NovelToon NovelToon
Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Suami Tak Berguna / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sikumbang

Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paman Jaja Ada Disini.

Malam kedua.

Panas tubuh Satria belum turun sepenuhnya, meski tidak setinggi kemarin, namun anak kecil itu tampak makin lemas, makin diam, dan sesekali mengerang pelan dalam tidurnya yang gelisah. Matanya selalu mencari sosok yang dia rindukan, tapi tak bertemu.

Aini sudah kehabisan akal, habis tenaga, dan habis air mata. Ia sudah mencoba segala cara....obat, kompres, doa, lagu tidur, buaian... semuanya tak mempan.

Malam itu, jam menunjukkan pukul dua dini hari, keheningan desa terasa dingin dan mencekam. Yang terdengar hanya suara jangkrik dan napas berat Satria. Aini duduk di tepi kasur, memeluk tubuh kecil anaknya erat-erat. Air matanya tak mau berhenti, mengalir deras tak terbendung, jatuh membasahi wajah dan rambut Satria.

Hatinya hancur lebur. Semua benteng pertahanan, semua prinsip, semua ketegaran yang selama ini ia bangun... runtuh seketika.

Dengan suara yang parau, terisak-isak, dan penuh kepedihan, Aini berbicara pada anaknya, namun lebih terdengar seperti ia sedang berbicara pada dirinya sendiri, pada hatinya yang paling dalam.

"Dedek... Nak... maafkan Ibu... maafkan Ibu ya..." isaknya tergugu, memeluk Satria makin erat seolah takut diambil orang.

"Jangan ingat Paman Jaja lagi sayang! Jangan ingat dia lagi. Dia sudah pergi, Nak. Dia sudah pergi...!!!! jauh sekali. Dia tidak akan kembali lagi ke sini. Dia tidak akan datang lagi. Lupakan saja dia... lupakan... biar Dedek tidak sakit, biar Ibu tidak sakit... lupakan saja dia..."

Kata-kata itu meluncur keluar bersama tangisan yang makin keras, makin pilu. Keputusasaan Aini sudah sampai di puncaknya. Ia tidak peduli lagi apakah suaranya terdengar sampai ke luar rumah atau tidak. Ia hanya ingin rasa sakit ini berakhir, ia hanya ingin anaknya sembuh, dan ia hanya ingin beban di dadanya ini terangkat.

Melihat Ibunya ikut menangis Satria terdiam sejenak. Dipandangnya Aini dengan wajah polos, matanya yang memerah dan sembab menatap sang ibu heran.

Tangisan Aini kembali meledak.

"Kamu jahat ...Jaja!!! Kalau memang cinta dan sayang, harusnya kamu bertahan. Bukan kabur begini ..!!!!"

Suara isak tangisnya yang menyayat hati itu memecah keheningan malam, menggema keluar dari jendela yang sedikit terbuka, menembus udara dingin, dan sampai ke telinga siapa saja yang mungkin masih mendengar.

Dan tangisan itu..... sampai ke rumah sebelah.

Di balik dinding rumah kayu kecil yang biasanya kosong, di balik jendela yang tertutup rapat, ada sosok yang sudah berdiri diam di sana sejak sore tadi. Mengintip dari celah-celah dinding, mengawasi dari balik tirai jendela, mendengarkan setiap suara yang keluar dari rumah itu.

Jaja....!!!!

Jaja baru datang tadi sore. Mendengar tangisan Aini yang memilukan. Dengan jelas pria itu mendengar setiap kata yang diucapkan wanita itu

"Dia sudah pergi... dia tak akan kembali..."

Hati Jaja terasa tercabik-cabik. Ia tidak tahan lagi. Ia sudah tidak peduli lagi soal harga diri, soal penolakan, soal menyembunyikan jati diri. Ia tidak sanggup lagi mendengar wanita yang dicintainya itu menangis sehancur itu, tidak sanggup lagi membiarkan anak yang ia sayangi itu sakit dan menderita karena rindu padanya.

"Cukup..." bisiknya bergetar. "Sudah cukup aku menyakiti kalian semua."

Dengan langkah cepat, Jaja berjalan keluar menyeberangi halaman yang berjarak hanya beberapa meter, berjalan menembus kegelapan malam menuju pintu rumah Aini. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa gugup, rasa haru, dan rasa bahagia.

Tanpa ragu lagi, ia mengetuk pintu kayu itu dengan ketukan yang kuat namun tidak terburu-buru.

Tok... tok... tok!

Suara ketukan itu terdengar jelas di tengah keheningan dan tangisan Aini.

Aini tersentak kaget, tangisnya terhenti seketika. Ia menegakkan tubuhnya, matanya yang bengkak menatap pintu kayu itu dengan bingung. Digendongnya Satria yang tak mau lepas sedikitpun.

Jam dua pagi... siapa yang datang? Siapa yang berani mengetuk pintu rumahnya di jam selarut ini? Apakah ada tetangga yang butuh bantuan? Atau ada kabar buruk?

Dengan tangan gemetar dan kaki yang lemas, Aini turun dari kasur. Ia berjalan perlahan mendekati pintu, mengintip sedikit lewat celah papan, lalu perlahan membuka engsel pintu itu.

Pintu terbuka.

Dan di sana, berdiri tegap di bawah sinar remang lampu jalan yang jauh, sosok yang selama ini menghantuinya siang dan malam. Sosok yang ia rindukan mati-matian, sosok yang ia anggap sudah hilang ditelan bumi.

Jaja....!!!!

Laki-laki itu berdiri di sana, napasnya sedikit memburu, matanya memancarkan cahaya yang campur aduk antara cinta, khawatir, dan rasa rindu yang tak terhingga. Wajahnya masih sama, penampilannya masih seperti dulu... tapi tatapan matanya begitu dalam, begitu nyata, dan begitu miliknya.

Belum sempat Aini mengeluarkan suara, belum sempat mulutnya yang terbuka itu mengucapkan satu kata pun, Jaja sudah bergerak. Ia tidak membuang waktu. Ia tahu apa yang harus dilakukan.

Diambilnya Satria dari gendongan Aini. Tangan mereka bersentuhan sejenak, ada getaran yang tak bisa diungkapkan.

Satria berhenti menangis, menatap Jaja dengan penuh rasa rindu.

" Pa..man...Ja..Jaja" Isaknya sambil merengkuh leher kekar yang kini ada didepannya....erat! seolah takut terlepas lagi.

Jaja mendekap tubuh mungil itu penuh sayang. Membelainya dengan sepenuh hati.

"Paman di sini, Nak... Paman Jaja ada di sini..." bisiknya lirih. Diayunkannya tubuh balita itu pelan, menepuk-nepuk punggungnya dengan irama yang sangat lembut.

Keajaiban terjadi.

Satria yang mengenali suara, bau, dan rasa pelukan itu,mulai bereaksi. Matanya yang berat terus menatap, lalu mulut kecilnya tersungging senyum lemah.....sangat bahagia. Tangannya yang gemuk tidak berpindah sedikitpun dari leher Jaja.

"Paman... Jaja..." gumamnya pelan, lalu membenamkan wajahnya di dada bidang itu. Napasnya menjadi tenang, tubuhnya yang tegang perlahan rileks, dan dalam hitungan detik, anak itu kembali tertidur pulas, damai dan nyaman sekali di pelukan laki-laki yang dirindukannya itu.

Aini terdiam....mematung di dekat pintu. Kakinya seolah terpaku di lantai. Matanya melotot tak berkedip, menatap pemandangan di depannya dengan rasa kaget, rasa tak percaya.

Matanya sedikit berkunang-kunang, dibawanya tubuh lemasnya mendekati kursi tua di sudut ruangan. Perlahan didudukkannya tubuh yang benar-benar sudah lelah.

Degup jantungnya masih terasa sangat kencang sampai terasa di telinga. Otaknya kosong, tak mampu memproses apa yang sedang terjadi.

"Dia ada di sini? Dia kembali? Dia tidak pergi!!!! Tapi....Dia mendengar segalanya."

Aini terpaku. Kaget, bingung, bahagia, dan malu... semuanya bercampur menjadi satu ledakan perasaan yang membuatnya hanya bisa berdiam diri.

"Caranya memeluk, caranya bicara tak berubah." bisik hatinya.

Dan samar Aini mencium bau parfum yang sangat familiar. Tapi entah dimana...dia tak sempat berfikir, yang jelas bukan parfum murahan yang sering dipakai orang di desa ini.

Jaja menoleh dan pandangan mereka bertemu. Jaja tak berkedip tapi Aini justru membuang muka.

"Aini! Maaf....saya terlambat!"

*******

1
Aya Ansyar
Terus semangat berkarya thor 👍🏻
Putri Sikumbang: Makasih selalu hadir Kak🙏
total 1 replies
Ariany Sudjana
makanya kamu jangan egois Arini, kamu menyesal kan ?
Ariany Sudjana
menyesal kan kamu Aini? kamu egois dan bodohnya kebangetan
Putri Sikumbang: 😭 iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!