NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Secangkir Chamomile

Dalam perjalanan Aeros tidak banyak bicara, saat motor melewati jalanan kota yang mulai diguyur gerimis, ia sesekali melirik spion.

Ia bisa melihat melalui pantulan kaca itu, bagaimana Sael mencengkeram jaket kulitnya dengan jemari yang masih sedikit gemetar.

Ia melambatkan laju motornya, memilih rute yang tidak terlalu ramai, dan sesekali memposisikan tubuhnya agar angin tidak langsung menerpa tubuh Sael.

Dalam keheningan di balik deru mesin, Aeros bisa merasakan napas Sael yang perlahan mulai teratur.

Ia menghentikan motornya di depan kafenya 𝘛𝘩𝘦 𝘘𝘶𝘪𝘦𝘵 yang sudah tutup dan membuka pintu dengan kunci cadangannya.

"Masuklah," ia membiarkan Sael masuk lebih dulu, aroma kopi dan kayu manis langsung menyambut penciuman Sael.

"Duduklah di sana," Aeros menunjuk kursi kulit yang menghadap taman belakang.

Sael menurut. Ia duduk dengan kaku, memperhatikan Aeros yang bergerak di balik meja bar.

Tak lama, Aeros meletakkan secangkir 𝘤𝘩𝘢𝘮𝘰𝘮𝘪𝘭𝘦 hangat dengan madu di hadapan Sael. Kemudian ia menyandarkan pinggulnya di meja bar, menatap Sael. "Minumlah."

Sael menyesap tehnya, "Terimakasih, Kak, aku tidak tahu harus bagaimana kalau kamu tidak ada di sana tadi."

Aeros menatap jemari Sael yang kini sudah berhenti gemetar. "Kebetulan aja tadi aku lewat sana."

Sael mendongak, melihat Aeros yang mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Yah ... pokoknya terimakasih," ucap Sael lagi.

Keheningan menyelimuti keduanya.

"Tujuh tahun ternyata waktu yang cepat, ya? Ada banyak hal yang berubah di kota ini," ujar Sael berusaha memecah keheningan. Ia sesekali memainkan pinggiran cangkir dengan jemarinya untuk mengusir canggung.

"Begitu ya? Tapi menurut ku, tujuh tahun itu waktu yang lama," sahut Aeros. Matanya turun memperhatikan gerak tangan Sael. "Kamu nggak nyaman?"

"Bukan begitu, hanya bingung aja kita udah lama banget nggak ketemu. Aku nggak tahu harus gimana," jawab Sael.

"Kita mulai pelan-pelan aja, gimana kakimu sekarang? Udah mendingan?" tanya Aeros melirik kaki Sael.

Sael melihat kaki kanannya. " Lumayanlah, tiga tahun lalu baru lepas pen, buat jalan sekarang udah nggak ada masalah, cuman aku masih takut buat lari," jawab Sael.

Aeros mengangguk paham.

"Interior kafenya bagus banget, kenapa namanya 𝘛𝘩𝘦 𝘘𝘶𝘪𝘦𝘵?" Sael melihat sekelilingnya.

"Sebenarnya nggak ada alasannya, hanya suka aja dengan suasana tenang di kafe ini, dan sepertinya kata 𝘛𝘩𝘦 𝘘𝘶𝘪𝘦𝘵 cukup bagus buat menggambarkan suasana di kafe ini," jawab Aeros.

Sael mengangguk paham, lalu menghabiskan tehnya yang tinggal setengah.

"Kakak kan dari dulu emang kayak gitu, aku masih ingat banget, kita berdua lagi baca buku bareng di bawah pohon mangga, tiba-tiba Kael datang bawa mainannya dan berakhir kakak usir karena berisik " ujar Sael mengingat kenangan masa kecil mereka.

"Kamu masih ingat ya, sebenarnya dari kita bertiga ini, kayaknya nggak ada yang berubah apalagi si Kael itu," Aeros tersenyum kecil.

"Kamu masih ingat nggak, ketika kamu ngikutin aku terus seharian karena aku bawa buku cerita baru, dan kamu kena marah mamamu karena nggak ngerjain tugas sekolah," tanya Aeros.

"Ingatlah... Hari itu aku dihukum sama mama, disuruh belajar selama dua jam berturut-turut, cokelat kesukaanku malah dikasihkan ke Kael. Aku marah banget waktu itu, nggak mau ngomong sama Kael seharian," jawab Sael tersenyum kecil mengingat kejadian waktu itu.

Mereka menghabiskan waktu satu jam membicarakan hal-hal konyol yang dulu pernah mereka lakukan, perlahan-lahan memecah kecanggungan di antara mereka.

"Sering-seringlah kamu mampir ke sini, nanti aku kasih diskon khusus," ucap Aeros sembari menuangkan teh hangat ke cangkir Sael yang mulai mendingin.

"Maaf Kak, karena lagi cerita jadi banyak minum," ujar Sael tersenyum canggung, lalu kembali meminum habis tehnya.

"Nggak masalah... Udah siap pulang?" Aeros berdiri merapikan bajunya.

"Yaa." Sael ikut berdiri bersiap untuk pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!