Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Secangkir Chamomile
Dalam perjalanan Aeros tidak banyak bicara, saat motor melewati jalanan kota yang mulai diguyur gerimis, ia sesekali melirik spion.
Ia bisa melihat melalui pantulan kaca itu, bagaimana Sael mencengkeram jaket kulitnya dengan jemari yang masih sedikit gemetar.
Ia melambatkan laju motornya, memilih rute yang tidak terlalu ramai, dan sesekali memposisikan tubuhnya agar angin tidak langsung menerpa tubuh Sael.
Dalam keheningan di balik deru mesin, Aeros bisa merasakan napas Sael yang perlahan mulai teratur.
Ia menghentikan motornya di depan kafenya 𝘛𝘩𝘦 𝘘𝘶𝘪𝘦𝘵 yang sudah tutup dan membuka pintu dengan kunci cadangannya.
"Masuklah," ia membiarkan Sael masuk lebih dulu, aroma kopi dan kayu manis langsung menyambut penciuman Sael.
"Duduklah di sana," Aeros menunjuk kursi kulit yang menghadap taman belakang.
Sael menurut. Ia duduk dengan kaku, memperhatikan Aeros yang bergerak di balik meja bar.
Tak lama, Aeros meletakkan secangkir 𝘤𝘩𝘢𝘮𝘰𝘮𝘪𝘭𝘦 hangat dengan madu di hadapan Sael. Kemudian ia menyandarkan pinggulnya di meja bar, menatap Sael. "Minumlah."
Sael menyesap tehnya, "Terimakasih, Kak, aku tidak tahu harus bagaimana kalau kamu tidak ada di sana tadi."
Aeros menatap jemari Sael yang kini sudah berhenti gemetar. "Kebetulan aja tadi aku lewat sana."
Sael mendongak, menangkap basah tatapan Aeros sebelum pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Yah ... pokoknya terimakasih," ucap Sael lagi.
Keheningan menyelimuti keduanya.
"Tujuh tahun ternyata waktu yang cepat, ya? Ada banyak hal yang berubah di kota ini," ujar Sael berusaha memecah keheningan. Ia sesekali memainkan pinggiran cangkir dengan jemarinya untuk mengusir canggung.
"Begitu ya? Tapi menurut ku, tujuh tahun itu waktu yang lama," sahut Aeros. Matanya turun memperhatikan gerak tangan Sael. "Kamu nggak nyaman?"
"Bukan begitu, kita udah lama banget nggak ketemu. Aku agak bingung harus bersikap gimana," jawab Sael.
"Kita mulai pelan-pelan aja, gimana kakimu sekarang? Udah mendingan?" tanya Aeros melirik kaki Sael.
Sael ikut melihat kaki kanannya. "Lumayanlah, tiga tahun lalu baru lepas pen, buat jalan sekarang udah nggak ada masalah," jawab Sael.
Aeros mengangguk paham, tampak lega mendengarnya.
Sael mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. "Interior kafenya bagus banget. Kenapa namanya 𝘛𝘩𝘦 𝘘𝘶𝘪𝘦𝘵?"
"Sebenarnya nggak ada alasan khusus, hanya suka aja dengan suasana tenang di kafe ini, dan sepertinya kata 𝘛𝘩𝘦 𝘘𝘶𝘪𝘦𝘵 cukup bagus buat menggambarkan suasana di kafe ini," jawab Aeros.
Sael mengangguk-angguk kecil, lalu menyesap kembali tehnya yang tinggal setengah.
"Kakak dari dulu memang kayak gitu, ya," ujar Sael, ingatan masa kecilnya mendadak berputar. "Aku masih ingat banget, waktu kita berdua lagi asyik baca buku di bawah pohon mangga, tiba-tiba Kael datang bawa mainannya yang bising. Berakhir Kakak usir karena mengganggu."
"Kamu masih ingat?" Aeros tersenyum tipis—sebuah pemandangan langka. "Sebenarnya dari kita bertiga, kayaknya memang enggak ada yang berubah. Apalagi si Kael itu."
"Tapi, kamu sendiri ingat enggak?" Aeros balik bertanya, tatapannya melembut. "Waktu kamu mengikutiku seharian cuma karena aku punya buku cerita baru? Kamu sampai kena marah Mamamu karena lupa mengerjakan tugas sekolah."
Sael tertawa kecil, pipinya agak merona mengingat kelakuan masa lalunya. "Ingatlah! Hari itu aku dihukum Mama, disuruh belajar dua jam berturut-turut. Parahnya lagi, cokelat kesukaanku malah dikasih ke Kael. Aku marah banget waktu itu, sampai mogok bicara sama Kael seharian."
Aeros tidak menanggapi dengan kata-kata, namun binar di matanya menunjukkan ia menikmati obrolan ini.
Mereka menghabiskan waktu hampir satu jam, menertawakan hal-hal konyol yang dulu pernah mereka lalui. Perlahan namun pasti, dinding canggung di antara mereka runtuh.
"Sering-seringlah mampir ke sini. Nanti aku kasih diskon khusus," ucap Aeros sembari menuangkan kembali teh hangat dari teko ke cangkir Sael yang mulai mendingin.
Sael menatap cangkirnya yang kembali penuh, lalu tersenyum canggung. "Maaf, Kak, karena keasyikan cerita, aku jadi banyak minum."
"Enggak masalah." Aeros berdiri, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. "Sudah siap pulang?"
"Ya." Sael menyesap tehnya untuk terakhir kali sebelum bersiap pulang.
apakah yang ketujuh ini mereka akan.. 🤔
kenapa aku malah jadi ngitungin😄
kael menganggu aja🤣
pengen liat visualnya
ada ngga thor😍😍
apakah bakal ada cowok baru lagi...
mungkin cowok yang di luar negeri itu, yang aeros singgung di bab 1🤔🤔
semua love language dia ambil
titip pacar saya😍
jadi ikut digelitik kupu-kupu😄