang sehancur-hancurnya.
------------------------------